Share

Mimpi buruk

Author: Liya Mardina
last update Last Updated: 2023-10-26 19:25:33

'Aku akhirnya mengingat Deo'

"Ela!" teriak seorang pria dengan wajah penuh darah dari arah kursi kemudi mobil yang telah ringsek. Kakinya yang terjepit body mobil tak mampu membuatnya beranjak untuk mengejar Ela yang tengah diseret oleh seseorang pergi menjauh.

Terlihat tubuh pria yang diduga Deo itu, telah lunglai tak bertenaga, dengan darah segar yang mengucur dari beberapa bagian tubuhnya, masih mencoba mengulurkan tangannya ke arah Ela yang semakin diseret menjauh.

'Deo, benarkah itu kamu?'

Tubuh Ela yang tak sepenuhnya kehilangan kesadaran itu menatap seorang pria bertubuh tambun. Sebagian wajahnya tertutupi oleh masker berwarna hitam. Menyeretnya paksa di tengah-tengah hutan yang dikelilingi pepohonan lebat.

Meski masih memiliki sedikit kesadaran, namun Ela tak memiliki sedikit pun tenaga untuk melawan.

Tubuh lemah Ela terus diseret paksa hingga menyebabkan banyaknya luka gores, yang disebabkan oleh semak belukar yang diterobos pria itu begitu saja.

Setelah di rasa telah membawa Ela cukup jauh dari tempat semula. Tubuh Ela dihempaskan kasar oleh pria itu di belakang sebuah gubuk tua.

Terdengar sedikit percakapan yang samar-samar ditangkap oleh indra pendengarannya.

"Sembunyikan dia!"

"Baik!"

Sebuah sahutan dari suara bariton terdengar tidak asing dari pendengarannya. Hingga membuat Ela mengerinyitkan dahi. 'Kenapa terdengar seperti suara milik ... Mas Pram?'

Detik berikutnya. Pria bertubuh tambun itu mulai mengangkat sebuah balok kayu berukuran besar. Menatap Ela dengan tatapan penuh amarah.

"Dengan menghilangnya ingatanmu, maka semakin mudah aku menjalankan rencanaku! Hahaha ...!" Kedua tangan pria itu pada akhirnya mengayunkan kasar balok kayu, hingga hendak mengenai kepala Ela.

"Tidak!"

Dengan nafas terengah, Ela langsung terduduk saat matanya kembali terbuka. "Hah ... hah ... apakah itu mimpi?"

Wanita cantik itu seketika mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Mendapati berbagai perabot kamar yang terlihat senada dengan cat dinding di ruangan itu. Bahkan gamis lusuhnya kini telah berganti menjadi sebuah piyama tidur berwarna biru telur asin.

Embusan nafas berat terdengar sebelum wanita itu mengusap kasar wajahnya. Bayangan-bayangan akan mimpi itu terus berputar layaknya video pendek yang terus berulang dalam kepalanya.

"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu, ya Tuhan ...!" Ela mencoba mengatur nafasnya yang menderu tidak beraturan. Degup jantungnya berpacu layaknya genderang perang.

Hingga sesaat kemudian. Tubuh kurus wanita itu tersentak saat suara bariton kembali memanggil namanya, "Gabriela? Kamu sudah sadar, Nak?"

Matthew terlihat baru memasuki ruangan setelah membuka pintu kamar. Namun, tunggu dulu. Pria bertubuh tambun itu tidak sendirian. Seorang pria muda dengan balutan jas berwarna putih nampak mengekor di belakang tubuhnya. Stetoskop tergantung pada lehernya, memperlihatkan statusnya sebagai seorang dokter dengan begitu jelas.

"Darren, tolong periksa kondisi Ela. Om khawatir sekali dengan keadaannya," pinta Matthew pada seorang pemuda tampan yang terlihat seumuran dengan Ela.

"Baik, Om." Pria yang diduga bernama Darren itu sontak mendekat ke arah Ela yang masih terduduk di atas tempat tidurnya.

Tatapan waspada Ela layangkan pada pemuda itu tanpa alasan yang jelas. Setelah mengalami mimpi buruk yang sangat membekas dalam ingatan, membuatnya kini merasa takut untuk menghadapi orang asing.

"Gabriela, bagaimana kabarmu?" sapa pemuda itu sesaat setelah meletakkan ujung stetoskop di bagian dada Ela.

Ela dibuat mengerinyitkan dahi, kala mendengar sapaan akrab yang ditujukan padanya.

"Ah, aku lupa. Apakah kamu tidak mengenaliku sekarang?"

Lagi. Ela kembali dihadapkan dengan orang asing yang mengaku kenal akrab dengannya.

Namun hal itu mampu membuat gambar-gambar acak mulai kembali muncul dalam kepalanya.

Gambar itu terus menunjukkan sesosok pria yang memiliki postur tubuh mirip dengan Deo, namun wajahnya terlihat samar. Tak mampu Ela kenali.

Tak kunjung mendapatkan respon dari Ela, pria tampan bernama Darren itu seketika tersenyum kecil, seolah tengah mencoba untuk mengerti kondisi sahabat kecilnya saat ini. "Sudahlah, suatu saat nanti kamu juga akan mengingatku," ucap Darren pada akhirnya.

"Tolong dimaklumi, Darren. Ela masih belum bisa mengingat siapa pun saat ini," jelas Matthew yang ikut menyahut. Pria bertubuh tambun itu tersenyum sungkan pada Darren yang terlihat tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa, Om, Darren mengerti."

Namun Ela masih tidak merespon apa pun. Bayangan-bayangan dalam mimpi itu seolah membuatnya trauma. Terus terngiang-ngiang dalam ingatannya.

Setelah mengecek tekanan darah dan denyut jantung. Darren mulai menyimpulkan kondisi Ela menurut pemeriksaannya. "Ela dalam kondisi dehidrasi, kelelahan dan kekurangan asupan gizi, Om. Sebaiknya Anda fokuskan memberinya makanan bergizi dan minuman yang cukup. Itu akan membuat tubuhnya perlahan memulihkan ingatan dengan sendirinya."

Darren mulai mengambil sesuatu dari sebuah tas berwarna hitam yang sebelumnya ia bawa.

"Untuk sementara ini, saya akan menggunakan infus untuk meringankan kondisi dehidrasi yang dialami Ela. Berikutnya, Anda bisa memberinya resep vitamin yang akan saya berikan setelah ini," imbuhnya seraya mengambil peralatan infus dari dalam tas besarnya.

Tanpa sebab yang jelas, tubuh Ela mulai meringsut saat melihat jarum infus yang tengah dipegang oleh Darren.

"Tenanglah, Ela. Aku tahu sejak kecil kamu takut dengan jarum suntik. Sekarang, coba pejamkan matamu, ini hanya akan sakit sedikit saja," ucap Darren lembut. Tatapan teduhnya terasa begitu menenangkan.

Namun tidak begitu untuk Ela. Wanita itu sontak tercekat saat Darren mengetahui ketakutannya.

'Apakah pria ini benar-benar mengenalku? Itu artinya, nama Gabriela Larasati benar-benar milikku?!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Kelahiran putra pewaris

    "Tidak perlu. Berdebat dengan orang bodoh hanya akan menambah orang bodohnya jadi dua," cibir Ela seraya melengos pergi."Setelah operasinya selesai, Laura akan dipindahkan ke ruang rawat inap selama satu minggu. Seluruh administrasi rumah sakit sudah saya tanggung. Setelah ini jangan cari saya dengan alasan apa pun. Saya sudah tak memiliki hubungan dengan kalian," pungkas Deo sebelum menyusul langkah sang istri meninggalkan rumah sakit. Tak ia hiraukan tatapan tak berdaya dari ayah Laura.****Lima bulan kemudian.Setelah putusan sidang mengenai kasus penculikan dan pembunuhan berencana Pram dan Arsenio, yang kini dihukum penjara seumur hidup, Ela dan Deo pada akhirnya bisa hidup dengan tenang.Bahkan Laura pun tak lagi terdengar kabarnya setelah kejadian hari itu."Kenapa sekarang kita tinggal di sini? Apa Darren tidak kesepian tinggal sendiri?" tanya Ela sesaat setelah memasuki kediamannya."Dari pada dia, aku lebih memikirkan kamu. Kalau ada apa-apa pas aku tidak ada di rumah baga

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Laura keguguran

    "Tidak! Tunggu, Tuan Deo! Tolong jangan hiraukan ucapan Istri saya. Dia memang terbiasa berkata tanpa berpikir terlebih dahulu. Tolong, jangan tinggalkan Laura dalam keadaan seperti ini." Ayah Laura berlari ke arah Deo dan bersimpuh di kakinya.Belum sempat Deo menimpali, suara derit pintu ruang rawat yang terbuka membuat seluruh pasang mata menatap ke arahnya.Seorang dokter wanita terlihat muncul dari balik pintu yang kembali ditutup rapat. "Apakah ada keluarga Pasien di sini?""Saya Mamanya, Dok!" Ibu Laura gegas berlari menghampiri dokter."Begini, Bu. Dengan berat hati saya sampaikan bahwa, janin yang dikandung Putri Ibu tak dapat diselamatkan. Saya meminta persetujuan keluarga untuk segera melakukan tindakan operasi pengangkatan janin. Karena jika itu sampai telat dilakukan, nyawa Ibunya pun akan terancam," jelas dokter."Lakukan segera, Dok. Lakukan apa pun agar nyawa Putri saya selamat.""Baik, Bu. Silakan tanda tangani berkas ini setelah Anda melunasi administrasinya." Dokter

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Jatuh dari tangga

    ****Empat bulan kemudian."Bagaimana perkembangan kasusnya, Sayang?" tanya Ela pada Deo yang baru memasuki kamar, setelah selesai menghadiri sidang kasus kematian Clarissa."Ternyata pelaku adalah teman masa kecil Mama. Dia menyukai Mama sejak lama, tapi Mama tak pernah membalas perasaannya. Hal itu yang memicu pelaku melakukan penganiayaan, saat tak sengaja menjadi Dokter di rumah sakit jiwa tempat Mama dirawat. Dengan bukti-bukti yang telah terkumpul, pada akhirnya Hakim telah memvonis hukuman yang setimpal setelah beberapa kali persidangan," jawab Deo panjang lebar. Pria itu melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya sebelum merebahkan diri di atas tempat tidur."Apa hukumannya?" tanya Ela penasaran seraya berjalan mendekat."Penjara seumur hidup dan denda.""Itu tidak setimpal! Seharusnya orang itu mendapatkan hukuman mati! Kenapa kamu tidak membiarkan aku ikut ke persidangan hari ini?" geram Ela tak terima."Kamu hamil. Lihat perutmu sudah sebesar apa? Aku tidak ingin kesehata

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Ela hamil

    "Rasanya aku sudah tidak ada tenaga untuk berjalan. Tubuhku rasanya lemas sekali."Deo gegas berjalan mendekati sang istri. Tanpa pikir panjang, Deo segera membopong Ela di depan tubuhnya dan membawanya ke luar. "Aku akan menggendongmu, jangan khawatirkan yang lain, yang paling penting kamu harus segera sembuh."Namun sesaat setelah Deo baru sampai di ujung tangga, Laura dengan cepat menghadangnya dengan merentangkan kedua tangan. "Mau ke mana?" ketusnya dengan tatapan mengintimidasi. Namun Deo bersikap acuh. Setelah menatap sengit wajah Laura untuk sekilas, Deo segera melangkah menerobos pertahanan Laura. Namun lagi-lagi Laura menghentikan langkah Deo kembali. "Mau ke mana?" ucapnya mengulangi pertanyaan awal."Minggir, ini tidak ada urusannya denganmu," jawab Deo datar tanpa ekspresi."Tentu ada. Aku adalah Istrimu."Deo yang pada akhirnya kehabisan kesabaran menampakkan kilat amarah dalam tatapannya. "Aku bilang, minggir!" bentak Deo lantang.Laura seketika itu membeku dengan wajah

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Kesehatan Ela terganggu

    Dalam balutan pakaian tidur transparan, seluruh bekas merah yang Deo ciptakan terekspos sepenuhnya.Hal tersebut tentunya membuat Laura diam mematung dengan tatapan tak percaya. "I-itu ... kalian benar-benar melakukannya di belakangku?" geram Laura tak terima.Ela lantas mengerinyitkan dahi sejenak. Hingga wanita itu sepenuhnya mengerti jika yang tengah dimaksud Laura adalah bekas cupang di leher dan dadanya. "Maksudmu ini? Mau aku melakukannya di hadapanmu sekarang? Boleh," sindir Ela seraya menunjuk bercak merah di lehernya.Setelah lama bersabar pada akhirnya stok kesabaran Laura pun habis. Wanita itu mendorong tubuh Ela keras hingga membuat Ela berdiri terhuyung dan hampir terjungkal ke belakang. "Minggir! Aku mau bicara dengan Deo!"Namun sayangnya aksi Laura gagal setelah Ela gegas menarik gagang pintu hingga membuat Laura tak bisa memasuki celah yang sempit. "Heh! Kamu yang harusnya minggir! Untuk apa memasuki kamar orang?! Sana, pergi ke kamarmu sendiri!" bentak Ela dengan lan

  • Mantan Istri Yang Amnesia Ternyata Orang KayaĀ Ā Ā Malam pertama

    Ela mengerinyitkan dahi. Merasa geli mendengar kalimat yang baru saja memasuki gendang telinganya."Astaga ... tidakkah kamu merasa sadar diri? Deo menikahimu hanya karena terpaksa. Papamu terus berlutut di bawah kakinya, berharap kamu mendapatkan pengobatan tanpa sedikit pun mengeluarkan uangnya. Dia juga memohon agar Deo tidak langsung menceraikanmu saat itu, bernegosiasi agar kalian bercerai setelah anak yang kamu kandung lahir, agar tak membuat aib di keluarga," jelas Ela panjang lebar.Sontak Laura kembali dibuat mematung. Tak menyangka akan mendapatkan suguhan dari kebusukan ayahnya dari mulut Ela."Itu tidak mungkin! Ini adalah Anak Deo! Tanggung jawabnya.""Cih! Semua orang sudah tahu kebusukanmu dan Arsenio, termasuk aku. Jadi tidak perlu mengungkit aibmu jika kamu masih memiliki rasa malu. Tanpa persetujuan dariku pun, Deo sudah membuangmu dari jauh-jauh hari," pungkas Ela sebelum kembali memasuki ruangan dan menutup pintu kamar dengan keras. Merasa tak ada lagi yang perlu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status