LOGINThe church was full of different kinds of majestic decorations. A theme of white and gold, the color that is perfectly expressing both purity and prosperity. Indeed, it is really f*cking wonderful. But then... On this fre*king wonderful day who would have thought that a mere guest like me who was forced to attend this d*mn wedding of my damn stepsister will become the bride??! “She is right here. The… bride is here. We shall start the ceremony, Mr. Morgan” “Is it her?” “Y-yes. She is the one you will marry.” “Wait what, me?!”
View MoreMalam itu Lucas jatuh berlutut di samping ranjang sembari menggenggam tangan dingin seseorang. Ia menangis meraung memanggil pemilik tangan tersebut. Mencoba memintanya untuk bangun. Namun, seberapa keras Lucas memanggilnya dia tidak akan terbangun. Lucas menyadari itu tapi dia menolak untuk menerimanya.
"Maafkan aku yang datang terlambat, Ibu. Seharusnya aku datang lebih cepat dan membawamu pergi dari sini. Maafkan aku yang terlalu lama meninggalkanmu sendiri disini." Lucas meletakkan tangan tersebut di pipinya, merasakan dinginnya tangan itu. Air matanya tak berhenti mengalir, bahkan wajahnya yang terlihat lelah semakin memelas membuat orang yang melihat jadi kasihan. Isak Lucas pun membuat orang sekitarnya semakin sulit untuk menahan tangis.Di tengah suasana yang pilu tersebut terdengar langkah kaki seseorang yang datang mendekat secara tergesa. Para pelayan yang berada di sana segera menyingkir memberikan jalan.Lucas pun berbalik menatap pemilik langkah kaki tersebut. Sejujurnya tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang datang. Ia enggan untuk membiarkan matanya menatap orang tersebut tapi emosi membakar hatinya. Paru-parunya kian terasa sesak menekan, memaksa untuk mengeluarkan sesuatu guna meredakannya.Matanya menajam menatap lelaki paruh baya yang wajahnya mirip dengannya itu dan emosinya pun semakin meluap tak tertahankan. Lucas bangun seraya melangkah cepat. Lalu, kedua tangannya meraih kerah lelaki tersebut. Teriakannya membuat dua orang laki-laki berseragam ksatria serta pelayan maju untuk menghalangi. Akan tetapi, pria dalam genggamannya itu lantas mengangkat tangannya menghalau menghalau orang-orang. Membiarkan Lucas berbuat sesuka hati padanya."Mau apa kau disini? Kau ingin memastikan ibuku telah benar-benat mati! Kau puas sekarang melihat mayatnya? Pergi kau! Kehadiranmu tidak dibutuhkan Yang Mulia! Lebih baik kau pergi dan uruslah gundik dan anak sialanmu itu!" murka Lucas pada orang di depannya.Lelaki tersebut hanya diam tak menunjukkan emosi apa pun terhadap amukan Lucas. Bahkan ia tak mengeluh sakit ketika tak secara sengaja kuku Lucas mencakar lehernya saat meraih kerah tadi.Dua orang laki-laki yang berada di dekat mereka menatap dengan sedih. Dulu tuan mereka ini begitu akur dan hangat. Setiap saat selalu terdapat potret mereka yang bercanda tawa hingga membuat para pelayan dan ksatria ikut bahagia. Namun kejadian beberapa tahun lalu benar-benar menghancurkan semua. Potret keluarga yang harmonis tersebut hancur seketika. Dimulai dengan pengkhianatan sang tuan besar hingga keguguran yang dialami oleh nyonyanya membuat mereka semakin jauh dari kata untuk kembali.Marie sang pelayan utama Nyonya atau ibu Lucas menangis terisak mengingat memori kelam tersebut. Ia menoleh sejenak pada tubuh dingin nyonyanya lalu menatap Lucas. Lalu, mengajak sang tuan muda segera memakamkan majikannya secepatnya."Tuan muda sebaiknya kita lekas menyiapkan peristirahatan untuk nyonya. Lebih baik kita gunakan waktu ini untuk menghabiskan waktu bersama nyonya. Jangan biarkan tenaga anda terkuras untuk mengurusi hal-hal yang tidak pantas," desis Marie pada sang tuan besar.Dulu Marie selalu diam menahan diri karena ia takut membuat kesalahan yang akan membuat nyonyanya diposisi yang semakin sulit. Namun kini ia sudah tidak perlu melakukan itu.Perkataan Marie tadi membuat suasana semakin mencekam. Namun, Marie tak perduli. Entah hukuman apa yang menantinya karena berani menyindir sang tuan besar Duke Peter Wynne Chester. Saat ini yang ia pedulikan hanyalah majikannya, sang nyonya Duchess Annastasia Leonardo yang kini telah tiada. Hatinya remuk menatap wajah dingin majikannya tersebut.Bagaimana bisa nyonyanya yang telah ia rawat sedari kecil, tetapi berakhir seperti ini? Meninggal dalam keadaan sakit dan kesepian.Lucas pun mendorong Peter yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosong pada ranjang istrinya. Lucas tidak perduli apabila ayahnya itu merasakan penyesalan terhadap sang ibu. Baguslah jika ia menyesal, biarkan dia hidup dengan penyesalan yang dibawanya hingga akhir hayat. Saat ini ia hanya ingin secepatnya memberikan peristirahatan yang terbaik untuk ibunya lalu meninggalkan semua yang berhubungan dengan Peter Wynne Chester.*****Lucas berdiri menatap gundukan tanah di depannya. Dalam gundukan tersebut tersimpan peti ibunya di sana. Ia berdiri sendiri ditemani Marie yang tak berhenti terisak, sedangkan Lucas merasa tak sanggup untuk menangis lagi. Ia merasa air matanya telah mengering."Tuan muda apa yang akan anda lakukan selanjutnya? Apakah anda akan tetap pergi dari sini? Bolehkah saya mengikuti anda pergi?" Marie menatap punggung anak nyonyanya tersebut. Punggung tegap itu kini terlihat rapuh membuat Marie meringis sedih."Bibi Marie aku akan tetap pergi. Jika bibi ingin ikut aku tak mempermasalahkannya. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal di wilayah selatan. Kita akan berangkat besok pagi.""Baiklah saya akan segera bergegas menyiapkan keperluan perjalanan kita."Marie melangkah cepat seolah-olah dikejar walaupun tidak ada yang mengejar. Marie hanya merasa ingin segera lari meninggalkan tempat ini lalu menunaikan tugasnya untuk menjaga dan merawat tuan mudanya.Sementara itu sepuluh menit setelah kepergian Marie, Lucas berbalik melangkah untuk beristirahat. Ia lelah. Dirinya bergegas pulang usai pengumuman perang telah berakhir dengan kemenangan. Ia memacu kudanya selama hampir sepuluh hari untuk segera kembali menemui ibunya dan membawanya pergi ke tempat yang telah ia persiapkan. Namun, sayang sekali ia kembali menemui tubuh ibunya di ranjang kamar tanpa nyawa.Lucas berbaring meringkuk dengan tangan menggenggam sapu tangan. Terdapat sulaman namanya yang dibuat oleh sang ibu. Ia merasakan kedamaian ketika merasakan sapu tangan tersebut. Kemudian, teringat ketika ibunya mengikatkan itu pada lengannya. Sapu tangan ini adalah hadiah terakhir dari ibunya sebelum ia pergi menuju medan perang. Kini lelah yang menderanya semakin terasa. Lucas pun terlelap.*****Suara petir menyambar membuat Lucas kaget dan terbangun. Ia menoleh menatap jendela kamarnya, terlihat di luar cahaya petir menyambar disertai hujan deras. Lucas turun dari ranjang meraih teko air. Ia butuh minum karena tenggorokannya terasa kering dan sakit.Terdengar bunyi sesuatu yang terjatuh. Tiba-tiba Lucas jatuh terguling dari ranjang. Ia terbengong ketika mendapati ranjang kamar yang terasa lebih tinggi dari biasanya. Dan semakin terkejut kala melihat tangannya menjadi kecil. Kemudian, ia meraba tubuhnya yang terasa berbeda.Ia pun sontak berlari menuju cermin besar di pojok kamarnya. Dengan bantuan cahaya dari petir yang menyambar Lucas mendapati bayangan dirinya pada cermin. Sosok mungil dengan balutan gaun tidur. Nampak juga raut wajah Lucas yang kebingungan. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka."Lucas!" teriakan seseorang memanggil memenuhi ruang kamar Lucas.Lucas pun menoleh mendengar teriakan seseorang yang sangat ia kenali itu. Tubuhnya mematung memandangi wanita yang kini berlari menghampirinya. Tanpa sadar air mata meluruh membasahi pipi mungilnya mendapati sosok wanita itu memeluknya."Ibu ....""Iya, sayang ..., kamu takut ya ada suara petir? Tenang ada ibu disini," bujuk lembut wanita tersebut.Merasakan pelukan hangat ibunya seketika itu juga Lucas menangis meraung keras. Tangan mungilnya menggapai memeluk sang ibu semakin erat."Ibu, jangan pergi ...." Raungnya sesenggukan membuat Anna ---ibunya--- mengangkat untuk menggendong dan menepuk punggungnya lembut."Ssshhh ..., iya sayang, ibu disini jangan takut. Ibu tidak kemana-mana," ucap Anna yang mencoba untuk menenangkan putranya itu.Sementara Lucas tetap menangis dan memeluk semakin erat. Hingga tidak sadar tertidur dalam pelukan ibunya.It was a peaceful morning. People just came out of the church and went to their own businesses. “Sylv! Let’s go there!” “Slow down, princess! Sylv is carrying my child!” “C’mon, Jason, don’t be too over protective!” The pregnant woman, named Sylv just laughed as her eyes went to the beautiful lady at the flower shop. “My lady!” She exclaimed as she shove Princess’s hand away. She rushed toward the lady that she saw. “Thank you.” The beautiful lady in a beautiful dress said as she put the bouquet of flowers down. “My lady!” The beautiful lady looked at the person that called her. She beamed when she saw familiar faces getting near them. “Sylv. How are you? How’s the baby?” She asked as she gave them a teasing smile. The couple just blushed as they looked at each other. While Princess just grinned at them. “Ah! Are you alone, my lady?” Jason asked while looking around. The lady shook her head. She was about to answer when someone pulled the hem of her dress. “Mommy! Mom
AUTHOR’S POVAfter that night, Madison woke up because of the knock. Gavin moved a bit to not wake her up but she woke up anyways. Gavin opened the door and saw the head maid looking at him suspiciously as she peaked behind him to see if Madison is alright. The head maid sighed and glared at Gavin.“Don’t look at me like that, Nana Beatrice. I didn’t do anything to my wife.”He groaned. The head maid just sighed and pushed Gavin aside as she pushed a pushing cart containing foods inside.“Good morning, My lady.”“Hmm.”Madison stood up and went to the table with her eyes closed. “I already bought your clothes here so you can change here.”“Hmm.”“Also, your mother dropped by here with a lot of gifts for you.”“Hmm- huh?”Madison’s sleepy eyes went wide open as Gavin just raised both of his eyebrows and went inside the shower.“She was here?”“Yes, My lady.” “With what?”“A lot of gifts, my lady.”Feeling surprised, Madison dazed and remembered what happened yesterday. The head maid
AUTHOR’S POVMiranda was shocked by Gavin’s sudden outburst.Gavin couldn’t care anymore as he only thought of Madison’s state. He felt mad at how Miranda acts in front of them. For him, Miranda isn’t a type of person that he could just convince with such submissive words. Still surprised, Miranda glared at Gavin but Gavin, being himself, just stared back at Miranda. Madison saw the tension between the two so she pulled Gavin’s hand as she turned around to leave.“Madison! Please, let’s talk.”Miranda tried approaching her but Gavin stood in front of him. He can feel that Madison is going to break down any moment if she stays here. For him, even though he didn’t ask Madison about her past, he still has an idea that her childhood didn’t end great.“Get out of my way!”“I can’t do that.”“You..! Madison! Please let’s talk, my love.”Madison stopped on her track as she glanced back at her mother.“Give me time..”She said then leave. Miranda looks devastated that her plan on approachi
What is a mother? What does it take to be a mother? People usually call a person a mother if the woman gave birth to her child. If that person took care of that baby for 9 months and painfully gave birth and loved her child. That’s what mothers usually do.But being a mother isn't just considered as being pregnant. There are mothers who adopted their child. Those who treated the children like their own even though she’s not her mother. Or even an older sister that stood like a mother. A mother that sacrifices a lot. A mother that doesn’t love their child and just uses them for their own benefit. Mother that was forced to conceive a child and end up hating them. And a mother that only sees their child as an insurance for their future.No one really knows how mothers really love their children as they have a different version of how they show it. And sometimes the way they show it is confusing even for their own child. Maybe that’s why there are children that choose to be rebellious
I was confused and interested at the same time. Gavin ordered the maids to clean the table and bring out a bottle of wine and some snacks. I waited for him to talk more about this deal he was talking about. He stood up,
“My Family?” I was stunned at his unexpected question. Seriously, did he forget that I don’t regard my father and that Mirranda b*tch as my parents? What family is he saying? Is he an idiot or what? Besides... Are they even qualified to be called a ‘Family’? Especially those m
Defeated, I failed to find that diary.But… I remember that it was here just a while ago. Ahhh, if not for that Gavin… this is all his fault! I walked slightly stumping my steps wanting to release my anger. I feel bad for not finding that diary. While on m
His eyes are straightly looking into mine. I can feel how deep his breath is. Why is he this close?! "Hey what are you doing?" That is the only thing that I think of to make him stop from doing whatever bad intention he is thinking of doing to me. I unconscious


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore