Compartir

Bab 4

Autor: Mega Raras
Telepon itu ternyata dari Tuan Caleb.

Tuan Caleb adalah klien paling penting bagi Perusahaan Gideon di Kota Hofra. Jumlah bisnis dari perusahaannya mencakup 80% dari seluruh pendapatan Perusahaan Gideon. Di saat yang sama, dia juga merupakan mitra kerja sama yang paling mudah diajak berkomunikasi di antara semua klien Valeria.

Saat pertama kali tiba di Kota Hofra dulu, Valeria tidak memiliki pengalaman maupun nama. Dia harus menerima banyak penolakan dan mengalami masa-masa yang sangat sulit.

Di tengah situasi yang sangat susah itu, Tuan Caleb-lah yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Baru setelah Tuan Caleb menanamkan investasi, investor dan mitra lain mulai berdatangan secara bertahap untuk bekerja sama dengan Valeria dan timnya.

Apalagi, selama proses kerja sama berlangsung, Tuan Caleb tidak pernah menawar harga ataupun mengulur-ulur waktu. Dia selalu bertindak lugas dan tulus. Bisa dikatakan, dia adalah sosok penolong dalam hidup Valeria, bahkan hingga detik ini.

Valeria dengan cepat menenangkan dirinya lalu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. "Halo, Tuan Caleb."

"Halo, Nona Valeria."

Tuan Caleb selalu menyapa dengan sebutan itu. Sangat sopan dan rendah hati, sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan layaknya seorang klien besar. Meski Valeria sudah berulang kali menyampaikan bahwa tidak perlu seformal itu dengannya, Tuan Caleb tetap pada pendiriannya.

"Saya dengar Anda sudah kembali ke Kota Belona?"

"Ya, saya tiba tadi malam." Mengira bahwa Tuan Caleb merasa cemas mengenai pekerjaan mereka, Valeria lalu menjelaskan, "Mengenai proyek kita, Anda tidak perlu khawatir. Saya sudah menyerahkan seluruh instruksi kepada Kevin. Jika ada hal yang ingin Anda tanyakan, Anda bisa langsung menghubungi beliau. Tentu saja, Anda juga tetap bisa langsung menghubungi saya."

"Ini bukan soal pekerjaan," sela Tuan Caleb tenang setelah membiarkan Valeria selesai berbicara. "Anda pulang terburu-buru seperti ini, apakah terjadi sesuatu?"

"Ya." Valeria tidak mencoba menutup-nutupi masalahnya. "Ibu saya sedang sakit."

"Apakah parah? Apa Anda butuh bantuan?"

Mendengar perhatian itu, pelupuk mata Valeria seketika menggenang hangat. Ini adalah pertama kalinya seseorang menunjukkan kepedulian padanya sejak dia mengetahui kondisi ibunya.

Belum sempat Valeria menjawab, dia mendengar Tuan Caleb kembali, "Apa Anda butuh dana, atau bantuan akses kesehatan?"

Jika kata-kata tersebut diucapkan oleh orang lain, mungkin akan terdengar lancang atau menyinggung perasaan.

Namun dari mulut Tuan Caleb, hal itu terasa berbeda. Nada bicaranya begitu hangat dan tulus, membuat Valeria sadar bahwa pria itu benar-benar ingin menolongnya.

Mungkin karena kondisinya yang sudah benar-benar terdesak, atau mungkin karena dia sangat memercayai Tuan Caleb, Valeria langsung berkata, "Saya butuh 3,4 miliar."

Tuan Caleb langsung merespons, "Kalau begitu, tolong kirimkan nomor rekening Anda kepada saya, Nona Valeria."

"Ah, tidak perlu." Valeria baru menyadari betapa gegabah tindakannya barusan, lalu bergegas menolak. "Saya tidak punya kapasitas untuk meminjam uang sebanyak itu dari Anda."

Jika bukan karena Perusahaan Gideon, dia tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk mengenal Tuan Caleb. Perusahaan Gideon adalah jembatan yang menghubungkan mereka. Namun, Valeria sudah memantapkan hati bahwa dia tidak akan bertahan lagi di perusahaan itu. Meski untuk saat ini dia terpaksa bertahan demi biaya pengobatan ibunya, begitu ibunya pulih kelak, cepat atau lambat dia tetap akan mengundurkan diri.

Meninggalkan Perusahaan Gideon dan memutus koneksi dengan Tuan Caleb adalah hal yang cepat atau lambat akan terjadi.

"Anda tidak perlu meminjamkan uang ini hanya karena mempertimbangkan hubungan kerja sama dengan Perusahaan Gideon. Saya mungkin tidak akan bertahan lama lagi di Perusahaan Gideon. Jadi, kalau pertimbangan Anda karena hal itu, Anda benar-benar tidak perlu melakukannya," jelas Valeria.

"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Perusahaan Gideon," jawaban Tuan Caleb justru di luar dugaannya. "Tapi, apa Nona Valeria sedang mempertimbangkan peluang karier yang baru? Apa sudah ada arah yang dituju?"

"Belum ada," jawab Valeria jujur.

"Kalau begitu, bagaimana kalau Nona Valeria mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan perusahaan kami?"

Mendengar tawaran itu, Valeria tertegun seketika.

Perusahaan Tuan Caleb adalah Global Wisdom Biotech, perusahaan bioteknologi nomor satu di tingkat nasional, bahkan internasional.

Skala perusahaan itu berada jauh di atas level Perusahaan Gideon. Mungkinkah dia benar-benar mendapatkan kesempatan emas ini?

Tanpa sumber daya milik Perusahaan Gideon, apakah dia masih memiliki pijakan untuk menjangkau Global Wisdom Biotech?

Mengira Tuan Caleb tidak mendengar penjelasannya dengan jelas, Valeria pun mengulangi pernyataannya, "Tuan Caleb, mungkin kata-kata saya tadi kurang jelas. Nantinya, saya kemungkinan besar tidak bekerja di Perusahaan Gideon lagi. Jadi, seluruh sumber daya yang berkaitan dengan Perusahaan Gideon tidak akan bisa saya akses lagi."

"Saya mengerti. Sejak awal, yang kami perhitungkan bukan Perusahaan Gideon, tapi Anda sendiri." Tuan Caleb menjelaskan padanya. "Anda tidak perlu terburu-buru memberi jawaban, silakan pertimbangkan perlahan-lahan."

Sampai di titik ini, jika Valeria masih juga meragukan Tuan Caleb, dia tentu sangat picik. "Kalau yang Anda katakan itu benar, saya tentu tidak keberatan. Saya sangat bersedia mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan Anda. Hanya saja, saya harus menyelesaikan prosedur pengunduran diri dulu dari Perusahaan Gideon, dan itu mungkin butuh waktu."

"Tidak masalah, tidak perlu terburu-buru. Kita sesuaikan dengan waktu yang Anda miliki."

"Terima kasih banyak, Tuan Caleb." Saat ini, hanya kalimat itu yang mampu mewakili luapan perasaan Valeria.

"Tidak perlu berterima kasih pada saya, saya pun hanya menjalankan perintah," jawab Tuan Caleb. Namun, kalimat terakhir itu diucapkannya dalam bahasa asing, sehingga Valeria tidak mengerti artinya.

"Saya menantikan kerja sama kita selanjutnya."

"Saya juga menantikannya."

Setelah mengakhiri panggilan, Caleb Anderson langsung menekan nomor lain di ponselnya. Pihak di seberang sana pasti sosok yang sangat berpengaruh, karena tanpa sadar postur tubuh Caleb mendadak tegap saat berbicara.

"Pak Travis."

"Apa semuanya sudah kamu urus dengan baik?" Suara berat dan dingin terdengar dari balik telepon.

"Sudah, semuanya telah dilaksanakan dengan baik," jawab Caleb penuh hormat.

Dia sebenarnya sedikit gentar terhadap atasannya yang satu ini. Walaupun usia Travis Arkadewata terbilang muda, aura dan intonasinya saat berbicara sangat menekan.

Sebagai pria yang memegang kekuasaan tertinggi di industri bioteknologi global, sulit bagi siapa pun untuk tidak merasa segan di hadapannya.

Ditambah lagi dengan gaya kepemimpinannya yang tegas, dingin, dan berani mengambil keputusan secara tajam, serta sifatnya yang tidak pernah tersentuh oleh skandal percintaan, lingkaran industri memberinya julukan “Raja Iblis”.

Jika bukan karena urusan Nona Valeria kali ini, Caleb mungkin tidak akan pernah tahu bahwa bosnya memiliki sisi yang seperti ini.

"Ceritakan dengan rinci."

Sementara itu, setelah menutup telepon, Valeria melangkah kembali ke kantor HR.

Melihatnya kembali, staf HR itu mengira Valeria sudah sadar dan memutuskan untuk menandatangani surat sanksi pemotongan gaji. Wanita itu lalu tersenyum mencibir. "Tahu begitu dari tadi kek, buat apa berbelit-belit? Coba ngaca, kamu itu siapa. Sudah gemuk, tua lagi. Masih saja berkhayal setara dengan Bu Isabela yang anggun itu? Kamu kira bakal dimanja oleh Pak Janson dan bikin seluruh perusahaan bertekuk lutut di hadapanmu? Kamu pikir ...."

Tanpa menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Valeria memotong dengan dingin, "Simpan omong kosongmu itu. Aku ke sini cuma untuk memberi tahu secara resmi kalau pengajuan pengunduran diriku sudah diproses."

Kata-kata itu seketika membuat staf HR yang tadinya bersikap angkuh, menjadi tertegun. "Kamu ... ngomong apa?"

"Kupingmu bermasalah? Aku bilang aku sudah undurkan diri, apa kamu nggak ngerti?" Valeria tidak bersikap sopan santun lagi. Dia langsung menunjukkan bukti persetujuan di dalam sistem perusahaan melalui layar ponselnya.

Staf HR itu membelalakkan mata. Benar saja, alur pengunduran diri sudah selesai disetujui, dan di dalamnya sudah tertera tanda tangan digital dari Pak Janson sendiri.

Meski sebelumnya dia tidak menerima pemberitahuan bahwa Valeria hendak mundur, tetapi karena Pak Janson sudah menyetujuinya, jelas tidak ada yang perlu dipertanyakan lagi. Lagi pula, wanita gemuk ini jelas-jelas sudah membuat Pak Janson murka sehingga sengaja ditargetkan dan dipotong gajinya.

Wanita itu tertawa hambar. "Undur diri ya undur diri saja, memangnya kenapa? Sok hebat banget."

Dia kemudian menarik selembar formulir dan melemparnya dengan kasar ke hadapan Valeria. "Tanda tangani ini. Masa transisi penyerahan tugas adalah tiga puluh hari, hitung sendiri tanggalnya!"

Valeria tidak membuang waktu. Dia dengan cepat membubuhkan tanda tangan, mengambil foto lembaran itu sebagai arsip pribadi, lalu berbalik pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Menatap punggung Valeria yang menjauh, staf HR itu masih saja mengomel tanpa henti pada rekan kerja di sebelahnya, "Badan melar begitu, pasti selama di cabang Kota Hofra dia sudah banyak makan uang haram. Tapi ya, baguslah kalau dia tahu diri dan mengundurkan diri sendiri. Kalau sampai diusut dan terbongkar nanti, dia nggak cuma sekadar dipecat!"

Sebenarnya, ketika mendengar Valeria mengundurkan diri tadi, sempat terlintas di pikirannya untuk menelepon Pak Janson untuk mengonfirmasi.

Namun, pengajuan itu toh sudah disetujui langsung oleh Pak Janson sendiri. Lagi pula, Pak Janson sebelumnya sudah berpesan bahwa dia tidak mau tahu hal apa pun yang berkaitan dengan Valeria lagi dan meminta segalanya diproses sesuai prosedur baku perusahaan. Jadi, staf HR itu mengurungkan niat tersebut.

Dengan acuh tak acuh, dia merapikan lembaran formulir milik Valeria, menyatukannya di antara tumpukan dokumen acak, lalu seketika melupakan urusan itu begitu saja.

Karena surat pengunduran diri sudah diajukan, Valeria memutuskan untuk menuntaskan segalanya sekaligus. Selain tidak ingin berurusan dengan Janson dalam hal pekerjaan lagi, dia juga berniat memutuskan hubungan dalam kehidupan pribadinya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status