FAZER LOGINTohawi, seorang pengangguran yang hidupnya penuh kesialan, tiba-tiba terpanggil ke dunia Aetheris sebagai pahlawan. Akankan seseorang yang pengangguran dapat menjadi pahlawan?
Ver maisLa noche de mi cumpleaños número dieciocho debería haber sido la más feliz de mi vida.
En cambio, fue la noche en que mi corazón murió.
La luna llena brillaba sobre el territorio de la Manada Blackwood mientras cientos de lobos se reunían alrededor de la plaza.
Yo estaba en el centro.
Mis manos temblaban.
Había esperado este momento durante años.
A los dieciocho años, cada hombre lobo podía encontrar a su compañero destinado.
La persona elegida por la Luna.
La persona con la que pasarías el resto de tu vida.
Cerré los ojos.
Entonces lo sentí.
Un aroma intenso.
Pino.
Humo.
Tormenta.
Mi corazón comenzó a latir con fuerza.
Abrí los ojos.
Al otro lado de la plaza estaba él.
Kael Blackwood.
El Alfa.
Alto, vestido completamente de negro, con unos ojos grises que parecían capaces de atravesar mi alma.
Nuestros ojos se encontraron.
Y entonces sucedió.
Una corriente de energía recorrió mi cuerpo.
Mi loba despertó dentro de mí.
Es él.
Mi corazón gritó la respuesta antes de que pudiera pensar.
—¡Mi compañero! —susurré.
La multitud comenzó a murmurar.
Kael caminó hacia mí.
Cada paso hacía que mi corazón latiera más rápido.
Cuando estuvo frente a mí, pude sentir su calor.
Esperé.
Quizás me abrazaría.
Quizás diría que me había estado esperando.
Quizás…
Kael extendió una mano.
Por un instante pensé que iba a tocar mi rostro.
Pero no.
Su expresión se volvió fría.
—Te rechazo como mi compañera.
El mundo se quedó en silencio.
Sentí que había dejado de respirar.
—¿Qué?
Kael no apartó los ojos de mí.
—Has escuchado perfectamente.
Una lágrima recorrió mi mejilla.
—Pero… somos compañeros destinados.
—Eso no significa que tenga que aceptarte.
Sus palabras fueron como un cuchillo.
Algunas personas comenzaron a reír.
Otras simplemente observaban.
Yo quería desaparecer.
—¿Por qué? —pregunté con la voz rota.
Kael se acercó a mi oído.
—Porque necesito una Luna digna de un Alfa.
Se apartó.
—Y tú nunca serás suficiente.
Algo dentro de mí se rompió.
Mi loba comenzó a llorar.
Yo también.
Pero nadie vio la rabia que comenzó a crecer detrás de mis lágrimas.
Kael se dio la vuelta y regresó hacia su trono.
Yo permanecí inmóvil.
Humillada.
Rechazada.
Sola.
Entonces escuché una voz detrás de mí.
—Pobre Elena.
Era Serena, la mujer que todos creían que algún día sería la Luna de Kael.
Sonrió.
—Supongo que ahora sabemos quién es realmente digna de él.
Me limpié las lágrimas.
No respondí.
Simplemente abandoné la plaza.
Corrí hasta el bosque.
No sabía hacia dónde iba.
Solo quería escapar.
Cuando llegué al río, caí de rodillas.
—¿Por qué? —grité hacia la luna.
Mi loba respondió dentro de mí.
Porque hay algo que no sabemos.
Me quedé inmóvil.
—¿Qué quieres decir?
Mi loba guardó silencio.
Entonces escuché algo.
Un susurro.
No venía del bosque.
Venía de mi propio cuerpo.
—Elena… despierta.
Mis ojos se abrieron de golpe.
Una luz plateada apareció alrededor de mis manos.
Retrocedí aterrorizada.
—¿Qué está pasando?
La luz comenzó a extenderse por mis brazos.
Y entonces apareció una marca sobre mi pecho.
Una marca que jamás había visto.
Un símbolo antiguo.
Mi loba susurró una sola frase:
La sangre de la Reina ha despertado.
Miré hacia la montaña donde se encontraba la fortaleza de Kael.
Y comprendí algo.
El rechazo no era el final de mi historia.
Era el comienzo.
Porque Kael Blackwood acababa de rechazar a la mujer que algún día podría convertirse en…
la Reina de todos los lobos.
Setelah hari-hari yang ia jalani di dunia ini., Tohawi memutuskan untuk menjelajahi istana Solaria untuk mengetahui persis seperti apa istana solaria. Ia berjalan melewati lorong-lorong yang panjang, menatap kagum pada patung-patung pahlawan legendaris dan lukisan-lukisan yang menggambarkan pertempuran besar. Namun, rasa kagumnya tidak bertahan lama. Saat ia memasuki sebuah aula terbuka yang tampaknya menjadi tempat latihan para ksatria dan penyihir, tatapan-tatapan sinis segera mengarah kepadanya. Para penyihir yang sedang berlatih sihir mereka berhenti sejenak, lalu saling berbisik sambil menatapnya dengan mata yang menyipit. Beberapa ksatria yang sedang mengasah pedang mereka hanya tertawa kecil, dengan nada yang menghina. Tohawi merasakan beban tatapan mereka dan mencoba mengabaikannya, tetapi bisikan-bisikan itu semakin keras. "Apakah itu benar pahlawan yang kita panggil? Terlihat lebih seperti gelandangan," seorang penyihir muda dengan jubah biru terang berkomentar, suarany
Setelah Tohawi mengisi kepalanya dengan pengetahuan dunia ini, Tohawi pun memahami dengan betul tentang dunia ini. Dunia baru ini bernama Aetheris, sebuah dunia yang penuh dengan keajaiban dan misteri. Aetheris terbagi menjadi beberapa kerajaan yang beragam, masing-masing dengan budaya dan karakteristik uniknya. Kerajaan-kerajaan ini berada dalam keadaan damai yang rapuh, selalu terancam oleh kekuatan gelap yang mengintai dari bayangan. Meskipun dunia ini sangatlah luas, dunia ini hanya memiliki lima Kerajaan. 1. Kerajaan Solaria Raja: Raja Alden Solaria adalah kerajaan yang terletak di dataran tinggi yang subur, dikenal dengan padang rumput yang luas dan langit yang selalu cerah. Penduduknya hidup dari pertanian dan peternakan. Raja Alden adalah pemimpin yang bijaksana dan adil, selalu mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Istana kerajaan terletak di ibu kota Solara, sebuah kota yang penuh dengan taman dan bangunan megah berlapis emas. 2. Kerajaan Lunaris Raja: Ratu Seraphina
“BRRAAKK!”"Selamat datang, pahlawan," Ucap Gandorf dengan suara penuh harapan. "Kau adalah pahlawan yang kami panggil. Dunia ini membutuhkanmu, dengan kekuatanmu yang unik untuk membersihkan kegelapan yang melanda kami."Tohawi terbangun dengan rasa sakit yang menyebar di seluruh tubuhnya. Ia mendapati dirinya terbaring di lantai marmer dingin di sebuah ruangan besar dengan dinding berukir dan jendela kaca berwarna. Tohawi berdiam diri sejenak lantas ia segera menyadari bahwa ia telah jatuh dari langit-langit bangunan yang seperti istana, seperti yang diharapkan oleh para penyihir. Dengan susah payah, ia bangkit berdiri, memegang punggungnya yang nyeri.Di sekelilingnya, para penyihir berdiri dengan ekspresi terkejut dan merasa kecewa. Di tengah mereka, Gandorf, penyihir tua yang memimpin pemanggilan, menatap Tohawi dengan campuran kebingungan dan kekecewaan."Huh! Apa-apaan ini? Kenapa aku harus jatuh dari langit-langit, aku pikir pemanggilaku akan
Prolog: Pemanggilan Pahlawan “Kita harus memanggil Pahlawan!” Seru sesosok raja kepada para penyihir istana. “Negeri ini butuh penyelamat! Bukan, sepertinya dunia ini yang membutuhkan pahlawan!” Suara ricuh di sebuah ruang bawah tanah istana yang gelap dan lembap, terdengar pula suara lantunan mantra sihir yang menggema melalui dinding batu kuno. Cahaya lilin yang berkedip-kedip menciptakan bayangan menakutkan di setiap sudut ruangan. Sejumlah penyihir berjubah biru berkumpul melingkari lingkaran sihir besar yang terpancar cahaya magis berwarna hijau. Di tengah lingkaran, seorang penyihir tua berdiri dengan tegak. Dialah Gandorf, pemimpin penyihir istana yang dikenal dengan kebijaksanaan dan kekuatannya. Janggut putih panjangnya berkilau terkena pantulan cahaya lilin, dan tongkat sihirnya yang berujung kristal biru bersinar terang. Dengan suara yang dalam dan penuh wibawa, Gandorf memimpin ritual pemanggilan. "Para penyihir, berkonsentrasilah! Kita memanggil pahlawan dari duni


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações