Zayn berkata, "Besok, aku akan mengirim orang untuk menjemputmu dan membawamu ke rumah sakit.""Ke, ke rumah sakit untuk apa?" tanyaku dengan gugup.Zayn menatapku dengan tenang dan berkata dengan nada santai, "Pergi ke rumah sakit untuk periksa."Jantungku berdebar kencang dan aku buru-buru menggelengkan kepala.Zayn mengabaikan penolakanku. Dia menatapku dan perlahan berkata, "Aku sudah bilang padamu saat di Kota Yuma, kalau aku akan membawamu periksa saat kembali nanti.""Tidak, jangan."Hal ini terlalu mendadak. Kupikir beberapa hari ini dia sudah membenciku dan bersikap dingin padaku. Itu sebabnya, aku mengira jika semua ini sudah berakhir.Akan tetapi, aku tidak menyangka jika ternyata Zayn masih mengingatnya.Apa yang harus kulakukan sekarang?Aku sama sekali tidak siap dan tidak tahu harus berbuat apa.Jika besok aku pergi ke rumah sakit untuk periksa, rahasia kehamilanku pasti akan terbongkar.Apa yang menantiku selanjutnya adalah hukuman penjara yang mengerikan dan perpisahan
Tepat di saat aku merasa lega, pria itu tiba-tiba menoleh ke arahku.Aku mengerucutkan bibirku dan menutup jendela.Aku berbalik dan bersandar ke jendela, memikirkan mimpi buruk yang baru saja kualami.Dalam mimpiku, ada penjara yang gelap dan adegan menyakitkan saat Zayn dan Cindy bertengkar memperebutkan bayiku.Setiap kali mengingat kembali kejadian dalam mimpiku, seluruh tubuhku akan menjadi gemetar.Aku membenamkan wajahku di telapak tanganku, merasa cemas dan tidak berdaya.Aku tidur dengan begitu gelisah di paruh kedua malam itu dan berkali-kali terbangun. Setiap kali terbangun, aku merasa sangat panik.Baru ketika aku menyentuh perutku yang agak membuncit dan merasakan kehadiran kedua bayi itu, aku bisa merasa sedikit lebih tenang.Akan tetapi, hatiku terasa sakit ketika aku memikirkan jika pria itu akan segera mengetahui rahasia kehamilanku dan mengambil bayiku.Terkadang, aku benar-benar membenci Zayn. Kenapa dia begitu kejam padaku?Ini bayiku. Kenapa dia harus mengambilnya?
Aku menatapnya dengan sedih. Sambil bergantung pada secercah harapan terakhirku, aku pun berkata kepada Zayn, "Bisakah kita tidak pergi ke rumah sakit? Asalkan kita tidak pergi ke rumah sakit, kamu boleh memintaku melakukan apa saja."Setelah berkata seperti itu, aku memeluk lengannya dengan sikap menyanjung.Zayn menunduk dan menatapku. Wajahnya penuh dengan ejekan."Kamu bisa melakukan apa saja?"Aku buru-buru mengangguk. "Ya. Sekalipun harus berinisiatif untuk membuatmu senang, semua itu tidak masalah."Asalkan aku tidak pergi ke rumah sakit, Zayn. Aku benar-benar takut.Saat mengatakan semua itu, air mata mulai mengalir di mataku.Aku menatap Zayn dengan air mata berlinang. Aku berdoa agar dia mau melembutkan hatinya.Akan tetapi, bagaimanapun, aku bukanlah Cindy.Air mataku, kepedihanku, akhirnya tidak ada gunanya bagi Zayn.Zayn menepis tanganku dengan tenang dan tertawa kecil. "Nona Audrey, apa menurutmu, kamu berhak untuk bernegosiasi denganku sekarang?""Menurutku, membawamu k
Lantaran status dan jabatan Zayn, kepala bagian ginekologi itu sangat antusias saat bertemu dengannya."Pak Zayn, Anda datang ke sini."Zayn menunjuk ke arahku dan langsung berkata kepada kepala bagian ginekologi itu. "Periksa dia. Cari tahu kenapa dia tidak bisa hamil."Kepala bagian ginekologi itu tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat ke arahku. Dia mengamatiku dari atas hingga ke bawah dan bertanya, "Apa menstruasimu normal? Apa kamu pernah melakukan aborsi sebelumnya?"Aku mengepalkan tanganku di samping tubuh, mengerucutkan bibirku dan tidak mengatakan apa-apa.Kepala bagian ginekologi itu mengerutkan kening dan berkata kepadaku, "Aku bertanya kepadamu. Apa kamu pernah melakukan aborsi? Sebaiknya kamu jawab dengan jujur."Aku tetap saja diam.Kepala bagian ginekologi itu tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke arah Zayn.Zayn menatapku dengan dingin. Matanya setengah memicing dan menunjukkan aura yang berbahaya.Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan tenang
Pria itu keluar dengan masker dan topi, hanya memperlihatkan mata.Selain itu, aku juga langsung mengenali kalau itu adalah Arya.Akan tetapi, mengapa tatapan Arya terlihat menakutkan?Jantungku berdebar kencang sampai aku berpegangan pada pagar dan menatapnya dengan ketakutan.Dalam beberapa detik setelah melihatku, tatapan dingin yang menyeramkan langsung menghilang dalam sekejap, berubah menjadi keterkejutan."Audrey?"Sebuah suara yang tidak asing terdengar dengan kelembutan yang biasa seolah tatapan menyeramkan barusan hanyalah ilusiku."Audrey?"Arya memanggilku lagi dan dia sudah mulai berjalan.Setelah beberapa saat, dia sampai di hadapanku.Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Entah mengapa saat ini aku merasa dia agak menakutkan."Audrey, ternyata ini kamu." Arya tersenyum padaku, lalu melepas masker dan berkata padaku, "Ini aku, Arya. Jangan-jangan kamu tidak mengenaliku?"Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku tanpa mengatakan apa pun.Dia menatapku selama beberapa detik
Ujung lain telepon menjadi hening selama beberapa detik sebelum bertanya, "Sekarang kamu ada di mana? Aku akan datang mencarimu.""Tidak perlu, aku bisa periksa sendiri."Mungkin penolakanku agak keras dan suara pria itu menjadi lebih dingin, "Sebaiknya kamu jangan mempermainkanku. Kalau tidak ... aku akan membunuhmu!"Dia telah melontarkan ancaman keji berkali-kali, sedemikian rupa sampai aku tidak lagi bereaksi setelah mendengarnya.Aku berkata dengan datar, "Aku tahu."Aku mengakhiri panggilan setelah mengatakan ini.Panggilan telepon ini membuatku merasa semakin jengkel dan dilema yang harus kuhadapi mulai mengelilingiku lagi.Arya menatapku dan bertanya, "Ada apa? Zayn yang menelepon?"Aku mengangguk dan duduk di tangga, begitu kesalnya sampai aku tidak tahu harus berbuat apa.Arya duduk di sebelahku. Dia melihat lembar pemeriksaan di tanganku dan berkata, "Kamu sedang periksa kandungan? Zayn yang membawamu ke sini?"Aku mengatupkan bibirku dan berkata, "Dia ingin aku memberinya s
Setelah turun dari departemen laboratorium dengan laporan pemeriksaan yang Arya berikan kepadaku, aku bertemu dengan Zayn yang hendak naik.Zayn mengerutkan kening dengan sorot mata kesal ... serta cemas."Kok lama sekali pemeriksaannya?"Dia bertanya padaku sambil menatapku dengan tatapan membara.Aku menggulung laporan pemeriksaan dan mengerucutkan bibir, "Ada begitu banyak pemeriksaan, jadi tentu saja akan memakan waktu.""Terus bagaimana dengan hasilnya? Ada masalah?"Entah apakah itu hanya imajinasiku, tetapi aku merasa suaranya agak tegang saat menanyakan ini.Dia menatapku lekat-lekat, sepasang matanya begitu gelap dan menakutkan.Alhasil, aku tidak tahu harus apa yang harus kukatakan padanya tentang hasil pemeriksaan ini.Bagaimanapun, laporan pemeriksaan ini palsu. Arya menyuruh temannya memalsukannya untukku, jadi aku masih merasa agak bersalah."Katakan!"Dia tiba-tiba berteriak dengan suara agak kesal dan jengkel.Hatiku berdebar dan aku berbisik, "Ayo kita keluar dulu."Se
"Aku mengerti mungkin kamu sulit untuk menerima hasil ini, tapi inilah fakta."Saat Arya memberiku laporan pemeriksaan palsu ini, dia memberitahuku kalau dia telah mengurus semua departemen di rumah sakit sehingga aku tidak perlu khawatir.Saat itu aku tidak merasakan apa pun.Saat ini melihat direktur jelas sangat takut pada Zayn, tetapi masih bisa membantu Arya menipu Zayn yang menunjukkan Arya benar-benar hebat.Hal ini membuatku agak penasaran, apakah Arya memiliki identitas tersembunyi lain selain menjadi artis besar?Brak!Saat aku sedang memikirkannya, Zayn tiba-tiba memukul meja dengan keras dan membuatku takut.Direktur juga menggigil ketakutan.Dia berkata dengan canggung, "Ada banyak penyebab kemandulan, misalnya lingkungan hidup memengaruhi kesehatan orang, stres memengaruhi kadar hormon seseorang, terlalu banyak aborsi atau tidak dilakukan dengan benar, juga pil KB. Semua ini bisa menyebabkan kemandulan.""Tidak bisa bilang kesehatannya baik-baik saja karena dibesarkan den
Zayn berkata dengan serak tanpa mengangkat kepalanya."Aku sedang merancang gaun pengantinmu."Aku tertegun sejenak, hatiku tiba-tiba terasa sangat manis.Aku berkata, "Kamu istirahatlah lebih awal. Kamu tidak harus merancang gaun pengantinnya sekarang, kita masih punya banyak waktu di masa depan."Zayn sudah selesai membuat sketsa di atas kertas.Zayn meletakkan pensil, lalu bersandar di sandaran kursi sambil meregangkan pinggangnya. Dia berkata sambil tersenyum, "Butuh waktu yang lama untuk buat gaun ini, jadi aku harus segera menyelesaikan rancangannya."Setelah terdiam sejenak, Zayn tiba-tiba menatapku lekat-lekat, kemudian berkata dengan suara yang rendah dan lembut, "Aku mau kasih tahu seluruh dunia kalau kamu adalah satu-satunya istriku yang kucintai."Meskipun kami sedang melakukan panggilan, aku tetap merasa malu saat seorang pria mengucapkan kata-kata yang romantis dengan begitu serius padaku.Wajahku sedikit memerah setelah mendengar ini. Aku mengalihkan tatapanku, kemudian
Zayn mengatakan jika situasi ibunya sangat stabil. Selain itu, Zayn juga mengatakan jika ibunya sangat merindukanku dan ingin menemuiku.Aku berencana untuk menjenguk Agatha setelah ibuku selesai menjalani operasi pada tanggal 20.Omong-omong, aku hampir melupakan satu orang, yaitu Cindy.Cindy sangat pendiam akhir-akhir ini, dia bahkan tidak membuat masalah.Berdasarkan sikap Cindy sebelumnya, dia pasti sengaja muncul di sisi Zayn saat aku tidak sempat bertemu dengan Zayn selama beberapa hari ini. Kemudian Cindy akan memotret foto, lalu mengirimkannya padaku untuk pamer dan juga untuk membuatku salah paham.Hanya saja Cindy sama sekali tidak melakukan apa pun, yang terasa sangat aneh.Aku sama sekali tidak percaya jika Cindy sudah berpikir dengan jernih dan berubah menjadi orang baik.Pepatah pernah mengatakan jika anjing yang suka menggonggong tidak akan menggigit orang, tapi anjing yang bisa menggigit orang tidak akan menggonggong.Jadi aku semakin merasa tidak tenang saat orang sek
Aku tanpa sadar menatap Irvin, tapi matanya menatap lurus ke depan.Dengan kata lain, Irvin sama sekali tidak sadar jika pacarnya baru saja berjalan melewatinya.Aneh sekali.Irvin begitu mencintai Sella, dia seharusnya sangat senang saat tiba-tiba bertemu dengannya.Hanya saja, Irvin tidak hanya tidak membuat reaksi apa pun, dia bahkan juga tidak melirik Sella. Irvin terus berjalan ke kamar pasien ibuku seperti biasa.Saat aku sedang kebingungan, Irvin menoleh untuk menatapku, "Kenapa?"Aku menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, "Tadi aku lihat pacarmu."Irvin tertegun, lalu tanpa sadar menatap sekeliling, "Di mana? Kenapa aku tidak melihatnya?"Aku menatap Irvin sambil mengerutkan keningku, "Tadi dia baru saja jalan di depan kita, apakah kamu tidak melihatnya?"Terdapat kilatan cahaya di mata Irvin, dia berkata sambil tersenyum, "Tadi aku sedang memikirkan masalah Ayah dan masih marah karena perbuatannya, jadi aku tidak terlalu memerhatikan keadaan sekitar."Aku menatap Irvin lekat-le
"Anggap saja kamu bantu Ayah minta modal 200 miliar pada Zayn.""Ayah janji akan mengembalikan uang ini padamu kalau proyek ini berjalan dengan lancar."Aku menepis tangannya, lalu berkata dengan datar, "Aku tidak akan pinjam uang pada Zayn, terserah kamu mau menolong Ibu atau tidak. Kami juga tidak akan memaksamu kalau kamu tidak mau menolongnya, semuanya tergantung pada hati nuranimu!""Benar sekali, aku tidak akan meremehkanmu kalau kamu tidak minta uang. Sayangnya di matamu cuma ada uang dan kekasihmu."Irvin memelototi ayahku dengan tajam, "Cepat pergi, jangan pernah muncul di hadapan kami lagi. Kalau tidak, aku tidak akan sungkan-sungkan padamu!"Ayahku memasang ekspresi sedih, dia menggerakkan bibirnya untuk mengatakan sesuatu, tapi aku sudah ditarik hingga ke depan lift oleh Irvin.Saat sedang menunggu lift, aku tidak bisa menahan diri untuk melirik ayahku.Ayahku sedang menelepon, entah dia sedang bertelepon dengan siapa sampai bersikap sesopan itu.Aku khawatir ayahku akan me
Ibuku dulu sangat mencintai ayahku.Hingga semua dunianya adalah ayahku.Saat itu, ibuku memikirkan ayahku dalam segala hal dan bergantung padanya dalam segala hal.Namun kini, Ibuku tidak memendam apa pun selain kebencian terhadap ayahku. Hal ini menunjukkan betapa buruknya Ayah yang sudah menyakiti Ibu.Setelah menghibur ibuku, aku keluar dari bangsal dan melihat ayah serta kakakku bersandar di jendela di koridor, seolah sedang menungguku.Aku menghampiri ayahku lalu bertanya, "Untuk apa kamu datang hari ini?"Ayahku terisak, berkata dengan wajah sedih, "Aku tidak menyangka ibumu akan sakit parah. Kalian juga sama. Kalian tidak memberitahuku bahwa hal sebesar itu terjadi."Kakakku mencibir, "Kalau aku ceritakan hal ini, apa kamu akan meninggalkan kekasihmu dan kembali lagi?""Kalau aku ceritakan hal ini, apa ibuku akan membaik? Lagi pula, ibuku jadi sakit karena kamu.""Kalau kamu tahu diri, pergilah dari sini, berhentilah berpura-pura sayang pada kami.""Kenapa kamu bicara pada ayah
Ya, kakakku memang benar.Menceritakan hal-hal ini pada seseorang yang sudah berubah pikiran tidak akan menyelamatkan apa pun.Keesokan paginya, aku dan kakakku pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibuku.Begitu sampai di pintu, aku dengar suara pertengkaran dari arah bangsal ibuku.Aku juga samar-samar mendengar suara ayahku.Aku dan kakakku saling memandang dan bertanya, "Bagaimana Ayah tahu?""Siapa yang tahu? Sial, aku tahu kedatangannya akan menimbulkan masalah bagi ibu kita," kata kakakku sambil mendorong pintu bangsal.Aku melihat ayahku berdiri di samping tempat tidur dengan tangan di pinggangnya, wajahnya penuh dengan kemarahan.Ibuku duduk di ranjang rumah sakit, menyeka air matanya dalam diam.Kakakku langsung marah, lalu berlari ke depan dan mendorong ayahku, "Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu menindas ibuku lagi?"Aku bergegas menghampiri, memegang bahu ibuku dan bertanya apa yang terjadi.Ibu tidak mengatakan apa pun, hanya menggelengkan kepalanya.Kakakku makin
Untungnya, aku baru saja menginjak anak tangga pertama.Begitu aku bergerak mundur, ada tanah datar di belakangku hingga membuatku kehilangan keseimbangan.Setelah bergoyang dua kali, akhirnya aku berhasil berdiri tegak.Aku mendongak dengan kaget, ternyata itu adalah kakakku."Apa yang kamu lakukan? Kamu tiba-tiba berlari ke bawah, hampir saja menjatuhkanku."Kakakku melirik ke arah Zayn pergi dan mendengus, "Kenapa kamu turun ke bawah? Aku sudah berdiri di sini tanpa bergerak dari tadi.""Kamu sedang memikirkan suamimu begitu serius hingga menabrak aku!"Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.Apa artinya 'memikirkan suami'? Aku mendapati kata-kata Irvin semakin lama semakin keterlaluan.Hah?Eh, salah!Kalau kakakku berdiri di sini sepanjang waktu, bukankah akan melihat dan mendengar semua yang baru saja kami lakukan, saat Zayn mencium serta memelukku dan mengucapkan begitu banyak kata-kata mesra?Tepat saat aku memikirkan hal ini, kakakku datang, menyentuh hidungnya dan tersenyum pad
"Ingat kirim pesan padaku setiap hari. Kalau ada waktu, telepon aku.""Betapa pun sibuknya aku, aku akan mengangkat teleponmu.""Ya."Keengganan Zayn membuat hatiku luluh.Pada saat ini, aku sepenuhnya merasakan cintanya yang begitu kuat.Namun cintanya tampak bercampur dengan sedikit kekhawatiran.Hatiku juga mulai merasa agak sedih serta gelisah.Aku bertanya padanya, "Apa yang kamu khawatirkan? Apa karena operasi ibumu?"Zayn menggelengkan kepalanya. "Dokter bilang untuk jenis operasi ini, selama ginjalnya cocok, tingkat keberhasilannya sangat tinggi.""Lalu apa yang kamu khawatirkan?" Aku bisa dengan jelas merasakan ketakutannya.Jadi aku tidak mengerti, selain penyakit ibunya, apa lagi yang ditakutkan oleh orang seperti dia?Zayn menatapku dengan serius, membelai pipiku dan berbicara dengan suara yang keras."Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman. Aku khawatir tidak akan bisa melihatmu lagi.""Dasar bodoh!"Aku melemparkan diriku ke dalam pelukannya, memeluk pinggan
Malam harinya, Zayn datang untuk makan malam bersamaku.Zayn pertama-tama pergi ke bangsal untuk menjenguk ibuku lalu membawa aku ke restoran yang sudah direservasi terlebih dahulu.Tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun terdingin di Kota Jenara.Angin dingin yang menggigit terasa bagai pisau yang menyayat wajah orang.Zayn menutupiku dengan syal sambil menuntunku ke dalam mobil.Akhir-akhir ini aku tidak sering mengunjungi ibunya karena urusan ibuku.Aku mengencangkan sabuk pengaman dan bertanya padanya, "Apa akhir-akhir ini ibumu baik-baik saja?"Zayn mengangguk. "Setiap hari menerima suntikan serta perawatan tepat waktu, sekarang hanya menunggu operasi pada tanggal 20 saja."Aku berkata, "Pada tanggal 20, aku mungkin tidak bisa mengunjungi ibumu, aku juga tidak bisa menemanimu sampai operasi ibumu selesai.""Aku mengerti." Zayn memegang tanganku erat sambil tersenyum lembut padaku. "Pada hari itu, ibumu juga harus menjalani operasi. Meskipun kamu adalah istriku dan menantu ibuku, ka