Short
Mawar Layu di Musim Dingin Kedua

Mawar Layu di Musim Dingin Kedua

Por:  YusfaCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
1vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Selama 8 tahun, aku selalu menemani Farrel Grattino menapaki kariernya di dunia penerbangan dari seorang kopilot hingga menjadi kapten. Di tahun tersibuknya, aku bahkan rela mengundurkan diri dari pekerjaan untuk memasak sesuai jadwal penerbangannya. Pernah suatu kali aku bertanya, "Suatu hari nanti apakah kau bisa mengajakku melihat langit di ketinggian sepuluh ribu meter yang selalu kau lihat? Sekali saja." Dia bahkan tidak menghentikan sumpitnya. "Itu tempat kerja, bukan taman hiburan." Aku menjawab, "Baik." Sejak saat itu, aku tidak pernah mengungkitnya lagi. Hingga suatu malam ketika sulit tidur, aku tanpa sengaja menemukan album foto yang dikunci dengan kata sandi di ponselnya. Di dalamnya ada lebih dari empat puluh foto, semuanya diambil dari sudut pandang kokpit. Hamparan lautan awan, matahari terbenam, pelangi ganda setelah hujan, hingga galaksi di langit pada ketinggian sepuluh ribu meter. Setiap foto pernah dia kirim kepada orang yang sama, dengan nama kontak berupa emoji beruang kecil. Foto terbaru diambil tiga hari yang lalu. Senja menyelimuti langit, sementara setengah bulatan matahari menggantung di ujung sayap pesawat. Dia menuliskan sebuah kalimat: [Pemandangan hari ini juga sangat indah. Nanti kalau kau datang, duduklah di kursi observasi sebelah kanan. Itu sudut pandang yang terbaik.] Orang itu membalas dengan emoji pelukan dan empat kata: [Tunggu saat aku cuti.] Aku mengembalikan ponselnya ke tempat semula tanpa mengubah kata sandi ataupun menghapus album fotonya. Fajar menyingsing, aku menyeduh kopi seperti biasa, lalu meminumnya dengan tenang. Setelah itu, aku membuka laptop, menulis surat pengunduran diri, dan memesan tiket pesawat menuju Baili. 8 tahun sudah berlalu. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti mengejar rute penerbangannya dan menunggu waktu makan bersamanya. Aku berhenti menjaga rumah yang kosong sambil menebak-nebak terbang ke mana dia saat ini. Jika langit di ketinggian sepuluh ribu meternya memang tidak memiliki tempat untukku, maka aku akan berpijak di bumi, menumbuhkan kehidupan dan menikmati senjaku sendiri.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

“Kenapa pagi ini bangun pagi sekali?”

Farrel keluar dari kamar tidur sambil menarik koper penerbangannya. Alisnya sedikit berkerut.

Aku memegang cangkir kopi dan memperhatikannya memasang epaulet empat garis di kemeja putihnya dengan hati-hati.

"Aku tidak bisa tidur, jadi bangun untuk minum kopi."

Dia berjalan ke meja dapur dan tanpa pikir panjang mengambil segelas susu hangat yang baru saja kusiapkan, lalu meneguknya.

"Semalam begadang lagi buat nonton drama yang tidak ada gunanya itu?"

"Tidak."

"Luna, pola tidurmu makin berantakan sekarang."

Dia melihat jam tangannya, nada suaranya masih sama seperti biasanya, seolah sedang menasehati anak kecil.

"Sebentar lagi aku terbang ke Frankfurt. Pulang-pergi empat hari."

"Baik."

Dia tampak agak heran melihat reaksiku yang terlalu tenang hari ini.

Biasanya setiap kali dia mendapat penerbangan internasional jarak jauh, sehari sebelumnya aku sudah menyiapkan obat lambung, melatonin, dan bantal leher ke dalam kopernya.

Aku juga akan berkali-kali mengingatkannya agar mengabariku setelah mendarat.

Namun hari ini aku tidak melakukan apa pun.

Aku hanya duduk di kursi tinggi sambil menatapnya.

“Obat lambungku kamu taruh di mana?”

Dia mengobrak-abrik kantong samping kopernya.

"Di laci kedua bawah meja TV. Ambil sendiri."

Tangannya berhenti sejenak, lalu dia menoleh kepadaku.

“Ada apa denganmu hari ini? Jalan beberapa langkah saja malas.”

“Aku cuma sedikit lelah.”

Dia menghela napas, berjalan ke ruang tamu, membuka laci, mengambil kotak obat, lalu memasukkannya ke saku.

“Setiap hari cuma di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang membuatmu lelah.”

Ponsel yang tergeletak di meja marmer tiba-tiba menyala.

Sebuah pesan Whatsapp masuk.

Nama kontaknya adalah emoji beruang kecil.

[Mas Farrel, Frankfurt hari ini lebih dingin. Jangan lupa bawa jaket tebal ya.]

Farrel mengambil ponselnya.

Cahaya layar menerangi senyum tipis di sudut bibirnya.

Dia membalas dengan cepat menggunakan satu tangan, bahkan sampai lupa menutup ritsleting kopernya.

“Dari rekan kerja?”

Aku memandang emoji beruang kecil itu.

Dia mengunci layar dan memasukkan ponselnya ke saku.

“Ya. Claudia Lovile. Dia juga terbang di rute yang sama hari ini, di kabin penumpang.”

“Bukankah dia kepala pramugari untuk rute domestik?”

"Perusahaan menugaskannya sementara. Dia diminta untuk membimbing kru baru."

Jawabannya terdengar sangat alami. Bahkan dia tidak perlu berpikir untuk menyampaikan alasannya.

Aku menatap punggungnya yang tegap dan teringat empat puluh lebih foto dalam album yang dikunci itu.

Foto-foto langit yang diambilnya sendiri dari ketinggian sepuluh ribu meter.

Tak satu pun pernah diperlihatkannya kepadaku.

Namun semuanya dikirimkan kepada Claudia Lovile tanpa sisa.

"Farrel."

"Kenapa?" Tanyanya seraya mengenakan sepatu di depan pintu.

"Kamu masih ingat Rabu depan itu hari apa?"

Farrel masih sibuk dengan sepatunya.

“Rabu minggu depan? Ada latihan simulator penerbangan perusahaan. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Rabu minggu depan adalah hari jadi hubungan kami yang kedelapan.

8 tahun lalu, tepat di hari Rabu, dia menerima surat pengangkatan sebagai kopilot.

Dengan senangnya dia memelukku dan berputar-putar di kamar apartemen kecil kami.

Saat itu dia berkata suatu hari akan mengajakku melihat lautan awan di ketinggian sepuluh ribu kaki.

Dia lupa.

“Aku berangkat dulu. Setelah mendarat nanti akan kukabari.”

Dia membuka pintu.

“Farrel.” Aku memanggilnya lagi.

Tangannya masih menggenggam gagang pintu, wajahnya tampak mulai tak sabar.

“Apa lagi? Mobil kru sudah menungguku di bawah.”

“Ritsleting kopermu belum tertutup rapat.”

Dia menunduk untuk mengeceknya, kemudian menutupnya dengan santai.

“Sudah. Hari ini kamu benar-benar aneh.”

Pintu tertutup.

Rumah kembali tenggelam dalam keheningan.

Aku berjalan ke depan komputer dan menekan tombol kirim pada surat pengunduran diri yang baru saja kutulis.

Kemudian aku membuka aplikasi pemesanan tiket dan mengonfirmasi tiket sekali jalan ke Baili tujuh hari lagi.

Tujuh hari.

Cukup untuk menghapus semua jejak selama 8 tahun terakhir.

Ponselku berdering.

Itu panggilan dari sahabatku, Alana Darmawan.

"Surat pengunduran dirinya sudah dikirim?"

“Sudah.”

“Kalau sudah ambil keputusan, tidak boleh menyesal, ya. Kapan kamu mau memberi tahu Farrel?"

"Pada hari aku pergi."

Alana terdiam beberapa saat.

"Luna, kamu yakin 8 tahun masa mudamu akan berakhir begitu saja?"

"Aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Aku menatap segelas susu yang sudah dingin di meja dapur.

"Alana, pernahkah kau melihat senja yang sengaja dia foto untuk orang lain?"

"Apa?"

"Sangat indah. Bahkan cahaya di sayap pesawat terlihat begitu lembut."

Aku membalik ponselku dan meletakkannya di atas meja.

“Sayangnya, semua itu bukan untukku.”

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status