Share

Mantan Jadi Tetangga
Mantan Jadi Tetangga
Author: Black Aurora

1. Rumah Baru

Author: Black Aurora
last update Huling Na-update: 2025-11-04 12:07:55

Udara siang itu cukup terik, ketika sebuah mobil pickup bak terbuka berhenti di depan rumah nomor 11 di komplek Green Valley Residence.

Sopir menurunkan tumpukan kardus, lemari kecil, dan satu kasur lipat yang diikat seadanya.

Di balik mobil, seorang wanita berambut cokelat gelap yang digelung asal-asalan sibuk memberi arahan.

Dengan kaus putih longgar dan celana jeans yang sudah belel, Marvella Riani terlihat berkeringat. Meski wajahnya masih menyimpan pesona, garis-garis lelah terlihat jelas di bawah matanya.

“Kenzo, jangan lari-larian! Itu masih banyak barang pecah belah!” teriaknya pada bocah laki-laki berusia delapan tahun yang melesat ke halaman rumah baru mereka.

Kenzo Rafi, anak semata wayangnya itu tampak sumringah.

Ia mengenakan kaos bergambar robot penuh noda es krim dari perjalanan tadi, celana pendek gombrang, serta rambut acak-acakan yang membuatnya tampak seperti jelmaan energi tak terbatas.

“Yeay, akhirnya punya rumah baru!” serunya sambil menendang bola kecil ke arah pagar.

Masalahnya, pagar itu… belum selesai.

Tukang yang disewa Marvella untuk mengerjakannya sudah pulang sejak pagi, tapi dia berjanji akan kembali besok.

Hasilnya, bagian bawah pagar yang masih bolong cukup lebar itu hanya ditutupi oleh kawat sementara.

Marvella pun akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.

Bagus. Baru juga pindah, sudah ada masalah.

Ketika Marvella sedang mengangkat kardus, tiba-tiba saja ia mendengar suara gonggongan anjing yang membuat wanita itu mengangkat wajah waspada.

Kenzo yang tadinya sibuk mengutak-atik mainan pun seketika terdiam.

“Mama… ada serigala masuk!”

Marvella hampir saja menjatuhkan kardusnya mendengar teriakan putranya. “Apa?! Kenzo, cepat kemari!!"

Lalu sesosok besar berbulu putih-abu tiba-tiba saja menerobos lubang di pagar. Lidahnya menjulur, mata biru terangnya berkilat nakal.

Itu adalah seekor Siberian Husky.

Anjing setengah serigala itu melompat ke halaman, dan langsung mengendus sana-sini sebelum kemudian mendekati Kenzo dengan ekornya yang mengibas-ibas antusias.

Alih-alih takut, Kenzo malah berteriak kegirangan. “Huaaa, anjingnya keren banget! Mama, lihat! Aku boleh pelihara, ya?”

“Hah? Tentu saja tidak!” Marvella buru-buru mendekati putranya dengan panik. Ia memang bukan tipe yang nyaman dengan hewan besar.

Namun sebelum Marvella bisa menarik Kenzo, bocah itu sudah keburu memeluk leher si husky. Anjing besar itu yang ternyata jinak pun langsung menjilat pipi putranya.

Tawa renyah Kenzo sontak meledak. “Hahaha! Mama, dia lucu banget, ya?”

Marvella mengernyit heran melihat bagaimana dua makhluk berbeda jenis ini bisa seketika akrab di pertemuan pertama. “Astaga… siapa sih pemilik anjing ini? Masa dilepas begitu saja?”

Dan seakan semesta yang langsung menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar dari balik pagar.

“OREO!”

Marvella bisa mendengar langkah tegas yang mendekat, lalu seseorang membuka potongan pagar samping yang masih setengah jadi itu.

Dan di sanalah Marvella terperanjat.

Pria tinggi menjulang itu masuk dengan wajah sama terkejutnya dengan Marvella.

Dia... Dastan. Dastan Alvaro.

Pria itu mengenakan kaus hitam polos dan celana chino yang pas di tubuhnya yang maskulin dan kokoh.

Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi gaya santainya itu justru membuat pria itu terlihat semakin menarik.

Meskipun mata mereka bertemu hanya untuk sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dada Marvella terguncang hebat.

Lalu rasa familiar itu pun serta-merta datang begitu saja.

Seolah waktu tiba-tiba berjalan mundur ke sepuluh tahun yang lalu, ketika ia masih menjadi seorang gadis muda yang sedang mabuk kepayang pada cinta.

Namun beberapa saat kemudian, Marvella pun buru-buru menegakkan dagu dan berpura-pura tenang, meskipun sesungguhnya detak jantungnya tengah berpacu.

“… Kamu?”

Alis lebat Dastan terlihat naik, diiringi oleh senyum tipis yang kemudian muncul di wajahnya. Sayangnya, sorot mata pria itu tetap dingin.

“Marvella...," ucapnya. Dengan suara berat yang masih terdengar sama seperti yang Marvella ingat.

Udara di sekitar mereka pun seakan ikut menegang. Sementara itu Kenzo yang tidak paham, justru sibuk mengelus bulu Oreo.

“Mama kenal sama Om itu? Jadi dia pemilik anjing keren ini, ya?” tanyanya polos.

“Ken, jangan tidak sopan,” sahut Marvella cepat. Lalu wanita itu menatap Dastan sebelum berucap, kali ini dengan nada yang ketus.

“Anjing kamu menerobos masuk ke halaman rumahku. Tolong jaga baik-baik.”

Dastan mengerutkan keningnya, kemudian menyilangkan tangan di dada. “Menerobos? Seingatku, pagar ini yang belum selesai. Jadi salahkan saja kontraktormu, bukan Oreo.”

Marvella mendengus. “Excuse me? Anjing kamu yang berkeliaran, jangan nyalahin tukang aku!”

Oreo sendiri seolah tak peduli dengan tensi yang semakin panas, malah menggulingkan tubuhnya di rumput minta dielus. Dan Kenzo pun dengan senang hati menuruti.

“Dia boleh main sama aku kan, Ma? Pleaseee…” pinta Kenzo dengan tatapan memelas.

Marvella mengalihkan tatapannya ke arah putranya seraya mendesah. “Ken, itu bukan anjing kita.”

“Kalau kamu mau, dia bisa kok main di sini sesekali.” Dastan tiba-tiba menyahut datar, tapi entah kenapa nada suaranya terdengar seperti sengaja menantang.

“Oreo memang suka sama anak kecil. Dan kayaknya dia sudah cocok sama putramu."

Kata “putramu” membuat dada Marvella mengeras. Entah kenapa ia tidak suka pada cara Dastan mengatakannya.

Yah, memang tidak salah sih. Tapi tetap saja Marvella tidak suka.

“Terima kasih, tapi aku bisa mengurus anakku sendiri tanpa bantuan tetangga… atau pun anjingnya,” balas Marvella tajam.

Dastan menatap wanita bersurai coklat gelap itu dengan waktu yang lama, lalu pada akhirnya mengedikkan bahunya.

“Baiklah. Terserah saja.” Ia lalu menepuk pelan pahanya, sebuah kode untuk memanggil Oreo.

Anjing itu menurut, meski matanya sempat melirik sekilas seolah enggan meninggalkan Kenzo.

Begitu Dastan keluar halaman, Kenzo pun segera berlari mendekati mamanya. “Ma, kenapa sih galak banget sama Om tetangga? Dia sepertinya baik, kok.”

Marvella menghela napas panjang, lalu mengelus kepala anaknya. “Ken, dengar ya. Kita pindah ke sini untuk hidup tenang. Jadi jangan terlalu dekat dengan orang lain dulu.”

“Tapi… dia kan tetangga kita, Ma?”

“Justru itu masalahnya,” guman Marvella pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Diam-diam hatinya belum bisa berhenti bergetar. Pertemuan itu terlalu mendadak.

Ia tidak pernah membayangkan akan bertetangga dengan… mantan. Mantan yang dulu meninggalkan luka paling dalam.

Sementara di seberang pagar, Dastan melirik sekilas ke arah halaman rumah Marvella, sebelum akhirnya masuk ke rumahnya sendiri.

Wajahnya masih terlihat datar, tapi bayang-bayang di matanya melukiskan kilat emosi yang juga tak kalah rumitnya.

***

Ketika malam tiba, Marvella sedang berada di kamar Kenzo untuk menemaninya sebelum tidur.

Ibu dan anak itu biasanya saling bercerita atau berdiskusi santai, hingga akhirnya Kenzo pulas.

Namun tiba-tiba saja bocah itu berbisik pelan, “Ma, kalau bisa aku mau main lagi sama Oreo besok…”

Marvella hanya tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Kenzo penuh kasih sayang. “Tidur dulu, Ken.”

Lalu saat Kenzo telah lelap dan Marvella duduk sendirian di ruang tamu, rasa lelah fisik itu kalah oleh rasa kalut yang menghantui.

Ia pun lalu menatap jendela, ke arah rumah sebelah yang lampunya masih menyala.

Dastan Alvaro.

Dari delapan milyar orang di dunia, kenapa harus kamu yang jadi tetanggaku?!

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
strawberry matcha
Karna jodoh maybe? Wkwkwk
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mantan Jadi Tetangga    136. Extra Part 3

    DUA PULUH TAHUN KEMUDIAN Kantor pusat Struktura Design sudah pindah ke gedung yang jauh lebih tinggi. Logo perusahaan itu pun kini sering muncul di berita nasional. Dan di lantai paling atas, ruang CEO masih terasa sama tegangnya. Hanya saja, sekarang sumber ketegangan itu terlihat berbeda. “Kenzo.” Suara Dastan berat, penuh otoritas. Kenzo Rafi, 31 tahun, Direktur Operasional, menoleh dengan ekspresi profesional. “Iya, Ayah?” Dastan menyilangkan tangan. “Kamu lihat Kaia hari ini?” Kenzo menjawab tanpa berkedip. “Lihat. Tadi pagi.” “Dengan siapa?” Reyhan yang duduk di sofa tamu menatap putrinya, Alya, yang berdiri santai di samping jendela seolah ini bukan interogasi keluarga. Alya, 23 tahun, arsitek muda yang baru lulus S2 dari Singapura, langsung menyahut lebih dulu. “Kaia kan meeting sama tim marketing, Om.” Kenzo mengangguk mantap. “Betul itu. Tim marketing.” Dastan menatap keduanya bergantian. “Tim marketing apa yang pakai motor gede dan jaket kulit?”

  • Mantan Jadi Tetangga    135. Extra Part 2

    Kapal pesiar mewah itu berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok. Rute perjalanan ini sudah disusun secara pribadi oleh Dastan dan Reyhan, selaku penggagas untuk liburan keluarga mereka kali ini. Rutenya adalah Jakarta – Belitung – Labuan Bajo – Bali – Lombok. Perairan Indonesia bagian barat hingga timur yang terkenal dengan laut sebening kaca, gugusan pulau karst, dan matahari terbenam yang sulit ditandingi negara mana pun. Di atas kapal itu bukan hanya keluarga inti. Ada Dastan, Marvella, Kenzo dan Kaia. Ada juga Arman dan Lestari, orang tua Marvella. Dan Miranda serta Jevan dengan bayi laki-laki mereka yang masih berusia delapan bulan, Callum. Lalu ada Reyhan, Ara, dan Alya serta kedua orang tua Ara. Dan ibu Reyhan serta Risa, adik Reyhan. Kapal pesiar itu bukan sekadar sarana liburan. Tapi juga simbol bahwa mereka sudah melewati banyak hal. Luka, kehilangan, penantian... dan mereka tetap memilih untuk bertahan. *** Story 1 : Reyhan dan Ara – Mal

  • Mantan Jadi Tetangga    134. Tiga Bocah (Tamat)

    EMPAT TAHUN KEMUDIAN Ruang rapat utama kantor pusat Struktura Design pagi itu diisi suasana yang jauh lebih formal dari biasanya. Di seberang meja panjang duduk jajaran pejabat dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, lengkap dengan staf teknis, konsultan, dan map berlogo Garuda di atas meja. Di layar proyektor terpampang judul besar: Proyek Revitalisasi Kawasan Terpadu Tanggul Pesisir Utara Jakarta (Giant Sea Wall Tahap Lanjutan) Sebuah proyek strategis nasional. Dastan berdiri di sisi kanan layar, tenang seperti biasa, meskipun sorot matanya menunjukkan ini bukanlah proyek biasa. Reyhan tepat duduk di sampingnya memegang remote presentasi., kini jauh terlihat lebih matang dan lebih tegas dari empat tahun yang lalu. Sebagai Kepala Cabang Struktura Design di Singapura, ia diminta Dastan selaku CEO untuk kembali ke Indonesia, karena perusahaan mereka diminta secara khusus untuk proyek spesial dari Pemerintah. “Kementerian meminta kami sebagai lead design

  • Mantan Jadi Tetangga    133. Pergi Untuk Kembali

    Angin malam bergerak pelan, memainkan ujung rambut panjang Ara yang tergerai. Kota di bawah mereka berkilau seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi. Lilin-lilin di meja makan masih menyala hangat. Ara masih berdiri sangat dekat dengan Reyhan. Tatapan mereka tidak lagi setajam beberapa menit lalu. Kemarahan yang tadi membara telah berubah menjadi sesuatu yang lebih rapuh, dan lebih jujur. Reyhan mengangkat tangannya perlahan, lalu menyelipkan helaian rambut yang menutupi pipi Ara. Gerakannya lembut dan hati-hati. “Aku tidak ke mana-mana,” ulangnya pelan. Ara tidak menjawab. Tapi kali ini ia tidak mundur atau menjauh, membiarkan jarak di antara mereka yang tinggal hitungan napas. Reyhan sedikit menunduk seraya menatap bibir Ara yang mereka itu sejenak, seakan memberi ruang untuk penolakan. Namun Ara tetap tidak bergerak. Saat itu Reyhan baru yakin untuk mendaratkan ciumannya perlahan, namun mendalam. Tidak terburu-buru, tapi yang sarat akan penegasan. Ara m

  • Mantan Jadi Tetangga    132. Masih Takut

    Ara berdiri beberapa detik di depan pintu kamar hotel itu sebelum akhirnya mengetuk dengan pelan. Tidak ada jawaban. Ia menatap kembali access card di tangannya, lalu menggesekkannya pada panel sensor. Lampu hijau kecil di sensor itu seketika menyala, dan pintu pun terbuka dengan perlahan. Langkahnya terhenti tepat di ambang. Ruangan itu luas. Hangat, dengan lampu-lampu temaram menyala lembut. Di sepanjang lantai hingga menuju balkon, kelopak Juliet Rose tersusun rapi membentuk sebuah jalur untuk berjalan. Di atas meja kecil, lilin-lilin tinggi menyala.Aromanya lembut. Tidak menyengat. Ara mengembuskan napas panjang. Boleh juga effort-nya. “Reyhan…” Namanya belum selesai ia ucapkan ketika sosok itu tiba-tiba muncul dari sisi balkon. Dan untuk sesaat, Ara benar-benar lupa apa yang ingin ia katakan. Reyhan berdiri di sana, tanpa kacamata. Rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya, jas hitamnya pas di badan, serta kemeja putih bersih tanpa dasi. Wajahnya

  • Mantan Jadi Tetangga    131. Tinggal Atau Pergi?

    Ruang rapat Direksi Struktura Design pagi itu lebih sunyi dari biasanya. Di layar proyektor, grafik dan angka-angka sudah terpampang sejak sepuluh menit lalu. Dastan berdiri di depan meja panjang dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi. “Tim Manajemen Risiko dari Axco Finansia sudah menyelesaikan simulasi ekspansi regional,” ujarnya tenang namun tajam. “Hasilnya konsisten positif. Net present value berada di zona hijau. Internal rate of return melampaui target korporasi. Sensitivitas terhadap fluktuasi kurs masih dalam batas aman.” Beberapa kepala divisi saling bertukar pandang. Ekspansi regional bukan keputusan kecil. Itu berarti pembukaan cabang baru di luar negeri, yaitu di Singapura. “Singapura dipilih karena stabilitas hukum, akses regional, dan kemudahan perizinan,” lanjut Dastan. “Kita tidak masuk untuk coba-coba. Kita masuk untuk menetap.” Ia lalu menoleh ke arah tim legal. “Bagaimana kesiapan kita dari sisi regulasi?” Kepala legal membuka map tebal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status