LOGINDi malam paling menyakitkan dalam hidupnya, Aurora menelepon suaminya empat kali. Tak satu pun dijawab. Lucien sedang menemani Evelyn, perempuan yang selalu lebih penting daripada istrinya. Malam itu, Aurora kehilangan bayinya. Saat Lucien akhirnya menelepon, dia hanya berkata, “Evelyn sedang membutuhkanku. Kita masih bisa punya anak lagi.” Hati Aurora benar-benar mati. “Aku ingin bercerai.” Tanpa menunggu penjelasan, tanpa meminta kesempatan terakhir, Aurora menghilang dari kehidupan Lucien. Lima tahun kemudian, Lucien baru menyadari satu hal, dia telah kehilangan perempuan yang paling mencintainya dan ketika akhirnya menemukan Aurora, Lucien justru mendapati mantan istrinya sudah tidak membutuhkan dirinya lagi. Masalahnya, kali ini… Aurora tidak lagi ingin kembali. Lalu, seberapa jauh Lucien akan mengejar perempuan yang dulu ia tinggalkan?
View More***
“Dokter… tolong…” Suara Aurora nyaris tak terdengar di tengah rasa sakit yang merobek tubuhnya. “Selamatkan bayi saya…”
Darah mengalir deras di antara kedua kakinya. Tubuhnya menggigil hebat, sementara satu tangannya mencengkeram ujung pakaian dengan sekuat tenaga dan tangan lainnya berusaha meraih ponsel yang terjatuh di lantai.
“Bu! Jangan bergerak!” Seorang perawat berlari menghampirinya. “Cepat, bawa ke ruang operasi!”
Beberapa orang langsung mengangkat tubuh Aurora ke atas brankar.
“Suami saya…” Aurora terengah-engah. “Hubungi suami saya…”
“Siapa namanya?”
“Lucien…” Bibir Aurora bergetar ketika menyebut nama itu. “Lucien Beaumont.”
Perawat mengambil ponselnya dan mencari nomor yang dimaksud.
Lucien
Satu panggilan, tidak diangkat.
Perawat mencoba lagi, tetap tidak ada jawaban.
Aurora menatap layar ponsel dengan napas tersengal. “Coba lagi…”
“Bu, kami akan terus menghubunginya. Sekarang Ibu harus tenang.”
“Tidak…” Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. “Dia harus tahu. Aku… aku sudah mengalami pendarahan sejak tadi.”
Perawat kembali menekan tombol panggilan.
Satu kali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban.
Aurora memejamkan mata. Mereka telah menikah hampir dua tahun. Selama itu, Lucien selalu menjadi orang pertama yang ia cari ketika takut, sakit, atau membutuhkan tempat untuk bersandar.
Dan malam ini… ketika ia membawa anak mereka di dalam tubuhnya dan nyawanya sendiri terasa seperti berada di ujung tanduk… pria itu tidak mengangkat teleponnya.
“Bu Aurora, kita harus masuk sekarang!”
Pintu ruang operasi terbuka.
Aurora menggenggam tangan perawat. “Tolong…” Suaranya pecah. “Kalau suami saya menelepon… bilang saya mencarinya.”
Perawat mengangguk. “Kami akan menyampaikannya.”
Brankar didorong masuk, lampu putih menyilaukan mata Aurora.
Suara dokter dan perawat terdengar bersahutan.
“Tekanan darah turun.”
“Perdarahan semakin banyak.”
“Siapkan transfusi.”
Aurora memejamkan mata rapat-rapat, tangannya perlahan turun ke perutnya. Perut yang selama tujuh belas minggu terakhir selalu ia usap setiap malam.
“Sayang…” Air mata mengalir semakin deras. “Bertahan sebentar lagi, ya?” Napasnya bergetar. “Papa belum datang…”
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Aurora tidak tahu berapa lama ia berada di ruang operasi. Ia hanya tahu bahwa tubuhnya semakin lemah. Suara-suara di sekelilingnya perlahan terdengar semakin jauh.
Kemudian…
“Dokter!”
“Detaknya melemah!”
“Cepat!”
Aurora ingin membuka mata, namun tubuhnya seolah tidak lagi mau menurut. Ia hanya mampu menggerakkan bibir.
“Anakku…”
Tak ada yang menjawab.
“Dokter…” Suaranya semakin kecil. “Tolong selamatkan dia…”
Dan semua mendadak hening.
***
Ketika Aurora membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah kehampaan.
Langit-langit putih, bau obat, suara mesin yang berdetak pelan di samping ranjang. Tangannya langsung bergerak ke perut.
Kosong.
Aurora membeku, jantungnya berdegup tidak beraturan.
“Dokter…”
Seorang dokter yang berdiri di samping ranjang menatapnya dengan wajah muram.
Aurora langsung tahu.
Sebelum dokter itu mengatakan apa pun, hatinya sudah lebih dulu mengerti.
“Tidak…” Bibirnya bergetar. “Dokter…”
Dokter menarik napas panjang. “Kami sudah melakukan semua yang kami bisa, Nyonya Beaumont.”
Aurora menggeleng. “Tidak…”
“Maafkan kami.”
“Tidak…” Air mata mulai memenuhi kedua matanya. “Anakku?”
Dokter terdiam beberapa detik. “Janin Ibu tidak berhasil kami selamatkan.”
Dunia Aurora seketika runtuh, ia menatap kosong ke depan. Tidak menangis, tidak berteriak. Hanya diam, seolah otaknya menolak memahami kalimat itu.
“Tidak…” Beberapa detik kemudian, air matanya jatuh. “Tadi pagi…” Suaranya sangat kecil. “Tadi pagi dia masih bergerak.”
Dokter tidak berkata apa-apa.
“Aku bahkan sudah membelikan pakaian untuknya.” Suara Aurora mulai bergetar. “Aku sudah memilih namanya…” Tangannya kembali menyentuh perutnya. “Dia belum sempat melihat dunia.”
Tangisnya pecah. “Dia belum sempat bertemu papanya…”
Dokter menggenggam tangannya. “Ini bukan salah, anda.”
Namun Aurora hanya menggeleng, ia tidak membutuhkan kalimat penghiburan, ia hanya ingin satu hal , suaminya, Lucien.
“Suami saya…” Aurora menatap dokter dengan mata sembap. “Apakah dia sudah datang?”
Dokter terdiam. “Belum.”
Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
“Dia belum datang?”
“Pihak rumah sakit sudah beberapa kali mencoba menghubunginya.”
Aurora menunduk. Tangannya mengepal di atas selimut, ia masih menunggu. Mungkin Lucien sedang dalam perjalanan, mungkin mobilnya terjebak, mungkin ponselnya mati.
Mungkin…
Pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk membawa ponsel Aurora.
“Nyonya Beaumont…”
Aurora segera mengangkat kepala. “Suami saya?”
Perawat terlihat ragu. “Ponsel Ibu menerima pesan.”
Jantung Aurora kembali berdebar, ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Satu pesan masuk dari Lucien. Untuk sesaat, Aurora bahkan tidak sanggup membukanya. Ia menatap nama itu lama.
Lucien…
Pria yang selama ini ia tunggu, pria yang seharusnya datang ketika anak mereka sedang berjuang untuk hidup. Dengan jari gemetar, Aurora membuka pesan tersebut.
Hanya ada satu kalimat.
Lucien:
Maaf, aku belum bisa datang. Aku sedang menemani Evelyn. Kondisinya sedang tidak baik.Aurora terdiam, matanya kembali membaca kalimat itu. Sekali, dua kali, tiga kali.
Aku sedang menemani Evelyn.
Tangannya perlahan turun, tatapannya jatuh pada perutnya yang kini kosong. Baru beberapa menit lalu, ia kehilangan bayinya, dan sekarang… ia akhirnya tahu mengapa suaminya tidak datang.
Bukan karena tidak bisa, bukan karena tidak tahu. Tetapi karena memilih berada di sisi wanita lain. Aurora menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis yang kembali memenuhi dadanya. Namun kali ini, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menatap layar ponsel sekali lagi. Kemudian sebuah kesadaran perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Malam ini… bukan hanya bayinya yang telah pergi. Mungkin, ada sesuatu yang lain dalam dirinya yang juga telah mati. Sesuatu yang selama ini membuatnya tetap percaya bahwa suatu hari nanti… Lucien akan memilihnya.
Aurora menatap layar ponselnya untuk terakhir kali. Kemudian ia memejamkan mata.
Ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini. Ia hanya tahu satu hal, Aurora yang selalu menunggu Lucien memilihnya… mungkin tidak akan pernah kembali.
***
***Adrian menghela napas. “Lalu apa yang ingin kamu lakukan?”Aurora berdiri, ia berjalan menuju sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu terdapat beberapa botol kaca kecil. Ada yang berisi cairan bening, ada yang berwarna keemasan, dan beberapa lainnya berwarna kecokelatan.Aurora mengambil salah satunya. “Ini.”Adrian menatap botol kecil itu. “Parfum?”Aurora mengangguk. “Aku ingin meracik parfum.”Adrian terdiam.Aurora memutar botol itu perlahan di antara jemarinya. “Dulu, mendiang ibu sering meracik parfum.” Suaranya melembut. “Setiap kali aku melihatnya bekerja, aku selalu suka duduk di dekatnya. Kadang aku hanya memperhatikan. Kadang aku membantunya mencatat formula.” Senyum tipis menghiasi wajahnya. “Ibu selalu bilang aroma bukan sekadar wangi.”Adrian mendengarkan tanpa menyela.“Katanya, aroma bisa menyimpan kenangan. Satu aroma bisa membuat seseorang mengingat rumah, seseorang yang dicintai, bahkan masa lalu yang sudah lama ingin dilupakan.” Aurora menunduk men
***"Masih belum ada kabar?"Suara Lucien terdengar rendah. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap London yang basah oleh hujan. Di atas meja, terdapat beberapa lembar laporan yang sudah berkali-kali ia baca.Tidak ada, semua pencarian berakhir pada jalan buntu. Bandara sudah diperiksa. Hotel-hotel sudah ditelusuri. Rekening, nomor telepon, bahkan beberapa kenalan Aurora sudah diperiksa. Namun istrinya seolah menghilang ditelan bumi.Lucien mengepalkan tangan. "Di mana kau, Aurora?"Tidak ada jawaban, hanya suara hujan yang memukul kaca.Pintu ruang kerja terbuka. Daniel, asistennya, masuk membawa sebuah map hitam."Tuan."Lucien tidak menoleh. "Ada perkembangan?"Daniel terdiam beberapa saat. "Justru itu yang ingin saya bicarakan."Lucien berbalik. "Berikan padaku."Daniel meletakkan map tersebut di atas meja.Lucien membukanya. Di dalamnya terdapat dokumen perceraian yang telah disahkan.Tatapannya berhenti pada satu kalimat.Perceraian antara Lucien Beaumont dan Aurora
***"Lucien." Suara Evelyn terdengar dari seberang telepon.Lucien yang sedang duduk di kursi belakang mobil langsung membuka mata. Sejak pagi, pikirannya masih dipenuhi satu nama.Aurora.Sudah hampir seminggu ia menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Bahkan setelah Lucien mendatangi kantor Gabriel, ia tetap tidak mendapatkan alamat istrinya."Ya?""Aku ingin bicara denganmu." Nada suara Evelyn terdengar ragu."Tentang apa?""Tentang Aurora. Apakah kalian baik-baik saja?"Seketika mata Lucien berubah. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"Evelyn menarik napas. "Datanglah ke rumah. Kita bicara langsung."Lucien terdiam beberapa detik. "Kau tahu di mana dia?""Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon."Hening.Kemudian Evelyn berkata pelan, "Datang saja."Lucien menatap jalanan London dari balik kaca mobil. "Aku setengah jam lagi sampai.""Baik."Panggilan berakhir.Lucien menurunkan ponselnya. "Mungkin mereka tahu di mana kamu."Tatapannya kosong menembus k
***"Ini... surat dari Aurora?"Edward Ashford menatap amplop putih yang baru saja diletakkan di atas meja. Wajahnya berubah ketika membaca nama pengirim.Aurora Beaumont.Victoria yang duduk di sampingnya segera berdiri. "Apa katanya?"Edward tidak langsung menjawab. Tangannya perlahan membuka amplop tersebut.Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah dokumen transfer bank.Victoria mendekat. "Edward?""Dia..." Suara Edward terdengar berat. "Dia menyatakan tidak ingin lagi menjadi bagian dari keluarga Ashford."Victoria membeku. "Apa?"Alexander dan Nathaniel yang baru memasuki ruang makan langsung menoleh."Ada apa?" tanya Alexander.Edward menyerahkan surat itu kepada Victoria.Victoria membacanya.Semakin jauh matanya bergerak, semakin pucat wajahnya."Saya berterima kasih karena keluarga Ashford telah menerima saya selama saya berada di sana. Namun, saya menyadari bahwa tempat saya bukan di keluarga ini, karena itu, saya memilih untuk melepaskan hubungan sebagai putri keluarg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews