INICIAR SESIÓN***Theodore melangkah tegap memasuki ruang VIP restoran bintang lima di Paris, didampingi oleh cucu ketiganya, William. Hari ini adalah pertemuan krusial untuk menyegel investasi bernilai triliunan dari konsorsium teknologi terbesar asal Jerman.Di ujung meja, Herr Hoffman, petinggi tegas berdarah Jerman, berdiri menyambut mereka. Namun, pandangan mata tajam Hoffman langsung menyapu area belakang Theodore dengan kening berkerut."Selamat sore, Tuan Theodore," sapa Hoffman dingin dengan aksen Jerman yang kental saat mereka berjabat tangan. "Di mana River? Saya tidak melihat kehadiran pewaris utama Anda."Theodore tersenyum formal, mengibaskan tangannya santai seolah hal itu bukan masalah besar. "River sedang menyelesaikan beberapa urusan lain, Herr Hoffman. Namun tidak perlu khawatir, perkenalkan ini William, cucu ketiga saya. Ke depannya, seluruh kendali operasional dan kerja sama ini akan dipegang langsung oleh William."William menyunggingkan senyum percaya diri, menyorongkan tanga
***"Tuan, ada informasi penting dari jaringan Timur Tengah," ucap Kael, melangkah masuk ke dalam ruang kerja pribadi River dengan langkah terburu-buru.Ia meletakkan sebuah map dokumen tipis bernuansa hitam di atas meja kerja kayu jati yang dingin.River yang sedang menyesap kopi hitamnya menoleh, menatap Kael dengan alis terangkat tipis. "Ada apa?""Nona Aurora akan berangkat ke Dubai seminggu lagi," pangkas Kael tanpa berbelit-belit. "Dan penerbangan privat itu hanya diisi oleh dua orang... Nona Aurora dan Lucien Beaumont."Brak!River menghempaskan cangkirnya ke atas meja hingga air kopi hitam meluap membasahi dokumen. Binar mata hijaunya seketika menyalang tajam dipenuhi amarah yang membakar."Apa-apaan ini?!" bentak River dengan suara bariton yang berat dan membekukan. "Sediakan jet pribadi untuk minggu depan! Batalkan seluruh penerbangan itu dan urus visa atas namaku!""Jangan gegabah, Tuan!" potong Kael cepat, melangkah maju untuk menahan emosi tuannya. "Konsorsium Timur Tenga
***Suasana di dalam ruangan rapat di gedung Whitmore terasa tenang. Di satu sisi meja, Sheikh Rashid, mengenakan pakaian tradisional serba putih. Di sampingnya, Lucien tampil sempurna dengan jas gelap terpotong rapi, sementara Aurora dan Justin duduk berseberangan, meneliti draf kerja sama yang baru saja digeser ke tengah meja.Sheikh Rashid menyunggingkan senyum puas seraya menopang kedua tangannya. "Kerja sama ini adalah gebrakan besar. Formula aromatik yang dibuat oleh Miss Whitmore adalah intinya. Oleh karena itu, untuk penandatanganan kontrak final seminggu dari sekarang... saya hanya meminta dua orang yang terbang langsung ke Dubai, yaitu Miss Whitmore dan Mr. Beaumont."Kalimat itu seketika memotong keheningan ruangan.Justin mendadak menegakkan posisi duduknya. Keningnya berkerut rapat, binar matanya memancarkan keberatan yang tak berusaha ia sembunyikan."Tunggu dulu, Sheikh," potong Justin cepat, mengibaskan tangannya pelan. "Lengan Aurora masih dalam proses pemulihan pasca
***Aroma antiseptik dan cairan pembersih luka samar-samar menyengat udara di dalam penthouse malam itu. Di atas sofa, River duduk mengamati setiap pergerakan wanita di hadapannya.Aurora bergerak dengan sangat cekatan. Tangannya yang mengenakan sarung tangan medis tipis mengambil kasa steril, membalut bagian rusuk River yang terluka dengan balutan ketat yang amat rapi. Namun, ada keheningan mencekam yang merayap di antara mereka.Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit St. Jude hingga menaiki lift pribadi menuju penthouse, Aurora tidak mengatakan sepatah kata pun. River, pria yang biasanya selalu memiliki seribu satu cara untuk menggoda wanitanya juga memilih bungkam, menyisakan ketegangan yang kian menebal di udara.Dada River berdenyut nyeri, bukan karena jahitan di rusuknya, melainkan karena keheningan dingin Aurora yang terasa bagaikan siksaan yang lambat untuknya.Tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya, jemari tegap River terulur cepat. Ia memegang pergelangan tanga
***"Ganti baju dan kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Tidak ada bantahan, River," tegas Aurora, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan pandangan yang tak bisa ditawar.River, sosok pimpinan tertinggi Ravenna yang biasanya ditakuti seluruh klan bawah tanah, hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Di hadapan wanita yang dicintainya, ketegasan dan aura mematikannya mendadak menguap, mengganti posisinya menjadi seorang pria yang tak sanggup menolak keinginan Aurora."Rora, lukaku sudah ditangani dengan baik—""Ditangani dengan balutan darurat semalam tanpa peralatan medis yang steril?" potong Aurora cepat, menatap River tajam. "Pendarahanmu bisa terinfeksi. Kita harus ke rumah sakit resmi untuk cek laboratorium dan mengganti balutannya dengan benar."River menatap Aurora, mencoba mencari celah untuk memberi alasan. Namun, sorot mata jernih wanita itu memancarkan kekhawatiran yang amat tulus sekaligus ketegasan yang tak bisa diganggu gugat."Apa? Mau menolak lagi?" tanya Aurora la
***"River...?! Kau...!"Jeritan Aurora tertahan di tenggorokan. Rasa panik seketika berganti menjadi guncangan emosional yang hebat.Aurora melompat turun dari ranjang tanpa mengenakan sandal rumah, berlutut di samping River dengan jemari gemetar. Ia menatap wajah tampan pria itu yang tampak sedikit pucat, menyisakan binar mata hijau yang kini menatapnya penuh kepasrahan dan ketulusan murni."River... Ya Tuhan, kenapa kau ada di sini?!" bisik Aurora parau, air mata kecemasan seketika berkaca-kaca di sudut matanya. "Kenapa kau bisa masuk... dan kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau kembali malam ini?!"River mengusap napasnya yang berat, membiarkan jemarinya terulur meraih pergelangan tangan Aurora yang bergetar. Ia menarik lembut tangan wanita itu, menempelkan telapak tangan hangat Aurora ke pipinya sendiri."Maafkan aku, Rora..." tutur River. "Aku tidak bisa menunggu sampai pagi... Rinduku padamu sudah terlalu menyiksa hingga aku harus memastikannya sendiri bahwa kau nyata di dep







