LOGIN“Dastan, tolong dididik anjingmu! Dia selalu masuk rumah orang seenaknya, sama seperti majikannya dulu.” Dastan menyandarkan tangan di pagar, menatap malas ke arah Marvella. “Lucu ya? Dulu waktu aku mau 'masuk', kamu malah buka 'pintunya' lebar-lebar.” Marvella pun tercengang mendengar kalimat ambigu pria itu yang mengarah ke hal tak senonoh, lalu mendesis pelan. “Tapi sekarang 'pintunya' sudah digembok dengan rapat.” Dastan mendekatkan wajahnya seraya berbisik nakal, “Santai aja. Kunci akan selalu bisa dicari. Dibobol paksa, kalau perlu.” *** Marvella Riani, single mom dengan anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Kenzo, pindah ke komplek baru demi hidup tenang pasca perceraian. Namun ketenangan itu hancur begitu ia sadar bahwa rumah sebelah ternyata dihuni oleh Dastan Alvaro—mantan pacar yang dulu meninggalkan luka besar. Kini Dastan adalah arsitek sukses, bujangan paling populer di komplek, sekaligus pemilik anjing husky usil bernama Oreo yang lebih sering nongkrong di rumah Marvella bersama Kenzo, ketimbang di rumahnya sendiri. ***
View MoreAra terdiam sepersekian detik. Lalu tertawa sampai memegangi perut. “Gila,” katanya. “Ini pertama kalinya aku lihat ada cowok yartakut disentuh sama cewek cantik.” Reyhan bersedekap defensif. “Saya nggak takut, tapi menghargai batasan.” Ara pun berhenti tertawa, dan kini menatapnya lebih serius. “Oke. Aku akan berhenti bercanda sekarang.” Mendengarnya, membuat Reyhan sedikit merasa lega. Syarafnya yang tegang seketika langsung mengendur. “Terima kasih.” Ara kembali mendekat dengan perlahan hingga jaraknya kini cukup dekat untuk membuat Reyhan menahan napasnya. “Tapi aku mau satu hal, Reyhan” Pria itu pun kembali waspada. “Apa?” Ara mengulurkan satu tangannya. “Pegang tangan aku.” Reyhan menatap tangan itu seakan memandangi benda yang terlarang. “Untuk… apa?” “Agar di luar sana kita terlihat wajar.” Beberapa saat Reyhan tampak ragu, namun pada akhirnya ia mengulurkan tangannya. Namun begitu jari mereka bersentuhan, ia kembali menegang. Karena Ara menggenggam t
Suara decap dari dua bibir dan dua lidah itu terdengar nyaring di dalam kamar yang hening. Kedua insan itu terlalu larut dalam penyatuan bibir serta lidah, seiring dengan desir-desir gairah yang terasa semakin terasa penuh. "Not bad," bisik Ara sambil tersenyum di sela-sela ciumannya. Ternyata cowok culun ini lumayan jago juga berciuman. Senyumnya pun semakin lebar ketika merasakan jemari panjang Reyhan yang menangkup tengkuknya kuat, lalu kembali melanjutkan ciuman itu dengan lebih menggebu-gebu. See? Ara tahu Reyhan pasti tidak kebal pada pesonanya. Rata-rata pria memang tidak akan bisa menolak wanita cantik, kecuali Mas Dastan. Dia sih pasti karena sudah kena peletnya Tante Marvella. "Umm..." Ara masih tersenyum di sela-sela ciuman mereka, sebelum kembali membalas dengan lebih agresif. Kedua tangannya yang semula bertengger di dada Reyhan, kini mulai bergerak turun. Terus turun dan turun, hingga menyentuh dan meremas lembut bagian sensitif pria itu. Reyhan pun se
“Kok nggak bisa ditelpon, sih?” Dastan berguman, sambil menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Barusan masih ada nada sambung, bahkan sempat satu kali berdering. Lalu tiba-tiba... klik! Terputus begitu saja. Ia pun berinisiatif mencoba menelepon Reyhan lagi. Namun setelah tiga kali, masih saja tidak aktif. Dastan mendengus pelan, lalu memasukkan ponsel ke saku mantel tebalnya dan menghela napas panjang. Sudahlah. Mungkin Reyhan sedang sibuk. Atau ponselnya jatuh ke got. Atau diculik oleh cewek cantik dan disekap di dalam kamarnya. Biar si Reyhan nggak jomblo lagi. Siapa tahu saja, kan? Perandaiannya bisa jadi doa, begitulah yang dipikirkan oleh Dastan, tanpa sadar jika feeling-nya benar-benar tepat. Swiss di pagi itu terlalu indah. Pegunungan Alpen berdiri megah dengan puncak berselimut salju, langit biru bersih tanpa noda, dan udara dingin yang menggigit tapi menyegarkan. Mereka sedang berada di salah satu destinasi wisata paling terkenal di Swiss. Sebuah desa keci
Saat ini, Reyhan sedang menatap orang tua Ara yang berdiri tegak di depan mereka. Wajah ayah dan ibunya terkejut melihat putri mereka datang bersama seorang pria jangkung dengan mengenakan jas yang rapi. Reyhan menatap balik dengan santai, mencoba mengumpulkan kesan ‘tenang dan sopan’ meski jantungnya berdegup nggak karuan. “Ibu, ayah… kenalin ini Reyhan, pacarku,” ucap Ara cepat. Ibu Ara menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. “Oh. Sudah berapa lama kalian bersama?” tanyanya dalam nada penuh rasa ingin tahu tapi juga terlihat skeptis. “Seminggu," jawab Ara. “Sebulan," jawab Reyhan bersamaan. Ibu Ara pun menatap keduanya dengan alis terangkat bingung. “Eh? Gimana ceritanya bisa berbeda? Seminggu atau sebulan?” Dengan gaya sok tenang, Reyhan meraih tangan Ara, lalu mengecup jemarinya pelan sebelum berkata dengan suara yang lembut tapi sedikit dramatis. “Sebulan, adalah waktu yang saya butuhkan untuk mendekati Ara. Dan seminggu, adalah persisnya wak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings