LOGINLaila is just one of the many Omegas of the Grey Marsh pack, a werewolf pack widely renowned for their savage brutality. A brutality that - for some members at least - isn't only aimed at outsiders. But as fierce as Grey Marsh are among werewolves, even they tread carefully when it comes to the Lycans that inhabit the mountains to their west. They, too, are feared and avoided by others of their kind, and a werewolf is no match for the raw, brutal power of a Lycan. Or are they? She's about to find out..
View MoreJam dinding di ruang tamu yang catnya mulai menguning itu berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian Kinan. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke ulu hati. Kinan menatap nanar ke arah meja makan. Di sana, di bawah tudung saji plastik berwarna merah pudar, tersaji rendang daging yang bumbunya sudah mengental dan menghitam. Ia memasaknya sejak siang, dengan telaten mengaduk santan berjam-jam sampai lengannya pegal, hanya karena ingat Aris pernah bilang rindu masakan rumah setelah seminggu dinas di luar kota.
Kinan melirik ponselnya. Layar itu gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada panggilan masuk. Padahal, tiga jam lalu Aris mengabarkan sudah mendarat di bandara. Jarak bandara ke rumah mereka seharusnya hanya memakan waktu satu jam jika lalu lintas bersahabat. Namun, ini sudah masuk jam kesembilan malam. Ia mencoba bangkit, merapikan daster sutranya yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Ia sengaja berdandan sedikit malam ini. Memoles bedak tipis dan memakai lipstik merah muda yang biasanya disukai Aris. Ia ingin menyambut suaminya bukan hanya sebagai pelayan rumah tangga, tapi sebagai seorang istri yang rindu didekap. Tepat saat ia hendak melangkah ke dapur untuk memanaskan air, suara deru mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan pagar. Jantung Kinan berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba membuang raut lelah dari wajahnya, dan menggantinya dengan senyum paling manis yang ia punya. Pintu terbuka. Aris masuk dengan kemeja biru yang sudah kusut di bagian siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya berbinar. Tapi binarnya bukan untuk Kinan. "Mas, sudah pulang?" Kinan mendekat, hendak meraih tas kerja Aris. Namun, Aris sedikit menghindar. "Eh, Nan. Iya, baru sampai. Capek banget." Sebelum Kinan sempat bertanya kenapa dia terlambat, sosok lain muncul dari balik punggung Aris. Seorang wanita tua dengan sanggul kecil yang mulai berantakan dan tas belanjaan bermerek yang menggantung di lengannya. Bu Ratmi, ibu mertua Kinan. "Aduh, Aris, kakinya Ibu pegal banget. Restoran tadi ramai sekali ya, harus antre lama cuma buat seporsi soto betawi," keluh Bu Ratmi sambil langsung meloyor masuk dan duduk di kursi ruang tamu, seolah Kinan hanya patung selamat datang yang tidak punya nyawa. Kinan mematung. Tangannya yang masih menggantung di udara perlahan turun, meremas pinggiran dasternya. "Restoran? Mas... aku kan sudah masak rendang favorit kamu. Aku tungguin dari sore." Aris menoleh, menatap meja makan sekilas, lalu kembali menatap ibunya yang sedang memijat kaki. "Maaf ya, Nan. Tadi pas di jalan, Ibu telepon. Katanya kangen banget sama aku, terus ngeluh kakinya sakit kalau masak sendiri. Jadi aku jemput dulu sekalian makan di luar. Kasihan Ibu, dia bilang sudah lama nggak makan enak sejak aku dinas." "Tapi kamu bisa kabari aku dulu, Ris. Aku nungguin kamu sampai makanannya dingin," suara Kinan mulai bergetar. Ada rasa panas yang merambat ke matanya. "Halah, Nan. Cuma makanan dingin kan tinggal dipanasin," Bu Ratmi memotong dengan suara melengkingnya yang khas. "Aris ini anak Ibu. Wajar kalau dia mengutamakan Ibunya yang sudah tua ini. Kamu jangan jadi istri yang perhitungan. Lagian, tadi Aris belikan kamu martabak manis itu di mobil, masih ada sisanya sedikit. Makan saja itu kalau lapar." Aris meletakkan bungkusan plastik putih berminyak di atas meja makan, tepat di samping piring rendang yang Kinan buat dengan penuh cinta. "Iya, Nan. Dimakan ya. Aku kenyang banget, tadi Ibu pesankan porsi besar buat aku. Sekarang aku mau antar Ibu ke kamar tamu dulu, dia mau menginap di sini beberapa hari." Tanpa menunggu jawaban Kinan, Aris merangkul bahu ibunya dan membimbingnya menuju kamar. Kinan berdiri sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari kulkas. Ia melihat bungkusan martabak itu. Benar saja, di dalamnya hanya tersisa dua potong martabak yang sudah layu, sisa dari pesta kecil suaminya dan sang ibu. Kinan duduk di kursi kayu. Ia mengambil sepotong rendang yang ia masak dengan susah payah, memasukkannya ke mulut tanpa nasi. Rasanya asin. Bukan karena bumbunya, tapi karena air matanya yang jatuh tepat di atas piring. Malam semakin larut. Setelah memastikan ibunya terlelap dan mendapatkan kompres air hangat untuk kakinya, Aris masuk ke kamar mereka. Ia melihat Kinan sudah berbaring memunggungi pintu, menyelimuti tubuhnya hingga leher. Aris melepas jam tangannya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Ia bisa mencium aroma parfum Kinan, aroma yang seharusnya memicu gairah, tapi malam ini aroma itu tertutup oleh bau minyak kayu putih yang menempel di baju Aris—bau yang tertular dari ibunya. "Nan... kamu marah?" bisik Aris sambil memeluk pinggang Kinan dari belakang. Kinan diam. Ia mengatur napasnya agar tidak terdengar sesenggukan. Tangan Aris mulai bergerak liar, masuk ke dalam daster sutra Kinan. "Maaf ya buat tadi. Aku cuma nggak enak sama Ibu. Kamu tahu kan, sejak Bapak meninggal, cuma aku yang dia punya. Jangan cemburu sama orang tua sendiri, itu nggak baik." Aris mulai menciumi tengkuk Kinan. Ciumannya terasa teknis, seperti rutinitas yang harus diselesaikan agar tugasnya sebagai suami hari ini tuntas. Kinan tidak menolak, ia membiarkan Aris melakukan apa pun yang ia mau. Namun, hatinya tetap berada di meja makan tadi, menatap martabak sisa yang dingin. Saat Aris bergerak di atasnya, di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara napas yang memburu, Kinan merasa dirinya seperti sebuah wadah kosong yang sedang digunakan. Aris tidak menatap matanya. Aris hanya menatap kegelapan, seolah-olah ia sedang memejamkan mata untuk membayangkan tempat lain. "Besok pagi, tolong buatin Ibu bubur sumsum ya, Nan," gumam Aris di sela ciumannya. "Ibu bilang kangen masakan kamu yang itu. Terus, jangan lupa bajunya Ibu dicuci pakai tangan saja, katanya kalau pakai mesin cuci nanti serat kainnya rusak." Kinan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perih. Tapi tidak sepedih kenyataan bahwa suaminya sedang berada di dalam tubuhnya, namun pikirannya sepenuhnya milik wanita lain di kamar sebelah. Aris memperlakukannya seolah-olah Kinan adalah perpanjangan tangan dari baktinya kepada ibunya. Seolah-olah pernikahan ini hanyalah cara Aris untuk mendapatkan asisten rumah tangga gratis yang bisa ia tiduri kapan saja. Ketika semuanya selesai, Aris segera berbalik badan dan jatuh tertidur dalam hitungan menit, mendengkur halus karena kelelahan. Kinan bangkit perlahan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin membasuh tubuhnya, mencoba menghapus jejak sentuhan Aris yang terasa seperti racun. Ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun. Matanya merah, lipstiknya sudah berantakan. Kinan bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan ia harus menjadi bayangan di rumahnya sendiri? Sampai kapan ia harus menelan racun ini demi memberikan madu bagi orang lain? Di bawah guyuran air, Kinan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Suaranya teredam oleh bunyi air yang jatuh ke lantai, menyamarkan rasa sakit yang tidak akan pernah dipahami oleh laki-laki yang sedang tidur nyenyak di balik pintu itu. Besok adalah hari baru, dan Kinan tahu, besok pun ia masih akan menjadi orang asing yang paling rajin di rumah ini.After that, everything else began to happen all at once. A blurry, chaotic, storm of events, as attacks began, from their side, and then ours, as our patrols began to hit their more isolated groups, using the terrain they knew so well to take them by surprise. We weakened them quickly there, while our sentries weakened those who dared attack our home, the few who broke through meeting Tyson and his teams, and finding themselves overwhelmingly outmatched. As the sun went down, they only grew more desperate and disorganised, the attacking groups growing smaller, weaker, and far less confident. Within a few hours, Marcus had his original patrols hunting down the remnants of Yannick's pack. Yannick himself was captured as he tried to flee, and his Beta, Sean, was killed as he led a dismal final attempt to attack our home. It was almost dawn again when Yannick was brought before us, greatly wounded in both pride and body. Cole, Finn, and I stared down at him with disdain, while we awaite
Dorian reached up to wipe my tears with his thumbs, a look of sorrow-filled sympathy on his face, "I promise you, we'll help him as best we can," he said softly, "but your pack still needs you, you need to help them." I stared at him wide eyed, not feeling like I could help anyone right now, but he cupped my cheeks gently, giving me an encouraging nod. "I.. but.." I stammered, looking around and seeing so many uncertain faces looking right back at me, and I knew that it was me who needed to give them certainty again. He stepped back, organising for Thane to be taken to the hospital, and I shook my head sadly, taking several long deep breaths and closing my eyes for a moment, before speaking again. "I need reports," I said more firmly, "I need to know what's happening with the incursions, and.." I paused for a moment again, trying to clear my head enough to focus. "The sentries, they need to report to Finn now," I said, looking up at him. His face was pale, so very pale, and shocked,
Samantha seemed to find some determination from somewhere though, straightening her posture even as her companion fell forward, his face hitting the ground with a soft thud. She suddenly dropped her hand, allowing the metal piece to move towards her, before suddenly raising both, trying to thrust it towards me with everything she had. I screamed wordlessly, letting that rage rush through me again, wildly, as I raised both hands, thrusting them towards her. I could see the fear in her eyes as the object raced towards her, and unable to stop it, she ducked, and it shot right past her, barely missing her companions, and out of sight. She turned to me as she straightened again, but her eyes were drawn to the same thing that had caught my own attention. From Thane's slowly stirring body, a dark figure had formed, leaving his body and hovering above it. "What are you doing?!" Samantha screamed at it, sounding hysterical, "She's right there! Take her!" She pointed at me, but nothing rushed
"Where?" asked Finn, and I frowned at him, "Right there, in the middle, Thane's walking over to her.." I stopped as he exchanged a look with Jess, both of them looking puzzled. "The young blonde kid?" Jess asked, and I stared at her in bewilderment, "What young blonde kid? I mean the black haired woman, standing in the middle of the group waiting for Thane." Finn stopped walking, grabbing my arm and turning me towards him, "You see a black haired woman standing there?" he asked, as he and Jess both frowned at me in confusion. "Yes.. don't you?" I asked, suddenly feeling uncertain, and they both shook their heads looking concerned. "No.." Jess began, looking thoughtful, "Do you think.. could she be masking herself somehow?" she asked, looking up at Finn. "I don't know.." he said, as he rubbed his chin, seeming to consider the idea, then lifted a brow, looking over behind us, "but I know someone who would," he added, and I turned, seeing Elyanna over at the edge of the green, closer t
He lowered his head, resting his forehead gently on mine, and smiled again. "Finally," he said softly, as he cupped my face gently, pressing his lips to mine. I closed my eyes, returning his kiss, enjoying the intimate moment with him, and he slowly deepened it, our tongues entwining as our feelings
I nodded sadly and tried to push my way from between the two of them, but they only closed in around me more. Cole held my face gently, tilting it up towards him, "I'm so sorry, little mate, I had no idea," he said softly, a look of both guilt and sorrow on his face. I shook my head gently, trying t
The four of us spent the rest of the morning shopping. Cole and Finn were actually pretty great company, and seemed to get along well with Sam too. He kept giving me these small, approving glances, and I couldn't help but smile. Cole and Finn would often take turns to disappear, heading off to dif
As we finally pulled into the carpark of Greenvale's larger shopping mall, Sam reached over and ruffled my hair, that was already looking a little windblown. After I got out of the car, I tried to straighten it a little in the car window's reflection, and suddenly there were two extra reflections e
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore