LOGIN“Dastan, tolong dididik anjingmu! Dia selalu masuk rumah orang seenaknya, sama seperti majikannya dulu.” Dastan menyandarkan tangan di pagar, menatap malas ke arah Marvella. “Lucu ya? Dulu waktu aku mau 'masuk', kamu malah buka 'pintunya' lebar-lebar.” Marvella pun tercengang mendengar kalimat ambigu pria itu yang mengarah ke hal tak senonoh, lalu mendesis pelan. “Tapi sekarang 'pintunya' sudah digembok dengan rapat.” Dastan mendekatkan wajahnya seraya berbisik nakal, “Santai aja. Kunci akan selalu bisa dicari. Dibobol paksa, kalau perlu.” *** Marvella Riani, single mom dengan anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Kenzo, pindah ke komplek baru demi hidup tenang pasca perceraian. Namun ketenangan itu hancur begitu ia sadar bahwa rumah sebelah ternyata dihuni oleh Dastan Alvaro—mantan pacar yang dulu meninggalkan luka besar. Kini Dastan adalah arsitek sukses, bujangan paling populer di komplek, sekaligus pemilik anjing husky usil bernama Oreo yang lebih sering nongkrong di rumah Marvella bersama Kenzo, ketimbang di rumahnya sendiri. ***
View MoreUdara siang itu cukup terik, ketika sebuah mobil pickup bak terbuka berhenti di depan rumah nomor 11 di komplek Green Valley Residence.
Sopir menurunkan tumpukan kardus, lemari kecil, dan satu kasur lipat yang diikat seadanya. Di balik mobil, seorang wanita berambut cokelat gelap yang digelung asal-asalan sibuk memberi arahan. Dengan kaus putih longgar dan celana jeans yang sudah belel, Marvella Riani terlihat berkeringat. Meski wajahnya masih menyimpan pesona, garis-garis lelah terlihat jelas di bawah matanya. “Kenzo, jangan lari-larian! Itu masih banyak barang pecah belah!” teriaknya pada bocah laki-laki berusia delapan tahun yang melesat ke halaman rumah baru mereka. Kenzo Rafi, anak semata wayangnya itu tampak sumringah. Ia mengenakan kaos bergambar robot penuh noda es krim dari perjalanan tadi, celana pendek gombrang, serta rambut acak-acakan yang membuatnya tampak seperti jelmaan energi tak terbatas. “Yeay, akhirnya punya rumah baru!” serunya sambil menendang bola kecil ke arah pagar. Masalahnya, pagar itu… belum selesai. Tukang yang disewa Marvella untuk mengerjakannya sudah pulang sejak pagi, tapi dia berjanji akan kembali besok. Hasilnya, bagian bawah pagar yang masih bolong cukup lebar itu hanya ditutupi oleh kawat sementara. Marvella pun akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. Bagus. Baru juga pindah, sudah ada masalah. Ketika Marvella sedang mengangkat kardus, tiba-tiba saja ia mendengar suara gonggongan anjing yang membuat wanita itu mengangkat wajah waspada. Kenzo yang tadinya sibuk mengutak-atik mainan pun seketika terdiam. “Mama… ada serigala masuk!” Marvella hampir saja menjatuhkan kardusnya mendengar teriakan putranya. “Apa?! Kenzo, cepat kemari!!" Lalu sesosok besar berbulu putih-abu tiba-tiba saja menerobos lubang di pagar. Lidahnya menjulur, mata biru terangnya berkilat nakal. Itu adalah seekor Siberian Husky. Anjing setengah serigala itu melompat ke halaman, dan langsung mengendus sana-sini sebelum kemudian mendekati Kenzo dengan ekornya yang mengibas-ibas antusias. Alih-alih takut, Kenzo malah berteriak kegirangan. “Huaaa, anjingnya keren banget! Mama, lihat! Aku boleh pelihara, ya?” “Hah? Tentu saja tidak!” Marvella buru-buru mendekati putranya dengan panik. Ia memang bukan tipe yang nyaman dengan hewan besar. Namun sebelum Marvella bisa menarik Kenzo, bocah itu sudah keburu memeluk leher si husky. Anjing besar itu yang ternyata jinak pun langsung menjilat pipi putranya. Tawa renyah Kenzo sontak meledak. “Hahaha! Mama, dia lucu banget, ya?” Marvella mengernyit heran melihat bagaimana dua makhluk berbeda jenis ini bisa seketika akrab di pertemuan pertama. “Astaga… siapa sih pemilik anjing ini? Masa dilepas begitu saja?” Dan seakan semesta yang langsung menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar dari balik pagar. “OREO!” Marvella bisa mendengar langkah tegas yang mendekat, lalu seseorang membuka potongan pagar samping yang masih setengah jadi itu. Dan di sanalah Marvella terperanjat. Pria tinggi menjulang itu masuk dengan wajah sama terkejutnya dengan Marvella. Dia... Dastan. Dastan Alvaro. Pria itu mengenakan kaus hitam polos dan celana chino yang pas di tubuhnya yang maskulin dan kokoh. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi gaya santainya itu justru membuat pria itu terlihat semakin menarik. Meskipun mata mereka bertemu hanya untuk sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dada Marvella terguncang hebat. Lalu rasa familiar itu pun serta-merta datang begitu saja. Seolah waktu tiba-tiba berjalan mundur ke sepuluh tahun yang lalu, ketika ia masih menjadi seorang gadis muda yang sedang mabuk kepayang pada cinta. Namun beberapa saat kemudian, Marvella pun buru-buru menegakkan dagu dan berpura-pura tenang, meskipun sesungguhnya detak jantungnya tengah berpacu. “… Kamu?” Alis lebat Dastan terlihat naik, diiringi oleh senyum tipis yang kemudian muncul di wajahnya. Sayangnya, sorot mata pria itu tetap dingin. “Marvella...," ucapnya. Dengan suara berat yang masih terdengar sama seperti yang Marvella ingat. Udara di sekitar mereka pun seakan ikut menegang. Sementara itu Kenzo yang tidak paham, justru sibuk mengelus bulu Oreo. “Mama kenal sama Om itu? Jadi dia pemilik anjing keren ini, ya?” tanyanya polos. “Ken, jangan tidak sopan,” sahut Marvella cepat. Lalu wanita itu menatap Dastan sebelum berucap, kali ini dengan nada yang ketus. “Anjing kamu menerobos masuk ke halaman rumahku. Tolong jaga baik-baik.” Dastan mengerutkan keningnya, kemudian menyilangkan tangan di dada. “Menerobos? Seingatku, pagar ini yang belum selesai. Jadi salahkan saja kontraktormu, bukan Oreo.” Marvella mendengus. “Excuse me? Anjing kamu yang berkeliaran, jangan nyalahin tukang aku!” Oreo sendiri seolah tak peduli dengan tensi yang semakin panas, malah menggulingkan tubuhnya di rumput minta dielus. Dan Kenzo pun dengan senang hati menuruti. “Dia boleh main sama aku kan, Ma? Pleaseee…” pinta Kenzo dengan tatapan memelas. Marvella mengalihkan tatapannya ke arah putranya seraya mendesah. “Ken, itu bukan anjing kita.” “Kalau kamu mau, dia bisa kok main di sini sesekali.” Dastan tiba-tiba menyahut datar, tapi entah kenapa nada suaranya terdengar seperti sengaja menantang. “Oreo memang suka sama anak kecil. Dan kayaknya dia sudah cocok sama putramu." Kata “putramu” membuat dada Marvella mengeras. Entah kenapa ia tidak suka pada cara Dastan mengatakannya. Yah, memang tidak salah sih. Tapi tetap saja Marvella tidak suka. “Terima kasih, tapi aku bisa mengurus anakku sendiri tanpa bantuan tetangga… atau pun anjingnya,” balas Marvella tajam. Dastan menatap wanita bersurai coklat gelap itu dengan waktu yang lama, lalu pada akhirnya mengedikkan bahunya. “Baiklah. Terserah saja.” Ia lalu menepuk pelan pahanya, sebuah kode untuk memanggil Oreo. Anjing itu menurut, meski matanya sempat melirik sekilas seolah enggan meninggalkan Kenzo. Begitu Dastan keluar halaman, Kenzo pun segera berlari mendekati mamanya. “Ma, kenapa sih galak banget sama Om tetangga? Dia sepertinya baik, kok.” Marvella menghela napas panjang, lalu mengelus kepala anaknya. “Ken, dengar ya. Kita pindah ke sini untuk hidup tenang. Jadi jangan terlalu dekat dengan orang lain dulu.” “Tapi… dia kan tetangga kita, Ma?” “Justru itu masalahnya,” guman Marvella pelan, lebih pada dirinya sendiri. Diam-diam hatinya belum bisa berhenti bergetar. Pertemuan itu terlalu mendadak. Ia tidak pernah membayangkan akan bertetangga dengan… mantan. Mantan yang dulu meninggalkan luka paling dalam. Sementara di seberang pagar, Dastan melirik sekilas ke arah halaman rumah Marvella, sebelum akhirnya masuk ke rumahnya sendiri. Wajahnya masih terlihat datar, tapi bayang-bayang di matanya melukiskan kilat emosi yang juga tak kalah rumitnya. *** Ketika malam tiba, Marvella sedang berada di kamar Kenzo untuk menemaninya sebelum tidur. Ibu dan anak itu biasanya saling bercerita atau berdiskusi santai, hingga akhirnya Kenzo pulas. Namun tiba-tiba saja bocah itu berbisik pelan, “Ma, kalau bisa aku mau main lagi sama Oreo besok…” Marvella hanya tersenyum kecil, lalu mengusap kepala Kenzo penuh kasih sayang. “Tidur dulu, Ken.” Lalu saat Kenzo telah lelap dan Marvella duduk sendirian di ruang tamu, rasa lelah fisik itu kalah oleh rasa kalut yang menghantui. Ia pun lalu menatap jendela, ke arah rumah sebelah yang lampunya masih menyala. Dastan Alvaro. Dari delapan milyar orang di dunia, kenapa harus kamu yang jadi tetanggaku?! ***Saat ini, Reyhan sedang menatap orang tua Ara yang berdiri tegak di depan mereka. Wajah ayah dan ibunya terkejut melihat putri mereka datang bersama seorang pria jangkung dengan mengenakan jas yang rapi. Reyhan menatap balik dengan santai, mencoba mengumpulkan kesan ‘tenang dan sopan’ meski jantungnya berdegup nggak karuan. “Ibu, ayah… kenalin ini Reyhan, pacarku,” ucap Ara cepat. Ibu Ara menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. “Oh. Sudah berapa lama kalian bersama?” tanyanya dalam nada penuh rasa ingin tahu tapi juga terlihat skeptis. “Seminggu," jawab Ara. “Sebulan," jawab Reyhan bersamaan. Ibu Ara pun menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “Eh? Gimana ceritanya bisa berbeda? Seminggu atau sebulan?” Dengan gaya sok tenang, Reyhan meraih tangan Ara, lalu mengecup jemarinya pelan sebelum berkata dengan suara yang lembut tapi sedikit dramatis. “Sebulan, adalah waktu yang saya butuhkan untuk mendekati Ara. Dan seminggu, adalah persisnya wak
“Ck.” Ara mencebik sambil menatap pria jangkung berpenampilan terlalu rapi di depannya. Apa ada Deputy CEO yang modelannya culun begini? Setelan jas Reyhan terlalu licin, kemejanya dikancing sampai atas, rambutnya disisir sangat rapi. Tapi Ara sudah berada di titik pasrah sekarang. Entah Reyhan jujur atau tidak soal jabatannya, yang jelas ia sudah terlanjur menyeret pria itu sampai akhirnya mereka pun berada di depan gerbang kompleks pemakaman. Ara berhenti mendadak, lalu menarik tangan Reyhan dengan kuat hingga Reyhan hampir saja menabraknya. “Bentar,” ucap Ara singkat. “Aku permak dikit penampilan kamu, biar nggak kelihatan kayak musang gembel nyasar ke acara duka.” “Apa?” Reyhan refleks meletakkan satu tangan di dada. "Saya ini pejabat perusahaan, ada etika berpenampilan yang harus ditaati." Tapi Ara tidak peduli. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengacak rambut Reyhan yang tadinya terlalu patuh pada hukum gravitasi. Ara sedikit membuatnya berantakan, kasual y
Ara membanting pintu rumahnya dengan keras lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa. Dengan kesal, ia melepas kacamata hitam sebelum mengacak rambutnya sendiri. “Gila,” gumannya. “GILA!” Jadi Mas Dastan sudah menikah? Apa iya?? Apa perkataan pria culun ngeselin bernama Reyhan itu bisa dioercaya??! Ara pun mondar-mandir di ruang tamu seperti kucing yang ekornya terinjak. Tangannya mengepal dan napasnya berat. “Deputy CEO my ass,” dengusnya. "Paling-paling si cowok culun itu cuma bluffing." Ia pun berhenti di depan cermin besar di ruang tamu untuk menatap refleksinya sendiri. Gaun hitam sederhana masih membingkai tubuhnya yang berlekuk sempurna. Rambutnya rapi. Wajahnya flawless. Ara menyentuh pipinya sendiri untuk menilai penampilannya. Tidak ada yang salah. Ia tetap cantik. Tetap fashionable. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya ia seperti kalah sebelum bertanding. “Cih. Menikah mendadak,” gerutunya pelan. “Siapa sih orang yang mau menikah mendadak, hah?” Namun jawab
Di sebuah kamar hotel yang menghadap langsung ke pegunungan Swiss, pagi terasa jauh lebih pelan. Salju tipis masih menggantung di luar jendela besar, sementara cahaya matahari memantul lembut ke dalam ruangan Dastan bangun lebih dulu, sebuah refleks baru untuk memastikan bhawa orang di sampingnya tetap aman, merasa hangat, dan... masih ada. Marvella tidur membelakangi jendela hotel Swiss yang terbuka setengah, rambut coklat gelapnya yang panjang sedikit berantakan di atas bantal putih. Napasnya teratur dan wajahnya terlihat rileks. Dastan memiringkan tubuhnya dan sedikit bergeser agar lebih dekat. Tangannya bergerak pelan penuh perhitungan sebelum menyentuh punggung Marvella, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membangunkan istrinya. Tapi begitu jemarinya menyentuh kulit lembut dan hangat itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang langsung bernapas lega. Marvella masih di sini, dan masih miliknya. Dastan menunduk untuk mencium tengkuk Marvella dengan sangat ringan k


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore