تسجيل الدخولDikhianati, difitnah, dan diusir dari kontrakan seperti sampah oleh istri serta mertuanya sendiri, Andre pasrah menerima nasibnya di sebuah kios angker yang pengap. Usai sumpah terucap, malam itu mengubah segalanya. Sebuah kalung pusaka kuno bernama Bumi Swarga merasuk ke dalam jiwanya, dalam waktu singkat, fisiknya berubah semakin tampan, masakannya memikat jutaan lidah, dan aura jantannya membuat wanita mana pun menyerahkan diri secara sukarela tanpa diminta. Kini, roda nasib berputar, keluarga pemilik kalung sebelumnya menuntut dikembalikan, bagi Andre, waktu untuk mengalah sudah habis.
عرض المزيد"Ahh, iya Raka, di situ, enak banget, mmpphh ...," racau Rumala setengah berbisik.
"Cepat, katakan, lebih enak mana punyaku atau punya suamimu yang pedagang bakso itu?" sahut lelaki yang sekarang sudah di posisi atas.
"I-iya, enak punya kamu, enak banget, terus, jangan berhenti ... mmph, iyaa, teruskan di sana, keluarkan dalam aja, biar benihku bagus," balas Rumala.
Sang pria kemudian mempercepat tempo. "Ahh, a-aku ...."
"Mmphh ...," desah Rumala.
Terdengar suara perempuan yang familiar di telinga Andre saat dia masuk rumah. Dia sengaja pulang kerja lebih awal, semata untuk memberi kejutan istrinya karena baksonya hari ini laris-manis dan diborong seseorang.
Lelaki itu mengintip dari balik pintu, betapa terkejutnya dia melihat Rumala, istrinya, sedang berselingkuh dengan Raka, anak kepala desa.
Selanjutnya tidak ada suara percakapan lagi, hanya suara desah dan napas tertahan yang terdengar. Begitu menggairahkan, suara cecap ciuman terdengar, diiringi suara derit ranjang dengan ritme yang berbeda.
“Kamu itu cuma bisa nidurin aku sampe puas kayak barang gratisan baru pulang, kapan nikahin aku? Aku gak mau tinggal sama tukang bakso itu, bau tau gak,” keluh Rumala.
Raka yang baru saja melepas miliknya, hanya terkekeh. “Sabar, kita masih butuh dia walaupun dia bau dan jelek. Kalo dulu ga ada dia, mana bisa nama baikmu tetap terjaga padahal waktu itu kamu hamil anakku.”
‘Kenapa? Kenapa … kamu keliatan begitu menikmati sama Raka? Kalo sama aku kamu malah males-malesan dan gak pernah bergairah,’ batin Andre dengan hati hancur.
Usai menyaksikan pergumulan panas tersebut, kini Andre tidak lagi mampu menahan rasa kecewa dan sakit hati yang begitu mendalam, lelaki itu bersiap melabrak pasangan yang sedang berzina itu.
Prang!
Suara gelas jatuh ke lantai terdengar keras, Andre mundur karena terkejut dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu jatuh terjengkang di serpihan gelas yang berderai di lantai, sehingga menimbulkan suara terpekik kesakitan.
“Siapa? Ngintip, ya!” sergah Raka spontan.
Beberapa ibu-ibu tetangga, yang sedang berkumpul di teras rumah seketika saling tatap dan menyerbu kediaman Andre, ketika mendengar suara Raka begitu familiar, yang seharusnya tidak berada di sana.
Andre berusaha bangkit sambil meringis, telapak tangannya tertusuk ranting kering dan pinggangnya terasa sakit karena jatuh terjengkang. juga tertusuk ranting. Sementara itu di dalam kamar, Raka dan Rumala bergegas memakai pakaian mereka karena beberapa ibu-ibu merangsek masuk dan berteriak-teriak.
Dalam sekejap, rumah sewa milik ayahnya Rumala menjadi ramai. Andre duduk di tengah halaman, dikelilingi oleh warga dengan mertua, Rumala, Raka dan ayahnya di hadapannya.
Keadaan yang seharusnya dia yang menjadi korban yang dirugikan, malah dirinya yang seolah-olah sedang diadili karena perbuatan menjijikkan melanggar norma, yang dilakukan oleh Rumala dan Raka.
“Dasar ga becus jadi suami. Kamu udah numpang di rumah sewa punya aku, jagain anakku aja gak bisa!” seru Yudha, ayahnya Rumala.
“Cih, apa kubilang … Andre itu gak cocok sama Mala, pantesnya sama Raka,” celetuk salah satu janda muda yang berpakaian ketat.
“Halah, modal muka ganteng doang. Itu burungnya pasti loyo, pasti gara-gara itu makanya Mala selingkuh,” timpal seorang gadis cantik sepupu Raka.
“Iya. Raka anak orang kaya, masa depan terjamin … gak kayak orang lain yang jadi tukang bakso keliling. Masa depan suram,” ejek salah satu janda dengan dandanan menor.
Andre hanya tertunduk lesu, kepala tertunduk dengan benak yang sedang sedang berperang dengan logikanya.
“Tunggu … bukannya saya yang seharusnya marah? Kenapa malah saya yang dihina dan disalahkan? Kan bukan salah saya!” protes Andre dengan penuh keberanian.
Bukannya mendapatkan simpati, Andre malah mendapatkan hujatan bertubi-tubi. Mereka menghina profesi dan kemiskinan lelaki itu, mendengar itu semua wajah lelaki itu perlahan memerah.
Telinganya tidak lagi mampu menahan hinaan itu, dia berdiri sambil mengepalkan tangan, dadanya bergemuruh dengan gelombang emosi, egonya terusik, tetapi kepalanya memaksa untuk tetap tenang.
“Rumala, dari awal aku sudah bilang, kalo kamu gak bahagia, tinggal bilang dan kita bisa pisah baik-baik. Kenapa harus mencoreng nama aku dengan selingkuh sama anak Pak Kades?” tanya Andre dengan suara bergetar.
“Andre … harusnya sebagai lelaki kau itu ngerti kalo istri gak puas, gak pernah bisa bahagia, matamu buta apa gimana, hah!” sergah Raka.
“Diam kamu, aku nanya istriku, bukan kamu,” balas Andre.
“Kau bau keringat, bau aroma bakso dan debu tiap pulang. Mana betah aku, kamu aja yang ga peka,” sahut Rumala santai.
“Cuma pedagang bakso keliling, memangnya uangnya berapa? Rumala memang pantas denganku, aku bisa kasih dia segalanya. Uang dan kehangatan di ranjang,” timpal Raka sinis.
Rumala menggenggam jemari Raka dan menatap selingkuhannya itu dengan tatapan mesra dan penuh cinta. Andre terkesiap, dia sama sekali tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya. Bahkan ketika mereka menikah, tidak ada tatapan hangat seperti itu.
Wanita itu menggandeng Raka, berjalan ke arah Andre dan berdiri tepat di sisi lelaki itu dengan arah berlawanan.
“Andre, coba kamu pikir … kenapa aku gadis yang paling cantik di desa ini, anak orang kaya mau nikah sama kamu enam bulan yang lalu?”
“Dengar, aku nikah sama kamu buat nutupi kehamilan aku. Untungnya anak itu gugur sendiri. Asal kamu tau, itu hasil perbuatanku sama Raka. Kamu sering tanya kenapa aku gak bergairah? Aku jijik sama laki-laki miskin, yang gak perkasa di ranjang,” bisik Rumala.
Andre tersentak dan menoleh dengan wajah memerah, dia menatap lekat istrinya dengan penuh amarah.
“Aku? Lemah? Bukannya kamu mendesah dan teriak minta ampun waktu di bawah? Menjijikkan katamu? Kamu aja menggeliat kayak cacing,” balas Andre berbisik.
“Bukannya aku harus pura-pura biar kamu percaya kalo aku cinta sama kamu? Kalo aku puas, untuk apa aku selingkuh sama Raka? Lucu sekali.” Rumala tersenyum dan meninggalkan tempat itu bersama Raka.
Di tengah perasaan yang berkecamuk, Andre merasa dunia ini berputar cepat, membuatnya limbung dan mundur satu langkah. Bagaimana bisa dia tertipu dengan Rumala? Sikapnya dibuat seolah rapuh dan begitu mencintainya. Membuatnya selalu bersemangat menjual bakso demi membayar sewa rumah dan memenuhi keinginan istrinya, tidak peduli panas dan hujan, dia bahkan rela pulang larut malam demi dagangannya habis dan memberikan seluruh keuntungan dagangannya kepada istrinya tanpa meminta untuk kebutuhannya.
Yudha, mertua Andre melempar seluruh pakaian ke arah Andre, juga beberapa barang sambil mengomel dengan penuh hinaan.
“Kamu itu cuma numpang di rumah sewa ku ini, alah sok jadi korban segala. Pergi sana, bawa barang-barang busuk kamu ini!” hardik Yudha.
Andre tertawa sinis, dia teringat kerja keras selama ini demi bisa membayar sewa tepat waktu setiap bulan, dan kini mertuanya itu mengatakan bahwa dia hanya menumpang. Belum lagi bayangan istrinya yang memberikan tubuhnya secara gratis kepada lelaki lain, yang adalah putra Pak Kades.
Langit menjadi gelap pekat, angin berhembus kencang. suara guntur terdengar dari kejauhan.
“Aku bersumpah, kalian semua di sini akan berlutut dan mengemis cinta kepadaku. Terutama kalian menghinaku!” seru Andre dengan suara lantang.
Seketika petir menggelegar mengejutkan semua yang hadir di sana, seolah-olah turut mengamini sumpah Andre.
Suara cecap bibir dan erangan terdengar, tetapi tiba-tiba saja ponsel Bu Ram berdering. Melihat nama yang tertera di layar, wanita itu mendorong Andre.Bu Ram mengatur napasnya sedemikian rupa dan menerima telepon, Andre menunggu beberapa saat, lalu memeluk dan menciumi Bu Ram, tetapi agaknya pembicaraan itu penting. Andre memilih mengambil pakaiannya dan menuju kamar mandi dengan kondisi birahi yang menggantung.Andre sudah berpakaian rapi dan menuju kamar, ternyata dia tidak mendapati Bu Ram di sana.Pintu kiosnya sedikit terbuka, agaknya di buka perlahan dan seukuran tubuhnya saja. Lelaki itu memilih untuk beristirahat, sebab subuh harus ke pasar.Keesokan harinya, ketika Andre sedang meracik bumbu, pintu kiosnya digedor dan ditendang dengan keras dari luar, diiringi teriakan.“Woy, Andre! Keluar!” teriak seorang pria.Andre membuka kiosnya, dan tampak olehnya tiga pria bertubuh kekar dengan wajah sangar dan sepasang suami istri di belakang mereka.“Ada apa pagi-pagi udah ribut?” ta
Sudah tiga bulan tanpa sentuhan wanita, Andre akhirnya kalah juga dengan hasratnya sendiri. Tangannya memegang pinggang ramping Bu Ram, sementara tangan wanita itu begitu tidak sabar membuka kancing celana Andre. Tidak butuh waktu lama, keduanya kini bis bersentuhan dengan bebas, tanpa terhalang oleh sehelai benang pun.Andre mendorong tubuh Bu Ram perlahan ke ranjang, merentangkan kedua kaki itu, lalu lidahnya bermain di kawah millk Bu Ram.“Aaah,” desah Bu Ram sambil menjambak rambut Andre.Andre memiringkan tubuh Bu Ram, kemudian mulai memasukkan benda miliknya perlahan ke dalam kawah kenikmatan yang mulai basah itu.Andre menggerakkan pinggulnya perlahan, lalu mulai mempercepat ritmenya. Desahan dan racauan Bu Ram membuat Andre merasa tertantang, lelaki itu menghentikan aksinya, kemudian berdiri, menggendong Bu Ram yang kini kakinya melingkar di pinggang Andre. Lelaki itu kemudian mulai beraksi dengan senjata miliknya, memasuki kawah kenikmatan yang membuatnya candu. Bu Ram kemba
“Ibu-ibu bisa aja, saya jadi geer ngerasa ganteng sendiri,” balas Andre bergurau.Riuh tawa terdengar, kemudian beberapa pembeli mulai berdatangan, kembali kios yang tadinya dianggap angker itu kembali ramai.Para kaum hawa dari yang masih gadis yang sudah menikah, tidak henti menggoda Andre hingga pesanan selesai. Beberapa hanya bisa puas mencuri pandang, karena lapak dikuasai oleh para ibu.Sebuah mobil mewah berhenti di depan kios Andre, menarik perhatian sejenak lalu kembali beralih kepada Andre.Rumala turun dari mobil mengenakan kaca mata hitamnya dan tas jinjing yang cukup mahal bagi warga kampung sekitar. Wanita itu terkejut melihat penampilan Andre, tidak pagi kumuh, wajahnya tampak semakin tampan dan mempesona. Apalagi mengenakan celemek, menonjolkan bentuk tubuhnya yang menggoda.‘Mayang benar, Andre makin ganteng,’ pikir Rumala.“Aku kira siapa, cuma pedagang bakso yang diusir,” ejek Raka sambil melepas kaca mata hitamnya.“An-Andre …,” gumam Rumala.“Ngantri, Mbak. Kita j
“Hah? Maksudnya, Bu? Saya … Ibu?” tanya Andre terkejut.“Kenapa? Kayak gak pernah aja, mana ada kucing nolak ikan,” jawab Bu Ram dingin.Angin kencang datang, kemudian lampu padam. Namun, di teras dan ruang tengah lampu emergency menyala otomatis, hingga cahaya remang menyinari tempat Bu Ram dan Andre berada.Bu Ram duduk dengan pose menggoda, tidak hanya paha, bagian daging kenyal juga menyembul hingga setengahnya.Cuaca dan keadaan mendukung, ditambah godaan besar di depan, membuat hasrat lelaki Andre terusik. Bagian tubuh di dalam celana mulai meronta dan salah setelan, membuat Andre menutupi bagian tubuh di antara paha tersebut.“Bu Ram, saya … saya … permisi dulu.” Andre bergegas menuju teras samping.Andre mengambil keempat meja yang dia buat, dan membawanya dengan susah payah menuju kios hingga tubuhnya basah kuyup.“Huh, sok jual mahal. Eh … tunggu, kenapa aku birahi liat dia hari ini? Aneh,” gumam Bu Ram.Andre menyusun meja buatannya di atas tikar, dan tampak begitu senang.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.