MasukRegan membuka pintu kamar mandi dan bersiap untuk mandi. Sementara itu, Isabella pergi diam-diam untuk pulang tanpa memberi tahu siapa pun.
30 menit kemudian, Regan keluar dan berkata "Ayo kita makan malam... mau di..." belum siap Regan bicara, ia mengernyit saat menyadari ruangan itu kosong. Wanita itu tidak ada di sana. Awalnya, dia berpikir mungkin wanita itu hanya keluar sebentar, tapi firasatnya berkata lain. Regan mendengus, "Setelah pakai, langsung ditinggal? Berani-beraninya" Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan menghubungi Leo “Leo, bantu aku mencari seseorang. Ya, seorang wanita”. *** Keesokan harinya, di rumah keluarga Sinclair. Hilda terisak di ruang tamu keluarga Sinclair, wajahnya basah oleh air mata. Hari ini ia pulang ke rumah orang tuanya untuk mengadu. "Ma, sepertinya Marcel sangat marah. Dia memandangku dengan tatapan jijik" Hilda menangis disertai segugukan. Sonia Raharjo, sang nyonya rumah, menatap putrinya dengan penuh kemarahan. “Anak bodoh! Kamu sudah mendapatkan pewaris keluarga Oriza, tapi kamu masih berani bermain api dengan asistennya? Apa yang kamu pikirkan Hilda? Kamu telah mempermalukan keluarga Sinclair kita!” “Ma, aku tahu aku salah… Tolong bantu aku bicara dengan keluarga Oriza. Aku tidak mau diceraikan!” Hilda memohon pada mamanya, berharap wanita itu bisa membantunya. Melihat mamanya hanya menghembuskan nafas kasar, dia menatap papanya. "Pa..." panggilnya. Namun Tuan Sinclair hanya duduk diam di sofa sambil memasang ekspresi jelek. Belum sempat Tuan Sinclair bicara, detik berikutnya, telepon rumah tiba-tiba berdering, memecah ketegangan di ruangan itu. Sonia segera berdiri dan mengangkat gagang telepon. “Halo, ini rumah keluarga Sinclair.” “Halo, saya Sebastian Santoso, pengacara keluarga Oriza. Klien saya telah menandatangani perjanjian perceraian dengan Nona Sinclair.” "Apa?! Bagaimana bisa?!" Nyonya Sinclair terkejut, tubuhnya menegang. “Perceraian ini akan diproses secepatnya. Saya akan mengirimkan dokumennya hari ini. Mohon kerja samanya.” Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, panggilan itu langsung terputus. Nyonya Sinclair menatap gagang telepon dengan wajah pucat, sebelum akhirnya berbalik ke arah keluarganya. "Ma, ada apa?" Tanya Theodore, Tuan Muda Sinclair. Ia adalah putra pertama keluarga Sinclair. “Mereka ingin menceraikan Hilda,” ucapnya dengan suara gemetar. “Apa? Tidak mungkin!” Theodore, putra sulung keluarga Sinclair, langsung berdiri. “Papa, kita harus melakukan sesuatu.” “Tolong, Hilda pa! Kak Theo! Bagaimana bisa aku diceraikan dihari pertama setelah menikah?” Hilda menangis semakin keras. Hilda menggigit bibirnya dengan gemetar. Amarah dan kepanikan bercampur menjadi satu dalam dadanya. Pikirannya masih kacau setelah ditinggalkan begitu saja oleh Marcel, tetapi ada satu hal yang kini menyita perhatiannya—senyum tipis yang melintas di wajah Isabella. Mata Hilda menyipit, hatinya bergejolak. 'Dia… Apakah mungkin dia penyebabnya?'. Kemarin dia memang menyuruhnya melukis, daripada berada di pesta pernikahan. Karena dia tidak ingin Isabella mengambil perhatian di hari specialnya. Langkahnya refleks mendekati Isabella, tanpa memedulikan tatapan keluarganya yang masih dipenuhi keterkejutan atas keputusan Marcel. “Kamu…” Hilda berbisik tajam. “Jangan bilang… Kamu ada hubungannya dengan semua ini?” Isabella mengangkat alis, ekspresinya tetap tenang seolah tak terganggu. “Apa maksudmu, Kak Hilda?” tanyanya dengan nada polos. “Kamu melukis kemarin kan? Kamu yang melukis itu kan?”Isabella mendesis. “Mengapa aku malakukan itu. Apa untungnya?”
"Jangan berpura-pura jadi cewek sok polos, kamu pasti yang menghancurkan pernikahanku, kamu membalas dendam karena aku yang menyuruhmu melukis disepanjang acara kan?" Seru Hilda dengan tatapan penuh amarah. "Kak Hilda, kemarin aku pulang duluan, aku meninggalkan lukisanku di ruangan itu. Respon Isabella dengan suara tenang. "Biar aku tunjukkan sesuatu," lanjutnya. "Aku sempat mengambil gambar lukisanku sebelum pulang kemarin."Isabella mengangkat ponselnya, memperlihatkan foto sebuah lukisan dua ekor burung merpati yang bertengger berdampingan. Lukisan yang melambangkan kesetiaan dan cinta abadi.
Hilda terdiam, wajahnya menegang. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, suara dentuman keras terdengar. TOK! Tuan Sinclair memukul lantai dengan tongkatnya, membuat suasana seketika hening. "Cukup, Hilda. Papa akan bicara dengan Marcel nanti. Sekarang semuanya bubar," katanya dengan suara berwibawa. Tatapannya tajam saat mengarah pada Isabella. "Isabella, ikut aku ke ruang kerja." Dengan langkah tenang, ia mengikuti Tuan Sinclair menuju ruang kerja. Di dalam ruangan itu, Isabella berdiri di depan meja besar yang dipenuhi dokumen. Tuan Sinclair duduk di kursi kerja, menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara. "Aku dengar dari pengawal belakang, kamu mencoba untuk mengunjungi nenek di halaman belakang?" Tanya Tuan Sinclair. "Om Dion, aku juga anggota keluarga Sinclair, apa aku bahkan tidak bisa bebas di rumah sendiri?" Tanya Isabella. Tuan Sinclair tersenyum miring, lalu bangkit dari kursinya. Dengan langkah santai, ia berjalan mendekati Isabella, kemudian berhenti di belakangnya. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik di telinga gadis itu, "Apa itu artinya, kamu sudah mempertimbangkan untuk bersamaku?" Isabella merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. Ia meremas kedua telapak tangannya, menahan perasaan jijik yang muncul di hatinya. Lalu, dengan suara dingin dan penuh ketegasan, ia menjawab, "Mimpi saja." Mata Tuan Sinclair menyipit, senyumnya memudar. Dalam satu gerakan, ia melangkah ke depan dan menatap Isabella dengan tajam. "Kamu dikurung," ucapnya singkat.Kemudian Tuan Sinclair pergi membawa tas bersisi dokumen kerja, meninggalkan Hilda sendirian di ruang kerja. “Mama…” suara Hilda parau, nyaris pecah ketika melihat Nyonya Sinclair di ruang tamu.Nyonya Sinclair mengangkat wajahnya pelan, kedua alisnya terangkat tipis melihat kondisi putrinya. “Apa lagi yang membuatmu marah, Hilda?” tanyanya tenang, tapi sorot matanya penuh selidik.“Papa… papa tidak pernah mau percaya padaku!” Hilda hampir berteriak, air matanya bergetar di ujung mata. “Aku sudah bilang kalau Isabella itu menyembunyikan sesuatu! Aku melihatnya sendiri bersama seorang pria hari ini berciuman. Tapi Papa… Papa tidak pernah mau percaya. Sebenarnya siapa anak kandungnya, aku atau si jalang itu sih!”Nyonya Sinclair menghela napas panjang, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil di sampingnya. Dia juga sangat membenci gadis itu. Dia tau persis kenapa suaminya bersikap seperti itu. Namun, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini. Semenjak Isabella berumur 9 tahun, dan d
"Hilda, apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukan kepada kami?" Tanya salah seorang teman sosialitanya."Aku melihatnya bersama seorang pria berciuman di dalam sini tadi. Aku tidak berbohong." Ucap Hilda membela diri."Tapi tidak ada pria dari tadi di sini." Shela menjawab dengan ketus. Kemudian mengusir mereka semua "Sudah pergi sana, jangan mengganggu kami" Para sosialita itu pun akhirnya pergi dengan berbisik-bisik "Membuang-buang waktu saja""Aku rasa karena dia diceraikan dia menjadi sedikit tidak waras""Kenapa kita masih berteman dengannya?. Hapus saja dia dari group kita"Hilda berdiri terpaku di depan pintu ruangan itu, wajahnya panas bukan hanya karena malu. Suara mereka bagai jarum kecil yang menusuk hatinya satu per satu.“Diceraikan… tidak waras… hapus dari grup…” kalimat-kalimat itu terus bergema di telinganya.Tangannya mengepal begitu kuat sampai ruas-ruas jarinya memutih. Rahangnya mengeras, matanya berkilat penuh dengan kebencian.Tapi dia masih melotot ke arah Isabell
Hilda menggertakkan giginya, matanya penuh dengan kemarahan. Darahnya terasa mendidih saat membayangkan bagaimana Isabella dengan sengaja berlari dekat vas kesayangan Tuan Sinclair tadi. Dulu, Isabella selalu patuh, dan keluarga mereka tampak baik-baik saja. Namun, seiring beranjaknya usia mereka, perhatian ayahnya selalu tercurah lebih banyak pada Isabella daripada padanya. Sebagai satu-satunya anak perempuan, siapa yang tidak merasa marah dan cemburu? Di luar juga reputasinya tidak terlalu baik. Semenjak Isabella hadir di pesta sosialita kelas atas kota Lithen. Banyak grup-grup yang membicarakannya. Perhatian. yang dulu ia dapatkan, sekarang harus di bagi dua dengan Isabella. Ia benar-benar harus mengusir Isabella secepatnya. dari rumah ini. "Aku harus membuat Isabella hancur. Bagaimana dengan besok? Sepertinya aku sangat luang?" ucap Hilda dengan dirinya sendiri. Bibirnya terangkat keatas, ia memiliki rencana buruk, yang dapat orang lihat hanya dari matanya. Tanpa ia
Keesokan harinya, Isabella kembali menghabiskan waktunya di kamar, larut dalam lukisan yang belum rampung. Jemarinya yang memegang kuas bergerak pelan, membaurkan warna dengan penuh perasaan. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan keras. Hilda masuk dengan wajah murka, menggenggam cambuk di tangannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia langsung mencambuk Isabella. "Aku ingin kau jujur, Isabella," seru Hilda. Isabella menahan rasa sakit sambil menatap Hilda dengan tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan rekaman CCTV itu? Karena sepanjang pesta, aku berada di ruangan itu dan tak sekalipun melihat kehadiranmu." Jelas Hilda. “Kemarin kau dipukuli, dan sekarang begitu bersemangat membawa cambuk dan menyerangku. Sudah pulih rupanya?” tanya Isabella dengan nada sinis, senyum mengejek terukir di wajahnya. “Kau masih berani tanya?, itu bukan urusanmu!” bentak Hilda tajam. “Kau pasti yang merekayasa rekaman CCTV itu! Sebelum Papa pulang, aku akan menghabisimu!” Begitu tubuhnya mu
Di ruang kerja keluarga Sinclair... Hilda masih meringkuk di sudut ruangan. Tangisannya tak kunjung reda, tubuhnya bergetar, dan matanya merah membengkak. Nyonya Sinclair berdiri tak jauh dari putrinya. Di belakangnya, Theo berdiri kaku, rahangnya mengeras, mencoba menyembunyikan amarah yang membara. "Dion, Hilda sudah tau salah. Berhenti mencambuknya" Teriak Nyonya Sinclair. Suara cambuk berhenti seketika. Seorang pria paruh baya dengan wajah keras dan mata tajam berdiri beberapa langkah dari Hilda. Di tangannya masih tergenggam cambuk kulit yang kini menggantung lemas di sisi tubuhnya. Nafas Tuan Sinclair masih berat, dadanya naik-turun, menahan amarah yang belum sepenuhnya padam. “Anak ini perlu pelajaran” serunya pada Nyonya Sinclair. “Kau selalu membelanya, dan lihat apa akibatnya? Dia tidak pernah benar-benar belajar bertanggung jawab!” "Tidak ada hal buruk yang menimpa Isabella, dan dirimu sudah memberi pelajaran kepada Hilda. Sekarang sudah cukup Dion" Hilda mend
"Theo, ayo ke ruang kerja. Lihat keadaan adikmu," kata Nyonya Sinclair sambil melangkah pergi. Isabella tetap berdiri di tempat, memperhatikan dua sosok itu menghilang di balik lorong. Jeritan Hilda dari ruang kerja terdengar jelas ke seluruh penjuru rumah. Tapi kali ini, Isabella tak lagi menunjukkan ketakutan. Bibirnya justru membentuk senyum tipis, penuh kepuasan. “Merdu sekali... teruslah berteriak, Hilda. Ini baru permulaannya saja,” gumamnya. “Selama ini, setiap kau berbuat salah, Theodore selalu jadi tamengmu dan aku yang dikorbankan.” Tiba-tiba, ia merasakan getaran halus dari ponsel di saku bajunya. Tanpa banyak bicara, Isabella masuk ke kamarnya dan mengambil ponsel pemberian Regan dan mendapat pesan darinya Regan: “Kamu masih bangun?” Isabella menatap pesan singkat itu sejenak sebelum mulai mengetik balasan. Isabella: “Masih. Ada apa?” Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Regan: “CCTV-nya sudah kuubah sesuai dengan yang kamu minta.” Isabella







