MasukCaramel Attanaya Raharja POV
Hari ini aku diutus oleh Mbak Angi untuk menemani kedua orangtuanya (Budhe Liz dan Pakdhe Dimas) untuk menghadiri acara keluarga Bimantara di Solo. Acara yang kali ini dikhususkan untuk perkenalan keluarga saudara sepupu Mbak Angi dari pihak keluarga Papanya ini dengan keluarga calon suaminya memang tidak mengundang semua keluarga besarku selain Mbak Luna yang bertindak sebagai EO-nya.
Sejak Mbak Angi menikah dan menetap di Jerman bersama suaminya, praktis akulah yang secara tidak langsung menggantikan 'tugasnya' menjadi anak Budhe Liz dan Pakdhe Dimas. Karena kembaranku berada di Italia, maka akulah yang paling sering diajak ke sana ke mari. Tidak hanya oleh orangtuaku, namun juga Budhe dan Pakdhe. Memang sih menyenangkan tapi terkadang kalo diajaknya untuk menghadiri acara yang urusannya adalah pertunangan, lamaran bahkan pernikahan, sejujurnya aku kurang berminat. Ya, mau bagaimana lagi memang nasibku yang belum menikah dan pekerjaanku kini yang bisa dikerjakan di mana saja menjadi alasannya. Jika dulu aku tidak menyetujui permintaan Papa untuk resign mungkin aku masih di Jakarta, tapi aku juga mungkin tidak akan merasakan asyiknya bisa berkumpul bersama keluarga besarku sesering ini. Apalagi dengan para keponakanku yang lucu-lucu.
"Mel, kamu serius enggak mau ikut hadir di acaranya Gadis nanti?"
"Enggak, ah, Budhe. Meles ditanyain mana calonnya? Kapan nyusul."Pakdhe yang sejak tadi memilih duduk di samping Budhe di kursi penumpang belakang mobil sudah langsung ikut nyeletuk.
"Itu 'kan pertanyaan yang wajar dan enggak perlu diambil hati. Enggak mungkin juga orang-orang akan tanya berapa tabunganmu? aset apa aja yang sudah kamu miliki sampai saat ini?"
Aku yang duduk di kursi penumpang depan mobil hanya bisa menghela napas panjang. Jika boleh jujur, aku memilih ditanya pencapaian hidupku apa saja selain urusan pasangan dan pernikahan karena bagiku kedua hal itu bukan pencapaian. Lagipula semakin ke sini aku semakin sadar jika menikah itu jika belum yakin-yakin amat dan hidupku bahkan mungkin tidak lebih baik setelah menikah, lebih baik tidak menikah.
Kisah kegagalan hubungan Vanilla dan Stevan cukup menjadi pelajaran berharga untukku. Jika aku tidak perlu mengumbar segala sesuatunya sebelum yakin jika kami pasti akan menikah. Kalopun akan menikah sebaiknya tidak harus dengan yang mewah dan membutuhkan perisapan yang panjang. Lebih baik secara sederhana asal orang terdekat termasuk keluarga bisa menghadirinya.
"Perempuan yang sudah melewati usia 30 tahun seperti aku ini mungkin saja keinginannya untuk menikah sudah kandas di dalam hatinya, Pakdhe. Selama punya pekerjaan dan uang yang cukup, aku yakin panti jompo juga masih buka asal sanggup bayar biayanya."
"Jangan begitu, Mel. Selain Nada, perempuan di keluarga kita menikah di usia yang sudah lebih dari 30 tahun. Jadi, Budhe masih yakin kalo kamu akan bertemu jodohmu cepat ataupun lambat."
Tidak mau memperpanjang perdebatan ini, aku hanya mengatakan aamiin dan menganggukkan kepala. Keluargaku benar-benar berharap aku bisa menikah dan memiliki pasangan suatu hari nanti. Mungkin mereka takut jika pada akhirnya kelak saat aku sudah tua, aku merasa kesepian menjalani kehidupanku. Demi apapun, aku tidak akan merasa seperti itu selagi kakiku masih sanggup menopang tubuhku dan bisa berjalan karena aku akan tetap pergi ke Taman Kanak-Kanak milikku yang aku bangun sebagai salah satu wujud kecintaanku pada anak-anak. Untuk operasionalnya, tentu saja selain dari penghasilanku, aku mendapatkan bantuan dari keluarga besarku yang selalu rutin memberikan sumbangan dana setiap bulannya. Setidaknya dengan apa yang aku lakukan ini, aku bisa memberikan sedikit kontribusi untuk anak-anak kurang mampu yang ada di sekitar tempat tinggalku. Tidak hanya satu, kini aku sudah memiliki tiga TK yang dua diantaranya berada di Temanggung dan Magelang. Dua TK yang ada di luar kota ini aku bangun di dekat pabrik garmen milik Papa agar para karyawannya tidak pusing mencari sekolah untuk anak-anak mereka dengan harga murah namun tetap memiliki kualitas bagus.
***
Setelah menurunkan Budhe dan Pakdhe di rumah kakak Pakdhe, aku meminta supir Pakdhe untuk mengantarkan aku menuju ke sebuah mall yang tidak jauh lokasinya dari tempat ini. Lebih baik menunggu di sana sampai acara selesai. Jika acara nanti belum selesai namun mall sudah akan tutup, aku bisa berpindah menuju ke alun-alun solo atau tempat keramaian lain yang ada di kota ini. Yang jelas hari ini aku tidak mau menginap karena besok adalah jadwalku mengantarkan Mama ke Gereja. Ya, aku dan Mama memang berbeda keyakinan, Mama dan Vanilla adalah seorang nasrani. Papa kali ini tidak bisa mengantarkan Mama karena beliau memiliki jadwal pertandingn bulutangkis bersama teman-temannya.
Saat sudah sampai di depan lobby mall, aku mengeluarkan dompetku dari dalam tas rajut warna putih yang sedang aku gunakan. Aku ambil dua lembar uang seratus ribuan dan aku berikan pada driver Pakdhe.
"Enggak usah, Mbak Mel."
"Terima, Pak. Ini buat beli kopi, kalo sisa nanti buat tambahan uang jajannya si Panjul di rumah."Pak Tris tersenyum dan akhirnya ia mau menerima kala aku membawa-bawa nama Panji yang sejak dulu selalu aku panggil Panjul. Aku cukup tahu bahwa Pak Tris ini setia dan sangat bertanggungjawab pada pekerjaannya. Sudah berkali-kali Papaku menawari pak Tris untuk pindah kerja bersamanya karena Papa membutuhkan supir yang punya pengalaman banyak seperti beliau ini, tapi selalu saja pak Tris memilih tetap bekerja pada keluarga Bimantara.
Setelah pak Tris menerimanya, aku segera turun dari mobil. Ya, setidaknya ngemall sendiri di siang menjelang sore seperti ini cukup menyenangkan. Aku segera menuju ke counter ice cream. Setelah mendapatkan ice cream, aku duduk di kursi yang ada di dekat palyground. Entah kenapa aku termasuk orang yang senang melihat anak kecil berlarian ke sana kemari sambil tertawa, bahkan terkadang menangis. Sungguh, menjadi mereka adalah salah satu hal yang paling menyenangkan. Andai bisa, aku ingin berada di usia balita lagi agar tidak perlu aku memikirkan beban pekerjaan serta masalah lainnya yang ternyata membuatku sadar menjadi dewasa itu tidak menyenangkan.
Entah mengapa kali ini kedua mataku menangkap sesosok anak kecil yang sedang bermain namun tiba-tiba didorong oleh anak lain hingga terjatuh. Aku sempat terkejut melihat hal itu namun aku masih diam memperhatikan saja. Saat anak itu mau bangun dan membalasnya, entah kenapa si anak ini langsung menangis kencang. Tentu saja aku langsung membelalakkan kedua mataku. Asem... kecil-kecil sudah playing victim. Dia yang memulai, giliran dibalas, dia langsung nangis jejeritan hingga ibunya datang. Bukannya membawa anaknya untuk pergi dari tempat ini, perempuan itu justru memberikan tatapan galak dan mulai mengomeli anak kecil berwajah imut itu. Tentu saja bocah itu takut bukan main. Apalagi saat perempuan itu sudah menyebut-nyebut orangtua dan Mamanya. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari di mana ibunya namun tak kutemukan juga. Melihat perempuan itu yang semakin menindas anak kecil, aku buang sisa ice cream di tanganku ke tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari tempatku duduk. Selesai itu aku langsung berjalan memasuki area bermain. Tentu saja aku mengeluarkan jurus mujarabku saat ini. Aku mengatakan jika anakku berada di dalam. Untung saja petugas mengijinkan aku masuk. Secepat yang aku bisa, aku langsung berjalan mendekati ketiga orang yang sudah aku perhatikan sejak tadi.
"Mama kamu di mana? Jangan diam saja! Apa dia tidak pernah mengajarimu bersikap baik."
Okay... anak itu bukan siapa-siapa bagiku tapi mendengarnya dicaci maki seperti itu rasanya hati kecilku sakit dan tidak menerimanya. Aku segera berdiri di hadapan perempuan itu dan aku tarik anak itu agar berdiri di belakang tubuhku.
"Saya Mamanya!" ucapku dengan tegas sambil fokus menatap wajah wanita itu.
Melihat kegarangan wajahku, perempuan itu sedikit menurunkan emosinya namun kali ini aku yang mulai tersulut.
"Ada apa anda mencari saya?"
"Anak anda sudah mendorong anak saya sampai terjatuh." "Oh, ya? tapi yang saya lihat justru anak anda yang memulai lebih dulu dengan menyerobot antrian dan mendorong anak saya. Kalo anak saya membalasnya bukankah itu sudah suatu hal yang benar?"Aku tetap tidak mau mengalah. Tidak peduli apa kata orang, yang penting aku akan membela anak ini. Jangan sampai harga dirinya diinjak-injak emak-emak ini begitu saja tanpa ada yang membelanya.
"Jangan asal bicara."
"Kalo anda tidak percaya, silahkan cek kamera CCTV yang ada di tempat ini."Saat aku menyadari jika kini perdebatan kami berdua sudah mulai diperhatikan oleh beberapa pengunjung tempat ini, aku akhirnya menggandeng tangan bocah ini untuk pergi dari tempat ini. Aku terpaksa menuntunnya untuk menjauhi tempat ini agar orang itu tidak curiga. Baru setelah sampai di kursi yang ada di pojokan area playground ini, aku duduk di sana dan anak itu aku pangku. Dirinya yang masih diam saja dengan kedua mata yang berkaca-kaca membuat rasa kesalku pada ibu-ibu itu tersulut kembali.
Sebelum berbicara, aku mencoba tersenyum. "Hai, maaf ya, kalo Tante ajak kamu ke tempat ini." Karena anak itu masih diam saja dengan wajah yang tampak ketakutan, akhirnya aku memeluknya sambil aku usap punggungnya naik turun. Cukup lama kami dalam keadaan seperti ini hingga akhirnya aku mengurai pelukanku karena aku sudah tidak merasakan dirinya terisak lagi. "Nama kamu siapa? Kalo Tante namanya Caramel."
"Kenapa berubah jadi Tante?"
What? kenapa bocah ini justru mengungkit hal yang sebenarnya aku hindari. Karena bukankah tidak bagus mengajarkan kebohongan? Lagipula tadi hanya situasi mendesak yang tidak bisa dihindari.
"Karena Tante tidak enak sama Mama kamu. Tadi Tante sedang berusaha membantu kamu supaya kamu enggak dimarahin sama ibu anak itu. Karena Tante tahu kamu anak baik. Kamu cuma mencoba membalas apa yang anak itu lakukan."
"Aku enggak punya Mama. Jadi Mama aku aja ya, Tan?"
Satu detik... Dua detik... Tiga detik...
Aku hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka. Aku bahkan hanya bisa berkedip ketika mendengar permintaannya."Tan.... jadi Mama aku, ya? nikah sama Papa. Kasian Papa enggak punya pacar."
Pertanyaan yang ia lontarkan kembali membuatku menelan saliva. Otakku terus berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk meruntuhkan keinginan anak ini. Di keluargaku tidak ada sejarahnya menikahi duda dan janda. Apalagi yang sudah punya buntut seperti ini. Ribet pastinya dibelakang nanti.
"Sayang.... kamu boleh panggil Tante Mama, tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi enggak perlu Tante.. eh, maksudnya Mama nikah sama Papa kamu.""Memangnya kenapa? Papa aku ganteng dan baik."
Aku mencoba tersenyum. Ganteng? Ya.... ganteng saja bukan jaminan orang bisa berperilaku baik, justru aku sangat menghindari laki-laki tampan apalagi jika mapan. Stevan yang tampan tapi tidak mapan saja perilakunya membuatku mengelus dada. Masa lalunya yang amburadul itu telah membuat Mamaku drop terus.
"Menikah itu sekali seumur hidup. Kita menikah itu enggak hanya karena ganteng atau cantik tapi harus saling mencintai."
Di tengah-tengah aku mencoba menerangkan semua ini kepada bocah yang masih belum aku ketahui namanya ini. Sebuah panggilan masuk ke handphoneku. Ternyata itu dari kakak sepupuku. Sebelum mengangkatnya, aku menurunkan bocah ini dari pangkuanku.
"Mama ada telepon. Kamu di sini ya, Mama mau angkat dulu."
Ketika bocah itu diam saja, aku mulai berjalan untuk meninggalkan tempat ini dan mencari tempat yang lebih sepi. Aku keluar dari area playground sambil menerima telepon Mbak Nada.
"Hallo, Mbak?"
"Hallo, Mel. Lo di mana?" "Lagi cosplay jadi Mbak Angi." "Bohong lo, Mel. Gue sudah sampai di rumahnya Tante Yanti, lo enggak ada di sini."Aku cukup terkejut mendengar semua ini. Kenapa keluargaku yang satu ini bisa datang ke sana? Bukankah keluarga Raharja tidak mendapatkan undangan karena ini hanya acara keluarga?
"Kok lo bisa ada di sana, Mbak? Keluarga kita 'kan enggak ada yang diundang? Katanya ini cuma acara sederhana aja."
"Iya, keluarga kita memang enggak diundang tapi Eyangnya Juna dapat."
"Kok bisa?" tanyaku dengan banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala.
"Katanya mereka cukup kenal dekat. Lo 'kan tahu sendiri kalo Eyang aktif di kegiatan sosial. Mungkin kenalnya di sana."
Aku terus berjalan hingga akhirnya aku memasuki salah satu gerai makanan yang ada di resto ini. Aku bahkan langsung mengantri di counter minuman.
"Terus kenapa telepon gue?"
"Lo ke sini temani gue.""Mas Junaedi ke mana?"
"Kerja dan mertua gue lagi di Surabaya. Karena itu gue yang diutus datang ke tempat ini. Biar gue enggak bosan lo ke sini aja."Aku menghela napas panjang. Permintaan dari Mbak Nada tidak mungkin aku abaikan jika aku tidak ingin kiriman lasagna dan makanan nikmat lain buatannya tidak ia kirim lagi ke rumah. Lebih dari itu, jangan sampai ia berniat berhenti mengajariku memasak makanan-makanan enak lagi. Karena belajar bersamanya jauh lebih menyenangkan daripada mengkikuti kelas memasak.
"Okay, habis beli minum gue balik."
Setelah mendengar jawabanku ini, Mbak Nada menutup sambungan teleponnya. Dan saat tiba giliranku untuk memesan, aku segera memesan tiga caramel macchiato. Kini saat minuman itu sudah jadi, aku segera menghubungi supir Pakdhe Dimas dan memintanya untuk menjemputku di lobby depan mall ini.
***
Elang Mahaputra Adikara POVAku merasa bahagia karena hari ini istriku bisa membalaskan semua kekesalanku pada Wilson yang sudah membuatku merogoh kocek dalam-dalam kemarin saat kami berkumpul bersama. Tidak masalah meskipun hanya membelikan baju yang harganya tidak akan membuat Wilson bokek namun setidaknya seharian Wilson sudah menemani Caramel berbelanja. Sejujurnya aku memberikan ijin pada Caramel untuk pergi bersama Wilson karena menurut Raga sejak semingguan ini Wilson kembali bersedih apalagi setiap ia sendirian di rumah. Karena itu selama Raga bersekolah hari ini, aku meminta Caramel untuk membuatnya memiliki kesibukan lain selain melamunkan cintanya yang sudah di surga itu.Kini setelah rapatku selesai, aku memilih untuk segera pulang ke rumah. Karena cukup lelah akhirnya driver
Caramel Attanaya Raharja POVBerkeliling dari satu toko ke toko lainnya di salah satu mall yang ada di Jakarta ini bersama Wilson membuatku lelah sendiri. Apesnya dari sekian banyak toko yang kami masuki berdua, tidak ada yang cocok untuk aku berikan kepada Elang sebagai hadiah pernikahan. Wilson yang menemaniku bahkan sampai harus rela berbelanja karena aku ini tidak mau membeli barang dari toko yang kami datangi. Untung saja si Wilson sabar mengikutiku berjalan ke mana-mana."Mel... Mel... kalo lo bukan istrinya teman gue sudah habis lo gue ocehin. Bisa-bisanya dari semua toko yang kita masuki, enggak ada satupun yang sesuai sama apa yang lo mau," kata Wilson sambil berjalan di sampingku.Aku yang mendengarnya langsung tertawa. Ya mau b
Elang Mahaputra Adikara POVMalam ini aku baru selesai melakukan rapat bersama para jajaran manager area Jabar di Bandung. Sebenarnya Caramel memintaku untuk menginap saja di hotel dan pulang besok pagi tetapi tetap saja aku memilih pulang bersama Puspa ke Jakarta. Apalagi saat aku tanya ke Puspa apakah ia ingin menginap di Bandung atau tidak yang dirinya jawab dengan tidak. Alasan Puspa ini cukup menjadi alasan yang aku sampaikan kepada Caramel bahwa Puspa tidak mau menginap sehingga kami akan pulang ke Jakarta.Selama perjalanan kami di tol Cipularang, aku dan Puspa lebih banyak mengobrol santai. Karena ia adalah wanita, aku coba bertanya kepadanya mengenai hadiah apa yang tepat untuk aku berikan kepada Caramel sebagai kado ulang tahun pernikahan pertama kami. Aku tahu jika Puspa sudah tahu
Caramel Attanaya Raharja POVTiga bulan sejak liburan kami terakhir di pantai daerah Gunungkidul, sampai saat ini kami belum berlibur kembali. Tentu saja semua itu karena jadwal pekerjaan Elang yang semakin padat ditambah aku juga sibuk mengikuti belly dance bersama Mama mertuaku. Selama ini juga Mokara belum pulang ke rumah. Sungguh luar biasa adik iparku itu menguji batas kesabaran orangtuanya terlebih kedua kakaknya yang kesabarannya setipis tisu dibagi tujuh. Aku yang berkali-kali didesak oleh Elang untuk mencaritahu mengenai Mokara memilih diam karena sejujurnya aku tidak tahu ia di mana yang penting terakhir kali aku bertemu dengannya, ia terlihat cantik, sehat dan sepertinya tidak sedang berada di bawah tekanan. Selama tiga bulan ini Elang dan aku secara rutin sebulan sekali k
Elang Mahaputra Adikara POVDi dunia ini tidak ada yang gratisan bukan? Karena itu tentu saja setelah aku bekerja, aku bisa mulai meminta hakku. Iya, hakku sebagai suami setelah menunaikan kewajiban membantu istri. Kini saat aku sudah selesai mengeringkan rambut Caramel yang panjang itu, aku mulai dengan memijat bahunya hingga turun ke bagian buah dadanya. Pelan-pelan aku meremasnya dengan kedua tanganku. Entah karena aku sering memberikan pijatan pada kedua gunung kembarnya atau karena ia bertambah berat badan setelah menikah karena kini aku merasakan buah dadanya semakin besar, padat hingga lembah diantara kedua gunung kembarnya sudah tidak terlihat lagi. Sambil terus meremas-remasnya aku mulai menggesekkan junior yang sudah mulai bangun di sekitar bagian belakang kepala Caramel. Aku bisa m
Caramel Attanaya Raharja POVMalam ini kami baru cek-in di tempat penginapan pada pukul delapan malam. Beberapa hal kami lakukan setelah dari pantai seperti mencari makan malam lalu membeli camilan dan susu untuk Lean. Saat memasuki cottage ini pun aku tidak langsung bisa beristirahat. Aku memandikan Lean terlebih dahulu. Baru setelah Lean selesai mandi, aku menyerahkannya kepada Elang untuk membantunya memakai baby lotion di tubuh sekaligus berpakaian. Anak sudah bersama bapaknya, kini adalah saatnya aku menikmati sesi berendam di dalam bathup. Berendam dalam air hangat benar-benar sedikit membantu otot di tubuhku agar lebih rileks. Sambil menikmati hal ini, otakku sibuk memikirkan apa yang sebaiknya aku berikan untuk Elang di ulang tahun pernikahan pertama kami beberapa bulan lagi? Mungkinkah aku bisa hamil? Ji







