Sentuhan Terlarang Sang Terapis

Sentuhan Terlarang Sang Terapis

last updateLast Updated : 2026-01-29
By:  Lara LukaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Sentuh aku seolah aku milikmu, Dokter. Sebelum suamiku mengambil kembali tubuh ini." Bagi dunia, Arga adalah fisioterapis bertangan dingin yang menyelamatkan masa depan Kirana Atmadja. Tapi bagi mereka berdua, Arga adalah pendosa yang mencuri cinta dari wanita bersuami di sela-sela sesi terapi yang sunyi. Cinta mereka tumbuh di atas fondasi yang rapuh: sebuah kontrak rahim yang mengharuskan Arga menghadirkan nyawa di perut Kirana, lalu pergi selamanya. Tanpa nama. Tanpa hak. Tanpa jejak. Namun, bagaimana cara mematikan perasaan saat detak jantung janin itu mulai terdengar? Bagaimana Arga bisa kembali menjadi orang asing, ketika wanita yang ia cintai dan darah dagingnya sendiri kini disandera oleh pria yang menganggap mereka hanyalah aset perusahaan? Ini bukan kisah tentang perselingkuhan. Ini adalah kisah tentang merebut kembali hak untuk mencintai, meski harus dibayar dengan kehancuran karier, harga diri, dan masa depan. Terkadang, obat paling manjur adalah racun yang paling manis.

View More

Chapter 1

BAB 1: TANGAN TUHAN YANG TERGADAI

Aroma balsem murah dan keringat basi menyengat hidung, tapi Arga Dananjaya tidak peduli. Dunianya menyempit pada satu titik: bahu kanan seorang kuli bangunan yang membengkak sekeras beton.

"Sakit, Dok... ampun!" Pria paruh baya itu mengerang, giginya bergemeretak menahan nyeri.

"Tahan napas," perintah Arga. Suaranya rendah, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang membuat pasien itu menurut.

Arga tidak sekadar melihat bahu yang terkilir. Saat ujung jari-jarinya menyentuh kulit kasar yang tertutup debu semen itu, Hyper-Tactile Empathy-nya bekerja. Ia tidak hanya meraba otot; ia mendengar jeritannya. Ia bisa merasakan serat trapezius yang melintir, simpul fascia yang meradang, dan aliran darah yang tersumbat seolah-olah itu terjadi di tubuhnya sendiri. Rasa sakit pasien mengalir ke ujung saraf Arga seperti sengatan listrik ribuan volt.

Itu adalah kutukan. Itu adalah bakat.

Arga memejamkan mata. Ia membiarkan getaran nyeri itu memandu tangannya. Jemarinya yang panjang dan kokoh—tangan seorang pianis yang dipaksa menjadi tukang urut—bergerak dengan presisi bedah. Ia menekan titik trigger point di bawah tulang selangka, memutar lengan pasien dengan sudut 45 derajat yang mustahil, lalu menyentak dengan satu gerakan thrust yang cepat.

Krak.

Bunyi tulang kembali ke soketnya terdengar nyaring, membelah kesunyian klinik kumuh itu.

Pria itu terkesiap, lalu napasnya berhembus panjang. Bahunya lemas seketika. Rasa sakit itu hilang, digantikan aliran darah hangat yang melegakan.

"Gerakkan," kata Arga datar, melepaskan sarung tangan lateksnya.

Pria itu memutar lengannya dengan takjub. "Sembuh... Ya Tuhan, terima kasih, Dok! Tangan Dokter benar-benar ajaib."

Arga hanya mengangguk singkat. Ia berjalan ke wastafel pojok yang berkarat, mencuci tangannya dengan sabun batangan kasar. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin retak: lingkaran hitam di bawah mata, tulang pipi yang menonjol karena kurang makan, dan tatapan kosong seseorang yang jiwanya perlahan mati.

"Ini, Dok. Cuma ini yang saya punya hari ini." Pasien itu meletakkan dua lembar uang lima puluh ribuan yang lusuh di atas meja formika.

Arga menatap uang seratus ribu rupiah itu. Seratus ribu untuk memperbaiki aset tubuh yang membuat pria itu bisa bekerja lagi seumur hidup.

"Simpan saja buat beli susu anakmu," gumam Arga, meraih jaket usangnya. "Bahu Bapak butuh istirahat dua hari. Jangan angkat beban dulu."

"Tapi, Dok—"

Arga sudah melangkah keluar, menembus hujan gerimis Jakarta yang berbau aspal basah. Ia tidak butuh seratus ribu. Ia butuh delapan ratus juta.

Tiga puluh menit kemudian, atmosfer berubah drastis.

Tidak ada lagi bau balsem. Yang ada hanyalah aroma antiseptik dingin yang menusuk dan desing mesin ventilator yang konstan. Ruang Administrasi RS Medika Utama terasa lebih mencekam daripada kamar mayat.

"Maaf, Dokter Arga. Sistem kami otomatis mengunci."

Wanita di balik meja resepsionis itu tidak berani menatap mata Arga. Ia sibuk mengetik di keyboard, seolah layar komputernya lebih manusiawi daripada pria yang berdiri dengan baju basah di depannya.

"Saya hanya minta waktu tiga hari," suara Arga serak, namun ia berusaha menjaganya tetap stabil. "Saya sedang mengurus penjualan tanah warisan di kampung. Pembelinya baru transfer lusa."

Kebohongan. Tanah itu sudah dijual tahun lalu. Uangnya habis untuk operasi bypass pertama.

"Tagihan Ibu Ratna sudah menunggak tiga bulan, Dok. Totalnya delapan ratus lima puluh juta rupiah," resepsionis itu akhirnya menatap Arga, tatapannya campuran antara kasihan dan jijik. "Protokol rumah sakit jelas. Jika tidak ada pembayaran minimal 30% sore ini... ventilator harus dilepas untuk dialokasikan ke pasien daftar tunggu."

Dunia Arga berguncang. Bukan gempa bumi, tapi runtuhnya pilar terakhir kewarasannya.

Arga menoleh ke arah pintu kaca ICU di kejauhan. Dari sini, ia bisa melihat ibunya. Sosok yang dulu gagah membesarkannya seorang diri, kini hanyalah tubuh ringkih yang dililit selang-selang plastik. Dada ibunya naik-turun bukan karena napas kehidupan, tapi karena paksaan mesin.

Ibunya adalah satu-satunya alasan Arga belum menyayat nadinya sendiri.

"Dia ibuku, Mbak," bisik Arga. Tangannya yang dipuja orang sebagai 'Tangan Tuhan' kini gemetar di atas meja marmer dingin itu. Tangan yang bisa menyembuhkan ribuan orang, tapi tidak berdaya menyelamatkan satu nyawa yang paling berarti. "Tolong. Jangan cabut mesinnya."

"Saya hanya menjalankan tugas, Dok." Wanita itu menggeser selembar faktur merah. "Pukul 17.00 tenggat waktunya."

Arga berjalan mundur. Kakinya terasa berat, seolah gravitasi menariknya langsung ke neraka. Ia tersandung keluar menuju lorong tunggu yang sepi. Jam dinding digital di lorong menunjukkan pukul 16.15.

Empat puluh lima menit menuju eksekusi mati.

Arga merosot di kursi tunggu berbahan logam dingin. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel layar retak yang baterainya tinggal 10%. Daftar kontaknya penuh dengan nama teman sejawat, dokter spesialis, bahkan mantan dosen. Tapi ia tahu, menelepon mereka percuma. Siapa yang mau meminjamkan hampir satu miliar pada fisioterapis bangkrut yang lisensinya pun terancam tidak diperpanjang karena jarang praktik?

Ia menatap kedua telapak tangannya. Kasar. Kuat. Penuh urat. Tangan yang sia-sia.

Tuhan, jika Kau memang ada, ambil saja tanganku ini. Aku tidak butuh bakat ini jika Ibu harus mati.

Tepat saat keputusasaan itu mencapai puncaknya, ponsel di genggamannya bergetar. Layar menyala.

Unknown Number.

Arga menatapnya kosong. Penagih utang? Bank? Atau malaikat maut?

Dengan jari gemetar, ia menggeser tombol hijau. "Halo?"

Tidak ada salam. Tidak ada basa-basi.

Suara di seberang sana terdengar berat, datar, dan sedingin logam, seolah suara itu datang dari tempat yang tidak tersentuh matahari.

"Arga Dananjaya. Fisioterapis lulusan Cum Laude yang sedang butuh delapan ratus lima puluh juta rupiah dalam empat puluh menit."

Jantung Arga berhenti berdetak sesaat. Matanya menyapu sekeliling lorong RS, mencari siapa yang mengawasinya. "Siapa ini?"

"Itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang bisa kamu tawarkan," suara itu melanjutkan, tanpa intonasi. Di latar belakang, terdengar denting halus gelas kristal beradu. "Tuan Atmadja mendengar reputasi 'Tangan Ajaib'-mu. Beliau tertarik."

"Saya tidak melayani panggilan sembarangan," Arga hendak memutus sambungan, mengira ini lelucon sakit.

"Kami tahu ibumu ada di ICU Medika Utama. Kami juga tahu ventilator itu akan mati pukul lima sore."

Darah Arga membeku. "Jangan sentuh ibuku!"

"Kami tidak akan menyentuhnya. Uang kami yang akan menyelamatkannya," suara itu menyela tajam. "Sebuah mobil hitam sudah menunggu di lobi depan. Bawa tanganmu, Dokter. Hanya itu yang perlu kau bawa."

Hening sejenak. Napas Arga memburu.

"Apa yang Tuan Atmadja inginkan dariku?" tanya Arga, suaranya bergetar antara harapan dan ketakutan.

Jawaban di seberang sana membuat bulu kuduknya meremang.

"Tuan Atmadja ingin membeli tangan Anda, Dokter. Untuk menyentuh sesuatu yang... sangat berharga."

Telepon mati.

Arga menatap layar hitam ponselnya. Di kejauhan, bunyi bip monitor jantung dari ruang ICU terdengar seperti hitungan mundur bom waktu. Arga berdiri, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia tidak punya pilihan. Ia baru saja menggadaikan tangannya pada iblis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status