LOGINKepergian kakaknya yang mendadak, tepat sebelum hari H pernikahan, membuat Maura terpaksa menggantikannya. Di undangan tertulis nama Dira dan Bumi, tetapi yang duduk di meja akad justru Maura dan Bumi. seorang mahasiswa dan dosen killer di Fakultas Bahasa dan Sastra.__Oleh: anfebizha
View MoreMatahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.
Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan, dan tas kanvas yang disampirkan di bahu dengan gaya yang penting kuliah.
Di ujung parkiran, dua makhluk ajaib sudah menunggunya sambil kipas-kipas pakai buku panduan akademik.
Risti, yang dandanannya selalu siap buat kondangan, dan Leon, yang megenakan kemeja flanel namun kancing atasnya sudah menyerah karena gerah.
"Lama bener lo, Ra! Gue udah matang medium rare nunggu di sini!" semprot Leon begitu Maura sampai di hadapan mereka.
Maura nyengir lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Macet, Cuy! Biasalah, drama perempatan depan. Yuk, kantin! Seblak Bu Ida sudah memanggil jiwaku yang haus akan micin."
Ketiganya berjalan beriringan. Geng yang dikenal seantero fakultas sebagai 'Trio Bar-bar' itu memang punya aura sendiri. Bukan aura prestasi yang menyilaukan, melainkan aura keberisikan yang konsisten. Mereka tertawa lepas, membicarakan drama selebgram yang baru saja viral, sampai tiba-tiba langkah Risti melambat.
"Eh, eh... bentar. Oksigen gue mendadak tipis," bisik Risti sambil menahan lengan Maura.
Mata mereka bertiga kompak tertuju ke ujung koridor panjang yang menghubungkan gedung dekanat dengan gedung perkuliahan. Dari sana, seorang pria berjalan dengan langkah tegap. Kemeja putih slim-fit yang digulung sampai siku, celana kain berwarna arang yang disetrika licin, dan sebuah tas kulit di tangan kirinya. Wajahnya datar, seolah-olah dia memiliki filter permanen yang menyaring segala bentuk ekspresi di wajahnya.
Bumi Arkatama.
"Gila... makin hari makin cakep bener itu manusia. Pake pelet apa ya?" Risti bergumam dengan mata yang tidak berkedip. "Dingin-dingin empuk gitu mukanya."
Maura mendengus kencang, hampir mirip suara mesin yang kepanasan. "Cakep dari mana? Itu mah kulkas dua pintu jalan kaki. Nggak ada nyawanya."
"Halah, bilang aja lo iri karena nggak bisa nembus hatinya Pak Bumi," goda Leon sambil menyenggol bahu Maura.
"Dih, ogah! Yang ada gue darah tinggi tiap hari," sahut Maura cepat. Dia melirik Bumi dengan tatapan sinis yang dia sembunyikan di balik kacamatanya. "Lagian, percuma lo taksir, Ris. Dia udah mau kawin."
Risti dan Leon serentak menoleh ke arah Maura. "Hah?! Masa?!"
"Tau dari mana lo? Pak Bumi mana pernah posting cewek di I*-nya? Isinya cuma foto buku sama gedung doang," sahut Leon penuh selidik.
Maura memutar bola matanya. Hampir saja dia keceplosan bilang kalau pria yang mereka bicarakan itu tiap minggu datang ke rumahnya, duduk manis di ruang tamu sambil membahas katering pernikahan dengan kakaknya, Anindira.
"Info A1 pokoknya mah! Valid tanpa revisi. Udah, mending fokus ke seblak daripada bahas cowok kaku yang kalau ngasih nilai pelitnya ngalahin pedagang kaki lima."
Dendam Maura pada Bumi memang sudah sampai ke tulang sumsum. Bagaimana tidak? Semester lalu, Maura yang sudah begadang mengerjakan tugas analisis sastra sampai matanya mirip panda, tetap saja diberi nilai C+.
Alasannya? "Analisis Anda terlalu imajinatif dan kurang landasan teori." Padahal Maura yakin, Bumi hanya tidak suka melihatnya tertawa terlalu kencang di lorong kampus.
Jarak antara mereka dan Bumi makin menipis. Atmosfer di sekitar koridor mendadak terasa lebih sejuk, atau lebih tepatnya, mencekam. Sebagai mahasiswa yang masih punya urat sopan santun meski tipis, mereka harus menyapa.
"Pagi, Pak Bumi!" sapa Risti dengan nada suara yang sengaja diimut-imutkan.
"Pagi, Pak!" Leon menyusul dengan anggukan hormat.
Maura? Ia hanya bergumam tidak jelas, "Pagi, Pak," sambil tetap menatap lurus ke depan, pura-pura sibuk membetulkan tali tasnya.
Bumi tidak menghentikan langkahnya, hanya melambat. Kepalanya menoleh sedikit. Sepasang mata tajam di balik kacamata bening itu melirik ke arah mereka bertiga, tepatnya, matanya sempat tertuju pada Maura selama satu detik lebih lama.
Tanpa kata. Tanpa senyum. Jangankan membalas "Pagi juga", menggerakkan otot pipi saja sepertinya Bumi tidak sudi.
Dia hanya memberikan lirikan mata yang dingin, lalu kembali berjalan lurus dengan angkuh.
"Tuh, kan! Apa gue bilang!" Maura meledak begitu Bumi sudah menjauh beberapa meter. "Sombongnya sampai ke langit ke tujuh! Disapa manusia, balesnya pake lirikan jin. Kenapa sih kakak gue mau sama modelan begitu?!"
"Hah? Apa, Ra? Kakak lo?" Leon mengernyit bingung.
Maura tersentak. Waduh, mulutnya benar-benar perlu dikunci pakai gembok pagar.
"Maksud gue... kakak-kakakan! Iya, maksud gue kalau ada cewek yang mau sama dia, pasti itu cewek sabarnya seluas samudera Pasifik!" Maura berkelit cepat, mempercepat langkahnya menuju kantin dengan wajah yang mendadak merah karena hampir membongkar rahasia besarnya sendiri.
Di belakangnya, Risti dan Leon hanya saling lirik, sementara di kejauhan, Bumi Arkatama sempat melirik jam tangannya, dan kembali lurus berjalan.
Pria itu melangkah tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Tubuhnya yang tinggi tegap dibalut kemeja yang seolah tidak mengizinkan satu kerutan pun muncul. Sinar matahari yang menerobos celah ventilasi koridor memantul di kacamata beningnya, menyembunyikan sorot matanya yang selalu sulit dibaca.
Langkahnya teratur, ketukan sepatunya di lantai marmer terdengar ritmis dan tegas Suara yang biasanya sanggup membuat satu kelas mendadak senyap dalam hitungan detik. Dia adalah definisi presisi yang berjalan.
**
Pintu toilet didorong pelan, lalu terbuka dengan nyaring yang nyaris kalah oleh suara riuh koridor kampus.
Maura keluar sambil mengibas-ngibaskan tangan yang masih sedikit basah. Rambutnya yang sudah berantakan sejak pagi kini resmi naik level jadi 'tak terselamatkan.
Belum sempat dia melangkah dua langkah, HP-nya bergetar di tangan.
Mama SAYANG calling...
Tanpa berpikir dia langsung mengangkatnya, menyelipkan HP di antara telinga dan bahu sambil sibuk merapikan tasnya. Bersiap menerima rentetan pertanyaan tentang warna taplak meja atau jenis bunga dekorasi.
Tapi, bukan suara lembut Mama yang biasanya hobi bergosip soal desain kebaya, yang dia dengar. Suara di seberang sana terdengar pecah, panik, dan terengah-engah.
"Ra, kelasmu udah selesai?"
"Udah dong, Ma. Kenapa? Catering la-"
"Dira nggak ada." potong mamanya.
Langkah Maura langsung berhenti. Alisnya berkerut, dahinya mengernyit, "maksudnya nggak ada gimana?"
"Nggak ada! Dari semalem nggak pulang, HP-nya mati, kamarnya kosong. Kakak kamu kabur."
"HAH?!"
Sore harinya, halaman kompleks perumahan tempat tinggal Bumi dan Maura yang luas dan lengang jadi arena latihan dadakan. Pak Yanto duduk di kursi penumpang dengan tenang, sementara Ragil memegang kemudi dengan wajah yang tegang setengah mati. Pelipisnya bahkan sudah dibasahi keringat dingin.Di teras rumah, Maura duduk santai di kursi rotan empuk yang dialasi bantal lembut. Kakinya yang sedikit bengkak di usia kehamilan tujuh bulan disangga kursi kecil, sementara tangannya sibuk memegang mangkuk berisi potongan buah naga dingin yang tampak menyegarkan."Pak! Ini beneran di lepas remnya?!" teriak Ragil, matanya melotot lurus ke depan seolah sedang menghadapi ujian hidup dan mati."Ya lepas pelan-pelan, Mas. Jangan langsung diinjak gasnya kalau Mas Ragil nggak mau nyungsep ke kolam ikan Pak RT!" balas Pak Yanto. "Tenang, Mas Ragil. Kaki kanan di atas pedal rem dulu, lepas pelan-pelan... nah, cakep. Mobilnya jalan kan?""Anjir, jalan, Pak! Jalan sendiri!" seru Ragil heboh bagai baru saj
Sore harinya, halaman kompleks perumahan tempat tinggal Bumi dan Maura yang luas dan lengang jadi arena latihan dadakan. Pak Yanto duduk di kursi penumpang dengan tenang, sementara Ragil memegang kemudi dengan wajah yang tegang setengah mati. Pelipisnya bahkan sudah dibasahi keringat dingin.Di teras rumah, Maura duduk santai di kursi rotan empuk yang dialasi bantal lembut. Kakinya yang sedikit bengkak di usia kehamilan tujuh bulan disangga kursi kecil, sementara tangannya sibuk memegang mangkuk berisi potongan buah naga dingin yang tampak menyegarkan."Pak! Ini beneran di lepas remnya?!" teriak Ragil, matanya melotot lurus ke depan seolah sedang menghadapi ujian hidup dan mati."Ya lepas pelan-pelan, Mas. Jangan langsung diinjak gasnya kalau Mas Ragil nggak mau nyungsep ke kolam ikan Pak RT!" balas Pak Yanto. "Tenang, Mas Ragil. Kaki kanan di atas pedal rem dulu, lepas pelan-pelan... nah, cakep. Mobilnya jalan kan?""Anjir, jalan, Pak! Jalan sendiri!" seru Ragil heboh bagai baru saj
Pagi itu, garasi rumah Bumi Arkatama dihiasi satu unit mobil warna putih mutiara yang tampak masih kinclong. Mobil baru yang dibelikan Bumi dua minggu lalu, hadiah manis menyambut usia kehamilan Maura yang kini menginjak hampir tujuh bulan, terparkir manis di samping mobil hitam suaminya. Tidak hanya mobil, Bumi yang super protektif juga langsung mempekerjakan seorang sopir pribadi bernama Pak Yanto untuk memastikan istri dan adik iparnya aman saat berkeliling kota."Mbak, beneran mobil ini dipake buat kita nyari kampus?" tanya Ragil cemas sambil mengelus kap mobil yang mengilap bersih. Remaja jangkung itu mengenakan kemeja kotak-kotak rapi dan celana kain, membawa tas berisi berkas-berkas kelulusannya."Ya iyalah! Masa mau kita pamerin ke kolam ikan doang!" sahut Maura dari teras. Wanita hamil itu berjalan pelan dengan dress hamil pastel dilapisi kardigan rajut manis. Perutnya yang kini membuncit sempurna di usia tujuh bulan membuatnya melangkah agak lambat. "Ayo masuk. Pak Yanto uda
"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore