ログインMaya merupakan play girl yang terbiasa mempermainkan cinta. Dia selalu beranggapan bahwa cinta itu seperti layang-layang yang bisa ditarik ulur sesuka hati. Suatu hari, dia berjumpa dengan lima pemuda yang mengubah banyak hal dalam kehidupannya. Dari kelima pemuda tersebut, dua di antaranya menyeret Maya masuk dalam lingkaran dilema. Devan, si gunung es yang pesonanya memikat sejak pertama bertemu. Reygan, si humble yang mengenalkan arti kenyamanan sesungguhnya. Maya terbiasa meremehkan cinta, hingga akhirnya dia sadar bahwa cinta dan kenyamanan adalah dua hal yang berbeda. Bumerang yang dia lempar, berbalik menghantam dirinya sendiri. Untuk bersama Reygan, dia memang merasa nyaman. Namun, mereka tersekat kesenjangan status sosial. Apabila nekat memperjuangkan Devan, tentu saja taruhannya adalah persahabatan. Dia akan kehilangan seseorang yang memberinya rasa nyaman. Bahkan mungkin kehilangan semua sahabatnya, termasuk Devan sendiri. Lantas, kepada siapa hatinya akan memilih? Sejauh mana dia sanggup memendam perasaannya dalam diam? Dan apa penyesalan terbesar yang membuatnya merasa menjadi manusia paling jahat di dunia?
もっと見るTidak ada yang yang tahu, apa yang telah terjadi pada pemuda itu. Namun, satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya, memperihatinkan.
"Siapa dia?" Ucap seseorang.
"Aku rasa dia baru saja menghadapi masalah buruk!" Ucap yang lainnya.
"Sstt, berhentilah membuat perasaannya semakin buruk!" Tegur seorang wanita.
Sang pemuda yang digosipkan tetap melanjutkan langkah, menuju sebuah bangunan paling besar yang ada di Town itu.
Tempat yang menjadi tujuannya adalah Padepokan, tempat dimana orang berjiwa berani mempertaruhkan nyawanya untuk melawan kekacauan.
Awalnya nama Padepokan tidak terlalu populer, permulaan organisasi ini tercipta sebab beberapa orang berkumpul dan membahas tentang begitu banyak monster yang menyerang.
Dari obrolan itulah beberapa penduduk juga ikut nimbrung, mereka mengeluh karena beberapa hasil panen mereka banyak dicuri oleh monster.
Ada juga binatang buas yang menyerang desa dan melukai penduduk. Berangkat dari keprihatinan itu para orang berjiwa berani itu.
Mengumpulkan keluh kesah dan melakukan tawaran, kalau mereka akan memberantas masalah dan mereka memberi uang sebagai harga dari jasa itu.
Kesepakatan diraih dan itulah awal mula Padepokan tercipta. Lama kelamaan hal ini tercium oleh pegawai kerajaan. Kabar ini disampaikan pada sang Raja, lalu dari situ dibentuklah organisasi yang menaungi mereka dan diberi nama Padepokan.
Sebutan untuk mereka adalah para Pendekar, berkat hubungan yang dijalin dari kepercayaan itu. Padepokan berkembang pesat, sehingga membuat beberapa cabang.
Lalu ide ini pun akhirnya diadopsi oleh seluruh kerajaan di benua Kalimantara. Itu adalah sekelumit kisah terciptanya Padepokan.
Sang pemuda akhirnya sampai di tempat tujuan, terdapat sebuah papan di atas pintu masuknya bertuliskan Padepokan.
Tanpa keraguan pemuda mendorong pintu itu, menghasilkan bunyi kriet. Orang-orang mengalihkan pandangan ke arahnya.
Tapi dia tidak merasa terganggu sama sekali, malahan dia melewati mereka tanpa ragu. Orang-orang juga mengabaikan dirinya. Setelah sampai di depan meja resepsionis.
Sang resepsionis menerima dengan senyum, "selamat datang di Padepokan! Namaku Tari, Apa ada yang bisa kubantu?" Ucapnya ceria.
"Ya, aku ingin menjadi Pendekar!" Ucap sang pemuda.
Tari tersenyum kembali, "tentu, saya akan membantumu!" Ucapnya seraya menyerahkan secarik kertas formulir pendaftaran. "Tolong isi data dirimu di sini ya!"
"Baik," jawab sang pemuda.
Seraya pemuda itu mengambil pena dan menggoreskan identitasnya di formulir pendaftaran. Tari mengambil sebuah kalung dengan lempengan bertuliskan Surakarsa.
Setelah pemuda itu selesai mengisi formulirnya, kertas itu diserahkan kembali pada Tari. Lalu Tari menyalin kembali apa yang tertera di formulir tersebut.
"Baiklah tulis ulang nama, jenis kelamin, warna rambut, kelas, ..., oke sudah selesai," ucapnya sambil menyerahkan kalung itu ke arah sang pemuda.
"Ini adalah tanda pengenal jangan sampai hilang ya, Faisal!" Ucap Tari ceria.
Pemuda bernama Faisal itu menerima tanda pengenalnya, kemudian melirik tumpukan Quest yang ada di meja resepsionis.
Di bagian paling atas dokumen itu tertulis sebuah kalimat [Hunter Giant Rat]. Faisal menunjuk kertas Quest itu dan berkata, "apa aku boleh mengambil Quest tersebut?" Pintanya.
Mata Tari mengikuti arah yang ditunjukkan Faisal dan tersenyum, lalu menyerahkan Quest yang diminta oleh pemuda itu.
"Baiklah, ini adalah Quest yang cocok untuk pendekar Surakarsa. Semoga jalan kependekaranmu menyenagkan!" Ucapnya sambil tersenyum.
Tanpa menjawab Faisal berbalik dan langsung melenggang dari tempat itu.
"Aku sudah ada misi dan terdaftar sebagai Pendekar! Aku sekarang siap, waktunya untuk menempa diri agar semakin kuat!" Gumamnya
"Fiuh, Surakarsa itu membantuku. Quest memburu Giant Rat begitu menumpuk, tidak ada yang mau mengambilnya. Tapi, dia dengan sukarela mengambilnya!" Ucapnya tersenyum.
"Sepertinya ada yang lagi senang, nih!" Ucap seseorang di sampingnya.
Pakaian yang dikenakan tidak berbeda, hal yang membedakan adalah rambut panjang coklat tergerai dan bola mata kuning. Senyum menghias wajah, saat melihat temannya gembira.
"Iya, barusan ada Pendekar Surakarsa yang mengambil Quest Giant Rat. Kau tahu sendirikan, Sinta! Kalau Quest ini begitu dibenci para Pendekar!" Jelasnya.
"Pendekar awam yang mengambil Quest di tingkatnya itu kabar langka, kurasa pemuda itu sudah berada di jalur yang benar sebagai pendekar pemula!" Respon Sinta.
"Karena itu aku merasa bebanku sedikit terangkat, apalagi tumpukan Quest ini begitu banyak. Aku harap dia tidak jera mengambilnya, paling tidak sampai tersisa tiga lembar atau dua lembar juga boleh!" Ucap Tari.
"Hahah kau ini sangat berharap, mau bertaruh! Pemuda itu pasti akan kapok menjalankan Quest memburu Giant Rat untuk kelima kali!" Tawar Sinta sambil tersenyum.
Kedutan muncul di pelipis Tari, itu karena Quest Giant Rat memang begitu dihindari. Beberapa Pendekar sebelumnya yag pernah dia bujuk untuk mengambil Quest itu, hanya mau mengambilnya maksimal tiga kali berturut-turut.
"Tawaranmu ini sangat menyentilku, kalau begitu aku bertaruh dia tidak akan kapok, karena ini menyangkut karierku juga!" Balas Tari.
"Siapa yang kalah harus mengabulkan keinginan dari yang menang, bagaimana?" Ucap Sinta sambil mengulurkan tangan.
"Aku terima!" Balas Tari seraya menyambut uluran tangan Sinta. Menandakan kalau taruhan itu dimulai.
Sementara itu, Faisal menuju sebuah toko perlengkapan. Sang Blacksmith sibuk memoles barang yang dijualnya, saat melihat kedatangan Faisal dia menghentikan aksinya.
"Selamat datang, aku Rogo panda besi disini! Apa yag kau butuhkan?" Ucapnya.
"Aku butuh baju rantai dan kalau tidak ada Zirah kulit!"
"Bukan zirah baja?" Tanya Rogo. memastikan.
"Tidak perlu!" Jawab Faisal.
"Baiklah, senjata nya?"
"Sebuah gada dan perisai bundar!" Jawab Faisal.
"Sebelum itu, bisa tunjukan uangnya?"
Faisal mengambil kantong yang menggantung di pinggang kiri, lalu menaruhnya di meja. Terdengar suara koin yang beradu, ketika kantong itu mendarat.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Ucap Rogo.
Pandai besi itu membuka kotak penyimpanan dan mengeluarkan satu set zirah kulit lengkap, dengan pelindung kepalanya yabg dibuat dengan baik. Meski ada debu tertinggal, karena terlalu lama tersimpan.
"Aku hanya memiliki zirah kulit sepetti ini, kalau mau ambil kalau tidak tinggalkan!" Ucap Rogo.
"Aku ambil lalu baju rantai?"
"Ah kalau itu, membutuhkan sedikit waktu. Kembalilah lagi dan akan kusiapkan!" Ucapnya.
"Baiklah!" Respon Faisal.
"Gada ada di sini dan perisaimu ada di dinding!" Ucap Rogo menaruh senjata itu di meja.
Faisal melihatnya sejenak dan mulai mengenakan semua di badan. Pertama dia mengenakan satu set zirah kulit, setelah itu menaruh gada dipunggungnya dan terakhir melilitkan perisai di tangan kiri.
Rogo mengambil uang dalam kantung, seharga benda-benda yang digunakan Faisal. Tersisa enam koin di kantung itu.
"Apa kau memiliki bekal dan herbal?" Tanya Faisal.
"Kalau kedua benda itu, lain kali tanya ke resepsionis, bukan berarti aku tidak punya. Satu bekal untuk 2 hari dan dua herbal serta satu antidote. Lalu tas untuk perbekalan, bagaimana?" Tawar Rogo.
"Aku ambil semua!" Ucap Faisal.
Seraya dia mengatakan itu, Rogo mengambil semua koin yang tersisa di kantong tersebut dan menyerahkan kembali pada Faisal.
Setelah semua sudah siap, kini dia melangkah untuk menjalankan Quest pertamanya.
Author Note
Hai semuanya, salam kenal saya penulis baru disini. Semoga kalian bisa betah dengan cerita yang aku publish. Terima kasih sudah membaca dan mendkung cerita ini.
Rumahku serasa pasar dadakan. Ramai oleh riuh canda tawa Reygan dan teman-temannya. Itu pertama kali aku didatangi rombongan boygrup. Tentu saja sedikit syok. Biarpun memiliki banyak kawan lelaki, mereka biasa datang satu per satu. Paling banter dua orang. Bukan keroyokan begitu.Mana anaknya pada hiperaktif. Apalagi Ronald, yang tidak pernah mau diam. Dia itu tipikal cowok pecicilan, ganteng tapi bobrok. Adaaa aja ulahnya yang bikin kami ngakak. Tentu saja kami yang dimaksud di sini adalah kecuali Devan.Devan tak peduli akan semua kehebohan sekitarnya. Baginya, tak ada yang lebih penting untuk diutak-atik selain tamagotchi. Mungkin binatang piaraan virtual dalam benda mungil tersebut, baginya jauh lebih menarik dibanding sahabat-sahabatnya.Ah, entah lah!Reygan yang beberapa hari sebelumnya sengaja meninggalkan gitar di rumahku,
Sejak saat itu, kedekatanku dengan Reygan makin tak terbendung. Hampir setiap hari kami bertemu. Dia selalu menungguku pulang sekolah, kemudian mengekor pulang dan menghabiskan waktu untuk ngobrol sembari menemani aku menyiram tanaman di halaman.Yang menjadi topik pembahasan pun semakin melebar ke mana-mana. Bukan lagi sebatas kami dan keluarga masing-masing. Bahkan mulai merambah area persahabatan dan kehidupan di sekolah serta pergaulan lainnya.Pernah suatu saat, secara tersurat Reygan menanyakan padaku perihal kekasih. Ya, sebagaimana remaja tempo dulu, lah. Dia bertanya, apakah aku sudah memiliki pacar?Pertanyaan tersebut, sontak kujawab tanpa berpikir lebih panjang. "Enggak punya. Belum berani pacaran." Padahal, sudah ada Hendra.Kadang aku mikir, jahat banget jadi aku. Tidak berani mengakui hal yang sebenarny
•• Aku pikir, malam itu bakal menerima wejangan panjang dari ibu perihal kemunculan Reygan yang tiba-tiba. Ibuku orangnya lumayan sensitif untuk urusan cowok. Apalagi cowok yang coba mendekati anak gadisnya ini. Dia tipe emak-emak rempong yang bawel. Sedikit saja ada teman cowokku bertingkah kurang pas, aku yang ditegur. Ditegurnya enggak tanggung-tanggung. Biasanya langsung dilarang berteman. Ternyata aku salah sangka. Reaksi ibu berbeda dari biasanya. Tak ada pembahasan tentang Reygan, seakan tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan normal seperti biasa. What's wrong with my mom? Padahal, waktu awal-awal Hendra mendekatiku, dan nenek serta saudara-saudaranya berusaha mengakrabkan kami, ibu sempat murka. Aku masih kelas 3 SMP, harus fokus pada pelajaran sekolah, tidak boleh membagi pikiran dengan hal-hal tidak penting lain. Itu alasannya. Almarhumah nenek o
Sabtu sore yang cerah.Begitu turun dari bus, senyum Reygan menyambut. Lagi-lagi sendirian, nangkring di atas motor biru. Tubuhnya yang menjulang hampir dua meter, terbalut kaos flanel biru tua, dipadu celana seragam pramuka. Sepasang kakinya terbungkus sepatu converse hitam."Sendirian, Mas?" tanyaku basa-basi."Berdua.""Sama?" Aku celingukan, berharap manusia keduanya adalah Devan.Reygan tergelak. "Adek nyari siapa?""Katanya berdua?""Iya, berdua sama Adek."Spontan bibirku mengerucut. Tawa Reygan semakin riuh. Kayaknya puas banget lihat aku merengut."Yowes, aku pulang," pamitku seraya ngeloyor pergi."Lah, gitu aja ngambek!"Tanpa menghentikan langkah, aku menyahuti ucapannya. "Siapa yang ngambek?"Re
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.