分享

Mawar Layu di Musim Dingin Kedua
Mawar Layu di Musim Dingin Kedua
作者: Yusfa

Bab 1

作者: Yusfa
“Kenapa pagi ini bangun pagi sekali?”

Farrel keluar dari kamar tidur sambil menarik koper penerbangannya. Alisnya sedikit berkerut.

Aku memegang cangkir kopi dan memperhatikannya memasang epaulet empat garis di kemeja putihnya dengan hati-hati.

"Aku tidak bisa tidur, jadi bangun untuk minum kopi."

Dia berjalan ke meja dapur dan tanpa pikir panjang mengambil segelas susu hangat yang baru saja kusiapkan, lalu meneguknya.

"Semalam begadang lagi buat nonton drama yang tidak ada gunanya itu?"

"Tidak."

"Luna, pola tidurmu makin berantakan sekarang."

Dia melihat jam tangannya, nada suaranya masih sama seperti biasanya, seolah sedang menasehati anak kecil.

"Sebentar lagi aku terbang ke Frankfurt. Pulang-pergi empat hari."

"Baik."

Dia tampak agak heran melihat reaksiku yang terlalu tenang hari ini.

Biasanya setiap kali dia mendapat penerbangan internasional jarak jauh, sehari sebelumnya aku sudah menyiapkan obat lambung, melatonin, dan bantal leher ke dalam kopernya.

Aku juga akan berkali-kali mengingatkannya agar mengabariku setelah mendarat.

Namun hari ini aku tidak melakukan apa pun.

Aku hanya duduk di kursi tinggi sambil menatapnya.

“Obat lambungku kamu taruh di mana?”

Dia mengobrak-abrik kantong samping kopernya.

"Di laci kedua bawah meja TV. Ambil sendiri."

Tangannya berhenti sejenak, lalu dia menoleh kepadaku.

“Ada apa denganmu hari ini? Jalan beberapa langkah saja malas.”

“Aku cuma sedikit lelah.”

Dia menghela napas, berjalan ke ruang tamu, membuka laci, mengambil kotak obat, lalu memasukkannya ke saku.

“Setiap hari cuma di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang membuatmu lelah.”

Ponsel yang tergeletak di meja marmer tiba-tiba menyala.

Sebuah pesan Whatsapp masuk.

Nama kontaknya adalah emoji beruang kecil.

[Mas Farrel, Frankfurt hari ini lebih dingin. Jangan lupa bawa jaket tebal ya.]

Farrel mengambil ponselnya.

Cahaya layar menerangi senyum tipis di sudut bibirnya.

Dia membalas dengan cepat menggunakan satu tangan, bahkan sampai lupa menutup ritsleting kopernya.

“Dari rekan kerja?”

Aku memandang emoji beruang kecil itu.

Dia mengunci layar dan memasukkan ponselnya ke saku.

“Ya. Claudia Lovile. Dia juga terbang di rute yang sama hari ini, di kabin penumpang.”

“Bukankah dia kepala pramugari untuk rute domestik?”

"Perusahaan menugaskannya sementara. Dia diminta untuk membimbing kru baru."

Jawabannya terdengar sangat alami. Bahkan dia tidak perlu berpikir untuk menyampaikan alasannya.

Aku menatap punggungnya yang tegap dan teringat empat puluh lebih foto dalam album yang dikunci itu.

Foto-foto langit yang diambilnya sendiri dari ketinggian sepuluh ribu meter.

Tak satu pun pernah diperlihatkannya kepadaku.

Namun semuanya dikirimkan kepada Claudia Lovile tanpa sisa.

"Farrel."

"Kenapa?" Tanyanya seraya mengenakan sepatu di depan pintu.

"Kamu masih ingat Rabu depan itu hari apa?"

Farrel masih sibuk dengan sepatunya.

“Rabu minggu depan? Ada latihan simulator penerbangan perusahaan. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Rabu minggu depan adalah hari jadi hubungan kami yang kedelapan.

8 tahun lalu, tepat di hari Rabu, dia menerima surat pengangkatan sebagai kopilot.

Dengan senangnya dia memelukku dan berputar-putar di kamar apartemen kecil kami.

Saat itu dia berkata suatu hari akan mengajakku melihat lautan awan di ketinggian sepuluh ribu kaki.

Dia lupa.

“Aku berangkat dulu. Setelah mendarat nanti akan kukabari.”

Dia membuka pintu.

“Farrel.” Aku memanggilnya lagi.

Tangannya masih menggenggam gagang pintu, wajahnya tampak mulai tak sabar.

“Apa lagi? Mobil kru sudah menungguku di bawah.”

“Ritsleting kopermu belum tertutup rapat.”

Dia menunduk untuk mengeceknya, kemudian menutupnya dengan santai.

“Sudah. Hari ini kamu benar-benar aneh.”

Pintu tertutup.

Rumah kembali tenggelam dalam keheningan.

Aku berjalan ke depan komputer dan menekan tombol kirim pada surat pengunduran diri yang baru saja kutulis.

Kemudian aku membuka aplikasi pemesanan tiket dan mengonfirmasi tiket sekali jalan ke Baili tujuh hari lagi.

Tujuh hari.

Cukup untuk menghapus semua jejak selama 8 tahun terakhir.

Ponselku berdering.

Itu panggilan dari sahabatku, Alana Darmawan.

"Surat pengunduran dirinya sudah dikirim?"

“Sudah.”

“Kalau sudah ambil keputusan, tidak boleh menyesal, ya. Kapan kamu mau memberi tahu Farrel?"

"Pada hari aku pergi."

Alana terdiam beberapa saat.

"Luna, kamu yakin 8 tahun masa mudamu akan berakhir begitu saja?"

"Aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Aku menatap segelas susu yang sudah dingin di meja dapur.

"Alana, pernahkah kau melihat senja yang sengaja dia foto untuk orang lain?"

"Apa?"

"Sangat indah. Bahkan cahaya di sayap pesawat terlihat begitu lembut."

Aku membalik ponselku dan meletakkannya di atas meja.

“Sayangnya, semua itu bukan untukku.”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 10

    Hujan di Baili akhirnya reda.Aku mengenakan jaket olahraga yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci, mengikat rambutku seadanya menjadi ekor kuda, lalu mendorong pintu halaman.Ponsel di saku bergetar pelan.Sambil membungkuk membuka kunci sepeda, aku mengeluarkan ponsel.Di layar muncul pesan dari Alana, disertai tiga tanda seru.[Proses balik nama rumahnya sudah selesai!!! Kata agen properti, rumahnya bisa langsung dipasarkan. Mau dijual berapa?]Rumah itu adalah satu-satunya ikatan yang masih tersisa antara diriku dan kota itu.Aku menaiki sepeda, satu kaki masih menapak di tanah, lalu membalas pesannya dengan satu tangan.[Jual saja sesuai harga pasar. Bagaimana kalau uang hasil penjualannya kita pakai patungan untuk membuka penginapan di sini?]Belum sampai 10 detik, balasan Alana langsung masuk.Dia mengirim stiker panda yang sedang berlutut sambil bersujud, dengan tulisan besar di atas kepalanya, [Bos memang paling dermawan!]Tak lama kemudian dia mengirim pesan

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 9

    Sejak Farrel meninggalkan Baili, hidupku benar-benar kembali tenang.Alana memberi kabar lewat Whatsapp bahwa setelah kembali, Farrel jatuh sakit parah.Demamnya mencapai 40 derajat. Dia harus dirawat di rumah sakit dan menjalani infus selama 3 hari.Setelah keluar dari rumah sakit, dia mengajukan permohonan kepada perusahaan untuk dipindahkan ke divisi penerbangan kargo. Sejak saat itu, dia tidak lagi menerbangkan pesawat penumpang."Kudengar setiap kali masuk ke kabin penumpang dan melihat kursi observasi di sisi kanan yang kosong, dia langsung melamun. Hampir saja terjadi insiden penerbangan. Karena itu perusahaan akhirnya memindahkannya ke penerbangan kargo."Nada suara Alana terdengar sedikit iba, tetapi jauh lebih banyak mengandung rasa puas.Sedangkan Claudia, setelah kehilangan Farrel sebagai pelindungnya, seluruh "hak istimewa" yang dulu dimilikinya di maskapai telah dicabut.Rekan-rekan kerja yang sebelumnya pernah disakitinya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk membalasnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 8

    Kemunculan Farrel sama sekali tidak membuat mangkuk di tanganku berguncang.Aku menelan suapan terakhir es jeli, lalu mengambil tisu untuk menyeka sudut bibirku."Kamu salah alamat. Ini rumah tinggal pribadi."Dia melangkah masuk dengan langkah lebar, lalu menutup pintu halaman dari belakang.Tubuhnya jauh lebih kurus. Janggut tipis mulai tumbuh di dagunya. Kemeja yang biasanya selalu licin dan rapi kini kusut menempel di tubuhnya.Penampilannya yang berantakan itu benar-benar bertolak belakang dengan sosok kapten pilot yang selama ini selalu tampak sempurna."Luna, aku salah."Dia berhenti di hadapanku. Suaranya serak, dan gurat-gurat merah di matanya terlihat jelas."Aku sudah mengusir Claudia. Semua barangnya juga sudah kubuang. Mulai sekarang kursi observasi kopilotku hanya untukmu. Kata sandi ponselku juga sudah kuganti menjadi tanggal lahirmu. Pulanglah bersamaku, ya?"Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, dia buru-buru memamerkan semua "hasil perbaikannya".Aku menatapnya

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 7

    Claudia tanpa sadar mundur dua langkah karena terkejut.Selama ini dia belum pernah melihat Farrel seperti itu. Di hadapannya, Farrel selalu menjadi kapten senior yang lembut, tenang, dan selalu mampu mengatasi segala situasi."Mas Farrel, kenapa malah marah kepadaku?"Matanya langsung memerah. Air mata menggenang di pelupuknya."Apa karena Kak Luna marah lagi soal aurora? Aku sudah bilang tiketnya dikembalikan saja kepadanya. Kamu sendiri yang memaksaku ikut. Sekarang dia kabur dari rumah, kenapa malah aku yang dimarahi?"Farrel menatapnya tanpa berkedip.Melihat wajah penuh kepura-puraan itu, perutnya tiba-tiba terasa mual.Inikah wanita yang selama 4 tahun terakhir selalu dia “lindungi” sepenuh hati?Setelah Luna pergi, reaksi pertama Claudia bukan rasa bersalah, melainkan buru-buru melepaskan tanggung jawab. Bahkan berusaha membalikkan kesalahan kepadaku."Kamu sudah tahu dia pergi, kan?" Farrel berdiri. Selangkah demi selangkah mendekatinya."Di ruang tunggu bandara hari itu, kam

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 6

    Farrel kalang kabut.Dia menelepon semua orang yang mengenalku.Orang pertama yang dihubunginya adalah Alana."Alana, di mana Luna? Dia pergi ke mana?" tanyanya terburu-buru begitu telepon tersambung.Dari seberang, Alana mencibir dingin."Kapten Farrel, akhirnya rela pulang juga setelah liburan? Bagaimana? Aurora-nya indah?""Jangan bahas itu! Luna sebenarnya ada di mana? Mau ngambek juga ada batasnya!""Ngambek?" Suara Alana langsung meninggi."Farrel, apa isi kepalamu itu cuma avtur? Memangnya ada orang yang cuma ngambek, tapi sampai menonaktifkan kartu sim nya?""Dia cuma mau memaksaku mengalah!" Farrel mengatupkan rahangnya. "Bukankah cuma karena aku tidak mengajaknya melihat aurora? Bukankah cuma karena tiketnya kuberikan kepada Claudia? Nanti juga akan kuberi gantinya!""Farrel Grattino . . . ."Suara Alana berubah dingin."Sampai sekarang kamu masih tidak tahu alasan kenapa dia pergi, ya?"Alana mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan."6 tahun lalu, s

  • Mawar Layu di Musim Dingin Kedua   Bab 5

    Matahari di Baili bersinar terik, menghangatkan seluruh tubuh.Aku menyewa sebuah rumah tradisional suku Baili yang memiliki halaman kecil di dekat Danau Guta.Aku langsung membayar uang sewa untuk enam bulan.Pemilik rumah adalah seorang ibu yang ramah.Melihatku datang sendirian membawa koper, dia dengan sukarela membantu mengangkat barang-barangku masuk."Nak, ke Baili sendirian mau liburan?""Bukan liburan, tapi menetap di sini." Ujarku seraya menyusun buku-buku yang kubawa satu per satu di rak kayu dekat jendela."Baguslah. Tinggal di sini membuat badan dan hati jadi sehat."Ibu itu tersenyum lalu pergi.Aku merebahkan diri di ranjang kayu yang telah dipasangi seprai bersih. Lalu menatap balok-balok kayu berukir di langit-langit.Tak ada lagi deru mesin pesawat. Tak ada lagi radar penerbangan. Tak ada lagi penantian.Selama 8 tahun terakhir, inilah tidur paling nyenyak yang pernah kurasakan.Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Reykjavik.Apa yang dilakukan Farrel, aku sama

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status