LOGIN“Dastan, tolong dididik anjingmu! Dia selalu masuk rumah orang seenaknya, sama seperti majikannya dulu.” Dastan menyandarkan tangan di pagar, menatap malas ke arah Marvella. “Lucu ya? Dulu waktu aku mau 'masuk', kamu malah buka 'pintunya' lebar-lebar.” Marvella pun tercengang mendengar kalimat ambigu pria itu yang mengarah ke hal tak senonoh, lalu mendesis pelan. “Tapi sekarang 'pintunya' sudah digembok dengan rapat.” Dastan mendekatkan wajahnya seraya berbisik nakal, “Santai aja. Kunci akan selalu bisa dicari. Dibobol paksa, kalau perlu.” *** Marvella Riani, single mom dengan anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Kenzo, pindah ke komplek baru demi hidup tenang pasca perceraian. Namun ketenangan itu hancur begitu ia sadar bahwa rumah sebelah ternyata dihuni oleh Dastan Alvaro—mantan pacar yang dulu meninggalkan luka besar. Kini Dastan adalah arsitek sukses, bujangan paling populer di komplek, sekaligus pemilik anjing husky usil bernama Oreo yang lebih sering nongkrong di rumah Marvella bersama Kenzo, ketimbang di rumahnya sendiri. ***
View More“Kok nggak bisa ditelpon, sih?” Dastan berguman, sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Barusan masih ada nada sambung, bahkan sempat satu kali berdering. Lalu tiba-tiba... klik! Terputus begitu saja. Ia pun berinisiatif mencoba menelepon Reyhan lagi. Namun setelah tiga kali, masih saja tidak aktif. Dastan mendengus pelan, lalu memasukkan ponsel ke saku mantel tebalnya dan menghela napas panjang. Sudahlah. Mungkin Reyhan sedang sibuk. Atau ponselnya jatuh ke got. Atau diculik oleh cewek cantik dan disekap di dalam kamarnya. Biar si Reyhan nggak jomblo lagi. Siapa tahu saja, kan? Perandaiannya bisa jadi doa, begitulah yang dipikirkan oleh Dastan, tanpa sadar jika feeling-nya benar-benar tepat. Swiss di pagi itu terlalu indah. Pegunungan Alpen berdiri megah dengan puncak berselimut salju, langit biru bersih tanpa noda, dan udara dingin yang menggigit tapi menyegarkan. Mereka sedang berada di salah satu destinasi wisata paling terkenal di Swiss. Sebuah desa keci
Saat ini, Reyhan sedang menatap orang tua Ara yang berdiri tegak di depan mereka. Wajah ayah dan ibunya terkejut melihat putri mereka datang bersama seorang pria jangkung dengan mengenakan jas yang rapi. Reyhan menatap balik dengan santai, mencoba mengumpulkan kesan ‘tenang dan sopan’ meski jantungnya berdegup nggak karuan. “Ibu, ayah… kenalin ini Reyhan, pacarku,” ucap Ara cepat. Ibu Ara menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. “Oh. Sudah berapa lama kalian bersama?” tanyanya dalam nada penuh rasa ingin tahu tapi juga terlihat skeptis. “Seminggu," jawab Ara. “Sebulan," jawab Reyhan bersamaan. Ibu Ara pun menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “Eh? Gimana ceritanya bisa berbeda? Seminggu atau sebulan?” Dengan gaya sok tenang, Reyhan meraih tangan Ara, lalu mengecup jemarinya pelan sebelum berkata dengan suara yang lembut tapi sedikit dramatis. “Sebulan, adalah waktu yang saya butuhkan untuk mendekati Ara. Dan seminggu, adalah persisnya wak
“Ck.” Ara mencebik sambil menatap pria jangkung berpenampilan terlalu rapi di depannya. Apa ada Deputy CEO yang modelannya culun begini? Setelan jas Reyhan terlalu licin, kemejanya dikancing sampai atas, rambutnya disisir sangat rapi. Tapi Ara sudah berada di titik pasrah sekarang. Entah Reyhan jujur atau tidak soal jabatannya, yang jelas ia sudah terlanjur menyeret pria itu sampai akhirnya mereka pun berada di depan gerbang kompleks pemakaman. Ara berhenti mendadak, lalu menarik tangan Reyhan dengan kuat hingga Reyhan hampir saja menabraknya. “Bentar,” ucap Ara singkat. “Aku permak dikit penampilan kamu, biar nggak kelihatan kayak musang gembel nyasar ke acara duka.” “Apa?” Reyhan refleks meletakkan satu tangan di dada. "Saya ini pejabat perusahaan, ada etika berpenampilan yang harus ditaati." Tapi Ara tidak peduli. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengacak rambut Reyhan yang tadinya terlalu patuh pada hukum gravitasi. Ara sedikit membuatnya berantakan, kasual y
Ara membanting pintu rumahnya dengan keras lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa. Dengan kesal, ia melepas kacamata hitam sebelum mengacak rambutnya sendiri. “Gila,” gumannya. “GILA!” Jadi Mas Dastan sudah menikah? Apa iya?? Apa perkataan pria culun ngeselin bernama Reyhan itu bisa dioercaya??! Ara pun mondar-mandir di ruang tamu seperti kucing yang ekornya terinjak. Tangannya mengepal dan napasnya berat. “Deputy CEO my ass,” dengusnya. "Paling-paling si cowok culun itu cuma bluffing." Ia pun berhenti di depan cermin besar di ruang tamu untuk menatap refleksinya sendiri. Gaun hitam sederhana masih membingkai tubuhnya yang berlekuk sempurna. Rambutnya rapi. Wajahnya flawless. Ara menyentuh pipinya sendiri untuk menilai penampilannya. Tidak ada yang salah. Ia tetap cantik. Tetap fashionable. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya ia seperti kalah sebelum bertanding. “Cih. Menikah mendadak,” gerutunya pelan. “Siapa sih orang yang mau menikah mendadak, hah?” Namun jawab






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore