Share

Hutan Pinus

Author: suki_luxu
last update Last Updated: 2026-01-29 17:21:10

Beberapa jam telah berlalu. Selama perjalanan, kehidupan yang ada di mobil itu saling bergumam kecil, tawa ringan, dan saling bernyanyi satu sama lain---walaupun Lola, Lulu, dan Lala tidak pandai bernyanyi. Disaat mereka bernyanyi, disitulah Ayah dan Ibu akan menutup telinga mereka menggunakan penyumbat telinga karena mereka tahu suara mereka mungkin bisa membangunkan roh jahat.

Ketiga malaikat kecil itu telah lama terbangun dari alam mimpi mereka, dan kini perjalanan panjang mereka telah mencapai puncaknya. Mobil itu akhirnya menghela napas terakhirnya dan berhenti dengan lembut di sebuah tempat yang terasa seperti ambang batas dunia lain.

Mereka telah tiba di sebuah pinggiran hutan yang megah. Di sini, pohon-pohon pinus menjulang tinggi dengan penuh kebanggaan, batang-batangnya lurus bagaikan pilar-pilar katedral alam, dan puncak-puncaknya yang hijau gelap seolah-olah berusaha menyentuh dan mengguratkan cerita pada langit biru yang mulai berubah warna.

Pada waktu itu, hari telah condong ke arah sore, mungkin sekitar jam dua siang. Sinar matahari yang miring dapat mengubah hutan ini menjadi sebuah destinasi wisata karena keheningan dan keindahannya yang diimpikan oleh kebanyakan orang.

Di dalam kerimbunan hutan ini, cahaya matahari tidak dapat menembus dengan seenaknya. Itu harus berjuang melewati kanopi daun-daun pinus yang lebat, sehingga yang sampai ke tanah hanyalah sorotan-sorotan cahaya keemasan yang tersaring, bergerak pelan seperti hantu cahaya.

Suhu di sini sempurna---tidak terlalu panas oleh terik, tidak pula terlalu dingin oleh bayangan. Lembut dan sejuk, seperti sebuah ruangan raksasa ber-AC yang dikontrol dengan bijak. Dan bagaimana cahaya itu bisa menyapa tanah secara langsung, jika tanahnya sendiri telah ditutupi oleh permadani alam yang paling indah? Hamparan rumput hijau pendek yang lembut, bercampur dengan selimut tebal dedaunan pinus kering berwarna coklat kemerahan, serta buah-buah pinus yang tercecer, membuat tanah itu sendiri menjadi sebuah mozaik bertekstur.

Ah, namun, lupakanlah perdebatan tentang cahaya dan tanah. Saat ini, ada keajaiban yang lebih nyata untuk disaksikan.

Mobil berwarna putih mutiara itu kini telah terparkir rapi di sebuah bidang tanah yang cukup luas, disediakan oleh hutan sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi kendaraan sebelum perjalanan dilanjutkan dengan kaki.

Daun-daun pinus kering, itu seperti potongan-potongan kertas yang dibuat langsung oleh alam, berjatuhan perlahan dari ketinggian. Satu persatu mereka menyentuh atap mobil dengan bunyi debaran halus, menempel, seakan menyambut dan memberkati para penghuninya yang telah tiba.

Pintu mobil sisi pengemudi terbuka dengan pelan, dan Ayah melangkah keluar. Diikuti oleh Ibu dari sisi penumpang. Bunyi blup lembut sepatu mereka mendarat di tanah kering terdengar nyaring dalam kesunyian hutan. Mereka menginjak permadani yang terbuat dari rumput hijau tipis, dihiasi dengan kerlap-kerlip daun kering dan buah pinus yang berserakan---sepertinya para tupai di sini sedang menjalani diet ketat atau telah pindah ke lingkungan yang lebih ramai.

Ayah menutup pintu mobil dengan suara thud, suaranya bergema pendek di antara batang-batang pohon. Tempat parkir ini sengaja berada agak jauh dari jalan raya utama, terhubung hanya oleh jalur tanah sederhana. Dan seperti dalam mimpi Lola, rumah Kakek memang terletak di pinggiran hutan. Bukan tepat di tepi jalan besar, melainkan tersembunyi beberapa puluh meter ke dalam, dijaga ketat oleh barisan pohon pinus.

Alasan mereka berhenti di sini sebenarnya sederhana: jalan menuju rumah Kakek bukanlah jalan untuk kendaraan. Itu adalah sebuah jalan setapak, seperti sebuah undangan yang hanya bisa dilalui dengan kaki telanjang atau sepatu. Sisi-sisinya dijaga oleh pohon-pohon pinus yang berdesakan, seolah-olah membentuk lorong hidup yang menghormati mereka yang berjalan dengan perlahan.

Ayah tentu tidak bisa memaksakan mobil masuk dan menantang tegaknya pepohonan itu---tentu saja, kendaraan bajanya akan kalah dengan akar dan batang yang telah berusia puluhan tahun. Lagipula, mereka semua, khususnya orang dewasa yang telah lama terkurung oleh bisingnya kota, justru senang dengan kesempatan ini. Berjalan kaki berarti mereka bisa benar-benar merasakan alam, menghirup udara segar yang harum aroma resin, dan mendengarkan simfoni yang hanya dimiliki oleh hutan.

Setelah mengatur beberapa barang, Ibu pun melangkah menuju pintu belakang mobil. Saat itulah, sebuah pemandangan lucu terlihat dari luar. Di balik kaca jendela mobil, ketiga malaikat kecil telah menempelkan wajah mereka dengan penuh antusiasme.

Lola dan Lala, seperti dua burung gereja yang penasaran, telah menempelkan kening dan hidung mereka rata-rata pada kaca yang sama, membuat wajah mereka sedikit terpencet dan terlihat menggemaskan.

Sementara itu, Lulu, dengan kebijaksanaan praktisnya yang khas, telah memilih kaca di sebelahnya sendiri. Tidak ada persaingan, tidak ada gangguan. Dia menatap keluar dengan tenang, matanya yang berwarna musim dingin memindai pemandangan baru ini dengan analitis, sambil menikmati ruang pandangnya yang tidak terhalang oleh wajah teman-temannya yang bersemangat.

Ibu tersenyum, lalu membuka pintu.

Saat Ibu membuka pintu mobil, terjadilah sebuah kekacauan kecil yang paling menggemaskan. Kedua malaikat yang tadi berdesakan di balik kaca---Lola dan Lala---kini beralih dari persaingan statis menjadi perlombaan dinamis untuk menjadi yang pertama menyentuh tanah ajaib di luar mobil. Mereka saling sikut lembut, mendesak dengan bahu, dan berseru lirih penuh semangat, seolah keluar dari mobil adalah gerbang menuju petualangan terhebat.

Ibu, yang berdiri di luar dengan tangan di pinggang, hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala penuh kasih. Melihat semangat juang mereka, dia pun bertepuk tangan pelan, menjadi penyemangat sekaligus wasit tidak resmi. "Ayo, semangat Lola! Lekas, Lala! Siapa yang akan menjadi penakluk hutan pertama hari ini?"

Dari belakang mobil, Ayah yang sedang mengatur barang dari bagasi mendengar keriuhan kecil itu. Matanya berbinar. Dengan cekatan, dia meraih kamera yang selalu siap sedia. Dalam beberapa langkah cepat, dia sudah berada di posisi yang tepat, mengangkat lensa, dan klik!---sebuah momen terekam: dua sosok mungil dengan wajah penuh tekad, setengah tubuh mereka masih di dalam mobil, berebut untuk menginjakkan kaki ke tanah.

Pertarungan sengit---yang dalam kenyataannya mungkin hanya berlangsung sekitar sepuluh detik, tetapi terasa seperti epik---akhirnya menemukan pemenangnya. Dan sang pemenang adalah... Lala! Dengan strategi yang tak terduga, dia tidak mencoba mendesak lebih kuat, melainkan mengambil ancang-ancang kecil lalu---hop!---melompati punggung Lola yang sedang berusaha menghalangi jalan. Pendaratannya kurang sempurna, nyaris terjungkal, tetapi kedua tangannya yang cepat menahan tubuhnya di atas permadani daun pinus. "Aku yang pertama!"

Ibu pun bertepuk tangan lebih keras, wajahnya berseri. Dia melebarkan kedua telapak tangannya, mengundang sebuah high-five. Lala, yang memahami isyarat itu, segera membuka tangannya yang mungil dan plak!---suara tepukan kecil yang riang memecah kesunyian hutan.

"Karena Lala adalah sang pemenang," Ibu, dengan tangannya yang masih muda merogoh tasnya, "Maka hadiahnya adalah..." Dia berpura-pura mencari-cari dengan serius, sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah bungkus permen berwarna cerah. "... sebuah permen kemenangan! Rasa stroberi!"

Lala menerima hadiah itu dengan girang, melompat-lompat kecil di tempat. Matanya yang berwarna musim gugur itu berbinar ke arah Lola, yang baru saja menginjakkan kaki di tanah dengan wajah sedikit lesu dan kalah. Dengan bangga, Lala membusungkan dadanya yang kecil, seolah-olah merayakan kemenangannya.

Sementara itu, di sisi lain pintu mobil, ada sebuah kontras yang tenang. Lulu telah menunggu dengan sabar sepanjang pertunjukan tadi, tidak tergesa-gesa. Ketika jalan telah benar-benar clear, barulah dia melangkah turun. Bukan melompat, bukan berlari, tetapi turun dengan satu langkah yang anggun dan terukur, layaknya seorang putri dari negeri es yang turun dari kereta kencananya.

Begitu kaki sepatunya menyentuh tanah, matanya yang berwarna kabut musim dingin itu langsung beraksi, memindai sekeliling dengan cermat: pola cahaya yang jatuh di antara daun, tekstur kulit pohon pinus, bentuk buah pinus yang berserakan. Dia lalu menarik napas dalam-dalam melalui hidungnya yang mungil. Oksigen yang masuk terasa segar, jernih, dan bersih, benar-benar berbeda dengan udara kota. Rasanya seperti menghirup esensi dari kesegaran itu sendiri, seolah-olah udara di sini belum pernah ternodai oleh hembusan asap kendaraan.

Setelah mereka semua berkumpul di tanah lapang itu, terbentuklah sebuah formasi kecil. Ayah, dengan bahunya yang tegap yang membawa tas besar, melangkah lebih dulu ke mulut jalan setapak. Mereka memang berada di hutan yang, berdasarkan cerita dan ingatan, aman dan ramah. Namun, tetap saja, ini adalah "alam liar".

Di balik keindahan dedaunan yang gemerisik dan kicauan burung yang merdu, siapa yang tahu misteri atau tantangan kecil apa yang mungkin bersembunyi? Sebagai penjaga utama keluarga, Ayahlah benteng pertama yang akan menghadapi segala ancaman, sekecil apa pun.

Maka dari itu, terciptalah sebuah formasi berbaris yang paling strategis: Ayah di paling depan. Tiga malaikat kecil---Lola, Lulu, dan Lala---berada di tengah, terlindungi seperti mutiara berharga dalam sebuah kotak yang kokoh. Dan Ibu berada di paling belakang, menjadi penjaga sekaligus pengawal yang memastikan tidak ada yang tertinggal atau tersesat dari belakang.

Jika Ayah dan Ibu berjalan di belakang, siapa yang akan melindungi anak-anak dari sesuatu yang muncul tiba-tiba di depan? Sebaliknya, jika orang dewasa berjalan di depan sementara ketiga gadis penuh rasa ingin tahu itu dibiarkan di belakang tanpa pengawasan, besar kemungkinan ketiganya akan terpesona oleh bunga liar, mengikuti kupu-kupu, atau bersembunyi di balik pohon, dan---poof!---menghilang dari pandangan dalam sekejap.

Dengan formasi yang sudah sangat jelas itu, mereka pun mulai memasuki jalan setapak. Jalan itu seperti sebuah lorong ajaib, dihimpit di kedua sisinya oleh pohon-pohon pinus yang menjulang, membuat langit di atas mereka hanya terlihat sebagai celah biru yang panjang dan berkelok. Perjalanan mereka diiringi oleh musik alam pembuka: suara tok... tok... tok... yang berirama dan nyaring. Itu adalah burung pelatuk yang sedang asyik mematuk batang pohon.

Di hati Ayah dan Ibu, tidak ada ketakutan yang mencekam. Yang ada adalah kewaspadaan yang tenang dan penuh hormat terhadap alam. Mata mereka menjelajah dengan cermat, mengamati pergerakan di balik semak, mendengarkan suara yang berbeda dari biasanya, memastikan setiap langkah aman untuk kaki-kaki mungil di belakang mereka.

Sementara orang tua menjaga dari depan dan belakang, di tengah-tengah barisan, kehidupan justru berkecamuk dengan riang. Lola, Lulu, dan Lala saling berbisik dan mengobrol, imajinasi mereka melompat-lompat jauh ke depan, merencanakan petualangan apa yang akan mereka lakukan begitu tiba di rumah kayu Kakek.

"Bagaimana kalau kita main... petak umpet?!" Dalam pembicaraan itu, Lola mengemukakan idenya, matanya yang berwarna musim semi berbinar-binar dengan ide yang menurutnya brilian. Tentu saja ide itu datang darinya. Di antara mereka bertiga, hanya Lola yang memiliki keberanian untuk mengusulkan permainan bersembunyi di tengah hutan yang asing dengan begitu santai.

Lulu, yang mendengar usulan itu, hanya bisa mengamati Lola dengan pandangan analitisnya. Dia sering bingung menentukan: apakah Lola ini jenius yang pemberani, atau justru sosok yang terlalu "polos" sehingga mengabaikan semua risiko? Ingatannya melayang ke kejadian sebulan lalu di taman sekolah, saat Lola melihat seekor belalang hijau melompat. Alih-alih mengamatinya, dengan cepat Lola menangkap dan---hap!---memasukkannya ke dalam mulut!

Untung saja belalang itu tidak beracun dan secara teknis bisa dimakan, tetapi risiko adanya parasit atau kotoran pada serangga itu sangat besar. Syukurlah, Lola baik-baik saja, tetap sehat, dan bahkan kini bisa mengajak mereka liburan.

"B-b-bukannya itu... bahaya sekali?" suara patah-patay itu berasal dari Lala. Matanya yang berwarna musim gugur itu memandang Lola dengan ekspresi campuran antara takjub dan ngeri. Secara refleks, kepalanya menoleh ke kanan, kiri, bahkan mendongak ke atas dan menunduk ke bawah, seolah-olah hutan ini sudah dipenuhi oleh mata-mata tersembunyi yang siap menyergap saat mereka bersembunyi.

Lala memang berbeda dengan Lola yang pemberani dan bersemangat, atau Lulu yang berani jika dia sudah memahami situasinya. Lala adalah gadis kecil yang mudah terkejut dan penuh kehati-hatian. Dia bahkan pernah menangis tersedu-sedu hanya karena Lola iseng menyelipkan seekor jangkrik mati ke dalam sakunya.

"Iya, Lola sayang, itu bisa jadi berbahaya," Ayah yang sedari tadi fokus memimpin jalan menyela. Suaranya tegas namun lembut, didengarkan dengan baik oleh telinga-telinga kecil di belakangnya. Telinganya yang tajam tetap menangkap setiap percakapan mereka sementara matanya tetap awas memandang jalan. "Kalian boleh bermain nanti, tapi janji pada Ayah: jangan pernah sampai jauh dari pandangan kami. Hutan ini luas dan pohon-pohonnya bisa terlihat serupa. Kita harus tetap bersama."

Perjalanan pun berlanjut. Jalan setapak itu membawa mereka semakin dalam, meninggalkan mobil mereka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Bab 13 - Tanah Kebahagiaan

    Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Kabut Abu-abu

    Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Ketika Apel Berdasi Kupu-Kupu Keluar dari TV dan Namanya Lebih Panjang dari Antrean Es Krim

    Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   TV Antik

    "Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Pondok Kayu

    Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat

  • Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?   Kupu-kupu Pelangi

    Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status