เข้าสู่ระบบElang Mahaputra Adikara POV
Ada pepatah mengatakan jika kamu tahu cara untuk maju, maka jangan pernah kamu berpikir untuk mundur. Itulah yang sedang aku terapkan dalam hubunganku dengan Caramel saat ini. Hari ini aku sudah mencoba mengungkapkan niatku untuk mempersuntingnya namun ia tolak mentah-mentah dengan segala alasan yang sebenarnya sangat logis. Ya, aku cukup memahami alasannya memilih jalan itu tapi jangan panggil aku Elang Mahaputra Adikara jika diriku akan mundur begitu saja saat mendapatkan penolakan. Aku terlalu gigih dalam memperjuangkan apapun yang aku inginkan di hidupku. Segala cara akan aku tempuh asalkan bukan dengan cara klenik dan kriminal.
Saat Caramel mengatakan jika dirinya hanya akan menikah seumur hidup sekali saja, aku justru semakin yakin untuk mempersuntingnya. Aku
Caramel Attanaya Raharja POVMalam ini aku diajak oleh Elang untuk mengunjungi kantor notaris milik temannya. Saat kami sampai di sana, teman Elang yang bernama Jhon menyambut kami dengan cukup ramah dan hangat. Untuk pertama kalinya aku mengakui jika Elang tampak lebih muda daripada usia sebenarnya karena mereka adalah teman semasa di bangku perkuliahan. Tidak aku sangka jika usia Jhon masih semuda itu tetapi penampilannya sudah seperti sugar daddy kelas kabupaten.Kami berbasa-basi sebentar hingga akhirnya Jhon menggiring kami berdua menuju ke arah ruang kerjanya. Ternyata ia sudah mencetak berkas perjanjian pra nikah kami berdua. Sejujurnya daripada penasaran dengan apa yang terlewat tercantum di sana mengenai apa saja yang aku inginkan dari Elang, aku justru penasaran mengenai apa
Elang Mahaputra Adikara POVSetelah mendapatkan kabar dari Mama jika Caramel ada di rumah, aku memutuskan untuk pulang on time hari ini. Persetan dengan berbagai tumpukan dokumen yang ada di meja kerjaku. Yang terpenting hari ini aku harus bisa menahannya untuk tidak mengikuti Mbak Luna pulang ke Jogja. Karena kami harus segera menandatangani dokumen perjanjian pra-nikah yang sudah disiapkan oleh temanku sejak beberapa waktu lalu. Semua keinginan Caramel maupun diriku sudah tertuang di sana.Kala aku dalam perjalanan ke rumah Mama, Mama mengabariku jika Caramel memilih tetap kembali ke hotel untuk menemani Mbak Luna packing semua barang-barangnya. Untung saja Mamaku cukup pintar dengan meminta supir keluarga mengantarkan mereka sehingga aku bisa menyusul mereka sesuai tempat
Caramel Attanaya Raharja POVAku duduk diam di restoran siang hari ini sambil menunggu Mbak Luna selesai bertemu dengan Adit dan keluarganya. Sambil menunggu Mbak Luna, aku mencoba dengan keras mengingat apa yang terjadi semalam tetapi tetap saja bayangan-bayangan aku bergulat dengan Elang di atas ranjang sama sekali tidak muncul di dalam diriku. Aku bahkan sampai mencari tahu apa yang tubuh seharusnya rasakan kala pertama kali melakukan hal itu. Dari mulai intiku merasa lembab, rasa sakit hingga darah juga tidak ada jejaknya kala aku mencarinya di bedcover hotel tadi.Beberapa saat kemudian tiba-tiba aku berpikir jika Elang hanya membohongiku. Sialan, kalo ia sampai melakukan hal ini kepadaku. Tidak merasa bersalahkah dirinya melakukan hal itu kepadaku padahal aku sudah sangat
Elang Mahaputra Adikara POVSepanjang hari ini suasana hatiku cukup baik. Mungkin karena aku menghabiskan waktu malamku bersama Caramel meskipun kami tidak bersilaturahmi di atas ranjang. Tidak apa-apa kami tidak melakukan hal itu karena yang tahu hanyalah aku sedangkan Caramel sudah menganggap kami berhubungan badan. It's okay, aku tidak keberatan karena itu akan membuat Caramel tidak akan berniat meninggalkan diriku setelahnya. Sebuah panggilan yang masuk ke handphoneku membuatku segera meraihnya. Melihat nama Wilson muncul di sana, aku hanya bisa menghela napas panjang. Sialan, temanku yang satu ini benar-benar tidak sabaran sekali. Tidak bisakah ia sabar hingga nanti malam? Karena ini masih jam kerja. Dia kira aku ini sesantai dulu yang jam kerjanya sama dengannya seperti k
Caramel Attanaya Raharja POVSinar matahari yang masuk melalui jendela membuat tidurku tidak nyenyak. Mau tidak mau akhirnya aku mencoba membuka kedua mataku. Hal pertama yang menyapaku adalah langit-langit sebuah kamar berwarna putih tetapi setelah beberapa saat yang aku rasakan adalah kepalaku sudah pusing sekali. Kini saat aku mencium aroma sprei hotel yang aku tiduri ini, baru aku ingat jika aroma ini berbeda dengan aroma bedcover yang aku tinggali di hotel bersama Mbak Luna. Menyadari hal ini kedua mataku langsung membelalak lebar. Aku langsung bangun dan ternyata saat aku duduk di tengah ranjang, aku menyadari satu hal. Kini aku berada di kamar hotel yang bukan kamarku. Otakku yang masih lemot ini mencoba pelan-pelan mengingat apa yang terjadi semalam. Ya, aku ingat jika aku me
Elang Mahaputra Adikara POVSaat pintu lift terbuka di lantai delapan, aku langsung mengajak Caramel untuk keluar. Aku harus memapahnya agar ia tidak jatuh. Andai Caramel ini bisa diam, aku pasti akan memilih menggendongnya saja. Sayangnya kini ia sudah bernyanyi dengan suara sumbangnya di tambah ia sedang mabuk. Jadi bisa kalian bayangkan sendiri seperti apa kacaunya malam hari ini yang aku lalui.Aku pulang tanpa dendam...Kuterima kekalahanku...Aku pulang tanpa dendam...Kusalutkan kemenanganmu, woo...Aku berharap suara Caramel yang sedang menyanyikan lagu dari Sheila on Seven yang berjudul Aku Pulang dan dengan percaya diri menirukan sang vokalis yang memilik







