INICIAR SESIÓN“Sssh, jangan, Andre. Ini penting,” bisik Mayang.Andre tersenyum, merapikan kerah kemeja Mayang, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Mayang yang sedang mendengarkan suara ayahnya di telepon. "Aku pulang dulu ya, Sayang ... makasih udah udah bantu aku," bisik Andre sangat pelan penuh kehangatan sebelum melangkah pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan lega luar biasa.Beberapa hari setelah hubungan asmara Andre dan Mayang kembali pulih dan makin erat, tetapi, masalah baru yang tidak disangka-sangka mendadak muncul.Masalah kembali datang dari pasokan bahan baku usaha kuliner Andre. Menjelang acara jamuan makan malam megah tingkat menteri dan investor asing yang akan digelar di ibukota, pasokan utama lobster air tawar segar yang dikelola oleh Raka di desa mendadak menjadi sasaran ancaman dari pihak luar.[Andre, ada pengusaha pesaing besar dari kota sebelah yang sengaja mengincar pasokan lobster milik kita untuk acara menteri besok,] kata Raka lewat sebuah pesan ke
Sementara itu di tempat lain, Andre yang masih diliputi rasa bersalah dan kebingungan, memilih mengendarai mobilnya, tanpa tujuan yang jelas di tengah riuhnya jalanan pusat kota.Saat menghentikan kendaraannya di area parkir sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kita itu, matanya menangkap sosok Nisa yang baru saja keluar dari supermarket membawa dua kantong belanjaan besar berisi bahan makanan segar."Nisa? Kalau dia bilang Mayang di luar kota, untuk apa dia belanja bahan makanan sebanyak itu di pusat kota?" gumam Andre penuh curiga seraya langsung melangkah turun dan membuntutinya dari jarak aman.Langkah kaki Nisa mengarah ke sebuah kompleks apartemen mewah yang berada tidak jauh dari pusat perbelanjaan tersebut, masuk melewati pintu lobi dengan menggunakan kartu akses khusus. Andre menyelusup masuk tepat sebelum pintu kaca menutup, lalu naik ke lift yang sama dengan menjaga jarak di belakang beberapa penghuni lain hingga melihat Nisa menekan tombol lantai dua belas.‘Jadi selama i
[Maaf sekali, Pak Andre. Bu Mayang memang begitu, biasanya berpindah-pindah lokasi inspeksi dan melarang kami mengganggu fokus kerjanya dengan urusan luar,] sahut Nisa dari balik telepon.Nisa menutup matanya, merasa bersalah karena terus berbohong. Dia tahu Andre lelaki yang baik, dia juga tidak tahu apa penyebab pertengkaran atasannya, sehingga dia harus menjalankan instruksi Mayang dengan ketenangan luar biasa, meski hatinya merasa kasihan melihat kekasih bos besarnya kalang kabut.Andre membanting ponselnya pelan ke atas meja kayu, mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, meluapkan rasa bersalah dan kerinduan yang membuat dadanya terasa sesak. Belum pernah dia merasakan sepanik ini, bahkan dulu ketika mendapati Rumala selingkuh di ranjang bersama Raka, dia tidak sepanik ini."Aku bisa gila kalau Mayang terus menghindar seperti ini ... aku cuma mau jelaskan kalau tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Caroline, hanya … hanya keterlaluan saja malam itu," gumam Andre
“Iya, Pak. Bu Mayang kan sering begitu, dari dulu,” jawab Nisa tenang.“Oke, makasih ya, Nisa. Nanti kalo Mayang telelpkn, tolong kasih tau aku datang ke sini,” sahut Andre.“Baik, Pak,” sahut Nisa sopan.Andre meninggalkan Nisa dan kembali ke kantornya, sepeninggal Andre, Nisa mundur selangkah sambil menghembuskan nafas lega. Kakinya terasa lemas ketika harus berbohong, beruntung dia bisa bersikap tenang dan tidak gugup. Itulah sebabnya Mayang sangat mempercayainya, dan menjadikannya asisten.“Kayaknya Bu Mayang lagi berantem deh sama Pak Andre,” gumam Nisa.Nisa kemudian mengirim pesan kepada Mayang, bahwa Andre mencarinya. Namun, atasannya itu malah meminta agar Nisa menjaga rahasia dan biarkan Andre mencarinya.‘Kirain orang kaya raya itu beda kalo urusan cinta, ternyata sama aja. Bisa ngambeg dan gak slay kayak biasanya,’ pikir Nisa.“Iya, Pak. Bu Mayang kan sering begitu, dari dulu,” jawab Nisa tenang.“Oke, makasih ya, Nisa. Nanti kalo Mayang telepon, tolong kasih tau aku datan
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar hotel, memantulkan bayangan samar pada helai rambut pirang Caroline yang masih terlelap. Andre berdiri di samping ranjang dengan helaan napas berat, merapikan kemejanya yang agak kusut usai membersihkan tubuh di kamar mandi."Aku harus pulang sekarang, Caroline. Istirahatlah, nanti pihak kepolisian akan menghubungimu soal perkembangan kasus semalam," kata Andre pelan seraya meletakkan kartu akses kamar di atas meja nakas sebelum melangkah keluar dengan pikiran yang berkecamuk.“Hmmm, tidak bisakah kau tinggal sebentar lagi?” tanya Caroline.“Tidak, aku harus siapkan berkas yang harus kita tanda tangani nanti siang,” jawab Andre.Tidak butuh waktu lama, taksi online yang ditumpangi Andre menepi tepat di halaman ruko usahanya, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya.Di saat yang hampir bersamaan, mobil sedan milik Mayang perlahan memasuki area parkir yang sama, bermaksud menemui Andre untuk melengkapi beberapa berkas kerja sama yang semp
Mayang melirik ponsel Andre, lalu tersenyum tipis sambil berdiri.“Kelihatannya Anda sibuk sekali, Pak. Saya permisi dulu biar ga mengganggu, siapa tahu ada hal yang lebih penting ketimbang menyelesaikan dokumen ini," kata Mayang sinis, lalu melangkah meninggalkan Andre.Tanpa ragu sedikit pun, Andre langsung mematikan panggilan tersebut dan menolak pesan masuk dari Caroline tanpa berniat membalasnya sama sekali. "Tidak ada yang lebih penting dari urusan kita di sini, Mayang. Aku sedang fokus mempersiapkan kontrak kerja sama ini, biar gak ada kesalahan sedikit pun." Andre menangkap pergelangan tangan Mayang.Mayang menoleh, hanya mengukir senyum tipis yang penuh dengan sindiran, lalu melepaskan tangan Andre perlahan. "Terima kasih atas penjelasannya, Pak Andre. Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor saya sekarang." Mayang meninggalkan Andre dengan langkah tergesa."Mayang, tunggu sebentar! Bisakah kita makan siang bareng nanti siang? Aku bisa jelasin semuanya!" seru Andre melangk







