Mag-log inLily had given everything, including her status for her mate, who was also her sister's ex. She thought he loved her until she caught him cheating on her with her sister. Furious and wanting to expose them, she was killed but refused to accept death. Lily demanded a second chance at life, to make things right and she got her wish but it came with it's own consequences. An Alpha had also been reborn to get his revenge on her and Lily must marry him if she wanted to successfully complete her revenge. But how does she cope with a man she despises more than anything, especially when he turns out to be her ex's cousin? Also what does the moongoddess have against her and why wasn't life going as planned? Wasn't she reborn to the past?
view moreRuangan besar yang disulap menjadi arena pertarungan terlihat ramai. Seruan tertahan, suara mengaduh, suara tepisan, bunyi berdebuk, terbanting, terpental, suara merintih, teriakan menyemangati, hingga teriakan bersahut-sahutan memenuhi langit-langit ruangan.
Satu-dua berseru dalam bahasa yang tidak dipahami bahkan oleg orang yang berdiri di sebelahnya. Wajah-wajah dan perawakan antarbangsa, wajah-wajah manusia bercampur tegang. Udara terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Sebab kapasitas ruangan tersebut sudah melebihi standarnya. Orang-orang tampak antusias berkerumun menonton pertarungan sengit malam ini. Menanti kehadiran seorang penantang spesial di club tarung malam ini. Dua petarung sedang jual-beli pukulan di tengah ruangan tinju. Arena pertandingan tanpa ring pemisah apalagi kerangkeng tertutup. Hanya lingkaran merah di atas lantai, berdiameter dua depa. Percik keringat petarung, dengus napas, suara bogem mentah menghantam badan, semuanya terdengar langsung, tanpa jarak. Penonton di sekitar lingkaran, berdesak-desakan. Tangan mereka terangkat menyemangati. Sebuah jenis pertunjukan yang mengesankan setiap mata pengunjung. Satu tinju lagi menghantam cepat rahang salah seorang petarung. Membuat penonton berseru tertahan, sebagian besar berseru girang, "Yes!". Sebagian mengeluh, "Oh,no!" Disusul tinju lainnya mengenai dagu, kali ini lebih telak. Sepersekian detik berlalu, penantang yang beberapa menit lalu masih terlihat segar bugar segera tumbang ke lantai. Knockout alias KO. Pengunjung serentak berteriak kegirangan, melontarkan kebisingan. Napas petarung satunya, yang masih berdiri kokoh di tengah arena, bahkan tidak terlihat tersengal sedikitpun. Hanya kausnya yang tampak sedikit basah oleh keringat. "Fantastico!" "Bravo!" Thom menelan ludah, melirik jam besar di tiang ruangan. Hanya dua menit lima belas detik lawan pertamanya dibuat tersungkur. "Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?!" Sebuah tangan menyingkut lengan Thom, berkata kencang, berusaha mengalahkan bising. Yang dipanggil Thom menoleh, menatap wajah menyebalkan disebelahnya. "Maksudku, jika kau mau, aku masih bisa membatalkan pertarungan. Aku bisa pergi ke mereka, mengarang-ngarang alasan. Kau sakit perut misalnya. Atau asmamu kambuh, mag kronis." Theo mengangkat bahu, menunjuk salah satu sudut kerumunan, tempat beberapa anggota klub petarung yang bertindak sebagai inspektur pertandingan malam ini. "Atau kita bisa mengarang cerita, tiba-tiba bisulmu pecah hahaha...." celetuknya di akhir. "Aku tidak akan membatalkan pertarungan" Thom menyergah Theo, memotong kalimatnya, "simpan omong kosongmu!" Tegas Thom di akhir kalimatnya. Theo tertawa ringan, menyeka peluh di pelipis. Salah satu inspektur pertandingan meraih pengeras suara. Dia mengenakan pakaian kerja seperti kebanyakan pengunjung lain, hanya kemejanya terlihat berantakan, keluar dari celana, lengan dilipat, dan dasi entah tersumpal di mana. Dengan bahasa inggris bercampur Portugis yang sama fasihnya, dia berseru tentang pertarungan yang baru saja selesai. "Luar biasa. Pertarungan yang luar biasa, ladies and gentlemen. Well, simpan teriakkan kalian. Pertarungan kedua akan segera dimulai. Kami sudah menyiapkan sang penantang lokal yang telah menunggu giliran bertaruk sejak setahun yang lalu." Inspektur berseru meneriakkan penantang berikutnya, wajahnya antusias menanti pertandingan berikutnya. Begitu pula dengan keramaian penonton di arena. Berseru berteriak penuh semangat seolah pertandingan ini adalah hiburan yang mengasyikkan. "Jangan lupa, seperti yang kami sebutkan pada pertemuan malam ini, kami telah menyiapkan kejutan besar di pertarungan terakhir, ladies and gentlemen. Ini sungguh kejutan hebat. Kalian pasti suka." Janji inspektur penuh semangat. Disambut dengan sorak-sorakkan pengunjung yang semakin menggema, mengudara dilangit-langit ruangan. Petarung yang masih bertahan di tengah lingkaran merah menolak duduk di kursi yang disediakan. Dia memilih berdiri, melemaskan bahunya. Sorot matanya tajam membekukan udara, mimik wajahnya datar tanpa ekspresi. Postur nya tegap, dan gerak-gerik tubuhnya stabil. Menunjukkan bahwa ia tidak sedikitpun terpengaruh oleh situasi sekitar. Sedangkan, penantang keduanya bersiap di tepi lingkaran. Dia memasang sarung tinju tipis dan pelindung kepala. Beberapa orang berseru menyemangati, menepuk-nepuk bahu. Detik-detik pertarungan semakin dekat. Suasana semakin panas. "Lee! Lee!" Nama sang juara bertahan diteriakkan beramai-ramai. "Ladies and gentlemen, inilah pertarungan kedua malam ini. Sang juara bertahan, Lee si monster, menghadapi penantang kedua, Chow." Glekkk....... Thom menelan salivanya kasar. Enam tahun mengikuti klub petarung di Jakarta, belum pernah ia menyaksikan seorang petarung begitu terkendali di depan matanya. Bukan postur badannya yang gagah meyakinkan atau gerakan tangan dan kakinya yang gesit mematikan di pertarungan sebelumnya. Sikap dan kehormatanlah yang membedakan seorang petarung sejati dengan petarung lainnya. Tidak ada yang tahu seberapa terhormat juara bertahan yang berdiri gagah di dalam lingkaran merah tersebut. Aku baru mengenalnya malam ini. Namun, menilik wajah dan tububnya, Lee memiliki sikap yang menakjubkan. "Lee! Lee! Monster! Monster!" Nama sang juara bertahan semakin keras diteriakkan. Lawan kedua Lee memasuki lingkaran merah arena tanding. Kedua petarung saling menempelkan tinju. Inspektur pertandingan berseru singkat tentang peraturan, mengangkat tangannya, dan memberikan tanda. Ketika kakinya melangkah kebelakang, pertandingan kedua malam ini telah resmi dimulai. Petarung kedua mengambil inisiatif melayang kan pukulannya terlebih dulu. Berputar-putar di tepi lingkaran merah. Gerakan tangannya cukup cepat. Dua, tiga, empat, lima, enam pukulan terkirim. Sang juara menghindari empat tinju sekaligus, tenang menangkis dua tinju lainnya. Lantas tanpa perlu mengambil kuda-kuda, dia bergerak maju, menyelinap di antara pukulan lawan, dan menghujamkan tinju kanannya, sepersekian detik. Sebelum penantangnya menyadari betapa terbuka pertahanannya, tinju itu telah menghantam dagunya. Ruangan terdiam, penonton menahan napas. Sang penantang terduduk di lantai, kemudian jatuh ke belakang mengaduh kesakitan. Selesai sudah. KO. "Yes!" "Bravo! Sensacional!" Seruan penonton bergema di langit-langit ruangan. Thom mengusap rambutnya. "Dia benar-benar monster." Theo untuk kesekian kalinya menyikut lengan Thom, kali ini suaranya terdengar cemas. Sepertinya tombol panik mulai aktif di kepalanya. Thom menggeleng pelan. Dia petarung sejati. Monster tidak bertarung dengan ketenangan luar biasa dan kalkulasi matang seperti itu. Dia bahkan bisa melihat pukulan-pukulan lawannya datang, lantas memilih pukulan balasan paling masuk akal untuk menganvaskan musuhnya dalam sebuah gerakan yang amat efisien. Tidak ada monster seperti itu, pastinya julukan monster tidak cocok dengan wajahnya yang bersih dan bersahabat. Dia lebih mirip aktor tampan china ketimbang dengan para ahli gulat dengan gelar monster. Sebutan itu hanya cocok dengan betapa dinginnya dia menghabisi lawan-lawannya. "Astaga, hanya tiga puluh detik. Itu rekor KO tercepat, jangan-jangan." Theo menatap jeri ke dalam lingkaran merah. Tempat sang penantang terkapar beberapa detik. Sang juara bertahan berjongkok, bersama inspektur pertandingan dan anggota klub petarung yang bertugas sebagai tim medis, membantu memeriksa apakah sang penantang baik-baik saja. Seruan-seruan semakin ramai di sekitar. Beberapa tertawa lebar karena menang bertaruh kedua kalinya malam ini. "Kamu harus berhati-hati, Thom." Theo menepuk pundak Thom sekali. Thom menolehkan kepalanya kekanan. "Sejak kapan kamu mencemaskanku?" Menatap Theo tak percaya.Kelvin “Get that fucking investigated!” I yelled, banging my fist on my desk. For the second time this week, our warehouse had been attacked, many of our wolves were injured and my goods lost. I grabbed Jay by his collar and pulled him close. “I do not like your incompetence these days, Jay! You're lacking out” I reminded him. “Alpha, we've lost power these days. Most of our elders who are our supporters have withdrawn their help, some even threatened to crown a new Alpha” he explained to me. I let go of him immediately. I knew where all of this was leading. I didn't have Luna yet. As a lycan, after an Alpha, a Luna is next then an heir. But I had none. Two years ago after I was crowned, Faye was nominated as the chosen lycan Luna of the pack but I never accepted her. She wasn't my mate and I wasn't attracted to her. We were childhood friends and she understands me better. I wasn't going to make her my Luna, but she stands in for now till I find my mate. I stood there in my of
LilyAfter yelling at me just to tell me he was my mate, I watch Kelvin grab my face in his palm, slowly caressing it. I didn't realize he'd care this much about me, or was it just because of the fact that I was his mate.“You do not know how long I've waited for this moment, for the moment I'd find my mate!” He said.I stared at his once cold eyes which now turned calm. He really was into me. But I couldn't understand, he was my nemesis, he hated me and wanted to kill me.“We can't accept this bond, Kelvin. You're the lycan King. My clan doesn't relate with yours. We do not go together, this is forbidden!” I declared but his grip on my chin tightened and his glare intensified.I didn't expect him to lean closer and kiss me. Kelvin wrapped his arm around my waist pulling me closer as he kissed me. My body turned cold asap and I felt the need to pee. It was more like I wanted him to bend me over and fuck me, which is weird because we aren't supposed to be doing this.The kissing didn't
LILY Kelvin and I locked eyes with each other, I can tell he felt the bond, or maybe not. He gazed away from me and continued with the wine in his hands. Soon, a blonde haired woman walked out of the blue, she hugged him tightly and clinged to him.“Kelvin, I've missed you” she said, the romantic moment went on and I just stared, pissed off and hurt. We were mates, this never should've happened. Now he's here, kissing some random woman and my chest hurts from seeing it.This was nothing but an obstruction to my plans. I needed an alliance not a lover. Kelvin gave me one last glance before he left with Blondie. They seemed close, I guess they were lovers.In my last life I can recall Kelvin having a childhood friend who was very close to him. I heard she committed suicide on the same day I had him executed. I feel sorry for doing that, if I wasn't deceived by Darius, I guess they both would've ended with a good fate. It's been a few minutes since they both left and I just stay there
Lily's POV.The feeling to kill him now grew stronger than ever as I paced my room while Kelvin made himself comfortable on my bed but I was way too pissed to even care. "You can't kill me yet." I told Kelvin who was still pointing the dagger at me again."And why not? I don't care about your revenge, I am here to get mine." He smirked and I sighed."How about we work together then?" I suggested and he looked like he was thinking it through."How?" "Help me crush your brother and my half-sister and I promise to let you kill me without a second thought afterwards." I answered and he got up from the bed, moving closer to me."Nice but what benefits do I gain?" He asked and I frowned, lost."Benefits?""Yes. You see, you are telling me to postpone my revenge plan for your sake so there has to be some benefits for my waiting." He explained."What do you want?" I went straight to the point and the side of his lips curled."You and this pack." He responded and my heart skipped a beat."Wh






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.