Compartilhar

Bab 2

Autor: Mega Raras
Pria itu ternyata menyetujuinya secepat ini?

Valeria terkejut sekaligus sakit hati. Sepertinya pria itu memang sudah sejak lama ingin mengusirnya.

"Siapa yang mengizinkanmu pulang?" Janson di seberang mendadak berbicara padanya.

Nada pria itu dingin dan ketus, persis sama seperti saat bicara di telepon sebelumnya.

Inilah Janson yang dia kenal.

"Kemarin aku sudah bilang padamu di telepon." Valeria berusaha tidak menatap mata Janson agar tidak terluka oleh tatapan tajam dan dingin itu.

"Apa aku sudah setuju?"

"Sudah kubilang, ibuku sakit."

"Lalu kenapa?" Janson menatapnya dingin. "Apa perusahaan harus menanggung masalah pribadimu?"

Tatapan pria itu padanya selalu seperti ini. Tenang tanpa gejolak, hampa tanpa emosi, sebuah pengabaian yang mutlak. "Kamu sendiri yang harus ke perusahaan untuk menerima hukuman."

Hukuman?

Sebenarnya Valeria ingin mengatakan hal itu tidak perlu. Bagaimanapun juga, dia sudah mengajukan pengunduran diri. Lalu apa lagi yang bisa pria itu lakukan padanya?

Namun jika kata-kata itu diucapkan, pasti akan memicu perdebatan panjang. Padahal saat ini ada hal yang jauh lebih penting untuk diselesaikan.

"Soal hukuman, aku akan menjelaskannya ke HR di perusahaan. Tapi aku ke sini hari ini untuk urusan lain."

"Kalau ada urusan, ngomong sama asisten rumah tangga." Janson jelas tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengannya. Pria itu melihat jam tangannya dan bersiap pergi.

Melihat Janson hendak pergi, Valeria tidak berbelit-belit lagi. "Aku butuh uang sekarang."

Mendengar hal itu, Janson tertegun sejenak sebelum akhirnya mengerutkan kening. "Berapa?"

Pria itu bertanya padanya, membuat Valeria mengira masih ada harapan. Hatinya yang sejak tadi gantung seolah akhirnya mendapatkan pijakan, hingga tanpa sadar nadanya melembut saat berkata, "3,4 miliar."

Kemudian, seolah khawatir pria itu salah paham, dia bergegas menjelaskan, "Ibuku sakit dan dirawat di rumah sakit. Setelah dipotong tabunganku, masih butuh 3,4 miliar."

Usai berkata seperti itu, Valeria menatap penuh harap pada pria di depannya, pria yang berstatus sebagai suaminya.

Valeria berpikir pria itu akan menyetujuinya. Bagaimanapun juga, selain urusan pekerjaan, mereka adalah suami istri.

Lagi pula, mereka sudah saling kenal sejak kuliah, dan pernikahan ini dulu diajukan secara sukarela oleh pria itu. Pria itu seharusnya punya sedikit rasa suka padanya, bukan?

Apalagi mereka kini sudah menikah selama tiga tahun. Bagaimana gigih dan tulusnya dia mencintai pria itu selama bertahun-tahun ini, pria itu seharusnya bisa merasakannya.

Lagi pula, uang 3,4 miliar bagi Janson hanya jumlah kecil. Harga satu jaket harian pria itu bahkan lebih dari jumlah tersebut.

Namun setelah menunggu sekian lama, persetujuan itu tak kunjung datang. Yang ada hanya dengusan dingin dan sindiran terang-terangan, "Valeria, kamu minta uang padaku? Apa kamu berhak?"

Satu kalimat itu menghantam keras ke wajah Valeria seperti tamparan nyaring, seketika menghancurkan pemikirannya tadi hingga berkeping-keping.

Valeria merasa agak linglung akibat tamparan kata-kata itu.

Apa dia berhak?

Dia berhak, karena dia adalah istri Janson, karena dia telah menghasilkan keuntungan triliunan untuk Perusahaan Gideon selama bertahun-tahun ini, dan karena dia berhak atas separuh dari aset pria itu. Apakah alasan-alasan ini cukup?

Namun, alasan-alasan ini tidak ada satu pun yang sanggup dia ucapkan saat ini. Menatap pandangan Janson yang dingin dan penuh sindiran, Valeria hanya merasa jika menyampaikan alasan-alasan itu, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

"Anggap saja aku pinjam uang padamu, bagaimana?"

"Pinjam? Kamu mau bayar pakai apa?"

Dia sudah mengalah satu langkah, tetapi tidak menyangka Janson tetap menyudutkannya. Valeria mulai gelisah. "Kalau begitu, aku minta uang muka gaji dan bonus akhir tahunku, boleh 'kan?"

"Kapan gajimu bisa melunasi uang 3.4 miliar ini, kurasa kamu lebih paham daripada aku." Janson tetap mempertahankan raut dinginnya.

Mata Valeria terasa pedih. Rasa tertekan dan sakit hati bercampur di dalam dadanya. "Janson, apa kamu harus sekejam ini padaku?"

"Kejam?" Janson menatap Valeria dingin, seperti melihat orang yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya. "Kamu yang nggak paham hubungan di antara kita."

Hubungan? Ada hubungan apa di antara mereka? Valeria ingin bertanya padanya, bukankah hubungan di antara dirinya dan pria itu adalah pernikahan sah secara hukum? Atau bahkan tak lebih baik dari orang asing?

Namun sebelum kata-kata itu terucap, tiba-tiba terdengar suara salakan anjing yang melengking tragis dari lantai atas. Hati Valeria seketika tersentak.

Sebelum dibuang ke Kota Hofra, dia pernah memelihara seekor anjing kecil bernama Polly.

Namun, karena saat pergi tidak memungkinkan untuk membawa anjing itu, Valeria meninggalkan Polly di rumah dan menitipkannya pada asisten rumah tangga.

Sekarang, asisten rumah tangga di sini sudah berganti orang, lalu Polly ....

Valeria tidak mau berdebat dengan Janson lagi. Dia langsung berlari menuju lantai atas. Semakin mendekat, suara salakan anjing itu semakin mengenaskan. Hatinya cemas luar biasa, membuat jantungnya serasa melompat ke luar.

Akhirnya, di sudut lorong, dia melihat anjing kecil itu. Itu memang Polly miliknya. Namun, pemandangan yang ada di depan matanya saat ini hampir membuat Valeria menjerit histeris.

Karena selain Polly, di sudut lorong itu juga ada Isabela dan Jasper.

Isabela berdiri bersedekap di samping, sementara Jasper menunggangi tubuh Polly sambil terus menendang dan memukuli anjing itu tanpa henti. Sambil memukul, mulutnya terus mengumpat, "Ibu-ibu gemuk, jelek, kamu nggak pantas jadi mamaku!"

Valeria benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Emosinya lepas kendali dan dia berteriak keras, "Apa yang kalian lakukan?!"

Mendengar teriakan itu, Jasper tidak menghentikan aksinya. Dia justru menatap Valeria dengan dingin dan melanjutkan perbuatannya.

Valeria sungguh tidak sanggup menahan dirinya lagi. Dia berlari menghampiri mereka, mengangkat Jasper dengan kasar, lalu merengkuh Polly ke dalam pelukannya sambil mengelus dan menenangkan anjingnya pelan-pelan.

Sayangnya, pandangan mata Polly sudah kosong. Kondisinya sekarat, dan tubuhnya terkulai tanpa daya.

Dan kini, karena jaraknya dekat, Valeria menyadari ada selembar foto menempel di dahi Polly. Latar belakang biru menyala dengan kemeja putih. Itu jelas adalah foto buku nikahnya dengan Janson.

Hanya saja tidak ada foto Janson, cuma dirinya yang ada di di foto itu.

Tersenyum manis nan malu-malu dengan binar bahagia, sangat kontras dengan situasi mengerikan saat ini.

Dalam sekejap, berbagai emosi berbaur menguasai hatinya. Valeria gemetar karena marah. Emosinya lepas kendali dan tangannya melayang hendak memukul Jasper.

Isabela yang sejak tadi berdiri diam di samping, mendadak menarik Jasper ke belakang tubuhnya untuk menghalangi Valeria. "Perlu sampai begini? Itu cuma seekor anjing. Apa kamu harus ribut dengan seorang anak kecil?"

"Anak kecil? Nggak semua anak kecil pantas disebut anak-anak!" Valeria masih diselimuti kemarahan. "Lagi pula, anak bisa sampai begini, bukannya karena ajaran orang dewasa?"

Begitu kata-kata itu terdengar, raut wajah Isabela seketika berubah. Suaranya meninggi tajam saat berkata, "Valeria, apa maksudmu? Kamu sedang ngajarin aku? Coba lihat ini di mana? Sejak kapan kamu bisa bentak-bentak di rumah ini?!"

Baru saja kalimat Isabela berakhir, yang bereaksi lebih dulu sebelum Valeria adalah Polly di pelukannya. Seolah ketakutan, anjing itu kembali menggonggong mengenaskan dua kali, lalu mulai meronta keras di pelukan Valeria.

Valeria mengelus kepala anjing itu dengan penuh rasa iba. Setelah menenangkannya cukup lama, baru ketakutan Polly mereda. Valeria tidak punya waktu untuk melayani wanita ini. Dengan kondisi Polly saat ini, Valeria harus segera membawanya untuk diperiksa.

Dia berbalik hendak pergi, tetapi saat melangkah, dia kembali mendengar Isabela berbicara, "Valeria, kamu nggak pantas untuk kakakku."

Kali ini, selain sindiran, ada juga rasa provokasi yang kental. Terdengar bukan seperti adik Janson, melainkan lebih seperti pengagum pria itu.

Valeria menatapnya dingin. "Pantas atau nggak, bukan kamu yang berhak menentukan." Dia bertekad untuk tidak lagi mengalah. "Dulu, dia yang mengajakku nikah duluan."

Siapa sangka, mendengar hal ini, Isabela bukannya marah, justru binar kepuasan dan sindiran di matanya semakin dalam. "Benaran? Kalau begitu kamu harus tahu, dia melakukan itu demi siapa."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 50

    Stefani menyerahkan anak anjing itu kepada Jasper. "Anak pintar, main di sana ya!"Jasper menggendong anak anjing itu lalu berlari ke arah yang ditunjuk Stefani dengan gembira.Anak anjing ini benar-benar mirip sekali dengan anjing Valeria yang dulu. Selain warna bulu dan matanya, bahkan tanda lahir di tubuhnya pun persis sama.Isabela sampai ikut berdecak kagum. "Ibu, kok bisa nemu anjing yang mirip sekali seperti ini?"Stefani mendengus dingin. "Asal ada uang, apa sih yang nggak bisa dilakukan? Kamu dan Janson ini yang aneh, keinginan kecil anak sendiri saja nggak bisa kalian turuti."Kalimat itu menyindir kejadian saat Janson meminta anjing Valeria, namun ditolak mentah-mentah.Gara-gara hal itu, Jasper sempat menangis sesenggukan beberapa kali. Tapi karena Janson tidak memberi izin, Isabela juga tidak berani bertindak lancang. Sampai akhirnya Stefani tahu masalah ini. Tak butuh waktu beberapa hari, dia langsung membeli anjing yang sangat mirip."Cuma binatang biasa begitu. Kalau an

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 49

    "Boleh, mau kamu ngecek gimana?""Menurut kamu gimana?""Ih, nakal deh!" Isabela berpura-pura merona dan menepuk pelan dada pria itu dengan manja."Kenapa? Nggak suka ya?""Suka."Janson terkekeh pelan.Mumpung suasana hati pria itu sedang bagus, Isabela dengan cepat berkata, "Tadi sepertinya aku lihat Valeria di tempat gym."Mendengar nama itu, raut wajah Janson seketika berubah dingin. "Dia mau apa ke sana?""Nggak tahu." Isabela pura-pura polos. "Mungkin mau olahraga juga. Tapi, kok dia bisa bayar di tempat mewah seperti itu. Jangan-jangan ...."Isabela sengaja menggantung kalimatnya sambil diam-diam melihat raut wajah Janson. Melihat ekspresi pria itu yang makin kelam, dia tak berani melanjutkan dan langsung mengalihkan arah pembicaraan."Tapi kalau dipikir-pikir, dia melakukan semua ini pasti demi kamu, demi bisa menarik perhatianmu lagi. Janson, seandainya suatu hari nanti dia benaran berhasil diet dan makin kurus, apa sikapmu padanya bakal berubah?""Sudah kuduga, wanita itu ben

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 48

    Kali ini Valeria yang bertindak. Dia menampar wanita itu dengan keras dua kali. Seketika, suasana menjadi hening mencekam. Semua orang menatapnya dengan raut wajah tidak percaya.Wanita yang ditampar tadi memegangi pipinya, matanya seperti mau menyemburkan api. "Berani-beraninya kamu nampar aku?""Memang iya." Valeria menatapnya dingin. "Kenapa? Kamu boleh mukul orang lain, tapi orang lain nggak boleh mukul kamu?"Wanita itu langsung bungkam, wajahnya penuh rasa tidak terima. Kemudian, dia mengentakkan kaki dan menoleh ke arah Isabela untuk minta bantuan. "Kak Isabela, cepat telepon Kak Janson! Suruh dia datang ke sini buat kasih pelajaran ke wanita sialan ini!"Mendengar sebutan itu, Valeria cuma bisa tertawa sinis dalam hati. Kak Janson? Lancar sekali dia memanggil Janson dengan sebutan itu.Padahal surat cerai mereka belum resmi diurus, tapi wanita itu sudah memanggil Janson “Kak”? Kelihatannya dibanding Valeria, Janson lebih tidak sabar untuk bercerai. Tapi baguslah kalau begitu,

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 47

    Staf itu tersenyum lagi. "Sama-sama. Saya ngomong jujur kok."Saat mereka berdua sedang asyik mengobrol, mendadak terdengar suara ramai di depan pintu. Salah satu suaranya terdengar sangat familier di telinga Valeria. Tapi sebelum dia sempat mengingat siapa pemilik suara itu, rombongan itu sudah muncul di depan matanya.Ternyata Isabela, dengan dua orang teman wanitanya yang mengekor di belakang.Isabela mengenakan setelan baju yoga warna putih dan rambutnya disanggul tinggi. Lekuk tubuhnya kelihatan sangat proporsional, memancarkan kesan anggun dan elegan.Saat melihat Valeria, ada kilat kekaguman yang sempat berkelebat di matanya. Tapi raut wajahnya kembali seperti semula dengan cepat, lalu mendengus dingin.Dua wanita di belakang Isabela memakai pakaian yang hampir senada, bedanya penampilan mereka tidak seanggun Isabela. Mereka berdua memandangi Valeria dari atas sampai bawah, dengan tatapan meremehkan. Salah satu dari mereka langsung menyindir, "Baru kali ini aku lihat orang gemuk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 46

    Sifat Valeria cenderung hati-hati dan tidak begitu suka ikut campur di keramaian. Jadi, aksi Tuan Smith yang mencari keberadaannya secara terang-terangan di internet, membuatnya merasa agak risi.Akhirnya, setelah membalas beberapa pertanyaan penting di kolom komentar, dia langsung log out dari akunnya.…Keesokan harinya sepulang kerja, Valeria datang ke tempat gym yang direkomendasikan Helen sesuai alamat.Tempat gym itu sangat mewah. Selain peralatannya lengkap, suasananya juga sangat bersih dan rapi. Baru saja Valeria melangkah masuk, seorang staf wanita yang masih muda dan cantik langsung menyambutnya dengan ramah.Staf itu tampak masih sangat muda, senyumnya manis sampai lesung pipinya kelihatan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?"Datang ke tempat seperti ini, sebenarnya membuat Valeria merasa agak canggung. Beberapa tahun ini, dia tahu badannya makin berisi. Jadi dia sering menyembunyikan diri di dalam pakaian longgar, demi menghindari obrolan soal bentuk tubuh.Tapi saat melangk

  • Mantan Suami, Terlambat Menyesal!   Bab 45

    Travis menatap foto itu sebentar. Setelah sadar Caleb masih memperhatikannya, dia baru mengangkat pandangannya dan mematikan layar ponsel. "Lalu kapan kita berangkat, Pak?" Caleb memberanikan diri bertanya lagi."Besok.""Cepat sekali?" Caleb sangat terkejut. Kedatangan mereka ke Kota Belona baru genap sehari. Berarti perjalanan mereka kali ini hanya menyelesaikan dua hal. Berkunjung ke Rumah Sakit Karshan dan makan malam dengan Valeria."Di kantor masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Travis santai.'Ternyata Anda tahu ya,' batin Caleb. Dia mengira bosnya sudah lupa.Akhir tahun memang masa-masa paling sibuk, di mana kantor cabang maupun pusat penuh dengan jadwal rapat dan kunjungan kerja setiap hari. Sejak awal saat bosnya mengajak pergi ke Kota Belona, Caleb sebenarnya merasa jadwal agenda mereka kurang pas.Namun, karena posisinya hanya sebagai bawahan, Caleb hanya bisa ikut pergi. Dia berpikir, karena sudah telanjur di Kota Belona, sekalian saja menemui mitra bisnis

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status