Mated (Mortal, Book Two)

Mated (Mortal, Book Two)

last updateLast Updated : 2023-09-08
By:  Bella LoreCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
28Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

MATED is book #2 in a new paranormal romance series by bestselling author Bella Lore, whose series MY TRUE MATE and THE ALPHA’S MATE have over 500 five-star reviews. <p><p>“I couldn’t stop reading.”<p>--Reader review (My True Mate)<p>⭐⭐⭐⭐⭐<p><p>When her father suddenly dies, Winter Grace, 17, is forced to fly across the country and attend a mysterious prep school, an ancient castle in a fog-covered island on the coast of Maine. Nothing here is what it seems, and it isn’t long before Winter, feeling a surging power for the first time, realizes that she is not who—or what—she thinks she is.<p><p>But when Winter feels an inexplicable crush for an elusive and dangerous boy at the school, she realizes a greater destiny is at play. She knows the relationship might destroy them both—yet she also knows that they can never be apart.<p><p>In MATED, Winter and her crush embark on a dangerous quest to retrieve the magic relic and save their friends their school.<p><p>Yet they have no idea of the fate awaiting them—or what they will need to do for each other to survive.<p><p>Creating an unforgettable world of vampires, werewolves, shifters and magic of all sorts, a world of fantasy, love and sacrifice, MORTAL will take you to another place, rife with shocking twists and turns. Fans of books such as Vampire Academy and Twilight and Crush are sure to fall in love!<p><p>Future books in the series are also available.<p><p>"The story was very well written and was unique as compared to other shifter stories.”<p>--Reader review (The Alpha’s Mate)<p>⭐⭐⭐⭐⭐<p> <p>“Excellent from start to finish and leaves you wanting more.”<p>--Reader review (My True Mate)<p>⭐⭐⭐⭐⭐<p><p>

View More

Chapter 1

CHAPTER ONE

Kota Ravenshire, Larut Malam

Ellara Veloz duduk di tepi ranjangnya, terengah-engah dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Mimpi itu datang lagi. Bukan sekadar bunga tidur, tapi pesan yang terasa begitu nyata.

Seorang pria tua—wajahnya samar, suaranya serak dan berat—berbisik di telinganya, "Pergilah ke desa itu. Ada sesuatu yang harus kau temukan."

Lalu, bayangan sebuah rumah tua muncul. Loteng berdebu. Sebuah peti kayu tua. Tangannya meraba kunci yang tertanam di dalamnya, sebelum semuanya menghilang dalam kabut pekat.

El menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan ketukan aneh di dadanya. Ini bukan pertama kalinya ia bermimpi seperti itu. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

"Desa tempat kakek tinggal…" bisiknya pada dirinya sendiri.

Ia menyalakan lampu meja dan meraih laptopnya. Beberapa pencarian di internet tentang desa itu tidak menghasilkan banyak informasi. Tempat itu hampir tidak terdokumentasikan. Hanya ada beberapa artikel lama tentang seorang pria tua yang tinggal di sana bertahun-tahun lalu.

Kakeknya.

Tanpa pikir panjang, keesokan paginya El mulai bersiap. Ia memasukkan beberapa pakaian, jurnal catatannya, dan kamera kecil ke dalam ransel. Perjalanan ini bisa jadi hanya omong kosong, tapi perasaannya mengatakan sebaliknya.

Saat El menuruni tangga rumahnya, suara ketukan di pintu depan membuatnya terhenti. Ia menghela napas sebelum membukanya.

Di ambang pintu, seorang pria berdiri dengan tangan bersedekap, alisnya berkerut tajam. Julian Edward.

“Jadi kau benar-benar akan pergi?” suaranya terdengar setengah kesal, setengah khawatir.

El mengangguk, “Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Mungkin hanya perasaan aneh yang tidak berdasar.”

Julian mendengus. “Desa asing di antah berantah, seorang diri, tanpa informasi yang jelas. Itu bukan sekadar ‘perasaan aneh’, El. Itu gila.”

“Aku baik-baik saja. Lagipula, aku hanya ingin melihat-lihat. Mungkin aku akan kembali ke sini dalam sehari.”

Julian menatapnya lama, seakan menimbang-nimbang sesuatu. “Biar aku ikut.”

El langsung menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu, Julian. Kau punya pekerjaan, dan aku yakin ini bukan hal yang penting.”

Julian memijit pelipisnya. “El, ini bukan tentang pekerjaan. Aku hanya tidak suka ide kau pergi sendirian ke tempat yang bahkan belum pernah kau kunjungi.”

El tersenyum kecil. “Aku sudah dewasa, Julian. Aku bisa menjaga diri sendiri.”

Julian menghela napas panjang, tahu betapa keras kepalanya sahabatnya itu. “Setidaknya, tetap terhubung denganku. Jika ada sesuatu yang aneh, hubungi aku segera.”

El mengangguk sebelum melangkah keluar, tidak menyadari bahwa keputusan ini akan mengubah hidupnya.

Karena sesuatu—atau seseorang—sedang menunggu di desa itu. Dan rahasia yang terkubur di loteng kakeknya bukan hanya miliknya seorang.

Julian yang khawatir dengan El bersedekap di ambang pintu, wajahnya masih penuh tekad meskipun El telah menolak keikutsertaannya berkali-kali.

"Aku ikut, El."

El menghembuskan napas panjang, menyandarkan tubuhnya di dinding. "Julian, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku tidak mau merepotkanmu."

Julian menatapnya tajam. "Bukan soal merepotkan. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri ke tempat yang bahkan kau sendiri tidak tahu apa yang menunggumu di sana."

El diam. Ia tahu Julian keras kepala, dan semakin ia menolak, semakin pria itu akan berusaha membantah. Pada akhirnya, ia menyerah.

"Baiklah, terserah. Tapi kau yang nyetir," ujar El sambil melemparkan kunci mobil ke tangan Julian.

Julian menangkapnya dengan mudah, menyeringai kecil. "Keputusan yang bijak."

Mereka memasukkan barang bawaan ke bagasi, lalu melangkah masuk ke dalam mobil. Begitu mesin dinyalakan dan mobil melaju di jalan raya, El hanya duduk diam, menatap kosong ke luar jendela.

Julian meliriknya sejenak sebelum membuka suara. "Apa yang kau pikirkan?"

El menggeleng pelan. "Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yang… aneh. Mimpi itu terasa begitu nyata."

Julian menghela napas. "Dan kau memilih mengejarnya, ke desa yang bahkan tidak ada di peta?"

El tersenyum tipis. "Bukankah itu menarik?"

Julian mendengus. "Kau benar-benar tidak berubah."

Sejenak, hening menyelimuti mereka. Julian diam-diam melirik El. Gadis itu memang keras kepala, tapi itulah yang membuatnya semakin peduli. Ia sudah lama menyimpan perasaan untuk El, sejak SMA. Tapi ia lebih memilih berada di sisinya sebagai sahabat daripada mengambil risiko merusak hubungan mereka.

Untuk mencairkan suasana, Julian akhirnya menyalakan musik. "Setidaknya, kita bisa menikmati perjalanan enam jam ini dengan sedikit hiburan."

El hanya tersenyum kecil, membiarkan Julian mengendalikan perjalanan.

---

Peristirahatan Pertama

Setelah dua jam berkendara, perut mereka mulai memberontak. Mereka memutuskan berhenti di sebuah rest area kecil di pinggir jalan.

"Kita makan dulu, sebelum aku berubah jadi monster kelaparan," kata Julian sambil keluar dari mobil.

El tertawa kecil. "Aku juga butuh kopi."

Mereka memasuki sebuah warung sederhana dan memesan makanan. Sambil menunggu, El menyandarkan kepalanya di meja.

"Kau yakin tidak mau kembali saja?" Julian bertanya, setengah bercanda, setengah serius.

El mengangkat kepalanya, menatap Julian dengan alis terangkat. "Kalau aku bilang iya, kau juga akan ikut mundur?"

Julian tersenyum miring. "Tentu tidak."

El tertawa kecil. "Itu dia. Jadi kita tetap melanjutkan perjalanan."

Setelah makan, mereka membeli beberapa botol air dan camilan sebelum kembali ke mobil.

.

.

Peristirahatan Terakhir

Enam jam perjalanan berlalu, mereka akhirnya tiba di rest area terakhir sebelum memasuki desa yang mereka tuju. Mereka turun untuk membeli makanan ringan sebagai bekal.

Saat itulah El menyadari sepasang suami istri tua yang berdiri tak jauh dari mereka, memperhatikan dengan seksama. Awalnya, El mengabaikannya. Tapi ketika pasangan itu perlahan berjalan mendekat, ia mulai merasa sedikit gelisah.

"Kalian hendak ke mana?" tanya pria tua itu dengan nada hati-hati.

Julian langsung menjawab, "Kami menuju desa A."

Ekspresi pria itu langsung berubah, seperti kebingungan sekaligus khawatir. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menoleh pada istrinya, lalu tanpa sepatah kata pun, mereka berdua pergi begitu saja.

El dan Julian saling bertukar pandang.

"Apa itu tadi?" tanya El.

Julian mengangkat bahu. "Tidak tahu. Tapi sepertinya mereka terkejut saat mendengar tujuan kita."

El mengernyit, tetapi akhirnya menggeleng. "Lupakan saja. Mungkin hanya kebetulan."

Mereka kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan.

Beberapa kilometer kemudian, mereka melihat sebuah gerbang kayu besar dengan papan tua bertuliskan:

"Selamat Datang di Desa XXX."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
28 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status