Mated to Three

Mated to Three

last updateLast Updated : 2022-07-25
By:  Lana TyrsenCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
21 ratings. 21 reviews
85Chapters
75.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Laila is just one of the many Omegas of the Grey Marsh pack, a werewolf pack widely renowned for their savage brutality. A brutality that - for some members at least - isn't only aimed at outsiders. But as fierce as Grey Marsh are among werewolves, even they tread carefully when it comes to the Lycans that inhabit the mountains to their west. They, too, are feared and avoided by others of their kind, and a werewolf is no match for the raw, brutal power of a Lycan. Or are they? She's about to find out..

View More

Chapter 1

One

Jam dinding di ruang tamu yang catnya mulai menguning itu berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian Kinan. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke ulu hati. Kinan menatap nanar ke arah meja makan. Di sana, di bawah tudung saji plastik berwarna merah pudar, tersaji rendang daging yang bumbunya sudah mengental dan menghitam. Ia memasaknya sejak siang, dengan telaten mengaduk santan berjam-jam sampai lengannya pegal, hanya karena ingat Aris pernah bilang rindu masakan rumah setelah seminggu dinas di luar kota.

​Kinan melirik ponselnya. Layar itu gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada panggilan masuk. Padahal, tiga jam lalu Aris mengabarkan sudah mendarat di bandara. Jarak bandara ke rumah mereka seharusnya hanya memakan waktu satu jam jika lalu lintas bersahabat. Namun, ini sudah masuk jam kesembilan malam.

​Ia mencoba bangkit, merapikan daster sutranya yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Ia sengaja berdandan sedikit malam ini. Memoles bedak tipis dan memakai lipstik merah muda yang biasanya disukai Aris. Ia ingin menyambut suaminya bukan hanya sebagai pelayan rumah tangga, tapi sebagai seorang istri yang rindu didekap.

​Tepat saat ia hendak melangkah ke dapur untuk memanaskan air, suara deru mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan pagar. Jantung Kinan berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba membuang raut lelah dari wajahnya, dan menggantinya dengan senyum paling manis yang ia punya.

​Pintu terbuka. Aris masuk dengan kemeja biru yang sudah kusut di bagian siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya berbinar. Tapi binarnya bukan untuk Kinan.

​"Mas, sudah pulang?" Kinan mendekat, hendak meraih tas kerja Aris.

​Namun, Aris sedikit menghindar. "Eh, Nan. Iya, baru sampai. Capek banget."

​Sebelum Kinan sempat bertanya kenapa dia terlambat, sosok lain muncul dari balik punggung Aris. Seorang wanita tua dengan sanggul kecil yang mulai berantakan dan tas belanjaan bermerek yang menggantung di lengannya. Bu Ratmi, ibu mertua Kinan.

​"Aduh, Aris, kakinya Ibu pegal banget. Restoran tadi ramai sekali ya, harus antre lama cuma buat seporsi soto betawi," keluh Bu Ratmi sambil langsung meloyor masuk dan duduk di kursi ruang tamu, seolah Kinan hanya patung selamat datang yang tidak punya nyawa.

​Kinan mematung. Tangannya yang masih menggantung di udara perlahan turun, meremas pinggiran dasternya. "Restoran? Mas... aku kan sudah masak rendang favorit kamu. Aku tungguin dari sore."

​Aris menoleh, menatap meja makan sekilas, lalu kembali menatap ibunya yang sedang memijat kaki. "Maaf ya, Nan. Tadi pas di jalan, Ibu telepon. Katanya kangen banget sama aku, terus ngeluh kakinya sakit kalau masak sendiri. Jadi aku jemput dulu sekalian makan di luar. Kasihan Ibu, dia bilang sudah lama nggak makan enak sejak aku dinas."

​"Tapi kamu bisa kabari aku dulu, Ris. Aku nungguin kamu sampai makanannya dingin," suara Kinan mulai bergetar. Ada rasa panas yang merambat ke matanya.

​"Halah, Nan. Cuma makanan dingin kan tinggal dipanasin," Bu Ratmi memotong dengan suara melengkingnya yang khas. "Aris ini anak Ibu. Wajar kalau dia mengutamakan Ibunya yang sudah tua ini. Kamu jangan jadi istri yang perhitungan. Lagian, tadi Aris belikan kamu martabak manis itu di mobil, masih ada sisanya sedikit. Makan saja itu kalau lapar."

​Aris meletakkan bungkusan plastik putih berminyak di atas meja makan, tepat di samping piring rendang yang Kinan buat dengan penuh cinta. "Iya, Nan. Dimakan ya. Aku kenyang banget, tadi Ibu pesankan porsi besar buat aku. Sekarang aku mau antar Ibu ke kamar tamu dulu, dia mau menginap di sini beberapa hari."

​Tanpa menunggu jawaban Kinan, Aris merangkul bahu ibunya dan membimbingnya menuju kamar. Kinan berdiri sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari kulkas. Ia melihat bungkusan martabak itu. Benar saja, di dalamnya hanya tersisa dua potong martabak yang sudah layu, sisa dari pesta kecil suaminya dan sang ibu.

​Kinan duduk di kursi kayu. Ia mengambil sepotong rendang yang ia masak dengan susah payah, memasukkannya ke mulut tanpa nasi. Rasanya asin. Bukan karena bumbunya, tapi karena air matanya yang jatuh tepat di atas piring.

​Malam semakin larut. Setelah memastikan ibunya terlelap dan mendapatkan kompres air hangat untuk kakinya, Aris masuk ke kamar mereka. Ia melihat Kinan sudah berbaring memunggungi pintu, menyelimuti tubuhnya hingga leher.

​Aris melepas jam tangannya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Ia bisa mencium aroma parfum Kinan, aroma yang seharusnya memicu gairah, tapi malam ini aroma itu tertutup oleh bau minyak kayu putih yang menempel di baju Aris—bau yang tertular dari ibunya.

​"Nan... kamu marah?" bisik Aris sambil memeluk pinggang Kinan dari belakang.

​Kinan diam. Ia mengatur napasnya agar tidak terdengar sesenggukan.

​Tangan Aris mulai bergerak liar, masuk ke dalam daster sutra Kinan. "Maaf ya buat tadi. Aku cuma nggak enak sama Ibu. Kamu tahu kan, sejak Bapak meninggal, cuma aku yang dia punya. Jangan cemburu sama orang tua sendiri, itu nggak baik."

​Aris mulai menciumi tengkuk Kinan. Ciumannya terasa teknis, seperti rutinitas yang harus diselesaikan agar tugasnya sebagai suami hari ini tuntas. Kinan tidak menolak, ia membiarkan Aris melakukan apa pun yang ia mau. Namun, hatinya tetap berada di meja makan tadi, menatap martabak sisa yang dingin.

​Saat Aris bergerak di atasnya, di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara napas yang memburu, Kinan merasa dirinya seperti sebuah wadah kosong yang sedang digunakan. Aris tidak menatap matanya. Aris hanya menatap kegelapan, seolah-olah ia sedang memejamkan mata untuk membayangkan tempat lain.

​"Besok pagi, tolong buatin Ibu bubur sumsum ya, Nan," gumam Aris di sela ciumannya. "Ibu bilang kangen masakan kamu yang itu. Terus, jangan lupa bajunya Ibu dicuci pakai tangan saja, katanya kalau pakai mesin cuci nanti serat kainnya rusak."

​Kinan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perih. Tapi tidak sepedih kenyataan bahwa suaminya sedang berada di dalam tubuhnya, namun pikirannya sepenuhnya milik wanita lain di kamar sebelah. Aris memperlakukannya seolah-olah Kinan adalah perpanjangan tangan dari baktinya kepada ibunya. Seolah-olah pernikahan ini hanyalah cara Aris untuk mendapatkan asisten rumah tangga gratis yang bisa ia tiduri kapan saja.

​Ketika semuanya selesai, Aris segera berbalik badan dan jatuh tertidur dalam hitungan menit, mendengkur halus karena kelelahan. Kinan bangkit perlahan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin membasuh tubuhnya, mencoba menghapus jejak sentuhan Aris yang terasa seperti racun.

​Ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun. Matanya merah, lipstiknya sudah berantakan. Kinan bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan ia harus menjadi bayangan di rumahnya sendiri? Sampai kapan ia harus menelan racun ini demi memberikan madu bagi orang lain?

​Di bawah guyuran air, Kinan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Suaranya teredam oleh bunyi air yang jatuh ke lantai, menyamarkan rasa sakit yang tidak akan pernah dipahami oleh laki-laki yang sedang tidur nyenyak di balik pintu itu.

​Besok adalah hari baru, dan Kinan tahu, besok pun ia masih akan menjadi orang asing yang paling rajin di rumah ini.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ratings

10
100%(21)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
21 ratings · 21 reviews
Write a review

reviewsMore

Yayoi Hime
Yayoi Hime
Good read. I would love a Jake and Sam story too.
2023-05-11 05:33:48
0
0
Chrissie Slabberts
Chrissie Slabberts
Awesome story. Loved it. Compliments to the author.
2023-05-08 20:16:17
0
0
Heather Geffken
Heather Geffken
This is one of my favorite books I've read on the platform. I will say I wish the wolves had been a bigger part of the story and I also wish we learned more of what royal blood abilities Laila has.
2023-03-13 23:18:56
2
1
Jacqueline Herndon
Jacqueline Herndon
great book. I really enjoyed this story and the main character
2023-01-22 01:57:15
1
1
Vallen
Vallen
Loved it! A great little book :)
2023-01-20 03:25:23
1
1
85 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status