Masuk"Ah, Lulu, kamu akhirnya bangun!" Lola berseru dengan suara berbisik penuh kemenangan, matanya yang berwarna musim semi berbinar-binar. Dengan gerakan jenaka, dia bersandar ke bahu temannya itu, seakan-akan menyematkan medali kejuaraan imajiner di sana. "Dan, sesuai keputusan dewan juri mimpi, Lola memenangkan pertandingan bangun tidur kali ini! Karena Lola yang terbangun lebih dulu."
Lulu, yang matanya berwarna kabut musim dingin itu, hanya memandang Lola dengan ekspresi datar yang penuh kesabaran. "Lola," bibirnya bergerak-gerak dengan suara lembut namun jelas, masih berbalut sisa kekentalan tidur, "Kamu sungguh-sungguh tidak dewasa. Aku tidak ingat pernah menyetujui pertandingan seperti itu." Dengan gerakan halus, dia mendorong perlahan tubuh Lola yang bersandar. Badannya masih terasa berat dan hangat oleh sisa-sisa selimut mimpi. Siapa pula yang bisa memikirkan gagasan aneh bahwa tidur adalah sebuah kompetisi? Bagi Lulu, tidur adalah periode pemulihan yang logis dan diperlukan. Dia mengambil bantal guling-yang dia gunakan untuk menyandarkan kepalanya-dan meletakkannya dengan tegas di sampingnya, menciptakan sebuah benteng kain kecil antara dirinya dan "sumber energi tak terbatas" yang bernama Lola. Tertawa ringan seperti gemerisik daun, Lola justru menyambut gerakan itu dengan santai. "Haha, Lulu, itu karena kita memang belum dewasa! Kita masih berusia enam tahun, ingat?" Dengan lincah, dia merebut bantal guling itu dari tangan Lulu dan segera memeluknya erat, seolah bantal itu adalah tawanan perang yang lucu. "Masa kecil untuk bersenang-senang, kata Kakek." Lulu tidak marah, kemarahan membutuhkan energi yang sia-sia. Dia hanya merasa sedikit terganggu, namun sudah terlalu akrab dengan tingkah Lola yang dianggapnya terlalu flamboyan dan, secara objektif, "Sangat boros energi". Namun, di balik wajah tenangnya, pikiran Lulu melayang ke siang tadi. Saat mereka bermain di kolam renang hotel yang berkilauan itu. Dan jujur, jika ada yang mengamati dengan saksama, Lulu adalah orang kedua yang paling bersemangat di antara mereka bertiga. Bukan semangat yang meledak-ledak seperti Lola yang seolah-olah ingin menguapkan seluruh air kolam dengan tawanya, melainkan semangat yang terukur, intens, dan penuh tujuan. Baginya, akan sangat tidak efisien dan membuang-buang kesempatan jika dia tidak memanfaatkan fasilitas kolam renang yang bagus itu dengan serius. Apalagi, biaya masuk kolam itu ditanggung oleh keluarga Lola-menolak bermain dengan sungguh-sungguh akan merupakan bentuk ketidaksopanan terselubung. Jadi, dia berenang... berlatih berenang, mencoba setiap seluncuran, dan mengamati gelembung udara dengan konsentrasi penuh. Alasannya menjadi yang kedua paling bersemangat punya sebab yang sangat konkrit. Sebabnya adalah orang ketiga dalam kelompok mereka, yang saat ini masih terlelap nyenyak di sebelah kiri Lola. Gadis kecil itu tengkurap, dengan lengan mungilnya erat memeluk boneka kelinci kesayangannya yang berwarna... merah muda menyala. Lulu memandang boneka itu dengan sebelah mata, dan perasaan tidak nyaman yang familiar muncul. Dia mengerutkan hidungnya yang mungil secara halus. Kelinci berwarna pink? Dalam pengamatannya terhadap dunia nyata-melalui buku ensiklopedia anak-anak favoritnya-dia hanya pernah menemukan kelinci berwarna putih, hitam, coklat, atau abu-abu. Tidak ada satupun yang merah jambu terang. Kesimpulannya jelas, si penjual boneka pasti telah melakukan "pelanggaran faktual" dan "hiperbolisasi warna" yang keterlaluan hanya untuk membuat dagangannya lebih menarik. Itu adalah kepalsuan yang tidak perlu, dan Lulu, dengan prinsip integritasnya yang kokoh untuk seorang gadis enam tahun, merasa sedikit risih setiap kali melihatnya. Bagaimanapun, kehadiran si pemilik boneka berwarna mencolok itulah yang membuat semangat Lulu di kolam tadi tetap berada di peringkat kedua yang rasional. Lola, yang merasa bahunya tak sengaja menyenggol sesuatu yang lembut, langsung membeku. Senyum kemenangannya pun pudar seketika. Dengan naluri yang tajam, dia pelan-pelan menggeser tubuhnya mendekati Lulu, seakan-akan mencari perlindungan di balik tembok kewarasan temannya itu. Dia tahu persis apa yang biasanya terjadi setelah kejadian seperti ini. Dan benar saja, seperti sebuah reaksi anak kecil pada umumnya, gadis kecil di sebelahnya itu mulai bergerak. Dia mengerutkan wajahnya yang masih diselimuti mimpi, lalu kedua matanya terbuka. Dan saat itulah, tanpa peringatan atau jeda untuk mengenali sekelilingnya, dia mulai bereaksi. Mulutnya yang mungil terbentuk menjadi huruf "O" yang sempurna sebelum suara pertama keluar, sebuah isakan pendek, lalu berubah menjadi tangisan yang pecah. Air mata mengalir deras seperti dua sungai kecil di pipinya yang kemerahan. Kedua tangannya yang masih erat memeluk boneka kelinci pinknya langsung menutupi wajahnya, seolah ingin menyembunyikan seluruh kesedihan dunia ke dalam pelukan boneka itu. Melihat pemandangan ini, hati sang Ibu di depan langsung tersentuh. Dengan gerakan penuh kelembutan, dia melepaskan sabuk pengamannya dan mencondongkan seluruh tubuhnya ke arah kursi belakang, jangkauan kasih sayangnya mengatasi sekat kursi mobil. "Shhh... Lala sayang, tidak apa-apa, tidak apa-apa," suara Ibu terdengar seperti nyanyian pengantar tidur, tenang dan menenangkan. "Lola tidak sengaja, sayang. Dia minta maaf, ya? Jangan sedih." Walaupun Lala bukan anaknya, di mata Ibu, setiap anak kecil yang polos dan bermain dengan riang di rumahnya adalah anugerah. Lala, dengan tawanya yang cempreng dan kecintaannya pada permen stroberi, sudah seperti anak sendiri. Begitu pula Lulu, yang pendiam namun tajam pandangannya, selalu diterima dengan hangat. Untuk meredakan badai air mata itu, Ibu pun mengambil senjatanya yang manis. Dari tasnya, dia mengeluarkan sebuah permen lolipop yang terbungkus kertas berkilau, dengan bentuk bulat sempurna seperti dunia kecil yang manis. "Nih, lihat apa yang Bibi punya," dia mengangkat permen itu tepat ke depan wajahnya. "Permen pentol rasa stroberi, kesukaan Lala, kan? Ini sebagai tanda maaf dari Lola. Mau terima?" Lala, dari balik tirai jari-jari mungilnya, mendengar kata ajaib: "stroberi". Tangisannya berangsur-angsur mereda. Perlahan-lahan, dia menurunkan tangannya dari wajahnya. Saat itulah, dunia bisa melihat matanya yang indah. Jika mata Lola adalah musim semi dan mata Lulu adalah musim dingin, maka mata Lala adalah kehangatan musim gugur yang merona. Pupil matanya berwarna bata merah yang hangat, seperti warna daun maple yang disinari matahari sore, penuh dengan kelembutan dan kedalaman yang berbeda. Rambutnya yang berwarna coklat chestnut- berbeda dengan kedua temannya yang dibiarkan tergerai-diikat rapi menjadi ekor kuda kecil. Di sana, terikat pita kecil berbentuk bunga marigold berwarna oranye keemasan, membuatnya tampak seperti petak kecil tanah musim gugur yang dihiasi dengan keindahan alam. Dengan ragu-ragu, tangan mungil Lala yang masih basah oleh air mata meraih permen itu. Kepalanya tertunduk, malu karena tangisannya tadi, sambil berusaha membuka bungkus plastik yang licin. Dalam konsentrasinya yang penuh usaha, tanpa disadari, sebuah gelembung ingus kecil keluar dari hidungnya dan mulai meluncur perlahan, hampir menyentuh bibirnya yang masih bergetar. "Wah, wah, tunggu dulu," Ibu merespon cepat penuh keakraban. Dengan lihai, dia meraih selembar tisu dari dashboard mobil dan dengan gerakan yang sangat lembut, mengusap hidung Lala. "Sudah, sudah, bersih." Setelah itu, Lala mengusap-usap hidungnya dengan punggung tangannya. Lalu, dengan suara yang masih serak, dia berkata, "Terima kasih, Bibi!" "Sama-sama, sayang. Sekarang, jangan lagi menitikkan air mata, ya," Ibu tersenyum hangat seperti sinar mentari yang menembus kaca mobil. Suaranya lembut. Dia memikirkan untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah dongeng kecil. "Kalau Lala menangis terus-menerus, persediaan air matanya bisa habis tumpah semua. Nanti, mata Lala menjadi kering. Dan tahukah Lala? Di dalam setiap mata anak yang baik, tinggal sekumpulan peri kecil yang bertugas menjaga kilau dan kecerahannya. Jika mata menjadi kering, peri-peri itu akan sangat sedih, karena mereka kehilangan danau tempat mereka berenang dan bermain. Lala pasti tidak ingin membuat peri-peri kecil itu bersedih, kan?" "Iya! Lala tidak ingin!" Lala menyahut dengan cepat, wajahnya yang masih basah berubah cerah. Senyum lebar merekah, menampakkan deretan gigi susu putihnya yang bagai mutiara kecil. Ibu terkekeh ringan, senang melihat siasatnya berhasil. Pandangan matanya yang penuh perhatian lalu jatuh pada permen lolipop di genggaman Lala. Bungkus plastiknya berkerut ditahan erat oleh jari-jari mungil yang belum terampil. "Bibi bantu buka bungkusnya, ya sayang?" dia menunjuk ke arah permen itu dengan sikap bersahabat. Lala tidak langsung menjawab. Sebagai bagian dari ritual persahabatan mereka, dia menoleh dulu kepada kedua sahabatnya-Lola dan Lulu. Pandangannya jelas bertanya: bisakah kalian membantuku? Reaksi mereka serempak dan jujur. Kedua kepala kecil itu menggeleng pelan sambil menyilangkan tangan di depan dada. Bukan karena enggan menolong, melainkan karena mereka sendiri juga tidak bisa melakukannya. Lola pernah mencoba membuka bungkus plastik serupa dengan segenap tenaga, berhasil robek, tetapi hanya setelah Ayah dengan senyum terlebih dahulu melonggarkan segelnya dengan kukunya. Lulu, di sisi lain, pernah menganalisis masalahnya: tenaga dari jari-jarinya yang masih kecil tidak cukup untuk melawan gesekan plastik yang licin dan kuat. Setelah beberapa percobaan, dia menyerah dan menyerahkan permen itu kepada otoritas yang lebih tinggi-Ibu atau Ayah Lola. Melihat jawaban dari kedua sahabatnya itu, Lala pun mengalihkan pandangannya kembali kepada Ibu. Dengan ragu-ragu yang manis, dia mengangguk pelan, lalu dengan penuh kepercayaan meletakkan permen berharga itu di atas telapak tangan Ibu yang terbuka. Sang Ibu menerimanya dengan senang hati. Dengan gerakan yang telah ratusan kali dilakukan, jempol dan telunjuknya mencengkeram ujung plastik dengan lembut, memberi sedikit tekanan, lalu kriss... terbukalah segelnya dengan suara kecil yang memuaskan. Plastik pelindung itu berhasil dikupas, mengungkapkan permata manis berwarna pink di dalamnya, mengkilap dan menggoda. Dia menyerahkan kembali permen itu kepada Lala, yang wajahnya langsung bersinar. "Hati-hati ya, sayang," Ibu berpesan kepada Lala sebelum akhirnya duduk kembali di kursinya, memasang sabuk pengaman. Di kursi belakang, Lala hanya bisa tersenyum lebar sambil terkekeh kecil, kebahagiaan jelas memancar dari dirinya. Dengan hati-hati, dia memasukkan permen stroberi itu ke dalam mulutnya. Rasa manis-asam yang familiar langsung menyebar, dan di matanya yang berwarna musim gugur itu, seolah-olah cahaya matahari musim gugur yang keemasan berpendar lebih terang. Sementara itu, Lola yang menyaksikan semuanya dari samping mulai merasa sebuah gejolak kecil di hatinya-keirian. Dia melihat permen itu, lalu melihat Ibu. Tanpa banyak basa-basi, dia mulai merengek lembut. "Ibuuu... Lola juga mau..." tangannya yang mungil meraihat lengan Ibu, menggoyang-goyangkannya. Rengekan itu berlanjut hingga beberapa kali, sebelum akhirnya berhenti seketika saat Ibu, dengan pengertian yang dalam, mengeluarkan sebuah permen coklat kecil dari tasnya dan menyerahkannya padanya. "Ini, untuk petualang musim semi kita." Lulu, yang diam memperhatikan pertukaran ini, hanya duduk tenang. Apakah dia sadar diri? Atau malu-malu? Atau mungkin berprinsip? Dia tidak meminta apa-apa. Baginya, dia hanyalah seorang penumpang dalam perjalanan ini, yang secara kebetulan "dipaksa" dengan sangat persuasif oleh Lola untuk menemaninya liburan sekaligus dalam ziarah hati mereka ke makam Kakek tercinta. Meminta permen terasa seperti melangkah di luar batas kesopanan tamu. Namun, mata seorang Ibu bisa melihat apa yang tidak terucap. Prinsip keadilan dan kasih sayangnya tidak memandang status tamu atau keluarga. Dengan senyum, Ibu mengulurkan tangan lagi ke dalam tas. "Untuk Lulu juga," dia menyerahkan sebuah permen dengan bungkus berwarna hijau mint yang segar. "Rasa mint, kan kesukaanmu? Untuk pemikir musim dingin kita." Dan pada momen ajaib itu, di dalam mobil yang meluncur pelan membelah siang, ketiga malaikat kecil-perwujudan dari tiga musim yang berbeda: musim semi yang bersemangat, musim dingin yang tenang, dan musim gugur yang lembut-telah sepenuhnya terbangun. Mereka duduk bersama, masing-masing dengan permennya sendiri.Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi
Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba
Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola
"Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent
Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat
Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka







