LOGINSetengah jam sebelum acara pernikahan akan berakhir. Saat ini Isabella sudah hampir selesai melukis.
"Kesenangan sudah berakhir. Aku akan kembali ke kamar" Ucap Regan dan segera membalikan badan. Seketika langkahnya berhenti ketika melihat seorang gadis melukis dengan duduk tegak di depan kanvasnya, goresan kuasnya begitu tegas dan penuh makna. Cahaya lilin di ruangan itu menciptakan bayangan samar di wajahnya, tetapi ekspresinya tetap terlihat jelas—serius dan penuh konsentrasi. Perlahan, Regan melangkah mendekat. Mata tajamnya menangkap setiap detail dari lukisan yang sedang dikerjakan Isabella. Semakin jelas ia melihat, semakin dalam alisnya berkerut. "Apa yang kamu lukis?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris berbisik. Isabella menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. "Sebuah kebenaran." Regan menajamkan pandangan. Lukisan itu sangat bagus, di bagian bawah lukisan ada foto sepasang pengantin, tapi di bagian atas menampilkan sosok seorang pria dan seorang wanita dalam pelukan mesra. Tapi yang membuat terkejut wajah-wajah yang terpampang di sana. Itu adalah Hilda—pengantin wanita—dan seorang pria yang jelas bukan suaminya. "Gila…" gumam Regan. Tatapannya beralih ke Isabella yang tetap tenang. Setelah memberikan goresan terakhir, Isabella membuang kuasnya sembarangan, dan berdiri. Berjalan perlahan ke arah Regan. Menatapnya dari atas ke bawah dengan seksama 'Tubuhnya bagus' ucapnya didalam hati. "Jomblo?" tanyanya santai. Regan mengangkat alis "Iya, kenapa?" "Apakah kamu mau tidur denganku?" ucapnya tanpa ragu. Regan terpaku. "Apa?" "Tidak mau? Ya sudah, aku cari yang lain saja," jawab Isabella ringan, berbalik tanpa menunggu jawaban. Regan masih terdiam, belum sempat memproses kata-kata gadis itu. Sementara itu, Isabella menyerahkan lukisannya pada seorang pelayan yang sudah menunggu di depan ruangan. "Letakkan ini di depan pintu masuk aula pernikahan. Ini upahmu," ucapnya singkat. Pelayan itu mengangguk dan segera menjalankan perintah. Isabella kemudian berjalan ke koridor lantai dua, dan mengamati situasi dari atas. Para tamu masih menikmati malam sengan santai, hingga beberapa menit kemudian, suara riuh terdengar dari depan aula. Seseorang telah menemukan lukisan itu, dan kekacauan pun dimulai. Hilda yang baru saja hendak meninggalkan pelaminan terhenti saat melihat kerumunan. Matanya membelalak ketika mengenali isi lukisan itu. Wajahnya memucat, tangannya bergetar. "Ini… ini tidak mungkin! Siapa yang melakukan ini?!" teriaknya panik. Para tamu mulai berbisik-bisik, beberapa mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen ini. Marcel, sang pengantin pria, menatap Hilda dengan sorot mata penuh kecurigaan. Pria dalam lukisan itu bukan dia, melainkan asistennya sendiri, Alden. Sementara itu, Isabella hanya menyeringai tipis dari lantai dua, "Hadiah untuk pernikahanmu Hilda" Setelah merasa cukup menikmati drama yang terjadi, Isabella berbalik untuk pergi. Namun, baru saja ia melangkah dua langkah, sebuah tangan menahannya dengan kuat. Greb. Isabella menoleh dan bertemu dengan sepasang mata tajam milik Regan Foster. "Baiklah, aku akan tidur denganmu," ucap pria itu tiba-tiba. Sebelum Isabella sempat bereaksi, Regan membungkuk dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. Isabella yang terkejut spontan melingkarkan lengannya di leher pria itu. Ia tidak pernah memiliki kendali atas hidupnya sejak tinggal di rumah Dion Sinclair. Tetapi untuk malam ini, keputusannya harus menjadi miliknya sendiri. Dia tidak ingin kehilangan perawan dengan orang yang tidak dia inginkan. Tapi di rumah Dion Sinclair semakin gila. Sesampainya di kamar, Regan membuka pintu dengan satu tangan dan menutupnya dengan kakinya. Isabella masih dalam gendongannya. Setelah menurunkannya perlahan, pria itu menyeringai. "Apa kamu berubah pikiran?" "Tidak," jawab Isabella dengan tenang. Regan mengamati ekspresinya. "Apa ini pertama kalinya?" Isabella mendengus. "Untuk apa membahas itu?" "Kalau kamu bilang lebih awal, aku bisa sedikit lebih lembut," balas Regan. Isabella menatapnya tanpa ragu. "Mau pertama kali atau tidak, bukankah sama saja? Apa kamu suka main lembut, atau kamu belum makan hingga tak punya tenaga?" Regan terkekeh rendah. "Jangan minta ampun nanti." Tanpa berbasa-basi lagi, ia menarik Isabella ke tempat tidur dan menurunkannya perlahan. Napasnya terasa hangat di wajah gadis itu saat ia menunduk, menatapnya dengan intens. Regan semakin mendekat, hingga bibir mereka hampir bersentuhan. Dalam hitungan detik, ciuman itu terjadi—dalam, menuntut, dan bergairah. Isabella tidak menolak, tangannya perlahan naik menyentuh wajah Regan sebelum akhirnya memperdalam ciuman itu. Hari itu, di dalam kamar hotel, mereka tenggelam dalam gairah yang tak terbendung. Setelah semuanya berakhir, Regan merengkuh tubuh Isabella erat dalam pelukannya, menatap wajahnya dengan sorot mata dalam. "Ini pertama kalinya untukku," ucapnya lirih. Isabella tersenyum kecil. "Aku suka." Regan mengangkat alis. "Kamu bahkan tidak mengenal aku, tapi langsung suka?" Isabella menatap bibir pria itu lekat-lekat. "Aku suka teknik ciumanmu." Regan menghela napas kecil, menatapnya penuh penasaran. "Kamu terlihat polos dan patuh. Bagaimana bisa begitu berani memiliki ide untuk melakukan ini dengan orang asing?" Bukannya menjawab, Isabella malah berkata "Mau lagi?" Seulas senyum penuh arti muncul di wajah Regan, lalu ia berbisik di telinga gadis itu dengan suara serak, "Kamu yang minta, jangan menyesal kalau tidak bisa berjalan""Kamu masih punya tenaga?" tanyanya menggoda.
Regan terkekeh rendah, menarik gadis itu ke dalam dekapannya. "Kamu menantangku lagi?" Isabella hanya tersenyum tipis, matanya memancarkan tantangan. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap pria itu dengan penuh keyakinan. Regan tidak butuh dorongan lagi. Dengan cepat, ia membalik tubuh Isabella hingga gadis itu berada di bawahnya. Kedua tangan mereka bertaut, napas mereka saling bersatu dalam kehangatan yang semakin membakar. Ciuman mereka kembali bertemu, kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Regan menelusuri lekuk wajah Isabella, turun ke lehernya, lalu bahunya. Isabella mendesah pelan, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan yang diberikan pria itu. Malam itu, sekali lagi, mereka tenggelam dalam gairah yang memabukkan. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan—hanya desir napas dan kehangatan tubuh yang berbicara.Kemudian Tuan Sinclair pergi membawa tas bersisi dokumen kerja, meninggalkan Hilda sendirian di ruang kerja. “Mama…” suara Hilda parau, nyaris pecah ketika melihat Nyonya Sinclair di ruang tamu.Nyonya Sinclair mengangkat wajahnya pelan, kedua alisnya terangkat tipis melihat kondisi putrinya. “Apa lagi yang membuatmu marah, Hilda?” tanyanya tenang, tapi sorot matanya penuh selidik.“Papa… papa tidak pernah mau percaya padaku!” Hilda hampir berteriak, air matanya bergetar di ujung mata. “Aku sudah bilang kalau Isabella itu menyembunyikan sesuatu! Aku melihatnya sendiri bersama seorang pria hari ini berciuman. Tapi Papa… Papa tidak pernah mau percaya. Sebenarnya siapa anak kandungnya, aku atau si jalang itu sih!”Nyonya Sinclair menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di sampingnya. Dia juga sangat membenci gadis itu. Dia tau persis kenapa suaminya bersikap seperti itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Semenjak Isabella berumur 9 tahun, dan d
"Hilda, apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukan kepada kami?" Tanya salah seorang teman sosialitanya."Aku melihatnya bersama seorang pria berciuman di dalam sini tadi. Aku tidak berbohong." Ucap Hilda membela diri."Tapi tidak ada pria dari tadi di sini." Shela menjawab dengan ketus. Kemudian mengusir mereka semua "Sudah pergi sana, jangan mengganggu kami" Para sosialita itu pun akhirnya pergi dengan berbisik-bisik "Membuang-buang waktu saja""Aku rasa karena dia diceraikan dia menjadi sedikit tidak waras""Kenapa kita masih berteman dengannya?. Hapus saja dia dari group kita"Hilda berdiri terpaku di depan pintu ruangan itu, wajahnya panas bukan hanya karena malu. Suara mereka bagai jarum kecil yang menusuk hatinya satu per satu.“Diceraikan… tidak waras… hapus dari grup…” kalimat-kalimat itu terus bergema di telinganya.Tangannya mengepal begitu kuat sampai ruas-ruas jarinya memutih. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh dengan kebencian.Tapi dia masih melotot ke arah Isabell
Hilda menggertakkan giginya, matanya penuh dengan kemarahan. Darahnya terasa mendidih saat membayangkan bagaimana Isabella dengan sengaja berlari dekat vas kesayangan Tuan Sinclair tadi. Dulu, Isabella selalu patuh, dan keluarga mereka tampak baik-baik saja. Namun, seiring beranjaknya usia mereka, perhatian ayahnya selalu tercurah lebih banyak pada Isabella daripada padanya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, siapa yang tidak merasa marah dan cemburu? Di luar juga reputasinya tidak terlalu baik. Semenjak Isabella hadir di pesta sosialita kelas atas kota Lithen. Banyak grup-grup yang membicarakannya. Perhatian. yang dulu ia dapatkan, sekarang harus di bagi dua dengan Isabella. Ia benar-benar harus mengusir Isabella secepatnya. dari rumah ini. "Aku harus membuat Isabella hancur. Bagaimana dengan besok? Sepertinya aku sangat luang?" ucap Hilda dengan dirinya sendiri. Bibirnya terangkat keatas, ia memiliki rencana buruk, yang dapat orang lihat hanya dari matanya. Tanpa ia
Keesokan harinya, Isabella kembali menghabiskan waktunya di kamar, larut dalam lukisan yang belum rampung. Jemarinya yang memegang kuas bergerak pelan, membaurkan warna dengan penuh perasaan. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan keras. Hilda masuk dengan wajah murka, menggenggam cambuk di tangannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung mencambuk Isabella. "Aku ingin kau jujur, Isabella," seru Hilda. Isabella menahan rasa sakit sambil menatap Hilda dengan tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan rekaman CCTV itu? Karena sepanjang pesta, aku berada di ruangan itu dan tak sekalipun melihat kehadiranmu." Jelas Hilda. “Kemarin kau dipukuli, dan sekarang begitu bersemangat membawa cambuk dan menyerangku. Sudah pulih rupanya?” tanya Isabella dengan nada sinis, senyum mengejek terukir di wajahnya. “Kau masih berani tanya?, itu bukan urusanmu!” bentak Hilda tajam. “Kau pasti yang merekayasa rekaman CCTV itu! Sebelum Papa pulang, aku akan menghabisimu!” Begitu tubuhnya mu
Di ruang kerja keluarga Sinclair... Hilda masih meringkuk di sudut ruangan. Tangisannya tak kunjung reda, tubuhnya bergetar, dan matanya merah membengkak. Nyonya Sinclair berdiri tak jauh dari putrinya. Di belakangnya, Theo berdiri kaku, rahangnya mengeras, mencoba menyembunyikan amarah yang membara. "Dion, Hilda sudah tau salah. Berhenti mencambuknya" Teriak Nyonya Sinclair. Suara cambuk berhenti seketika. Seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan mata tajam berdiri beberapa langkah dari Hilda. Di tangannya masih tergenggam cambuk kulit yang kini menggantung lemas di sisi tubuhnya. Nafas Tuan Sinclair masih berat, dadanya naik-turun, menahan amarah yang belum sepenuhnya padam. “Anak ini perlu pelajaran” serunya pada Nyonya Sinclair. “Kau selalu membelanya, dan lihat apa akibatnya? Dia tidak pernah benar-benar belajar bertanggung jawab!” "Tidak ada hal buruk yang menimpa Isabella, dan dirimu sudah memberi pelajaran kepada Hilda. Sekarang sudah cukup Dion" Hilda mend
"Theo, ayo ke ruang kerja. Lihat keadaan adikmu," kata Nyonya Sinclair sambil melangkah pergi. Isabella tetap berdiri di tempat, memperhatikan dua sosok itu menghilang di balik lorong. Jeritan Hilda dari ruang kerja terdengar jelas ke seluruh penjuru rumah. Tapi kali ini, Isabella tak lagi menunjukkan ketakutan. Bibirnya justru membentuk senyum tipis, penuh kepuasan. “Merdu sekali... teruslah berteriak, Hilda. Ini baru permulaannya saja,” gumamnya. “Selama ini, setiap kau berbuat salah, Theodore selalu jadi tamengmu dan aku yang dikorbankan.” Tiba-tiba, ia merasakan getaran halus dari ponsel di saku bajunya. Tanpa banyak bicara, Isabella masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel pemberian Regan dan mendapat pesan darinya Regan: “Kamu masih bangun?” Isabella menatap pesan singkat itu sejenak sebelum mulai mengetik balasan. Isabella: “Masih. Ada apa?” Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Regan: “CCTV-nya sudah kuubah sesuai dengan yang kamu minta.” Isabella







