Share

58. Terima Kasih

Author: Black Aurora
last update Last Updated: 2025-12-17 18:38:34
Marvella segera menekan tombol panggil sebelum sempat berubah pikiran.

Dering pertama bahkan belum selesai ketika suara Dastan langsung menyela, seolah pria itu memang menunggu panggilan itu sejak tadi.

“Jangan bilang kamu mau marah lagi,” ucapnya cepat, nyaris tanpa jeda. “Karena kalau iya, aku sudah siap minta maaf lagi. Bunganya masih kurang, ya?”

Marvella mendengus pelan, lalu bersandar pada dinding kamarnya. “Kamu sadar nggak, jam berapa sekarang?”

“Jam setengah sepuluh lewat di Singapura, artinya setengah sembilan di Jakarta,” jawab Dastan otomatis. “Yang pasti, waktu yang masih wajar untuk menebus kesalahan.”

“Dengan dua belas buket mawar?” nada Marvella masih dingin, tapi getar kecil tawa di ujung kalimatnya mengkhianati perasaannya. “Kamu pikir mau ngelamar janda anak satu untuk nikah?”

“Kalau aku bilang iya, kira-kira teleponnya nggak bakal kamu tutup, kan?”

“Coba saja.” Marvella menantang.

Dastan terkekeh pelan, terdengar lebih lega daripada sebelumnya. “Oke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mantan Jadi Tetangga    97. Ciuman

    “Ck.” Ara mencebik sambil menatap pria jangkung berpenampilan terlalu rapi di depannya. Apa ada Deputy CEO yang modelannya culun begini? Setelan jas Reyhan terlalu licin, kemejanya dikancing sampai atas, rambutnya disisir sangat rapi. Tapi Ara sudah berada di titik pasrah sekarang. Entah Reyhan jujur atau tidak soal jabatannya, yang jelas ia sudah terlanjur menyeret pria itu sampai akhirnya mereka pun berada di depan gerbang kompleks pemakaman. Ara berhenti mendadak, lalu menarik tangan Reyhan dengan kuat hingga Reyhan hampir saja menabraknya. “Bentar,” ucap Ara singkat. “Aku permak dikit penampilan kamu, biar nggak kelihatan kayak musang gembel nyasar ke acara duka.” “Apa?” Reyhan refleks meletakkan satu tangan di dada. "Saya ini pejabat perusahaan, ada etika berpenampilan yang harus ditaati." Tapi Ara tidak peduli. Ia mengangkat kedua tangannya, lalu mengacak rambut Reyhan yang tadinya terlalu patuh pada hukum gravitasi. Ara sedikit membuatnya berantakan, kasual y

  • Mantan Jadi Tetangga    96. Cegil Ara

    Ara membanting pintu rumahnya dengan keras lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa. Dengan kesal, ia melepas kacamata hitam sebelum mengacak rambutnya sendiri. “Gila,” gumannya. “GILA!” Jadi Mas Dastan sudah menikah? Apa iya?? Apa perkataan pria culun ngeselin bernama Reyhan itu bisa dioercaya??! Ara pun mondar-mandir di ruang tamu seperti kucing yang ekornya terinjak. Tangannya mengepal dan napasnya berat. “Deputy CEO my ass,” dengusnya. "Paling-paling si cowok culun itu cuma bluffing." Ia pun berhenti di depan cermin besar di ruang tamu untuk menatap refleksinya sendiri. Gaun hitam sederhana masih membingkai tubuhnya yang berlekuk sempurna. Rambutnya rapi. Wajahnya flawless. Ara menyentuh pipinya sendiri untuk menilai penampilannya. Tidak ada yang salah. Ia tetap cantik. Tetap fashionable. Tapi entah kenapa, hari ini rasanya ia seperti kalah sebelum bertanding. “Cih. Menikah mendadak,” gerutunya pelan. “Siapa sih orang yang mau menikah mendadak, hah?” Namun jawab

  • Mantan Jadi Tetangga    95. Full Husband Mode

    Di sebuah kamar hotel yang menghadap langsung ke pegunungan Swiss, pagi terasa jauh lebih pelan. Salju tipis masih menggantung di luar jendela besar, sementara cahaya matahari memantul lembut ke dalam ruangan Dastan bangun lebih dulu, sebuah refleks baru untuk memastikan bhawa orang di sampingnya tetap aman, merasa hangat, dan... masih ada. Marvella tidur membelakangi jendela hotel Swiss yang terbuka setengah, rambut coklat gelapnya yang panjang sedikit berantakan di atas bantal putih. Napasnya teratur dan wajahnya terlihat rileks. Dastan memiringkan tubuhnya dan sedikit bergeser agar lebih dekat. Tangannya bergerak pelan penuh perhitungan sebelum menyentuh punggung Marvella, seolah takut sentuhan sekecil apa pun bisa membangunkan istrinya. Tapi begitu jemarinya menyentuh kulit lembut dan hangat itu, ada sesuatu di dalam dadanya yang langsung bernapas lega. Marvella masih di sini, dan masih miliknya. Dastan menunduk untuk mencium tengkuk Marvella dengan sangat ringan k

  • Mantan Jadi Tetangga    94. Kucing Galak vs Anjing Kampung

    Reyhan berdiri di depan rumah nomor 12 Green Residence, sambil menatap pagar besi hitam yang menjulang dengan ekspresi lelah bercampur pasrah. Perumahan elit ini terlalu tenang untuk kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja. Beberapa menit lalu, pesan dari Dastan masuk tanpa banyak basa-basi. Dastan: (Rey. Aku lupa Board Resolution Addendum yang sudah ditandatangani. Ada di ruang kerja. Laci kiri meja) Reyhan membaca pesan itu tiga kali, lalu menatap langit. “Addendum,” gumannya. “Tentu saja, addendum.” Ia merogoh saku jas untuk mengeluarkan kunci cadangan yang selama ini hanya ia anggap simbol kepercayaan, dan hari ini berubah fungsi menjadi alat penyelamat hidup. Namun saat ia mulai membuka gembok pagar, suara langkah cepat bersepatu heels terdengar dari arah samping. “Permisi.” Nada suara perempuan yang dingin, sedikit angkuh dan menilai tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Reyhan pun seketika menoleh. Ia melihat seorang gadis berdiri di trotoar, mengen

  • Mantan Jadi Tetangga    93. After Married

    Reyhan tidak pernah menyangka bahwa kursi empuk di ruang rapat lantai paling atas, bisa terasa seperti kursi listrik terdakwa hukuman mati. Pagi itu, ia duduk di ujung meja panjang dengan setelan rapi, kopi yang sudah dingin, dan ekspresi yang berusaha terlihat tenang... padahal di dalam kepalanya, alarm stres terus berbunyi tanpa henti. “Baik, Pak Reyhan,” ucap salah satu kepala divisi dengan nada formal yang janggal. “Untuk keputusan merger ini, kami menunggu arahan Bapak.” Reyhan berkedip. 'Pak...' Orang yang dulu memanggilnya Rey, bahkan pernah meremehkannya di rapat kecil, kini menyebutnya Pak dengan nada penuh hormat. Ironisnya, itu tidak membuatnya bangga. Itu justru membuat tengkuknya terasa linu dan kaku. “Ah… iya,” jawabnya sambil berdehem. “Kita bahas pelan-pelan.” Padahal pelan-pelan bukan gaya perusahaan ini. Dan jelas juga bukan gaya Dastan sama sekali. Di layar presentasi, tertera angka-angka berbaris rapi, proposal besar menunggu tanda tangan, dan semua or

  • Mantan Jadi Tetangga    92. Bertahan

    Tok. Tok. Ketukan terdengar pelan di pintu kamar Marvella. Marvella yang sedang melipat sweater Kenzo pun sontak menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka, dan Miranda muncul dengan langkah ragu-ragu sambil membawa sebuah kotak kado berwarna abu-abu dove, yang dibungkus rapi dengan pita tipis warna biru tua. “Maaf ganggu,” ucap Miranda. “Ini… ada titipan.” Marvella berdiri. “Titipan siapa?” Miranda menghela napas singkat sebelum menjawab, memastikan agar nada suaranya netral. “Reno.” Nama itu membuat udara di ruangan berubah sedikit. Dastan yang sedang duduk di sofa, otomatis menegakkan punggungnya, meskipun ekspresi wajahnya tetap tenang. “Kado pernikahan,” lanjut Miranda cepat. “Dia minta aku yang kasih.” Marvella menerima kotak itu tanpa ekspresi yang berlebihan. Tangannya mantap dan sorot matanya pun tetap jernih. “Terima kasih, Mir. Jadi ngerepotin kamu.” Di atas kotak kado itu, terselip sebuah kartu kecil berwarna krem. Marvella pun membukanya dengan perlahan, dan mem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status