LOGINDi dalam mobil yang meluncur pelan, terciptalah sebuah adegan yang penuh kedamaian. Mobil itu bergerak mulus di atas aspal, bagai perahu yang mengarungi danau kaca. Hening nyaris sempurna, hanya diselingi desiran halus AC dan dengung mesin yang berjarak jauh.
Hehe. Di kursi belakang, dalam naungan selimut tipis berwarna pastel, tiga gadis kecil terbaring lelap. Dunia mereka adalah dunia mimpi, di mana mungkin mereka masih berenang-renang di antara awan atau mengejar kupu-kupu cahaya. Napas mereka ringan dan teratur, membentuk ritme tidur yang harmonis. Dunia di luar jendela mobil bagai lukisan yang diam. Jalan tol membentang lurus, seakan-akan menembus cakrawala, dikelilingi oleh hamparan hijau dan langit biru yang tak bernoda. Cahaya matahari siang, terang dan jernih, menyirami segala sesuatu dengan keemasan, membuat bayangan mobil menjadi satu-satunya yang bergerak di jalan tol itu. Jalan itu sepi, benar-benar sepi. Tak ada kendaraan lain yang terlihat, seolah-olah mereka adalah satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di bumi yang sedang melakukan perjalanan menuju dunia dongeng. Kesendirian itu bukan menyeramkan, tetapi lebih ke arah memberikan rasa damai yang sangat luas. Dari kursi depan, seorang pria berusia akhir dua puluhan menoleh sebentar. Matanya, yang selama ini fokus pada jalan yang sepi---dia tahu tidak ada kendaraan lain selain mereka di jalan tol ini---kini beralih ke kaca spion tengah, memandangi ketiga sosok mungil yang tengah terlelap. Sebuah senyum yang hangat dan lembut, penuh dengan rasa sayang, merekah di bibirnya. Suaranya lirih, berbisik, takut mengganggu keajaiban tidur itu. "Lihat mereka," pria itu berbicara dengan suara yang terdengar seperti angin sepoi yang menyentuh daun. "Secepat kilat tertidurnya. Dari riang tertawa, langsung masuk ke alam mimpi. Apakah tombol 'tidur' di tubuh mereka ada di tempat yang mudah dijangkau?" Dari sampingnya, seorang wanita seusianya menyahut. Dia baru saja menyelesaikan merapikan botol-botol minum dan tisu. Dia melirik ke arah pria itu---suaminya---sebelum akhirnya menatap kaca spion tengah, dan pandangannya langsung dilembutkan oleh pemandangan itu. Sebuah tawa kecil, pendek dan bergetar penuh kasih, meloloskan diri dari bibirnya. "Ya," mata wanita itu menyipit jika dilihat dari kaca spion, suaranya juga berbisik. "Anak-anak seusia mereka memang perlu banyak istirahat. Tidur adalah saat tubuh dan otak mereka tumbuh dengan pesat." Dia menghela napas panjang, terdengar lega namun juga penuh renungan. Matanya berbinar ketika memandangi mereka, sementara pikirannya melayang ke siang tadi. "Hah..." dia menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke arah bawah. "Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mereka bermain di kolam renang tadi dengan energi yang seolah tak ada habisnya, ya?" dia mengangkat kepalanya, matanya menatap jalan tol yang kosong di depan. "Berlari, melompat, menyelam, berteriak girang... dari pagi sampai siang. Apa generasi anak-anak sekarang diberkahi stamina ksatria kecil? Bertenaga seperti baterai yang tak pernah habis?" wanita itu menatap suami di sampingnya, tentu saja pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Sang suami, yang tangannya sedari tadi fokus memegang kemudi, sedikit mengangkat bahunya. Gerakan kecil itu penuh afeksi. Sebuah senyuman masih mengambang di wajahnya saat dia merenung. "Entahlah, sayang," dia melirik ke arah istrinya dari sudut matanya, sebelum akhirnya itu kembali menatap jalan lurus nan luas di depan. "Kalau kita renungkan, mungkin memang seharusnya begitu. Mereka punya stamina yang baik, energi yang melimpah, itu adalah tanda bahwa mereka sehat, bahwa mereka berkembang dengan baik. Tubuh mungil mereka seperti 'mesin petualang' yang sedang dipanaskan untuk belajar tentang dunia." Dia terdiam beberapa saat, lalu menambahkan dengan nada yang lebih ringan, "Dan mungkin juga, itu cara alam semesta mengatakan bahwa tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan 'mesin petualang' itu diisi dengan bahan bakar yang tepat, dan... diberikan kesempatan untuk 'recharge' yang cukup, seperti sekarang ini." Perjalanan pun berlanjut. Mobil yang sunyi itu terus melaju. Di luar, matahari bersinar, dunia diam, dan jalan tol kosong bagai koridor raksasa yang hanya disediakan untuk mereka. Di dalam, tiga hati kecil sedang bermimpi, dijaga oleh dua pasang mata yang penuh cinta. Beberapa menit berlalu, di tengah-tengah napas yang dalam dan tenang, sebuah keajaiban kecil terjadi. Dari antara tiga malaikat kecil yang tertidur, sepasang mata pun terbuka. Bukan terbuka lebar dengan terkejut karena mimpi terjatuh, melainkan terbuka perlahan, seperti kelopak bunga yang enggan melepaskan embun pagi. Di balik bulu matanya yang panjang, terpancarlah warna pupil mata yang sungguh memesona, sebuah warna hijau muda kekuningan yang jernih, bagai padang rumput pertama yang disinari mentari musim semi setelah salju mencair. Warnanya hangat, menenangkan, dan memancarkan kelembutan yang tulus, seolah mata itu sendiri adalah sumber cahaya dan cinta. Si gadis kecil itu lalu meregangkan tubuh mungilnya dan menguap lebar, sebuah gerakan yang memperlihatkan dunia kecil---gigi putih---di dalam mulutnya. Namun, sebelum udara sepenuhnya keluar, sebuah tangan hangat dengan gerakan penuh kasih sudah lebih dahulu menutupi mulutnya dengan lembut. "Sst... yang lain masih tidur, sayang," Ibu menarik kembali tangannya, dan mata mereka pun bertemu. Di saat itu, sang Ibu melihat putri mereka yang masih lesu mulai mengucek-ngucek matanya dengan kepalan tangan mungilnya. Entah karena bekas tidur yang mengganggu, atau karena rasa kantuk yang masih enggan pergi sepenuhnya. "Hooaaam..." si gadis kecil itu menguap sekali lagi. Kali ini, dia sendiri yang dengan sadar meletakkan tangan kecilnya di depan mulutnya. Meski kesadarannya baru setengah terkumpul, ingatannya telah bekerja dengan baik. Dia mengingat nasihat Ibu bahwa menguap harus ditutup mulutnya. Bukan sekadar sopan santun, tetapi sebuah ritual ajaib... katanya. Ibu bilang, jika dia menutup mulutnya saat menguap, Peri Gigi akan melihatnya dan merasa senang. Peri itu akan menganggap si gadis masih sangat menyayangi mulutnya, sehingga peri akan terus bersemayam di sana, menjaga setiap gigi susunya yang putih, dan menghalau "roh jahat" yang mencoba masuk melalui mulut yang terbuka lebar dan merusak segala kebaikan di dalamnya. Dengan mata yang mulai fokus, pandangannya mencari. "Ibu... Ayah..." suaranya terdengar lirih, serak karena baru terbangun, namun tetap penuh ketenangan. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, seakan memastikan ini bukan lanjutan mimpinya. Pemandangan pertama yang jelas setelah bangun adalah senyum hangat Ibu yang menengok dari kursi depan. "Iya, sayangku," Ibu memiringkan sedikit kepalanya saat menjawab, suaranya semerdu bunyi gemericik air. Dia mengangguk lembut, dan senyum di wajahnya semakin mengembang, melukiskan wajahnya dengan cahaya kasih sayang. "Tidurnya nyenyak, Lola?" Si gadis kecil, yang kini kita ketahui bernama Lola, mengangguk pelan. Ekspresinya menjadi berbinar saat sebuah kenangan indah dari alam mimpi muncul kembali. "Ibu tahu? Lola tadi mimpi bertemu Kakek," dia mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya mulai bersemangat namun tetap terjaga volume agar tidak membangunkan teman-temannya. "Kakek sedang duduk di rumah kayunya, memanggil Lola. Lalu... lalu dia membacakan cerita dongeng untuk Lola." Matanya yang sebening musim semi itu melihat ke bawah, mencoba mengingat lanjutannya. "Tapi... karena Lola sudah tertidur di mimpi juga, Kakek berhenti membacanya. Dia cuma tersenyum dan membelai kepala Lola." Cerita itu diungkapkannya dengan polos. Lola lalu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gerakan sangat perlahan, seperti pencuri yang tak ingin mengganggu harta karun. Di sisi kirinya, temannya yang lebih kecil meringkuk dengan boneka kelinci kesayangannya. Di sebelah kanannya, temannya yang paling dewasa tidur dengan kepala bersandar di bantal guling. Keduanya masih terlelap, tenggelam dalam dunia mimpi mereka masing-masing. Lola pun tersenyum kecil, merasa seperti penjaga sementara dari dua peri tidur yang sedang beristirahat. "Hehe, kalau begitu, Lola sekarang adalah Bos Besar!" Lola bergumam dengan suara berbisik, seolah-olah merayakan kemenangan. Dadanya yang kecil membusung dengan bangga, dan senyum lebar merekah di wajahnya, menampakkan barisan gigi susu yang putih. Di dalam hatinya yang polos, kebangkitan ini adalah sebuah pencapaian besar. Semangatnya yang ceria, seperti mentari pagi yang tak pernah redup, selalu menjadi sumber tawa. Namun, keinginannya untuk menjadi "bos" ini bukan karena dia merasa sombong, bukan karena dia yang paling tinggi, dan bukan pula dia yang paling cerdas. Tidak sama sekali. Ini berawal dari sebuah cerita dongeng Kakek, tentang seorang gadis kecil pemberani, seusianya, yang memimpin pasukan peri angin untuk menyelamatkan dunia dari kegelapan. Di benak Lola, menjadi "bos" berarti bisa melindungi, memimpin petualangan baik, dan menjadi pahlawan bagi teman-temannya, persis seperti gadis dalam cerita itu. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, Lola memang yang tertua di antara ketiganya. Gadis di sebelah kanannya, sebenarnya, juga berusia enam tahun. Tetapi, karena Lola lahir beberapa bulan lebih awal, dengan bangga dia mengklaim gelar "yang paling tua". Gelar itu memberinya sedikit keberanian, meskipun dalam hati kecilnya, Lola tahu kalau gadis di sebelah kanannya itulah yang sebenarnya memiliki pemikiran paling "dewasa". Terkadang, meski tak ingin mengakuinya, Lola tak bisa menolak bukti. Temannya itu selalu menjadi juara pertama di kelas, mampu membaca buku yang lebih tebal, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan saat boneka mereka "sakit". Lola pun menerima kekalahan kecil ini dengan lapang dada, karena bagaimanapun juga, dia tetaplah "bos" yang bijaksana, bos tahu kalau mengakui kelebihan orang lain adalah hal yang keren. Di tengah kebanggaan Lola itu, sesuatu yang ajaib terjadi lagi. Gadis di sebelah kanannya, yang dipikirkan Lola, mulai bergerak. Rambutnya yang sepanjang bahu, berwarna putih keperakan bagai kristal salju pertama di pagi hari, berayun lembut. Dia mengangkat tangan mungilnya, mengucek pelan matanya yang masih tertutup, lalu gerakan itu beralih halus untuk mengusap wajahnya yang mulus, dengan kulit pucat bersih laksana porselen yang diterpa cahaya bulan. Berbeda dengan Lola yang menguap lebar tadi, dia hanya menguap kecil. Mulutnya sedikit terbentuk "O" yang sempurna, tanpa suara, seolah-olah udara yang keluar pun adalah embun yang dingin dan anggun. Melihatnya, Lola terdiam sejenak. Temannya itu selalu terlihat seperti Putri Salju dari dongeng, yang bahkan saat baru bangun tidur pun tetap penuh wibawa dan keanggunan yang misterius. Akhirnya, mata itu terbuka sepenuhnya. Dan di situlah keajaiban lain terungkap. Jika mata Lola adalah perwujudan musim semi yang penuh kehidupan---hijau muda dengan percikan kuning keemasan---maka mata temannya ini adalah cermin dari musim dingin yang paling tenang. Pupil matanya berwarna abu-abu pucat yang hampir putih, seperti kabut yang menyelimuti danau beku di pagi hari. Warnanya jernih, dingin, itu memancarkan ketenangan yang dalam dan kebijaksanaan yang melampaui usianya. Di dalamnya, seolah tersimpan rahasia bintang-bintang dan kesunyian salju yang turun perlahan.Ketiga pasang mata mungil itu refleks menutup rapat, disilangi oleh tangan-tangan kecil yang berusaha meredam silau luar biasa dari cahaya warna-warni yang menerpa mereka. Meski kelopak mata telah tertutup, mereka masih bisa merasakan kehadiran cahaya itu-sebuah sensasi hangat dan berdenyut yang meresap ke dalam. Bagaikan berdiri tepat di tengah-tengah pelangi cair yang bergelombang dan berputar, setiap warna-merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu-seolah menyentuh kulit mereka dengan lembut namun penuh kekuatan magis. Kemudian, seiring dengan alunan melodi alam yang semakin jelas terdengar, cahaya pelangi yang menyilaukan itu pun berangsur-angsur mereda, seperti tirai cahaya yang perlahan-lahan dibuka. Dengan hati-hati, Lola, Lulu, dan Lala mulai membuka mata mereka. Mereka mengerjapkan mata beberapa kali, bulu mata mereka yang basah oleh kelembapan ajaib lorong tadi berkedip-kedip. Tangan mungil mereka mengusap-usap mata, berusaha menghapus sisa-sisa kilau warna yang masi
Lola terdiam sejenak, sebuah keheningan mendadak yang membuat dua penghuni pondok---Lulu, dan Lala---merasa sedikit keheranan. Namun, keheningan itu hanya berlangsung selama dua detik sebelum badai kegembiraan meledak."YEEEEEEY!!!" Lola berteriak dengan suara yang begitu lantang dan penuh sukacita, hingga seolah-olah bisa menggetarkan debu-debu yang baru saja mereka bersihkan. Dia melompat-lompat tinggi di tempat, seperti pegas kecil yang dilepaskan, tangannya mengepal ke atas. "KITA AKAN PERGI KE DUNIA DONGENG! KITA AKAN PERGI KE TANAH KEBAHAGIAAN!"Gelombang suara yang tiba-tiba dan penuh energi itu langsung membuat Lulu dan Lala refleks menutup telinga mereka dengan kedua tangan, menyipitkan mata, dan meringis. Mereka tidak akan pernah bisa terbiasa dengan teriakan Lola saat sedang sangat bersemangat. Rasanya seperti ada lonceng kecil yang berdenting keras tepat di sebelah gendang telinga mereka. "Lola, pelan-pelan!" Lala ingin protes, tapi suaranya tertahan.Adapun Pengawal Priba
Apel itu, yang hanya sedetik lalu masih terjebak dalam dimensi dua dimensi layar kaca, tiba-tiba bergerak dengan lincah, seolah-olah melepaskan diri dari ikatan layar, dan dengan lembut melayang keluar dari bingkai TV, menggantung di udara tepat di hadapan mereka.Lola, Lulu, dan Lala hanya bisa berdiri membeku. Mata mereka membelalak lebar hingga hampir bulat sempurna, mulut mereka terbuka terkagum-kagum. Jika ada nyamuk atau lalat yang kebetulan lewat, pasti akan dengan mudahnya menjadikan mulut mereka yang terbuka lebar itu sebagai rumah baru. Mata mereka bergetar, mengikuti setiap gerakan apel yang melayang itu, seolah-olah mereka sedang menyaksikan bukan sebuah buah, melainkan kupu-kupu langka atau burung surga yang paling aneh.Kaki Lala mulai bergetar tak terkendali. Dengan gerakan pelan dan penuh ketakutan, dia melangkah mundur satu langkah, dua langkah. Lulu, yang biasanya lebih tenang, menyusul dua detik kemudian, langkahnya juga mundur dengan hati-hati. Sementara itu, Lola
"Entah-lah..." Lola menggelengkan kepalanya yang kecil. Matanya yang berwarna musim semi itu tak lepas dari sosok pondok kayu di tengah lapangan, yang seolah-olah bukan hanya sebuah bangunan, melainkan sebuah lentera ajaib yang memancarkan cahaya dan kehangatan sendiri, menerangi pulau hijau yang terisolasi ini.Lulu memandang Lola dengan ekspresi heran yang mendalam. Dia menyipitkan matanya yang berwarna kabut musim dingin, mencoba membaca ketidaktahuan temannya. "Bukankah ini hutan milik Kakekmu?" logikanya bekerja dengan cepat. "Seharusnya, kamu yang paling tahu tentang tempat ini, kan? Kamu pernah ke sini waktu kecil."Lala juga memandang Lola, menunggu jawaban yang bisa memberikan penjelasan atau setidaknya kepastian.Tanpa mengalihkan pandangan dari pondok misterius itu, Lola hanya mengangkat bahunya dengan gerakan kecil. Suaranya terdengar benar-benar bingung. "Lola juga nggak tahu. Waktu kecil dulu ke sini, Lola nggak ingat ada tempat kayak gini..." dia akhirnya menoleh sebent
Untuk membuktikan klaimnya yang luar biasa, Lola pun mengajukan sebuah solusi petualangan yang jauh lebih menggoda. "Untuk membuktikan bahwa Lola tidak bohong," matanya berbinar dengan ide yang berbahaya, "Bagaimana kalau kita kejar aja kupu-kupunya? Lola masih ingat persis di mana terakhir lihat dia menghilang!" Meski makhluk itu telah sirna di balik pohon, di benak Lola yang penuh keyakinan, tidak ada yang mustahil. Baginya, dunia adalah taman bermain yang penuh keajaiban yang menunggu untuk ditemukan, dan dadanya akan selalu berapi-api jika ada petualangan yang mengintip.Melihat Lola yang bersemangat membara seperti ini, Lulu teringat pada suatu insiden di masa lalu. Saat itu hujan turun deras, dan orang tuanya telah melarangnya bermain air hujan. Namun, bujukan Lola yang tak tertahankan membuatnya melanggar aturan. Hukumannya? Berdiri di teras rumah dengan satu kaki terangkat selama tiga puluh detik yang terasa seperti tiga puluh tahun. Kenangan itu membuat Lulu lebih berhati-hat
Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan pulang. Akhirnya, mereka kembali tiba di pelataran depan rumah kayu Kakek yang akrab. Ayah dan Ibu, dengan langkah yang kini terasa lebih berat, menaiki tangga kayu yang berderit dan langsung duduk di kursi di teras.Tubuh mereka mengeluarkan keringat halus, entah karena perjalanan pulang-pergi ke makam yang memang membutuhkan tenaga, atau mungkin karena beban emosional dari ziarah tadi. Padahal, udara sore di hutan ini sungguh sejuk dan suhunya nyaris sempurna, namun kelelahan seringkali datang dari tempat yang lebih dalam dari otot. Ayah mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya, lalu membuka kancing kemeja flanelnya yang paling atas satu per satu, membiarkan angin sejuk yang berhembus menyentuh kulitnya, mencari kesejukan.Sementara sang orang tua mencari ketenangan dan istirahat, ketiga malaikat kecil---yang justru tampak seperti telah diisi ulang energinya oleh perjalanan tadi---telah berkumpul di tengah halaman depan rumah. Mereka







