Share

PART 10

Penulis: Agatha Mahasra
last update Tanggal publikasi: 2023-01-22 12:02:43

“Maaf karena merepotkan anda, pak Bastian,” ujar Gia setelah berhadapan dengan Bastian.

Untuk beberapa detik Bastian dibuat terdiam melihat gadis yang kini ada di depannya, hingga membuat gadis itu merasa salah tingkah sendiri karena bossnya itu terus memandangnya dari ujung rambut hingga kaki.

Gaun berwarna peach 5cm diatas lutut yang sangat cocok dengan warna kulit Gia yang putih, sepatu high hells yang tak terlalu tinggi, serta rambut yang kini tergerai bergelombang memberikan kesan fress pada dirinya. Penampilan yang tak pernah terbayangkan oleh Bastian.

“Kau… sangat berbeda hari ini,” ujar Bastian tanpa sadar.

“A-apa ini terlalu berlebihan? Saya bisa menggantinya dengan yang lebih sederhana lagi, jika anda mau,” kata gadis itu sedikit panik.

“Tidak- tidak, maksudku kau cantik hari ini, eh… emh…, maksudku kau tak perlu menggantinya, itu cocok untukmu,” kata pemuda itu dengan gugup.

“T-terimakasih, pak.”

Entah mengapa Gia merasa kedua pipinya memanas sekarang, ia memegang kedua pipinya mencoba menutupi rona merah yang mungkin saja terlihat disana.

“Ada apa nona Gia?”

“Ah, tak apa.”

“Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang,” ujar Bastian lalu membukakan pintu mobilnya untuk Gia.

Setelah keduanya memasuki mobil itu, Bastian segera meluncurkan kendaraannya memecah jalanan ramai.

Hening, tak ada yang berniat membuka pembicaraan, Bastian sesekali melirik gadis yang duduk disebelahnya.

Detik berikutnya, ia menekan sebuah tombol untuk menutup atap mobil yang sebelumnya terbuka, karena melihat Gia yang seolah tak nyaman dengan angin yang membuat rambutnya beterbangan juga karena pakaian Gia yang sedikit terbuka dibagian bahunya.

Membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk mereka samai dikediaman utama keluarga da Franch.

Sesampainya disana sudah ada beberapa pelayan juga bodyguard keluarga tersebut yang menyambut keduanya, tentu saja hal ini bukanlah hal yang biasa untuk Gia. Gadis itu bahkan sempat tertegun melihat sekumpulan manusia yang berjajar didepan pintu masuk rumah itu.

Bastian keluar dan berjalan mneuju sisi lain mobilnya bermaksud membukakan pintu untuk Gia, pemuda itu mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh gadis itu. Bastian mengarahkan tangan Gia untuk melingkar di lengannya membuat gadis itu menoleh kearahnya terkejut.

“Kau harus membiasakannya, nona Gia,” gumam Bastian.

Mereka pun masuk kekediaman tersebut, semua pelayan menundukkan kepalanya untuk memberi hormat pada kedua membuat Gia merasa aneh karena diperlakukan seperti itu.

Menit berikutnya, seorang wanita paruh baya keluar dari sebuah ruangan dengan hebohnya, wajah cantik dan tubuh tinggi itu membuat Gia segera tahu jika itu adalah ibu dari bossnya.

Wanita itu menghampiri keduanya dengan senyum lebar, ia merengkuh Bastian sesaat lalu beralih memandang Gia dengan senyuman yang tak kalah lebar dengan sebelumnya.

“Jadi ini wanita yang diceritakan Max itu?” tanya ibu Bastian, wanita itu berjalan mendekati Gia dan memeluknya hangat.

“Selamat datang dikeluarga kami, sayang,” lanjutnya.

“I-iya tante,” balas Gia gugup dengan sedikit mengangguk.

“No no! panggil aku ‘Mommy’, bukan tante, oke?” Gia terdiam bingung hendak menanggapi bagaimana ucapan ibu bossnya itu.

“Ah, kalau tidak salah namamu Gia, ‘kan?”

“Benar tan--, eh, m-mommy,” ujarnya.

“Haha bagus, panggil aku begitu.”

Wanita itu merangkul bahu Gia. “Kalau begitu ayo kita kedalam, Daddy dan kakakmu sedang dalam perjalanan. Jadi selagi menunggu mereka kita bisa lebih banyak mengobrol,” katanya sembari menggiring Gia untuk masuk lebih dalam kekediaman tersebut.

“Mom, kau melupakan anakmu yang sebenarnya?”

“Hah? Bukankah kau masih ingat semua jalan di rumah ini? Aku tak perlu lagi memandumu, ‘kan?” katanya tanpa menghentikan langkahnya.

Bastian sedikit berdecak tetapi tetap mengikuti kedua wanita itu dari belakang.

Tak berapa lama, seorang pria paruh baya dengan tampang eropanya muncul memecah perbincangan keduanya. Ketiganya bangkit, ibu Bastian beranjak untuk menyambut pria tersebut, sedangkan Bastian hanya sedikit mengangguk diikuti dengan Gia.

“Siapa ini?” tanya pria itu.

“Dia Gia, Sayang, kekasih Bastian.”

“Jadi kau yang sudah membuat istriku terlalu bersemangat akhir-akhir ini,” katanya sembari mengulurkan tangan kepada Gia.

Gadis itu membalasnya dengan sungkan. “Tak perlu sungkan Gia, anggap saja kami keluarga dan rumah sendiri,” lanjutnya.

“Terimakasih, Om.” Pria itu mengangguk dengan senyum lalu berlaih memandang anak keduanya itu dan menepuk bahunya beberapa kali.

“Kau harus segera menentukan tanggal pertunangan kalian,” bisik pria itu membuat Bastian terkejut, ayahnya kembali menepuk pelan bahu putranya itu.

“Kalau begitu aku akan membersihkan diri dulu.”

“Aku akan membantumu,” timpal istrinya.

"Nikmatilah waktu kalian selagi kami tak ada,” lanjutnya lalu pergi menyusul suaminya.

Bastian duduk disofa sembari memijat pelipisnya, ia menghela napas. Gia duduk tak jauh dari tempat Bastian, melihat pemuda itu dengan tatapan bertanya-tanya.

“Apa pak Bastian membutuhkan sesuatu?” tanya gadis itu.

“Jangan memanggilku seperti itu jika disini, kau bisa menghancurkan rencana kita,” katanya tanpa menjawab pertanyaan Gia.

“Langsung saja panggil namaku.”

“A-apa tidak apa-apa seperti itu?”

“Justru jika kau memanggilku dengan embel-embel ‘Pak’ itu lebih berbahaya.”

“Baik kalau begitu.”

Menit berikutnya, suara berisik terdengar dari luar ruangan. Detik berikutnya 2 orang dewasa dan 2 bocah laki-laki dan perempuan muncul dengan hebohnya berlarian memasuki ruangan yang Gia dan Bastian tempati.

Gia terkejut saat melihat bocah laki-laki itu tiba-tiba menabraknya.

“Ouh, kau tidak apa-apa?” tanyanya panik sembari memeriksa bocah itu.

“Vicky, jangan berlarian!” panggil seorang wanita yang baru masuk itu.

"Ouh, maaf kan dia nona.”

“Tidak apa-apa.” Wanita itu menarik bocah laki-laki itu untuk mendekat kearahnya.

“Jaga anak-anakmu dengan benar, Kak!” ketus Bastian yang hanya ditanggappi dengan tatapan tajam dari Serena.

“Kau Gia, kekasih adikku?” tanya wanita itu, Gia mengangguk dan sedikit membungkuk untuk memberi salam pada wanita yang berstatus sebagai kakak Bastian itu. Serena.

Wanita itu mengulurkan tangannya. “Hai, aku Serena, kakak Bastian dan mungkin juga akan jadi kakakmu suatu saat nanti,” ujar wanita itu, Gia ikut mengulurkan tangan sembari tersenyum.

“Ini suamiku, Vegas.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Gia.

“Dan mereka anak-anak kami, Vicky dan Vicka.”

“Beri salam kepada tante Gia, anak-anak,” kata laki-laki yang masih berdiri disamping Serena kepada kedua anaknya yang bersembunyi dibelakang kakinya.

Kedua bocah itu terlihat sangat berhati-hati mengamati Gia dengan seksama. “Ah, maaf, mereka memang pemalu,” lanjutnya.

“Tak apa, anak-anak memang seperti itu, aku mengerti.”

***

Setelah berkumpul dan berbincang cukup lama, waktu makan malam pun tiba. Semua keluarga utama berkumpul dimeja makan dengan berbagai hidangan dihadapan mereka.

Acara makan malam itu berlangsung dengan hangat tak terlalu kaku seperti yang ia bayangkan, bahkan terkadang mereka melontarkan candaa-candaan kecil disela-sela makannya. Gia jadi berpikir, dari mana Bastian mewarisi sifat kaku dan sedingin itu.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 29

    Selama satu minggu lebih kedua keluarga itu sibuk dengan persiapan pernikahan anak-anak mereka. Raut bahagia juga terlihat jelas dari kedua ibu yang kini tengah berbincang disebuah ruang keluarga dengan secangkir teh dihadapan mereka. Ada banyak orang yang menantikan hari kebahagiaan ini, tetapi tak sedikit juga yang tidak menyukinya. Berbeda dengan pasangan lain yang excaited mempersiapkan hari bahagia mereka, pasangan ini justru terus saja sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang tak kunjung selesai. Rapat, revisi, bahkan hingga dinas keluar negeri. Mendekati hari pernikahan justru pekerjaan mereka juga semakin menumpuk. Bahkan tak sedikit karyawan diperusahaan tersebut yang bergosip tentang mereka, bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja sampai ke sebuah gosip yang mengatakan pernikahan keduanya dibatalkan. "Pernikahanmu tinggal 4 hari lagi, tapi bagaimana bisa pekerjaanmu justru semakin menumpuk seperti ini?" tanya Carlos pada Gia. Kini mereka tengah berada dikantin kan

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 28

    Setelah menyelesaikan semua jadwal mereka pada hari itu, keduanya memutuskan kembali ke rumah orang tua Bastian saat bulan sudah meninggi. Sangat terlihat dari raut muka Gia jika gadis itu kelelahan. Seperti biasa mereka disambut hangat oleh seluruh penghuni rumah, tak terkecuali para pelayan. Gia berjalan menuju kamarnya setelah lebih dulu menyapa calon mertuanya yang ada di ruang keluarga. Gadis itu menghempaskan tubuhnya yang kelelahan keatas kasur empuk milik keluarga Da Frans itu. Gadis itu memandang langit-langit kamar tidurnya, pikirannya masih mencerna apakah keputusan yang ia pilih sampai kini adalah yang terbaik. Bagaimana jika justru pilihannya akan membuat hidupnya semakin terluka? Gia bangkit dari tidurnya, gadis itu menepuk kedua pipinya cukup kencang secara tiba-tiba, "Kau harus menerima semua resiko dari keputusan yang kau ambil, Gia!" monolognya. Tanpa ia sadari seorang pria sedang berdiri diambang pintu sembari menatapnya aneh, "Sedang apa kau? kenapa menam

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 27

    Siang itu Gia dan Bastian disibukkan dengan pemilihan baju pernikahan mereka. Banyak gaun yang harus Gia coba, meskipun gadis itu sejujurnya lebih ingin acara yang sederhana, tetapi mengingat jika pasangannya adalah salah satu anggota keluarga da Franch, pada akhirnya ia pun memutuskan untuk mengikuti permintaan Lousi dan keluarganya.Da Franch Family, keluarga kaya raya yang memiliki banyak scandal tetapi tak pernah terjatuhkan selama puluhan tahun. Bahkan, saat sebuah rumor tersebar dengan cepat pula rumor itu menghilang bak tak pernah ada.Meskipun kakek Thomson masih cukup sehat, tetapi jabatan kepala keluarga Da Franch kini sudah diturunkan pada Jefran, ayah Bastian. Tentu saja Bastian yang akan meneruskan menjadi kepala keluarga selanjutnya."Bagaimana menurut anda?" tanya seorang pelayan pada Bastian setelah Gia muncul. Ini adalah gaun ke 10 yang gadis itu coba, dan hampir semua gaun yang ia coba mendapat komentar tak sedap dari Bastian.Dengan wajah kesalnya gadis itu menatap

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 26

    "Jadi, acara makan malam kali ini adalah untuk membahas tanggal pernikahan kalian yang akan dipercepat!" ujar Jefran membuat Gia membelalakkan matanya terkejut, "kami berencana untuk mengadakan pernikahan kalian dalam 2 minggu lagi." "Apa?!" pekik Gia, "t-tunggu mom, dad, kenapa tiba-tiba dipercepat? bukankah mom dan dad sudah setuju jika pernikahan kami dilakukan 3 bulan lagi?" "Ini untuk kebaikan kamu dan mama kamu, Gia," ujar Lousi. "Iya, Gia. Semakin cepat kamu menjadi anggota keluarga Da Franch, semakin mudah untuk kami menjaga kalian," jelas Jefran. "Kenapa mom dan dad tidak mengobrolkannya dulu pada kami?" "Kami sudah mengobrolkannya dengan mamamu Gia, begitupun Bastian yang juga tidak ingin membuat kalian lebih tidak aman lagi dari sebelumnya," ucap Lousi, gadis itu menoleh bergantian pada mamanya dan juga Bastian. Apakah hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa disini? "Tetap saja kenapa kalian tidak bertanya pendapat Gia terlebih dulu?" tanyanya. "Sayang, ini untuk kebaik

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 25

    Bastian berdiri dibarisan rak pembalut hanya diam memandang satu persatu produk-produk itu. Ia agak menyesali dirinya karena tidak bertanya apa yang biasa ia gunakan, dan juga ia masih mempertanyakan didalam otaknya bagaimana bisa pembalut wanita memiliki sayap? "Sayap? Apa dia akan terbang?" gumamnya. "Merk apa yang harus aku belikan untuknya?" monolognya lagi. "Akh. Kubelikan saja semua merk biarkan dia memilih sendiri apa yang dia mau." Final, pada akhirnya Bastian membeli 1 pembalut setiap merk dan setiap kemasan yang berbeda. Sekembalinya Bastian dari swalayan, ia segera mencari keberadaan Gia dengan membawa satu kantong belanja full yang hanya berisi pembalut, membuat Gia membelalakkan matanya terkejut terheran-heran dengan laki-laki satu ini. "Bas! kamu mau membuka toko, kenapa beli sebanyak ini?" Laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku tidak tahu apa yang biasanya kau gunakan, dan apa maksud dari pesanmu yang bersayap." Gia memijat pelipisnya.

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 24

    "Jika bukan karena kita adalah tunangan, dia pasti sudah ku tendang keujung dunia!" ujarnya asal. Tak berapa lama, Gia menyusul Bastian yang sudah menunggunya diloby toko. Tanpa memperdulikan pemuda itu ia berlalu begitu saja keluar toko meninggalkan Bastian dibelakangnya. Bastian yang terkejut melihat tingkah Gia pun segera menyusul gadis yang kini sudah memasuki mobil itu. Setelah Bastian memasuki mobil, mereka pun melajukan kendaraannya. Tak ada satupun obrolan dikeduanya membuat suasanasemakin canggung, terlebih dengan wajah Gia yang terlihat tidak bersahabat. Pemuda itu teringat dengan penjelasan Max yag mengatakan wanita yang bisa berubah seperti singa sewaktu-waktu, apakah saat ini ia akan menjumpai sosok Gia yang seperti itu? "Ekhem." pada akhirnya Bastian mencoba untuk memberanikan diri untuk membuka obrolan, "ada apa denganmu?" tanya pemuda itu sembari sesekali melirik gadis yang hanya diam dengan tangan bersilang didepan dada dan wajah yang menatap keluar jendela. "Aku

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   PART 5

    Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi belum membuat Gia beranjak dari depan komputernya. Sesekali ia meregangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal, gadis itu menghela napas saat melihat setumpuk berkas yang harus ia kerjakan. "Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini," gumamnya lalu kembali

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   Part 4

    Sesuai janji yang sebelumnya ia katakan kepada Carlos, mereka pergi kerumah Gia untuk mengadakan pesta ulang tahunnya. Carlos dan Gia sampai dengan bebrapa pepperbag yang dibawa Carlos, berisi bahan bahan yang Gia butuhkan."Mama, Gia pulang.""Oh, sayang, kau pulang cepat?"Gadis itu mencium pipi

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   Part 3

    mobil lamborgini berwarna hitam berhenti di depan kediaman keluarga da Franch, menit berikutnya dua pelayan membukakan masing-masing pintu dimana dua pria keluar dari dalam sana. Sebastian dan Max berjalan memasuki rumah yang sudah lama tak ia kunjungi itu."Dimana Mommy?" tanya Bastian pada kepala

  • Mari Cerai setelah Anak ini Lahir!   Part 2

    Gia tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang harus di selesaikan hari ini, ia beberapa kali memeriksa jam digital yang ia letakkan di samping komputernya. Sudah hampir satu jam setelah ia kembali dari makan siang, tetapi CEO nya masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kemunculan. Sedikit aneh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status