首頁 / Romansa / Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku / 191. Mengunci Akses Lokasi Raiden

分享

191. Mengunci Akses Lokasi Raiden

作者: prasidafai
last update publish date: 2026-06-13 15:03:18

Naomi menoleh ke arah ranjang.

Raiden masih terlelap.

Dengkuran halus keluar dari bibir pria itu. Dadanya naik turun dengan tenang seolah dunia di luar kamar tidak sedang berusaha memburunya.

Sementara ponsel di tangan Naomi terus bergetar.

[Lucy Miller.]

Nama itu berkedip di layar seperti peringatan.

Naomi memandangi wajah Raiden beberapa saat.

Memar di rahangnya terlihat semakin jelas da
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (3)
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
hahahaha, lasain loh sekalang dimalahin nona jendlal kecil...
goodnovel comment avatar
wh1teF1sh
ternyata emang bener si Piktor nih main culik.. dia pikir bakalan gampang ngadepin Raiden...
goodnovel comment avatar
Yu Mi
betul sekali Ave,plia memang suka ingkal janji,minta dijewel telinganya ya
查看全部評論

最新章節

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   194. Wanita Menyeramkan

    Raiden menatap lantai beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat kepala.“Jenderal Viktor,” jawab Raiden.Vance mengangguk pelan.“Benar.” Tatapan pria tua itu mengeras. “Viktor yang paling diuntungkan.”Perjalanan menuju pemakaman berlangsung dalam suasana sunyi.Vance tidak ikut. Namun pria tua itu menyediakan mobil beserta sopir untuk mengantar mereka.Pria yang duduk di belakang kemudi itu juga merangkap sebagai pengawal.Naomi dan Raiden duduk berdampingan di kursi belakang.Jendela mobil memperlihatkan langit yang muram.Beberapa menit berlalu tanpa percakapan.Sampai akhirnya Naomi membuka suara. “Lucy sempat mengirimiku pesan.”Raiden menoleh.Naomi membuka ponselnya. Lalu menunjukkan layar tersebut kepada Raiden.“Maaf, Raiden.” Suara Naomi terdengar pelan. “Kalau aku tahu dia sungguh-sungguh dan mungkin sedang dalam keadaan terjepit, aku pasti akan menanggapi

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   193. Akhirnya Terbuang

    Naomi menatap tangan Raiden yang masih menggenggam jemarinya.Entah karena suhu tubuh pria itu atau karena jantungnya sendiri yang mendadak berdetak lebih cepat, genggaman itu terasa hangat.Raiden mengangkat pandangan. Tatapan mereka bertemu.“Terima kasih juga sudah mengizinkanku menjalankan peranku sebagai papa Aveline,” lanjut Raiden.Naomi menelan ludah, berusaha menelan ketegangan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.“Aku sudah memaafkanmu,” balas Naomi. “Kamu juga sudah menunjukkan banyak perubahan yang membuatku yakin. Tapi lebih daripada itu semua, Aveline berhak tahu siapa ayahnya.”Raiden memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu.Tatapan Naomi melembut saat mengingat putrinya.Raiden mengangguk perlahan. Wajahnya tampak serius.Naomi melanjutkan, “Sekarang, aku harap kamu berpikir jutaan kali jika akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa menyakiti putrimu, Raiden.”

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   192. Tidak Suka Dia Lagi

    Raiden membeku.Untuk sesaat, pria itu merasa sedang melihat Naomi versi lima tahun.Tatapan tajam itu. Pipi yang menggembung karena kesal. Cara berdiri dengan kedua tangan bersedekap.Semuanya begitu mirip. Aveline benar-benar miniatur Naomi saat wanita itu masih berusia 21 tahun, masa awal-awal mereka pacaran.Dan entah kenapa, kesadaran itu membuat dada Raiden terasa hangat.“Aveline.” Raiden akhirnya melangkah mendekat. “Aveline, Paman tidak bermaksud ingkar janji. Maafkan Paman.”Pria itu berjongkok perlahan di depan gadis kecil tersebut. Tulang rusuknya masih terasa nyeri, tetapi Raiden mengabaikannya.Pria itu merentangkan kedua tangan, memberi kesempatan bagi Aveline untuk memilih.Aveline masih memanyunkan bibir. Matanya menyipit curiga, seolah sedang mempertimbangkan apakah permintaan maaf itu cukup tulus atau tidak.Beberapa detik berlalu. Lalu per

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   191. Mengunci Akses Lokasi Raiden

    Naomi menoleh ke arah ranjang. Raiden masih terlelap. Dengkuran halus keluar dari bibir pria itu. Dadanya naik turun dengan tenang seolah dunia di luar kamar tidak sedang berusaha memburunya. Sementara ponsel di tangan Naomi terus bergetar. [Lucy Miller.] Nama itu berkedip di layar seperti peringatan. Naomi memandangi wajah Raiden beberapa saat. Memar di rahangnya terlihat semakin jelas dalam cahaya lampu kamar. Ada plester kecil di alisnya. Bekas luka yang membuat dada Naomi kembali terasa sesak. Baru beberapa jam lalu pria itu berhasil pulang dengan selamat. Sekarang Lucy menelepon. Naomi menghela napas panjang. Jarinya menekan tombol merah. Panggilan terputus. “Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu malam ini,” gumamnya pelan. Saat ini Naomi tidak tahu Lucy menelepon sebagai siapa.

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   190. Janji Raiden

    Begitu satpam membantu Raiden masuk ke kamar, wanita itu langsung menunjuk ranjang.“Dudukkan di sana, Pak.”Raiden bahkan belum sempat membuka mulut ketika Naomi sudah mendorong bahunya pelan agar bersandar di kepala ranjang.Pria itu meringis.“Pelan-pelan sedikit, Dokter.”“Ini sudah yang paling pelan,” sahut Naomi dingin.Raiden menurut.Lampu kamar yang hangat menerangi wajahnya dengan jelas sekarang.Sobekan di alis kanan, memar keunguan di rahang, dan bekas darah mengering di sisi leher. Belum lagi cara pria itu beberapa kali menahan napas setiap bergerak.“Lihat aku.” Tangan Naomi gemetar saat menyentuh wajahnya.Raiden mengangkat kepala.Naomi memeriksa luka di alisnya terlebih dahulu. Setelah itu jemarinya turun ke rahang pria tersebut.Raiden mendesis pelan.“Sakit?”“Sedikit.”

  • Mayor Raiden Tidak Bisa Melepaskanku   189. Di Mana Papa?

    “Karena Mama takut.”Jawaban itu keluar sebelum Naomi sempat memikirkan kata-kata yang lebih baik. Jujur dan telanjang, seperti luka yang tidak sempat ditutup.Aveline menatapnya. “Takut apa?”Naomi menggeleng pelan.Bahkan Naomi sendiri tidak tahu harus menjelaskan dari mana.Takut Raiden mengetahui keberadaan Aveline dan mengambilnya dari Naomi? Takut Aveline akan membenci Raiden karena absen selama lebih dari lima tahun? Takut dirinya sendiri yang tidak sanggup menjalani semua itu?Semuanya benar, dan semuanya terlalu besar untuk dijejalkan ke dalam kalimat yang bisa dimengerti oleh anak usia lima tahun.“Ave marah?” tanya Naomi akhirnya.Aveline terdiam.Beberapa detik berlalu.“Sedikit,” jawab Aveline pelan, saat isaknya sudah mereda menjadi tarikan napas yang tidak rata.Satu kata itu menghantam dada Naomi lebih keras dari ya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status