Compartir

Bab 3

Autor: Mega Raras
Kalimat yang diucapkan Isabela terasa sangat aneh, ditambah dengan raut wajah bangga saat ini, membuat Valeria tak bisa menahan rasa curiga.

Mungkinkah hal ini ada hubungannya dengan wanita itu?

Belum sempat berpikir lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari belakang, disusul suara Janson yang terdengar. "Ada apa ini?"

Sebelum Valeria sempat bicara, Jasper langsung mendahuluinya untuk mengadu pada Janson. Dia menunjuk ke arah Valeria. "Papa, dia jahat padaku! Dia tadi mau memukulku! Hua .... Papa harus bantu Jasper, cepat hukum orang ini!"

Sambil berbicara, anak itu bahkan sempat meneteskan dua tetes air mata, sangat bertolak belakang dengan kekejamannya saat menyiksa Polly tadi. Jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, Valeria tidak akan percaya seorang anak kecil memiliki akting sesempurna itu.

Namun, Janson jelas percaya pada Jasper. Atau mungkin bukan percaya, pria itu hanya secara naluriah tidak percaya pada Valeria.

"Minta maaf pada Jasper!"

Mendengar kata-kata ini, Valeria hanya merasa sangat lucu. Tanpa bertanya alasannya apa, tanpa membedakan benar dan salah, pria itu langsung menyuruhnya minta maaf?

Janson benar-benar pilih kasih.

Valeria menatap balik Janson dengan dingin. Tanpa meminta maaf dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung pergi begitu saja sambil menggendong Polly.

Di belakangnya terdengar tangisan Jasper serta bujukan halus Isabela, yang terdengar sangat ironis di telinga Valeria.

Sepanjang jalan pulang, Polly tidak berhenti gemetar di pelukan Valeri, tak peduli bagaimana cara Valeria menenangkannya.

Tiba di klinik hewan, dokter yang memeriksanya hanya bisa menggelengkan kepala. Dokter itu berkata bahwa selama bertahun-tahun praktik, dia belum pernah melihat anjing kecil yang terluka separah ini. Memar dan patah tulang di tubuh Polly masih bisa ditangani, tetapi yang lebih mengerikan adalah kondisi mental dan kerusakan pada nadi jantungnya.

Akhirnya, setelah menyelesaikan penanganan fisik yang diperlukan, dokter menasihati Valeria untuk berusaha sebisanya dan menyerahkan sisanya pada Tuhan.

Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Polly yang tadinya lincah dan menggemaskan menjadi seperti ini, mana mungkin Valeria tidak menyimpan dendam?

Namun kejadian ini juga ada karena kesalahannya sendiri. Jika saja dulu dia membawa Polly pergi bersamanya, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Nasi sudah menjadi bubur, yang bisa dia lakukan sekarang adalah merawat Polly dengan lebih baik untuk seterusnya.

Setelah menyetujui penanganan Polly, Valeria berencana pergi ke Perusahaan Gideon. Meski sudah mengajukan pengunduran diri, kepulangannya secara sepihak kali ini memang menyisakan masalah presensi.

Gedung Perusahaan Gideon sudah tiga tahun tidak dia kunjungi. Sekarang saat berdiri kembali di hadapannya, Valeria merasa seolah-olah berada di dunia yang berbeda.

Sebelum dibuang ke Kota Hofra, Valeria pernah magang di sini untuk beberapa waktu.

Saat itu, karena parasnya yang menonjol, banyak orang di Perusahaan Gideon yang mengenalnya. Oleh karena itu, begitu melangkah masuk ke dalam gedung, tidak sedikit orang yang langsung mengenalinya, dan bisik-bisik mulai terdengar di sekitarnya.

"Bukannya itu Valeria? Kenapa dia jadi begini? Seingatku dulu dia sangat langsing, kenapa sekarang gemuk sekali?"

"Benar, masih muda tapi sudah buat dirinya sendiri jadi begini. Benar-benar nggak bisa jaga diri. Kalau gemuk begini, pria mana yang masih mau padanya?"

"Kalau menurutku, pasti karena situasi kerja di Kota Hofra terlalu enak, jadi dia makan sembarangan. Kudengar kinerja perusahaan cabang Kota Hofra beberapa tahun ini sangat bagus. Dengan dipimpin oleh Bu Isabela, bisa menghasilkan profit triliunan. Sepertinya dia banyak ambil keuntungan dari sana."

...

Meski orang-orang itu sengaja merendahkan suara mereka, karena suasana sekitar sangat tenang, kata-kata itu tetap masuk ke telinga Valeria.

Namun, dia tidak peduli sedikit pun.

Bertahun-tahun ini, dia telah menempa hati yang tangguh di dunia bisnis. Kata-kata seperti ini sama sekali tidak akan masuk ke hatinya. Dulu saat dia melakukan riset dan mengejar proyek, kata-kata yang didengarnya jauh lebih menyakitkan dari ini. Apalagi, gosip biasanya tidak bertahan lama.

Benar saja, tak berapa lama kemudian, keramaian lain kembali terdengar di sampingnya. Namun, kali ini pemeran utamanya bukan lagi Valeria.

"Bu Isabela cantik sekali ya. Wajah dan bentuk tubuhnya benar-benar sempurna, mirip sekali dengan artis terkenal!"

"Bukan cuma itu, menurutku Bu Isabela malah lebih cantik dari artis. Dan yang paling luar biasa adalah auranya. Segar, anggun, dan berkelas, jarang ada artis yang punya tipe seperti ini."

"Lagi pula, kudengar ini bukan hal paling hebat dari Bu Isabela, yang paling hebat adalah kemampuannya. Katanya dia lulusan jurusan teknik biologi teratas di Negara Aragi. Gelarnya doktor, waktu kuliah sudah mematenkan banyak penemuan dan memborong berbagai penghargaan internasional!"

...

Mengikuti arah suara mereka, Valeria melihat sosok jangkung dan langsing melangkah masuk ke dalam gedung. Wanita itu mengenakan pakaian peragaan busana musim terbaru dari merek mewah dan menenteng tas kulit buaya. Sosok itu tak lain adalah Isabela.

Saat melewati karyawan lain, senyum selalu terpatri di wajahnya, dan sesekali dia menyapa mereka dengan ramah. Namun, senyum itu seketika memudar saat pandangannya bertabrakan dengan Valeria.

Valeria tidak terlalu memedulikannya dan hanya melirik dengan dingin. Ketika pintu lift terbuka, dia langsung naik menuju kantor HR.

Dalam perjalanan ke sini, dia sudah membuat janji terlebih dahulu dengan pihak HR, jadi saat ini pihak HR sudah menunggunya.

HR di perusahaan ini belum tahu bahwa Valeria telah mengajukan pengunduran diri, jadi mereka hanya menyampaikan hukuman atas kepulangannya tanpa izin kali ini. Sesuai peraturan perusahaan, gajinya akan dipotong satu bulan, dan bonus akhir tahunnya untuk tahun ini ditiadakan.

Begitu mendengar penjelasan HR, Valeria mengernyitkan kening. Dia sudah menduga akan ada hukuman, tetapi tidak mengira akan seberat ini. Apalagi, dalam peraturan perusahaan, dia tidak pernah melihat aturan seperti ini sebelumnya.

Setelah mendesak berkali-kali, barulah HR memberi tahu bahwa ini adalah aturan baru yang dirancang langsung oleh Pak Janson dan baru berlaku hari ini.

Dalam sekejap, Valeria paham. Sepertinya Janson benar-benar tidak memberinya ampun sedikit pun.

Dia tidak melanjutkan pembicaraan dengan HR, melainkan langsung naik lift menuju ruang kerja Janson. Saat ini Valeria sangat membutuhkan uang dan sepeser pun sangat berharga.

Sepanjang jalan, melihat angka lantai berwarna merah yang terus berganti di dalam lift, dia mau tidak mau berpikir bahwa tindakan Janson ini hanya untuk menghukumnya dan memaksanya mengakui kesalahan secara sukarela.

Meski Valeria tidak merasa dirinya bersalah, dalam kondisi khusus ini, dia bukan tidak bisa berpura-pura mengalah. Apalagi dia merasa masih ada hubungan pernikahan serta anak yang secara legal antara dirinya dan Janson, sehingga dia tidak ingin memperkeruh suasana.

Setibanya di depan pintu, tepat saat Valeria hendak mengetuk, tiba-tiba terdengar suara percakapan dari dalam ruangan. Suara Janson dan Isabela.

Valeria sama sekali tidak peduli pada urusan mereka. Saat dia berbalik dan hendak pergi, langkahnya mendadak terhenti ketika mendengar nama dirinya disebut oleh Isabela.

Saat bicara dengan Janson, nada suara Isabela sangat lembut dan bermanja-manja. "Janson, kapan Valeria akan pergi?"

"Jangan khawatir, aku akan merencanakannya secepat mungkin." Janson menjawab dengan cepat. Tanpa perlu melihat pun, Valeria tahu betapa lembutnya ekspresi pria itu saat ini.

"Ya, aku percaya padamu." Isabela melanjutkan dengan nada manja, "Kamu tahu sendiri, kepulangannya yang mendadak ini membuatku dan Jasper sangat nggak nyaman. Penampilannya sekarang sudah berubah, sifatnya juga jadi aneh sekali. Sebenarnya kalau aku yang mengalah sih nggak masalah, tapi aku nggak mau Jasper merasa tertekan."

"Aku mengerti." Janson kembali membujuknya, "Tenang saja, masalah ini sedang diproses, dia akan segera kembali ke Kota Hofra. Kemarilah, lihat hadiah yang kubelikan untukmu."

Kata-kata itu disusul hening sejenak di dalam ruangan, sepertinya Janson sedang mengambilkan hadiah untuk Isabela.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan kaget Isabela. "Kamu membelikanku gelang ini? Ini pasti harganya 10 miliar, 'kan? Kenapa kamu beli barang semahal ini?"

Meski nada bicara Isabela terkejut, kegembiraan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.

"Nggak mahal kok, ini sangat cocok untukmu." Janson tetap menjawab dengan suara lembut.

Mendengar pria itu berbicara penuh kelembutan demi menyenangkan hati Isabela, Valeria hanya merasa amat ironis.

Ibunya sakit dan membutuhkan 3,4 miliar, Janson tidak mau meminjamkan. Namun di balik itu, pria itu justru membelikan gelang seharga belasan miliar untuk Isabela.

Perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai ternyata seluas ini.

Tak berapa lama, Valeria mendengar tangisan Isabela, tetapi jelas itu adalah tangis bahagia. "Janson, kamu memang yang paling baik padaku. Dulu waktu aku hamil, kalau sampai Nenek tahu, aku pasti sudah dipukul sampai mati oleh Nenek. Kamu yang berdiri dan menanggung semua itu. Akhirnya kamu pura-pura nikah dengan Valeria dan pura-pura mengadopsi Jasper. Walaupun sekarang hubungan kita belum bisa diumumkan, tapi bisa mendampingimu dan Jasper seperti ini, aku sudah sangat bersyukur!"

"Tenang saja, dulu aku bisa melindungimu. Sekarang dan seterusnya, aku juga tetap bisa melindungimu. Aku akan bertanggung jawab atas hidupmu dan Jasper seumur hidupku."

...

Apa yang mereka bicarakan setelahnya sudah tidak bisa masuk lagi ke dalam benak Valeria. Kepalanya serasa meledak saat mendengar kata-kata Isabela tadi.

Isabela mengatakan bahwa Jasper adalah anak kandungnya bersama Janson?

Janson menikah dengannya hanya demi bisa mengadopsi anak itu secara sah?

Jadi, pernikahan ini dari awal hanya sebuah penipuan?

Janson tidak pernah menyukainya sedikit pun?

Hati Valeria terasa sakit hingga sesak napas. Penglihatannya kabur, dan kedua kakinya seolah kehilangan tenaga seketika hingga dia harus bersandar pada dinding.

Namun, makin berada dalam kondisi ini, jalan pikirannya justru menjadi makin jernih. Detail-detail yang selama ini diabaikannya, kini terhubung satu sama lain bagaikan untaian manik-manik.

Pantas saja dulu Janson begitu terburu-buru saat mengajaknya menikah.

Pantas saja pada hari kedua pernikahan, dia langsung dibuang ke Kota Hofra.

Pantas saja saat dia memberitahu Isabela bahwa Janson yang berinisiatif mengajaknya menikah duluan, wanita itu menatapnya dengan sangat remeh.

Valeria kembali teringat pada wajah Jasper yang sangat mirip dengan Isabela, serta perasaan aneh saat pertama kali masuk ke rumah tadi bahwa mereka bertigalah yang tampak seperti satu keluarga ....

Ternyata, semua ini memang sudah direncanakan sejak awal. Semuanya demi Isabela.

Dan Valeria hanyalah wanita bodoh yang ditutupi matanya, yang secara bodohnya mengira telah menemukan cinta sejati.

Mengingat kembali kejadian dulu, dalam perjalanan pulang, Valeria mendadak diculik. Setelah itu, peristiwa mengerikan itu terjadi. Valeria tidak ingat jelas seluruh prosesnya, hanya samar-samar ingat bahwa pelakunya sepertinya orang Kota Hofra.

Saat terbangun, orang pertama yang dilihatnya adalah Janson. Pria itu memberitahunya bahwa dia tidak mempermasalahkan kejadian itu dan bersedia menikah dengan Valeria. Hanya saja karena Valeria tidak bisa hamil lagi, mereka perlu mengadopsi seorang anak untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.

Saat itu bagi Valeria, Janson adalah seorang penyelamat yang turun dari langit.

Pria idaman yang diam-diam disukainya selama empat tahun mendadak menyatakan cinta padanya, tepat di saat dirinya berada di titik terlemah. Oleh karena itu, tanpa berpikir panjang, Valeria langsung mengiyakan.

Sekarang jika dilihat kembali, semuanya palsu. Mereka hanya memanfaatkannya.

Air mata Valeria menetes deras. Kuku-kukunya menancap dalam ke dalam daging tangannya. Dia merasakan keputusasaan dan kebingungan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Tepat pada saat itu, ponselnya mendadak berdering. Dia melirik nama yang tertera di layar, bergegas mengusap air matanya, lalu melangkah pergi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status