Salah Kirim, Dapat Dokter

Salah Kirim, Dapat Dokter

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-10-24
Oleh:  acacaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
16Bab
16Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Gara-gara mengantuk saat jaga malam, Kania berniat mengirim foto dompetnya yang kritis dan berisi recehan ke sang kakak demi meminta transferan uang. Naifnya, foto recehan itu justru terkirim ke obrolan Dr. Arka—dokter spesialis senior yang terkenal dingin dan tegas di rumah sakit tempatnya bekerja. Bukannya dimarahi, salah kirim konyol itu justru menjadi awal dari perhatian-perhatian tersembunyi Sang Dokter yang diam-diam mengirimkan makanan lezat ke ruang jaga. Bagaimana kelanjutan kisah romantis nan kocak antara dokter muda yang kaku dan dokter koas yang ceroboh ini?

Lihat lebih banyak

Bab 1

BAB 1 : SALAH KIRIM

​Kania memijat pelipisnya yang berdenyut dengan jemari yang terasa lemas. Lampu neon di ruang jaga perawat Bangsal Melati Rumah Sakit Medika Utama terasa begitu menyilaukan untuk matanya yang sudah memerah akibat kurang tidur. Pukul sepuluh pagi, dan Kania baru saja menyelesaikan piket malam marathon selama dua belas jam yang nyaris tanpa jeda.

​Sebagai seorang mahasiswi koas yang sedang berjuang menuntaskan stase bedah ortopedi, hidup Kania Salsabila kini berkisar di antara lembaran rekam medis, tumpukan resep, dan rasa kantuk yang kronis. Rambut cokelat gelapnya diikat asal-asalan dengan jepit plastik murah, meninggalkan beberapa helai anak rambut yang menjuntai di lehernya. Pakaian scrub hijaunya tampak sedikit kusut, namun matanya yang bulat jernih masih memancarkan daya juang yang gigih.

​Di tengah usahanya menahan kelopak mata agar tidak terpejam, ponsel di atas meja bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari sang kakak, Fabian.

​"Duit lu masih?"

​Kania mendengkus pelan. Tanya itu ibarat sindiran yang tepat sasaran. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kain sederhana yang dibawanya harian, lalu membukanya lebar-lebar di atas meja.

​Isinya sungguh tragis. Hanya ada selembar uang kertas dua puluh ribu rupiah yang terlipat kumal, dua lembar lima ribuan, serta belasan koin recehan seratus dan lima ratus rupiah yang berserakan. Kania memang sengaja membatasi uang tunai pegangannya demi komitmen "hidup mandiri" tanpa fasilitas kemewahan keluarganya, tetapi hari ini keuangannya benar-benar mencapai titik nadir.

​Dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis, Kania meraih ponselnya, memotret tumpukan koin receh di atas meja tersebut, lalu mengetikkan pesan singkat:

​"Sisa segini, tf dongg"

​Jemari Kania yang lemas mengetuk tombol kirim secara refleks. Namun, alih-alih membuka obrolan dengan kakaknya, mata Kania yang remang-remang justru tak sengaja mengetuk kontak paling atas yang baru saja mengirimkan notifikasi.

​Detik berikutnya, layar ponsel menampilkan pesan yang terkirim. Kania mengerjapkan matanya cepat, mencoba memperjelas pandangannya.

​Nama kontak di bagian atas layar membuat seluruh darah di tubuh Kania mendadak berhenti mengalir: Dr. Arka Dewantara, Sp.OT.

​"Mati gue..." bisik Kania dengan suara tercekat di tenggorokan.

​Rasa kantuk Kania seketika sirna seratus persen, berganti dengan gelombang panik yang dahsyat. Di hadapannya bukan obrolan sang kakak, melainkan ruang obrolan pribadi milik Dokter Arka—konsulen senior bedah ortopedi sekaligus pendiri Dewantara Health Corp.

​Di seluruh rumah sakit, Dr. Arka Dewantara dikenal sebagai figur yang teramat ditakuti. Di usianya yang baru 32 tahun, pria itu bukan hanya dokter genius yang tangan dinginnya selalu dinantikan oleh pasien-pasien berkelas, tetapi juga pengusaha sukses yang mengendalikan jaringan rumah sakit swasta raksasa. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan kacamata tipis, namun sikapnya kaku, sangat dingin, dan tidak pernah memberi toleransi pada keserobohan sekecil apa pun.

​Belum sempat jemari gemetar Kania menekan tombol hapus pesan, dua centang biru di bawah foto uang recehnya sudah berubah warna.

Arka meraba papan ketik dan mengetikkan balasan singkat khas dirinya:

​"Kania."

"Coba kirim hasil rontgen tadi."

​Di ruang jaga, Kania hampir melompat dari kursinya saat membaca balasan itu. Jemarinya menari liar di atas layar dengan kepanikan luar biasa.

​"MAAF DOK SALAH KIRIM!"

"🙏🙏🙏"

​"Mana hasilnya?" balas Arka dingin, sama sekali tidak menanggapi drama kepanikan sang anak koas.

​"Oh iya, sebentar Dok..."

​Dengan tangan bergetar hebat, Kania mengambil lembaran film rontgen pasien dari atas meja, memotretnya secara terburu-buru, lalu mengunggahnya ke ruang obrolan. Setelah foto terkirim, Kania langsung merebahkan dahinya ke atas meja kayu dengan rintihan pasrah.

​Ponselnya kembali bergetar. Kali ini balasan dari kakaknya, Fabian:

"Makanya kalau bangun tidur langsung cuci muka, jangan main HP."

​"GUE LAGI JAGA SIALL!" balas Kania meluapkan kekesalannya.

​"Kenapa lo, Kan? Mukanya udah kayak mau dieksekusi mati gitu," celetuk Marcelo, teman sesama koas yang baru masuk membawa segelas teh hangat.

​"Gue... gue salah kirim foto dompet receh gue ke Dokter Arka," cicit Kania lemas, menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya. "Gue malah minta transferan uang ke dia!"

​Seketika Marcelo dan Juju yang mendengar hal itu tertawa terpingkal-pingkal di ruang jaga.

​"Gila lo, Kania! Minta transferan ke CEO Dewantara Group?!" gelak Marcelo. "Siap-siap aja lo dijemur di depan ruang operasi nanti sore!"

​Kania hanya bisa meratapi kebodohannya. Ia sudah membayangkan nasib buruk yang akan menimpanya saat berhadapan langsung dengan Dokter Arka nanti.

****

​Namun, tepat pukul sebelas siang, pintu ruang jaga perawat mendadak diketuk. Seorang kurir makanan melangkah masuk sambil membawa dua kantong kertas berukuran besar dengan logo restoran Jepang premium yang sangat ternama.

​"Atas nama Kania dan tim perawat Bangsal Melati?" tanya kurir tersebut.

​Juju dan Marcelo saling pandang dengan alis terangkat. "Iya, benar. Dari siapa ya, Mas?"

​"Pengirimnya atas nama Dr. Arka Dewantara. Katanya pesanannya kelebihan, jadi disuruh antar ke sini buat makan siang," jawab sang kurir seraya meletakkan kantong-kantong berisi puluhan porsi sushi premium segar di atas meja.

​Kania terbelalak menatap deretan kotak makanan mewah di depannya. Di saat yang sama, sebuah pesan singkat kembali masuk ke ponselnya dari nomor yang sama.

​Dari Dr. Arka:

​"Makan siang dulu. Biar matanya tidak salah kirim foto lagi."

​Kania terpaku memandangi layar ponselnya. Pria dingin yang terkenal irit bicara dan tak tersentuh itu... baru saja mengirimkan makan siang mewah untuk seluruh ruang jaga hanya gara-gara satu foto koin receh yang konyol. Dan saat itulah Kania tahu, kehidupannya di stase ortopedi tidak akan pernah berjalan biasa saja lagi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
16 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status