ANMELDEN***
Musim semi menyambut Aurora ketika ia tiba di Paris. Udara terasa lebih hangat dibandingkan London. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan, sementara aroma kopi dari kafe-kafe kecil memenuhi udara.
Aurora berdiri di depan jendela apartemen yang baru disewanya. Apartemen itu tidak terlalu besar, hanya dua kamar tidur, ruang tamu kecil, dapur sederhana, dan balkon yang menghadap jalan.
Namun untuk pertama kalinya... Aurora menyukai tempat itu. Tidak ada kenangan tentang Lucien, tidak ada suara keluarga Ashford, tidak ada meja makan panjang yang membuatnya merasa seperti orang asing. Hanya ada dirinya sendiri.
"Mulai sekarang..." Aurora menyentuh kaca jendela. "...aku akan hidup untuk diriku sendiri."
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari pengacara keluarga.
Nona Aurora, ada beberapa dokumen peninggalan mendiang Tuan Sebastian Whitmore yang perlu Anda periksa. Dokumen tersebut telah kami kirimkan ke apartemen Anda.
Aurora mengernyitkan kening. "Warisan? Dan kenapa dia tahu nomorku yang baru dan tahu aku di Paris, apakah dari Paman Gabriel?”
Ia berjalan menuju meja. Di sana terdapat beberapa kotak hitam dan sebuah map besar, Aurora duduk. Tangannya membuka map itu perlahan. Begitu melihat halaman pertama, ia membeku.
LAST WILL AND TESTAMENT
Di bawahnya tertera sebuah nama.
Sebastian Whitmore.
Ayah angkatnya.
Aurora mengerutkan kening. "Kenapa ada surat wasiat?"
Selama ini ia hanya tahu ayah angkatnya meninggalkan rumah dan sejumlah tabungan. Ia tidak pernah membayangkan ada sesuatu yang lebih besar.
Aurora mulai membaca. Lima menit kemudian...
Tangannya gemetar. "Apa ini?"
***
"Di mana istri saya?" Suara Lucien Beaumont menggema di seluruh ruangan.
Beberapa staf Laurent & Partners langsung menoleh. Namun pria yang duduk di balik meja besar hanya mengangkat wajah dengan tenang.
Gabriel Laurent.
Pengacara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu yang terbaik di London. Ia menutup dokumen di depannya.
"Selamat siang, Tuan Beaumont."
"Aku tidak datang untuk berbasa-basi." Lucien melangkah mendekat. "Di mana Aurora?"
Gabriel bersandar pada kursinya. "Anda datang terlambat."
Rahang Lucien mengeras. "Apa maksudmu?"
"Klien saya tidak ingin bertemu dengan Anda."
"Aku suaminya."
Gabriel tersenyum dingin. "Mantan suami, sebentar lagi."
Lucien menghantam map perceraian yang dibawanya ke atas meja. "Aku tidak akan menandatangani ini."
"Silakan." Gabriel bahkan tidak terlihat terkejut. "Tapi saya sarankan Anda tidak memperpanjang masalah."
"Batalkan perceraian ini."
"Tidak."
Jawaban Gabriel begitu cepat hingga Lucien terdiam.
"Aurora tidak meminta apa pun dari Anda." Gabriel membuka map di hadapannya. "Dia tidak meminta rumah." Satu lembar dikeluarkan. "Tidak meminta saham." Lembar berikutnya. "Tidak meminta uang."
Gabriel menatap Lucien. "Bahkan hadiah dan harta yang pernah Anda berikan kepadanya sudah dikembalikan."
Lucien mengerutkan kening.
"Apa?"
"Klien saya hanya menginginkan satu hal."
Gabriel berhenti.
"Perceraian."
Lucien menggeleng. "Tidak."
"Kenapa?"
"Aku harus bertemu dengannya."
Gabriel tertawa kecil, bukan tawa ramah, melainkan tawa sinis. "Bertemu?" Ia berdiri perlahan. "Sudah terlambat, Tuan Lucien."
Lucien menatapnya tajam. "Aku suaminya. Aku berhak menemuinya."
"Anda memang suaminya." Gabriel menatap lurus ke matanya. "Tapi Anda tidak bertindak seperti suami."
Wajah Lucien berubah. "Apa maksudmu?"
"Kalau Anda mengulur waktu, itu percuma." Gabriel menunjuk dokumen di atas meja. "Bukti sudah kuat."
"Bukti apa?"
Gabriel mengangkat alis. "Anda benar-benar tidak tahu?"
Lucien terdiam.
Gabriel menghela napas. "Semua bukti mengenai kehidupan rumah tangga kalian sudah dikumpulkan. Rekaman komunikasi, riwayat perjalanan, dokumen medis dan saksi."
Lucien mengepalkan tangan. "Aku tidak melakukan apa pun yang membuat perceraian ini sah."
Gabriel tertawa hambar. "Anda bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada istri Anda."
Lucien terdiam. "Dia pergi tanpa memberitahuku."
"Dia pergi setelah menunggu Anda. Dia marah, dia terluka."
"Dia sedang mencoba membuatku cemburu."
Gabriel menatapnya tidak percaya. "Kau benar-benar berpikir begitu?"
Lucien mengerutkan kening. "Aurora bukan wanita seperti itu."
"Bagus." Gabriel tersenyum dingin. "Setidaknya Anda tahu sedikit tentang istri Anda."
"Kalau begitu katakan padaku di mana dia."
"Tidak."
"Gabriel."
"Jangan panggil nama saya seolah kita teman." Nada suara Gabriel berubah tajam. "Anda datang ke sini untuk menuntut keberadaan seorang wanita yang sudah tidak ingin bertemu dengan Anda."
Lucien menatapnya. "Apakah kau memengaruhinya?"
Gabriel terdiam.
"Apakah kau yang membuat Aurora mengajukan perceraian?"
Beberapa detik berlalu, kemudian Gabriel tertawa. Tawa yang membuat Lucien semakin marah.
"Apakah dunia ini benar-benar sudah gila?" Gabriel melangkah mendekat. "Atau memang ada suami bajingan seperti Anda, Tuan Beaumont?"
Wajah Lucien mengeras. "Jaga ucapanmu."
"Saya akan menjaga ucapan saya. "Gabriel menunjuk dada Lucien. "Tapi siapa yang akan menjaga perasaan Aurora?"
Lucien diam.
"Ketika istri Anda hamil..." Gabriel mengambil sebuah dokumen. "Di mana Anda?"
Lucien menelan ludah.
"Aku sedang bekerja."
"Ketika dia mengalami pendarahan?"
Lucien tidak menjawab.
"Di mana Anda?"
Hening.
"Anda sedang menemani Evelyn."
Rahang Lucien mengeras. "Itu bukan seperti yang kau pikirkan."
"Benarkah?"
Gabriel tertawa sinis. "Ketika Aurora dibawa ke rumah sakit sendirian, Anda tidak anda, ketika dokter berusaha menyelamatkan bayi Anda, Anda tidak ada. Ketika bayi itu meninggal..." Gabriel berhenti, tatapannya berubah dingin. "Anda masih tidak ada."
Lucien mengepalkan tangan.
"Aku tidak tahu." Kalimat itu keluar begitu pelan.
Gabriel terdiam sesaat. "Kau tidak tahu?"
"Dia tidak memberitahuku kalau kandungannya bermasalah.”
Gabriel menatapnya dengan jijik.
"Dia menelepon Anda."
Lucien membeku. "Apa?"
"Dia menelepon Anda." Gabriel membuka dokumen lain. "Empat kali."
Lucien menatap kertas itu.
"Dan tidak satu pun Anda jawab."
Dada Lucien terasa sesak. Ia teringat ponselnya. Hari itu... Evelyn memang sedang bersamanya. Ponselnya bergetar beberapa kali. Ia tidak mengangkatnya, ia mengira Aurora hanya ingin bertanya kapan dirinya pulang.
Gabriel melanjutkan. "Ketika akhirnya Anda menelepon balik..." Ia menatap Lucien lurus. "...Anda mengatakan bahwa Anda tidak bisa meninggalkan Evelyn."
Lucien tidak mampu menjawab.
"Anda bahkan mengatakan kepada istri Anda bahwa kalian masih bisa memiliki anak lain."
Wajah Lucien memucat, ia mengingat percakapan itu.
Sekarang... Kalimat yang dulu terasa biasa tiba-tiba terdengar seperti pisau.
Gabriel menghela napas. "Jadi saya bertanya kepada Anda. Apakah ada wanita bodoh di dunia ini yang akan tetap bertahan demi pria seperti Anda?"
Lucien hanya diam.
Gabriel kembali duduk. "Terima perceraian itu."
"Tidak." Jawaban Lucien masih tegas.
Gabriel menatapnya. "Kenapa?"
"Aku harus bertemu Aurora."
"Untuk apa?"
"Karena..." Lucien menarik napas panjang. "...aku belum selesai dengannya."
Gabriel menatapnya lama, kemudian tersenyum tipis. "Masalahnya, Tuan Beaumont..." Ia menutup map perceraian. "Yang belum selesai mungkin hanya Anda."
Lucien menatapnya.
"Karena bagi Aurora..." Gabriel mendorong dokumen itu ke arahnya. "Semua sudah selesai."
Lucien mengambil map tersebut. Di halaman terakhir tertulis satu kalimat dari Aurora.
Saya tidak meminta apa pun selain kebebasan untuk memulai hidup baru.
Lucien membaca kalimat itu berulang kali.
"Di mana dia?"
Gabriel tidak menjawab.
"Gabriel."
"Percuma."
"Di mana istri saya?"
Gabriel berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Dia sudah pergi."
Lucien mengejarnya.
"Ke mana?"
Gabriel berhenti, menoleh. "Ke tempat yang tidak akan membuatnya merasa seperti pilihan kedua."
Pintu terbuka.
Gabriel memberi jalan. "Terima perceraian itu, Tuan Beaumont."
***Lima tahun kemudian...Paris.Kota yang menjadi saksi ketika seorang wanita datang dengan koper sederhana dan hati yang penuh luka, kini menjadi tempat namanya dikenal oleh kalangan elite Eropa.Aurora Whitmore.Nama itu telah menjadi legenda tersendiri dalam dunia parfum.Ia dikenal sebagai seorang perfumer berbakat yang mampu menciptakan aroma dengan karakter unik. Parfum racikannya digunakan oleh para selebritas dunia, anggota keluarga bangsawan, pengusaha ternama, bahkan beberapa tokoh penting Eropa.Namun ada satu hal yang membuat publik semakin penasaran. Tidak seorang pun pernah benar-benar melihat wajahnya. Aurora hampir tidak pernah muncul di hadapan kamera. Tidak ada wawancara, tidak ada konferensi pers, tidak ada pemotretan majalah.Bahkan ketika mereknya memenangkan penghargaan bergengsi, bukan Aurora yang naik ke atas panggung. Selalu ada satu orang yang mewakilinya, Justin Whitmore, anak laki-laki dari Adrian Whitmore. Seorang pria muda yang sudah terbiasa menghadiri
***Aurora mengangkat wajahnya. “Bagaimana kalau mereka juga tidak menerimaku?”Pertanyaan itu keluar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat Adrian terdiam.Ia menatap wajah Aurora yang perlahan kehilangan senyumnya. Wanita itu berusaha terlihat tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa berbohong. Ada ketakutan di sana. Ketakutan yang tidak muncul karena ia takut pada keluarga Whitmore. Melainkan karena ia takut kembali merasakan hal yang sama.Adrian menghela napas panjang, tanpa banyak berpikir, pria itu melangkah mendekat lalu memeluk Aurora.Tubuh Aurora sempat menegang, ia tidak terbiasa mendapatkan pelukan seperti itu. Namun beberapa detik kemudian, perlahan, kedua tangannya terangkat dan menggenggam bagian belakang jas Adrian.“Kamu anak baik,” ujar Adrian pelan.Aurora menutup matanya.“Dan kamu sangat layak diterima.” Adrian mengusap lembut rambut Aurora. “Keluarga Whitmore pasti akan memelukmu. Percaya padaku.”Bibir Aurora bergetar. “Tapi aku pernah berpikir seperti itu ten
***Adrian menghela napas. “Lalu apa yang ingin kamu lakukan?”Aurora berdiri, ia berjalan menuju sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu terdapat beberapa botol kaca kecil. Ada yang berisi cairan bening, ada yang berwarna keemasan, dan beberapa lainnya berwarna kecokelatan.Aurora mengambil salah satunya. “Ini.”Adrian menatap botol kecil itu. “Parfum?”Aurora mengangguk. “Aku ingin meracik parfum.”Adrian terdiam.Aurora memutar botol itu perlahan di antara jemarinya. “Dulu, mendiang ibu sering meracik parfum.” Suaranya melembut. “Setiap kali aku melihatnya bekerja, aku selalu suka duduk di dekatnya. Kadang aku hanya memperhatikan. Kadang aku membantunya mencatat formula.” Senyum tipis menghiasi wajahnya. “Ibu selalu bilang aroma bukan sekadar wangi.”Adrian mendengarkan tanpa menyela.“Katanya, aroma bisa menyimpan kenangan. Satu aroma bisa membuat seseorang mengingat rumah, seseorang yang dicintai, bahkan masa lalu yang sudah lama ingin dilupakan.” Aurora menunduk men
***"Masih belum ada kabar?"Suara Lucien terdengar rendah. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap London yang basah oleh hujan. Di atas meja, terdapat beberapa lembar laporan yang sudah berkali-kali ia baca.Tidak ada, semua pencarian berakhir pada jalan buntu. Bandara sudah diperiksa. Hotel-hotel sudah ditelusuri. Rekening, nomor telepon, bahkan beberapa kenalan Aurora sudah diperiksa. Namun istrinya seolah menghilang ditelan bumi.Lucien mengepalkan tangan. "Di mana kau, Aurora?"Tidak ada jawaban, hanya suara hujan yang memukul kaca.Pintu ruang kerja terbuka. Daniel, asistennya, masuk membawa sebuah map hitam."Tuan."Lucien tidak menoleh. "Ada perkembangan?"Daniel terdiam beberapa saat. "Justru itu yang ingin saya bicarakan."Lucien berbalik. "Berikan padaku."Daniel meletakkan map tersebut di atas meja.Lucien membukanya. Di dalamnya terdapat dokumen perceraian yang telah disahkan.Tatapannya berhenti pada satu kalimat.Perceraian antara Lucien Beaumont dan Aurora
***"Lucien." Suara Evelyn terdengar dari seberang telepon.Lucien yang sedang duduk di kursi belakang mobil langsung membuka mata. Sejak pagi, pikirannya masih dipenuhi satu nama.Aurora.Sudah hampir seminggu ia menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Bahkan setelah Lucien mendatangi kantor Gabriel, ia tetap tidak mendapatkan alamat istrinya."Ya?""Aku ingin bicara denganmu." Nada suara Evelyn terdengar ragu."Tentang apa?""Tentang Aurora. Apakah kalian baik-baik saja?"Seketika mata Lucien berubah. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"Evelyn menarik napas. "Datanglah ke rumah. Kita bicara langsung."Lucien terdiam beberapa detik. "Kau tahu di mana dia?""Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon."Hening.Kemudian Evelyn berkata pelan, "Datang saja."Lucien menatap jalanan London dari balik kaca mobil. "Aku setengah jam lagi sampai.""Baik."Panggilan berakhir.Lucien menurunkan ponselnya. "Mungkin mereka tahu di mana kamu."Tatapannya kosong menembus k
***"Ini... surat dari Aurora?"Edward Ashford menatap amplop putih yang baru saja diletakkan di atas meja. Wajahnya berubah ketika membaca nama pengirim.Aurora Beaumont.Victoria yang duduk di sampingnya segera berdiri. "Apa katanya?"Edward tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan membuka amplop tersebut.Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah dokumen transfer bank.Victoria mendekat. "Edward?""Dia..." Suara Edward terdengar berat. "Dia menyatakan tidak ingin lagi menjadi bagian dari keluarga Ashford."Victoria membeku. "Apa?"Alexander dan Nathaniel yang baru memasuki ruang makan langsung menoleh."Ada apa?" tanya Alexander.Edward menyerahkan surat itu kepada Victoria.Victoria membacanya.Semakin jauh matanya bergerak, semakin pucat wajahnya."Saya berterima kasih karena keluarga Ashford telah menerima saya selama saya berada di sana. Namun, saya menyadari bahwa tempat saya bukan di keluarga ini, karena itu, saya memilih untuk melepaskan hubungan sebagai putri keluarg







