ホーム / Young Adult / Marriage With Benefits / 6. Mama... Mama... Mama...

共有

6. Mama... Mama... Mama...

last update 公開日: 2025-12-11 10:46:54

Elang Mahaputra Adikara POV

Saat aku sampai di mall, aku langsung mencari Mokara yang untungnya sudah berhasil menemukan Lean. Menurut Mokara, Lean di temukan di area dekat restoran. Ada yang mengatakan jika bocah itu tadinya memanggil-manggil Mama sambil berlarian. Mama siapa? Setahuku hanya Mama Hanna yang dia miliki sampai saat ini. Itupun Hanna tidak ada di tempat ini. Hanna berada di guest house bersama Adit dan Raga. Jika itu arwah ibu kandungnya, tentu Lean akan memanggil Mommy bukan Mama. Hmm... daripada memarahi Lean, aku justru takut anak ini sedang berhalusinasi jika ia memiliki Mommy-nya.

Saat sudah bersama dengan Lean, daripada memarahinya seperti apa yang Mokara lakukan, aku lebih memilih menggendongnya. Ya, buat apa aku harus marah? Bukankah itu hanya buang-buang energi. Lagipula yang penting Lean sudah ditemukan. Tanpa mempedulikan Mokara yang masih terus mengoceh, aku segera mengucapkan terimakasih kepada security lalu berjalan menuju ke parkiran mobil. 

Sepanjang jalan aku terus mendengar Lean memanggil-manggil Mama namun aku abaikan. Karena saat ini yang terpenting aku kembali ke guest house dan segera bersiap-siap untuk menghadiri acara Gavriel dan Gadis. 

"Kar, lo beneran enggak mau ikut acara ini?"tanyaku ketika aku sudah sampai di dekat mobil yang aku sewa selama berada di Solo ini. Di tanganku sudah ada tas milik Lean yang berisi barang-barang pribadinya.

"Enggak."

"Kenapa? Apa lo masih menyimpan rasa sama Gavriel?

Wajah Mokara tampak terkejut namun setelahnya ia justru tertawa. Baru setelah tawanya reda, Mokara menggelengkan kepalanya. "Gue dari awal juga enggak ada rasa sama dia. Gue cuma males diledekin sama Wilson aja. Lo tahu sendiri congornya dia kaya gimana."

"Ya udah, gue sama Lean berangkat duluan, ya?"

"Okay."

Kini Mokara mencium pipi Lean sekilas. Baru setelah ia selesai mencium pipi Lean, aku membuka pintu mobil dan mendudukkan Lean di kursi penumpang depan mobil. Aku pasangkan sabuk pengaman untuknya dan begitu selesai, aku tutup kembali pintu penumpang depan mobil.

"Habis ini gue mau ke Jogja. Kita ketemu di Jakarta aja," kata Mokara kepadaku.

"Naik apa lo ke sana?"

"Naik KRL cuma bayar delapan ribu doang."

Aku anggukkan kepalaku. Kini aku segera pamit kepaa Mokara lalu berjalan menuju ke sisi pengemudi. Begitu sudah ada di dalam mobil, aku langsung tancap gas meninggalkan parkiran mall ini.

***

Pukul tujuh malam aku sudah menggandeng Lean di tanganku ketika kami akan memasuki rumah orangtua Gadis yang sudah di dekorasi secantik ini. Di depanku ada Adit yang sudah bersama dengan Hanna, di belakangku ada Wilson bersama Raga.

"Berasa mau iringin pengantin masuk pelaminan," celetuk Wilson dari arah belakang tubuhku.

"Memang ini latihannya, Bego'," ucapku pelan sambil menoleh ke arah Wilson.

"Tapi gue yakin yang gue iringin masuk ke pelaminan setelah Gavriel bukan Adit tapi lo."

Ucapan Wilson membuatku tertawa hingga beberapa orang mengarahkan tatapannya kepadaku. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku agar tidak tertawa lagi. Begitu orang-orang sudah berhenti manatapku, aku baru menanggapi perkataan Wilson ini.

"Lo kalo ngomong yang benar aja. Jangankan mau nikah, pacar aja enggak punya."

"Iya sih enggak punya, tapi Lean bilang dia sudah punya Mama," kata Wilson dengan entengnya lalu ia memeletkan lidahnya.

Andai saja kami tidak segera diminta untuk segera masuk ke dalam, mungkin kali ini aku akan melanjutkan pembicaraan ini dengan Wilson yang sejak Lean dan aku pulang dari mall tadi terus menerus mengorek informasi dari anakku tentang perempuan yang ia panggil Mama.

Begitu kami sudah masuk ke lokasi dan dipersilahkan untuk duduk, aku memilih duduk sambil memangku Lean. Meskipun ini akan melelahkan namun semua ini jauh lebih baik daripada aku kehilangan dirinya lagi seperti tadi.

"Lean duduk di kursi ini aja, ya?" 

Ucapan Wilson membuatku menoleh. Aku langsung mewakili anakku untuk berbicara. "Enggak usah. Dipangku Papa aja biar enggak hilang lagi."

"Dua jam, Lang kita di sini, paha lo pegel nanti."

Dengan berat hati, aku mencoba menawari Lean untuk duduk dan anak itu langsung mau. Agar dia bisa duduk dengan tenang, aku bukakan tas ransel kecil miliknya yang berisi snack dan camilan. Aku memang selalu membawa baju ganti, susu, bahkan camilan ke manapun aku pergi bila itu bersama dengan Lean.

Kini saat acara di mulai, aku mencoba memperhatikan semuanya dengan baik. Ya, siapa tahu saja suatu hari aku akan melalui semua ini sama seperti Gavriel. Meskipun semakin hari, semakin aku pesimis untuk bisa menikah. Karena tidak mudah mencari perempuan yang bisa menerima diriku terlebih anakku.

"Papa?" panggil Lean pelan yang membuatku menoleh ke arahnya.

"Ya?"

"Aku mau main di sana. Boleh enggak?"

Sejujurnya aku masih tidak yakin untuk melepasnya, namun aku tidak yakin Lean akan betah di tempat ini lebih lama lagi. Ingin mengikutinya main ke arah anak-anak yang sedang bermain di sana tapi aku yakin jika banyak orang yang akan memandang aneh kepadaku. Karena di sana hanya berisi beberapa orang dewasa wanita yang memakai pakaian seragam baby sitter. Jika aku berkumpul bersama mereka, sejujurnya aku kurang nyaman.

"Gimana, ya?"

"Ayolah, Pa... boleh, ya?"

"Kamu beneran enggak akan pergi jauh-jauh?"

"Iya, Pa."

"Okay. kalo begitu kamu boleh ke sana tapi jam ini harus terus dipakai enggak boleh dilepas," kataku sambil mengangkat tangan kiri Lean yang dilingkari sebuah jam berwarna putih.

Senyum bahagia langsung tampak di wajahnya dan setelahnya ia sudah langsung pergi menuju ke arah tempat anak-anak bermain.

Sesekali aku tetap melirik ke arah Lean dan dirinya masih di sana namun saat acara berakhir, aku sudah tidak menemukan sosok Lean di sana yang membuatku langsung berdiri. Tanpa mempedulikan permintaan Wilson yang memintaku untuk berfoto bersama dulu, aku justru mencari Lean. Aku tanyakan pada beberapa orang yang ada di sana dan mereka semua mengatakan jika Lean pergi ke arah parkiran mobil sambil memanggil-manggil Mamanya.

Jantungku semakin berdegup melebihi normal. Mama... Mama... Mama... siapa pula yang dirinya panggil Mama? Karena sejak tadi aku mencoba mengabaikan semua ini. Sambil terus berjalan sambil mengedarkan padanganku, aku mencoba mencari Lean. Semakin lama suaraku semakin keras memanggil namanya hingga akhirnya aku berhenti berjalan saat melihat Lean sedang berdiri. Di hadapannya ada wanita yang sedang berjongkok membelakangiku. Saat aku mulai berjalan mendekati mereka berdua, aku bisa melihat wajah Lean yang tampak bahagia.

"Mama harus pulang sekarang. Kamu ke dalam susulin Papa, ya? Kapan-kapan kita ketemu lagi."

"Mama mau pulang ke mana?"

"Mau pulang ke rumah orangtua Mama. Rumahnya jauh banget, jadi Mama harus pulang sekarang sebelum pintu rumahnya dikunciin dari dalam."

"Biar diantar Papa aja."

"Enggak usah, Mama sama supir pulangnya."

"Pa, anterin Mama pulang," ucapan Lean membuatku tersenyum namun senyumku tiba-tiba lenyap kala melihat sosok perempuan yang ia panggil Mama ini menoleh ke arahku.

Aku mengedipkan kedua mataku berkali-kali. Apakah aku tidak sedang berhalusinasi? Perempuan yang sudah aku cari bertahun-tahun kini sedang bersama Lean di hadapanku dan menatapku dengan tatapan bingung. Meskipun kini ia tersenyum ramah sambil mulai bangkit berdiri dari posisi berjongkoknya saat ini, namun aku masih tidak sanggup berkata-kata di hadapannya. Ya Tuhan....tolong buang semua kebodohanku kali ini karena aku butuh untuk berkenalan dengannya secara lebih layak daripada dulu saat kami bertemu di kolong jembatan.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Marriage With Benefits   203. Liburan pertama dengan personil lengkap

    Caramel Attanaya Raharja POVHari-hari aku lalui sebagai ibu dari tiga orang anak benar-benar luar biasa. Apalagi semakin hari kegiatan Lean semakin banyak sedangkan Jala serta Jian sudah semakin besar dan aktif saja. Aku yang dibantu oleh dua orang babysitter untuk merawat si kembar nyatanya tetap tidak merasa lebih ringan pekerjaanku karena aku tidak bisa menyerahkan seratus persen perawatan si kembar kepada para babysitter-nya. Aku tetaplah Mama yang memandikan mereka di pagi hari bersama Elang. Aku juga yang menyiapkan sarapan untuk orang serumah dengan berbagai macam menunya. Opa tentunya dengan menu sesuai anjuran ahli gizinya, Lean dan Elang bisa sarapan dengan menu yang sama dengan aku serta orang serumah sedangkan si kembar baru mulai makan sejak tiga hari yang lalu di saat usianya sudah menginjak enam bulan minggu lalu.

  • Marriage With Benefits   202. Kembali Pulang ke Jakarta

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah menunggu kabar dari Adit selama beberapa hari ini dan belum kunjung aku mendapatkan kepasatian darinya, aku mencoba bertanya kepadanya mengenai permintaanku untuk menyewa private jet miliknya. Jika miliknya masih disewa oleh orang, aku bisa meminjam kepada orang lain seperti Mas Joe mungkin. Tanpa membuang waktu lagi, aku coba mengambil handphoneku dan mencari group Lapak Dosa di sana. Group Lapak DosaElang : Dit, gimana? lo bisa bantuin gue enggak? Kalo enggak bisa, gue mau minta tolong sama Joe.Gavriel : Memang si Adit belum kasih jawaban ke lo?

  • Marriage With Benefits   201. Kami sepakat untuk KB

    Caramel Attanaya Raharja POVSetelah satu bulan kami rutin berhubungan suami istri dan aku masih belum kunjung datang bulan, akhirnya aku melakukan test pack dan untung saja hasilnya adalah garis satu. Berbeda dengan dulu jika aku akan kecewa setiap kali mendapatkan hasil seperti ini, saat ini aku justru bahagia. Elang saja merasa bahagia kala tahu hasil ini.Pagi hari setelah hasil testpack itu, kami ke rumah sakit bersama. Selain untuk memberikan imunisasi untuk si kembar, kami berencana untuk melakukan tes analisa sperma untuk Elang. Tentu saja sebelum melakukan tes ini kami sudah tidak berhubungan sekitar 5 hari. Ini adalah tindakan preventif yang bisa kami lakukan. Andai saja oligospermia Elang 'kambuh' kembali, rasanya aku tidak perlu memasang alat kontrasepsi apa

  • Marriage With Benefits   200.Rasanya seperti susu sapi

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah aku menahan diriku hampir setahun lamanya, akhirnya aku tidak sabar lagi untuk meminta hakku. Yup, hak sebagai suami Caramel yang nafkah batinku sejak ia hamil sampai melahirkan lebih spesifik lagi ia selesai nifas tidak aku dapatkan. Sesabar-sabarnya aku sebagai seorang suami, tetap saja tidak bisa lebih lama lagi rasanya menahannya. Malam hari ini setelah pembicaraan kami yang cukup panjang, akhirnya Caramel menyetujuinya. Pertama kali aku melihat tubuhnya yang meskipun memang berbeda namun aku sama sekali tidak ilfeel atapun merasa jijik sama sekali. Perubahannya membuatku sadar bahwa beginilah seharusnya kehidupan wanita itu berjalan. Terkadang wanita harus kehilangan keseksian serta kecantikannya untuk sementara waktu saat hamil dan melahirkan

  • Marriage With Benefits   199. Aku enggak akan terima kamu apa adanya

    Caramel Attanaya Raharja POVSetelah Mama dan Papa pulang ke Jakarta dua minggu lalu, praktis mengurus Jala dan Jian dari pagi sampai sore hari adalah pekerjaanku saat ini. Jangan tanya seperti apa kondisi diriku saat ini yang jangankan mau merawat diri seperti dulu, bisa mandi dan menyisir rambut saja adalah hal yang istimewa. Entah para ibu yang lain seperti apa perutnya namun perutku benar-benar seperti bokong panci dan bergelambir. Aku sampai malu bukan main jika Elang tidak sengaja melihatnya. Karena hal ini sejak aku melahirkan, aku lebih memilih untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi. Baju dinas malam saja sampai saat ini masih belum aku gunakan lagi. Lebih banyak daster busui yang dibawakan para sepupuku dari Indonesia yang aku gunakan setiap hari kala berada di dalam apartemen. Dan suamiku tentu tidak akan tergugah gairahnya melihatku

  • Marriage With Benefits   198. Japanese Tea Garden

    Elang Mahaputra Adikara POVSetelah beberapa hari berada di San Francisco, keluarga Caramel dan teman-temanku akhirnya akan pulang kembali ke Indonesia. Sudah aku tanyakan berkali-kali kepada mereka semua, mengenai keputusan ini, apakah mereka tidak ingin lebih lama tinggal di sini? Minimal mengelilingi beberapa negara bagian yang ada di negara ini. Sayangnya mereka tidak berminat. Apalagi kebanyakan dari mereka sudah bukan yang pertama kali mengunjungi negara ini. Gavriel dan Gadis saja selama berada di sini lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga Daddy-nya Gavriel daripada pergi ke tempat wisata. Hanna dan Adit lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sedangkan Wilson serta Raga adalah dua orang yang paling menikmati waktu untuk mengeksplorasi beberapa sudut kota ini bersama Mokara dan Lean. Meskipun Caramel ingin mengikuti

  • Marriage With Benefits   124. Lamaran dan Tantingan

    Elang Mahaputra Adikara POVPukul tujuh malam rombongan keluarga dan teman-temanku sudah sampai di depan rumah keluarga Caramel. Ini kali pertama teman-temanku sampai

    last update最終更新日 : 2026-03-30
  • Marriage With Benefits   125.Kekhawatiran Mama mengenai Caramel kedepan

    Elang Mahaputra Adikara POVSaat sampai di rumah Mama lagi, aku langsung berganti pakaian. Selesai melakukan itu, aku segera turun ke bawah tempat teman-temanku

    last update最終更新日 : 2026-03-30
  • Marriage With Benefits   121. Maunya dekat kamu aja

    Caramel Attanaya Raharja POVSetelah memasuki rumah dengan cara mengendap-endap, akhirnya aku berhasil sampai di depan kamarku. Secepat yang tanganku bisa, aku

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Marriage With Benefits   119. Rangkaian Acara Sebelum Pernikahan

    Caramel Attanaya Raharja POVSiang ini aku begitu bahagia karena kembaranku akhirnya pulang ke rumah kembali, tepat empat hari sebelum acara pernikahanku dilaks

    last update最終更新日 : 2026-03-29
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status