เข้าสู่ระบบshe sets her sights on his wealthy father, weaving a web of lies and manipulation. But when a shocking revelation threatens to unravel her carefully crafted plans, Mia must confront the consequences of her actions and the true power of forgiveness. Can she find redemption amidst the tangled web of deceit, or will the weight of her secrets destroy everything she holds dear?
ดูเพิ่มเติม"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa?!"
Hari itu, Mia Ruby berteriak penuh amarah pada sosok pria yang dicintainya. Satu fakta yang berhasil membuatnya kehilangan kendali atas segala perasaannya. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, cemburu, dan benci. Dan penyebabnya adalah perselingkuhan kekasihnya—Killian Ludovic dengan adik tirinya yang bernama Nancy. Mia mencengkeram kerah kemeja Killian. "Kau berselingkuh dengannya," kata Mia sembari menunjuk Nancy. "Padahal kau jelas tahu kalau aku membencinya!" "Kenapa Killian? Kenapa?!" Mia mengguncang tubuh tegap kekasihnya. Mia Ruby, gadis itu menangis dan meraung sembari memukili dada kekasihnya—Killian Ludovic—yang tampak terlalu tenang untuk menghadapi amukan kekasihnya. Sedangkan di dalam mobil milik Killian, sosok Nancy—adik tiri Mia Ruby itu tersenyum penuh kemenangan. Killian mencengkeram erat kedua lengan Mia, menghentikan aksinya itu. "Karena aku mau," jawabnya. Mia tercengang, hatinya mencelos. "Kau ... kau serius dengan alasanmu?" "Tentu saja, aku bebas melakukan semua hal yang aku suka. Kau tahu sendiri jika hal seperti ini bukan sesuatu yang tabu dikalanganku.” "Iya! Aku juga memakluminya,” sahut Mia. “Tapi itu tidak berlaku untukmu! Kau berjanji jika aku satu-satunya wanita yang akan kau sentuh sampai kapan pun!” ujar Mia penuh penekanan. “Dan sekarang ... kau malah berselingkuh—bahkan dengan orang yang aku benci!" Killian masih bertahan dengan sikap tenangnya, salah satu tangannya beralih menjambak rambut Mia, membuat wanita itu memekik kesakitan. "Sebelum menyalahkanku seperti ini, baiknya kau bercermin, Mia." "Apa maksudmu?" tanya Mia kebingungan, ia berusaha melepas tangan Killian dari rambutnya. "Kau yang lebih dulu mengkhianatiku, kau berselingkuh dengan pria lain." Kedua mata Mia terbelalak, jelas terkejut dan tak menyangka dengan tuduhan yang Killian layangkan padanya. Kapan ia berselingkuh? Padahal hanya Killian satu-satunya pria yang dekat dengannya. "Killian, aku tidak—" "Ya! Kau dan pria itu!" sentak Killian. "Jadi jangan menyalahkanku jika berbuat hal yang sama sepertimu!" Setelahnya, Killian mendorong Mia hingga membuat wanita itu terjatuh ke jalanan. Mia menggeleng keras, ia berdiri hendak mengejar Killian yang kini sudah masuk ke dalam mobil. Mia menggedor-gedor pintu dan kaca mobil, ia terus berteriak dan berusaha menghentikan Killian. Namun, dirinya tak berdaya saat mobil itu melaju kencang meninggalkannya sendirian di tepi jalanan yang sepi. Mia menangis, meraung dengan keras. Dan terus menyerukan nama 'Killian'. Ia bahkan mengabaikan telapak tangan dan lututnya yang berdarah karena dorongan Killian hingga membuatnya terjatuh dan bergesekan dengan jalanan aspal yang keras. *** Malam harinya, Mia melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya. Tatapannya kosong, wajahnya memucat, dan rambutnya berantakkan. Tampilannya benar-benar tampak kacau. Sayup-sayup ia mendengar suara ayah dan ibunya dari arah ruang tamu, ia yang penasaran berjalan mendekat. "Dia tidak akan mendekati Mia lagi," ucap ayahnya. "Kau yakin dia akan percaya dengan kebohongan kecilmu itu? Dia bukan orang picik," sahut ibunya. Mia mengerutkan keningnya, 'Dia' yang dimaksud ayahnya pasti Killian. Ia semakin menajamkan pendengarannya dan mengintip di balik dinding. "Kebohongan apa?" gumamnya. "Aku sangat yakin. Saat sedang jatuh cinta, logika seseorang akan berhenti sesaat, mereka akan mengesampingkannya dan memilih fokus pada hati dan perasaan." "Maksudnya?" "Maksudnya, saat si keparat itu patah hati, dia tidak akan menggunakan logikanya untuk memikirkan semua yang terjadi dalam hubungan mereka, dia akan sibuk dengan rasa kecewa dan amarah karena merasa dikhianti." "Bagaimana kalau dia menuntut penjelasan pada Mia?” tanya ibunya. “Dan Mia menjelaskan semuanya.” "Aku jamin dia tidak akan membiarkan Mia menjelaskan semuanya, dia sudah dibutakan api cemburu dan tidak akan mendengarkan orang lain," jawab ayahnya. Mia berusaha mencerna inti dari semua percakapan kedua orang tuanya. Dimulai dari Killian yang cemburu, kebohongan ayahnya, lalu ia teringat pada tuduhan Killian tadi sore yang menuduhnya berselingkuh dengan pria lain. Mia kebingungan, padahal ia tidak pernah dekat dengan pria lain. Ia kembali mengingat kapan terakhir kali ia dekat dengan seorang pria, tidak ada pria lain selain .... Kedua mata Mia membelalak, ia teringat jika satu bulan yang lalu kakak sepupunya datang berkunjung ke rumah mereka, dan Mia hendak mengenalkannya pada Killian. Mereka sempat membuat janji temu, namun Killian tak kunjung datang. Mungkinkah kekasihnya melihatnya terlalu akrab dengan sepupunya itu hingga membuatnya salah paham? Dan mengenai kebohongan ayahnya pada Killian, apa mungkin ayahnya itu mengatakan hal yang membuat Killian cemburu tentang kedekatannya dengan sepupunya? Sekarang semuanya terdengar masuk akal, jadi karena itulah Killian berselingkuh demi melampiaskan sakit hati dan cemburunya. Dengan dada yang kembang kempis, Mia berjalan cepat menuju keduanya, wajahnya tegang. "Jadi Ayah yang merencanakan semua itu? Membuat hubunganku dengan Killian hancur?!" Kedua pasangan paruh baya itu tampak terkejut dengan kedatangan putri mereka. Keduanya serentak berdiri. "Kenapa Ayah melakukan itu?!" Mia mulai menangis, ia kembali mengingat perselingkuhan Killian dengan adik tirinya. "Apa Ayah tahu, apa yang dilakukan Killian dibelakangku karena perbuatan Ayah? Dia berselingkuh dengan anak tiri kesayangan Ayah itu!" Damon, Ayah dari Mia itu tercengang. Jelas ia tahu siapa yang dimaksud putrinya. Nancy. Putri semata wayang dari mantan istri ke duanya. Meski bukan putri kandung, namun ia tak keberatan memperlakukannya layaknya putri kandungnya sendiri, memberinya kasih sayang dan segala kebutuhan hidupnya—melebihi Mia, putri kandungnya sendiri. Miranda juga sama terkejutnya, ia menoleh melihat reaksi suaminya. Dadanya terasa nyeri saat nama putri dari perebut suaminya dulu kembali terdengar. "Tidak mungkin, Nancy gadis yang baik." Damon membantah, ia menggeleng pelan. "Kenapa tidak? Baru saja tadi siang aku menemui mereka berdua, asal Ayah tahu saja jika anak tiri kesayanganmu itu lebih buruk dariku! Dia sering berganti-ganti laki-laki saat keluar masuk sebuah hotel—" Wajah Damon seketika mengeras, rahangnya mengatup kuat, dan sorot matanya berubah tajam. Dalam satu gerakan cepat, tangannya terayun. Plak!The street outside the bar was half lit, half forgotten. The neon sign above the entrance buzzed like a tired insect, flickering between blue and nothing. Jason pushed the door open and stepped into a wall of warm air and noise.The place was crowded—packed enough that shoulders brushed when people turned, glasses clinked every few seconds, and the smell of beer and wood polish hung thick in the air. Rafe’s Bar was always busy after nine. It was the kind of place where people came to lose themselves, not talk about the things that broke them.Jason didn’t belong here tonight, but he didn’t know where else to go.Rafe was behind the counter, moving with the energy of someone trying to do five tasks at once—pour a drink, wipe the counter, yell at a drunk who kept knocking on the jukebox, and laugh at a joke someone shouted from across the bar. He was a big man with broad shoulders, a beard starting to grey, and eyes that always seemed to know too much.He spotted Jason immediately.One
The bartender dropped the glass slowly on the table before he looked back up at Jason, "What the hell do you want me to say man?" He arched his brow. "I referred you to a job, now you've lost it. What do you want me to do about that?" He asked. Jason shifted uncomfortably in his chair, "Uhm, I was thinking..." Jason tried to avoid his gaze as he spoke, "if you could refer me to another job...." The bartender let out a dry laugh, "Now why would I do that? You couldn't even last a month at the former, what makes you think I would recommend another to you?" Jason's gaze settled on the table. Then a man walked up to the counter, exchanged pleasantries with the bartender before he ordered a drink. "Hey, how you doing?" The man said to Jason before taking the seat beside him. "Yeah..." Jason replied subconsciously, waving slightly at him. The man exchanged glances with the bartender before looking back at Jason who looked lost in thought, twirling the glass he held in his hand.
"We'll have to let you go." Selene continued. Jason's jaw almost dropped to the floor. "No, please you can't fire me. I...I was only trying to protect myself.""I understand that. But keeping you here will be at the detriment of my business and I need you to understand that."Jason fell onto his knees clasping his hands in front of him, "please, I beg of you, just give a chance, I promise I'm going to be on my best behavior." He pleaded. Selene shook her head. "No, Jason, I'm sorry but I have to let you go.""Please, you can't do this. I really need this job. I need it to survive!" Jason tried to make her understand but she was adamant. "You know what, just give me a second." Selene said, she reached into her drawer and took out an envelope. "Here, have this." She said, "This should have been the amount I would have paid you after you'd worked for a month."Jason's eyes fell on to the envelope. He was devastated that his pleas had fallen on deaf ears. "Go on, take it." She probed
Jason hadn’t even been at Velvet smoke for a full week, yet the place already lived under his skin like a fever. The music. The strangers. The smoky air that clung to everyone’s lungs like something earned, not breathed.Tonight, he was working floor duty—running drinks, keeping drunks in check, helping the dancers to and from the stage. The dancers strutted on stage with glitter on their skin like constellations, and Jason, despite knowing better, kept catching himself staring too long at the ones who smiled at him.“Jay, table six!” Maria, the bartender, shoved two glasses into his hands. “They’re already pissed off—hurry.”Jason nodded, weaving through the crowd, keeping his shoulders tight to avoid drunken elbows. Velvet smoke always felt like it pulsed—like a heartbeat made of bass and lust.But tonight, something was off.Table six was occupied by three men in expensive suits. The kind of men who didn’t come to clubs because they were lonely, but because they liked to be kings
The van stopped with a jolt.Mia’s shoulder slammed into the metal wall, and she hissed softly, the sound swallowed by the hum of the engine. For hours, the windows had been blacked out, and the only light came from the slit between the doors. She had no idea where she was anymore—only that every t
Mia didn’t sleep that first night.She lay on a thin mattress that smelled of bleach and old perfume, staring up at the cracked ceiling while the sounds of the building moved around her—footsteps, laughter, a muffled cry that faded before it reached her door.Every minute felt like an hour. Every b
Jason didn’t belong in places like this, he was only doing it out of desperation. He took a second look at the card he held in his hand before he pushed through the heavy red door of Velvet Smoke. The air hit him like warm breath—thick with perfume, sweat, and the sharp sweetness of liquor. Music
The hair across Mia's back stood. Her ears rang in disbelief. She didn't believe she was hearing right. Was it the man's accent or...? No, it couldn't be the man's accent; she heard what he'd said, and it was clear as day. 'I'm getting sold?!' she yelled inside her head. She shook her head subco
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.