LOGINArdi, pria mapan berusia pertengahan tiga puluhan, menjalani rumah tangga yang terlihat stabil bersama Nisa, istrinya. Namun kesehariannya di kantor berubah saat ia bertemu dengan karyawan baru yang tak lain adalah Rani—sahabat lama Nisa. Awalnya, pertemuan itu terasa biasa. Rani ramah, profesional, dan cepat beradaptasi. Tapi kedekatan kerja yang intens, lembur bersama, hingga percakapan-percakapan personal membuat Ardi merasakan sesuatu yang berbeda. Kehangatan Rani mengisi ruang kosong yang tak pernah berani ia ungkapkan kepada Nisa. Dilema pun muncul: Rani bukan hanya rekan kerja, tapi juga bagian dari lingkaran terdekat rumah tangganya. Di antara rapat, makan siang kantor, dan tatapan-tatapan yang tak terucap, Ardi harus memilih—menjaga kesetiaan pada istrinya, atau menyerah pada godaan yang bisa menghancurkan segalanya. Sementara itu, Rani menyimpan alasan tersembunyi mengapa ia kembali muncul dalam kehidupan Nisa dan Ardi. Alasan yang bisa menjadi jembatan… atau justru bara yang membakar habis persahabatan dan pernikahan.
View MoreLangit Jakarta mulai menggelap ketika Nisa duduk di sofa ruang tamu, memandangi jam dinding yang berdetak lambat seperti ingin menyiksa perasaannya sedikit demi sedikit.Sudah pukul 22.47.Ardi belum pulang, lagi.“Lembur,” katanya tadi sore.Alasan yang seharusnya wajar, tapi belakangan berubah jadi alarm yang tak berhenti berdenting di kepala Nisa.Ponselnya bergetar.Sebuah foto masuk ke grup kantor: potret ruang kerja lantai 7 yang gelap, hanya menyisakan dua meja yang masih menyala lampunya.Salah satunya meja Ardi.Dan satu lagi… bukan meja siapa pun yang Nisa kenal dekat.Meja itu sudah mati lampunya sejak dua jam lalu ketika Rani pamit pulangNisa menggigit bibirnya.“Kalau dia lembur sendirian, kenapa meja itu ikut nyala?” gumamnya pelanIa mengamati foto itu lama, zoom in ke berbagai sisiAda dua gelas minuman di meja samping printerAda jaket perempuan tergantung di kursi yang terbiasa kosongAda bayangan seseorang di kaca jendela, seolah dua siluet berdiri cukup dekatFoto
Langit pagi itu berwarna keemasan. Suara burung bercampur dengan aroma kopi dari dapur rumah Ardi. Meja makan dipenuhi map, daftar tamu, dan undangan yang sudah siap dibagikan.Nisa sibuk memeriksa vendor lewat telepon. “Halo, iya Mbak, tolong pastikan dekorasi di ruang tengah pakai nuansa putih gading, ya, bukan krem tua. Aku udah kirim referensinya kemarin sore.”Ardi hanya duduk di meja, menatap kosong ke arah jendela. Matanya lelah, pikirannya melayang entah ke mana.“Sayang, lo dengerin gue nggak?” tegur Nisa sambil menutup telepon.Ardi tersadar. “Hm? Iya, sorry. Gue lagi mikirin rundown aja.”Nisa mendesah kecil tapi tersenyum. “Tenang, semuanya udah gue handle. Lo tinggal fokus ke hari H. Aku pengen semuanya sempurna.”Ardi mengangguk, lalu berdiri untuk mengambil map yang tergeletak di atas lemari. Saat membuka laci bawah, tangannya tanpa sengaja menyenggol sesuatu—sebuah amplop usang berwarna cokelat muda, terselip di antara tumpukan buku catatan kuliah.Ia menatapnya lama.
Hari itu, aula kampus penuh oleh warna. Toga, bunga, tawa, dan kilatan kamera bercampur jadi satu. Musik wisuda mengalun lembut, menciptakan suasana yang hampir sempurna—nyaris seperti bab akhir dari perjuangan panjang.Rani berdiri di antara barisan wisudawan, tersenyum ke arah orang tuanya yang duduk di barisan tamu. Ia merasa lega. Semua kerja keras, begadang, dan tumpukan tugas akhirnya terbayar.Di sebelahnya, Nisa tidak berhenti berceloteh.“Ran, sumpah ya, toga ini bikin gue berasa kayak penyihir. Tinggal bawa tongkat, gue siap buka Hogwarts cabang Bekasi.”Rani tertawa kecil. “Yang ada lo ngelindes kucing, Nis.”“Eh, jangan jahat lo. Nih lihat Ardi, toga-nya aja rapi banget. Cowok kayak gitu mah susah dicari. Kalau bukan temen gue, udah gue rebut, sumpah.”Ardi yang berdiri beberapa langkah di depan mereka menoleh sambil tertawa. “Kalian berdua ribut mulu dari semester satu sampai sekarang, nggak berubah.”“Ya kalau nggak ada kita, wisuda ini kaku, Di!” sahut Nisa sambil menun
Hujan baru saja berhenti sore itu, meninggalkan udara dingin dan aroma tanah basah yang lembap di sekitar gedung pascasarjana. Mahasiswa-mahasiswa baru berdatangan, sebagian sibuk mencari kelas, sebagian lagi duduk di tangga sambil menyeruput kopi.Rani berjalan cepat sambil merapikan tote bag-nya. Ia baru saja pindah ke kota itu untuk melanjutkan studi S2 setelah dua tahun bekerja. Rasanya campur aduk—deg-degan, gugup, dan sedikit semangat.“Semester baru, hidup baru,” gumamnya sambil tersenyum kecil.Di dalam kelas, dosen baru sedang mempersilakan mahasiswa memperkenalkan diri satu per satu. Saat giliran Rani tiba, ia berdiri dengan tenang.“Halo, saya Rani Putri, latar belakang saya dari bidang manajemen proyek. Saya tertarik melanjutkan studi ini untuk mendalami strategi pengembangan bisnis berkelanjutan.”“Bagus sekali, Rani,” ujar dosen. “Silakan duduk.”Belum sempat ia menarik kursi, seseorang masuk ke ruangan.“Permisi, Pak. Maaf agak terlambat. Jalanan macet banget.”Rani men
Pagi itu rumah Nisa dipenuhi aroma roti panggang dan kopi. Ia sudah bangun sejak subuh, wajahnya segar meski semalaman sempat begadang pesta piyama bersama Rani. Dari dapur, terdengar bunyi wajan ketika ia mencoba menggoreng telur mata sapi.“Mas, Ran, bangun! Kita belanja dulu yuk, biar sarapan le
Pagi itu kantor terasa riuh dengan rapat dan deadline. Ardi duduk di ruangannya, mencoba fokus pada tumpukan laporan yang menunggu revisi. Matanya lelah, pikirannya masih kacau. Malam bersama Nisa semalam menorehkan dua rasa: lega karena berhasil menenangkan istrinya, tapi juga beban berat karena k
Rumah terasa sunyi malam itu. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Ardi baru saja selesai mandi, tubuhnya dibalut kaus tipis dan celana pendek rumah. Ia duduk di tepi ranjang, menunduk sambil mengusap wajahnya yang masih lembap. Rasa lelah yang menumpuk setelah seminggu
Pagi itu, Bandung masih basah oleh embun. Jalan-jalan di sekitar hotel ramai oleh pedagang sarapan. Nisa sudah bersiap dengan energi penuh, sementara Ardi masih setengah menguap.“Ayo cepetan, Mas. Hari ini kita ke Floating Market, jangan lama-lama,” ujar Nisa sembari menggantungkan kamera di leher












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews