Share

Bab 49

Penulis: Ryu Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-08-27 14:00:06

'Apa itu artinya kamu akan ninggalin aku setelah semuanya terbongkar, Ren?' batin Galang takut.

Galang mencoba untuk tersenyum. Senyum yang ia paksakan. "Makasih ya sayang kamu sudah percaya sama aku. Aku janji nggak akan khianati kamu. Cuma kamu satu-satunya wanita yang ada di hatiku."

Seren tersenyum. Sedetik kemudian Galang langsung melumat bibir Seren. Sebagai istri, Seren sama sekali tidak menolaknya. Apalagi ia juga sudah sangat merindukan Galang.

Seren membalas ciuman Galang. Napasnya mu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 82

    Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 81

    Beberapa minggu kemudian, saat jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Rumah Mama Heny yang biasanya tenang, mendadak panik."Ma... Ma... sakit... perutku sakit banget, Ma..."Rara terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung kasur, napasnya pendek-pendek. Perutnya yang sudah besar mengeras, lalu mengendur, lalu mengeras lagi lebih kuat.Seren yang tidur di kamar sebelah langsung berlari masuk. Ia masih memakai piyama, rambutnya berantakan."Rara! Kamu kenapa?""Seren... tolong... kayaknya... kayaknya aku mau lahiran..."Galang keluar dari kamarnya dengan panik. Mama Heny sudah lebih dulu bangun, wajahnya tegang tapi tetap tenang. Ia langsung mengambil tas yang sudah disiapkan sejak seminggu lalu di dekat pintu."Galang, ambil kunci mobil. Seren, bantu Rara ganti baju. Arka biar Mama yang gendong sebentar."Di tengah kepanikan itu, Rara justru menangis. Bukan karena sakit, tapi karena takut."Ma... kalau anakku lahir... dia nggak punya ayah ya,

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 80

    Tiga minggu setelah Rara pindah ke kontrakan baru yang ada AC itu. Kehidupannya awalnya begitu indah. Setiap pulang, Randy selalu membawa jajanan. Ia juga tak sungkan memasak untuk Rara. Mereka sudah berjanji akan menikah setelah anak yang ada di dalam kandungan Rara itu lahir.Sampai suatu sore...Ibu Randy datang. Pakai tas branded KW. Mukanya masam. "Randy, Ibu mau ngomong."Rara yang lagi lipat baju langsung diam."Bu, ngomong aja di sini," kata Randy gugup. Ibu Randy menatap Rara dari atas ke bawah."Kamu itu siapa sih? Kamu yang dulu selingkuh sama anaknya pengusaha itu kan? Yang namanya Galang?"Rara pucat. "Bu... itu sudah selesai...""Selesai?!" Ibu Randy membentak. "Tetangga bilang kamu hamil duluan sama orang kaya, terus ditolak, baru kamu mau sama anak saya! Bener?"Randy langsung berdiri. "Bu, jangan gitu!""DIAM KAMU!" Ibunya Randy menampar meja. "Kamu mau Ibu punya cucu dari perempuan kayak gini?! Perempuan yang hamil anak orang kaya terus gagal?!"Rara nangis. "Bu, anak

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 79

    Seminggu setelah Arka lahir. Rumah Mama Heny penuh tawa. Sepanduk "Aqiqah Arka Pratama" dipasang di halaman.Seren sehat. Arka gemuk. Galang tiap malam begadang gantiin popok. Yuda jadi om paling siaga. 24 jam standby. Mama Heny tiap hari masak 4 sehat 5 sempurna buat Seren.Sementara itu... Di rumah Randy, di kontrakan petakan Bekasi.Dikontrakan Randy..Rara duduk di lantai. Kipas angin bunyi berisik. Perutnya udah 7 bulan. Panas. Pengap. Randy kerja dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Gaji 4 juta. Cukup buat makan dan bayar kontrakan 1.5 juta."Ibu mertua" Rara datang tiap hari. Cerewet. "Rara, itu cucian numpuk!" "Rara, masak dong. Masa aku terus." "Rara, jangan tiduran terus. Jalan biar lahirannya gampang."Malamnya Randy pulang capek. "Ra, makan." Rara: "Aku nggak nafsu." "Ya makan dikit lah. Demi anak." Rara melempar sendok. "Kamu tau nggak sih rasanya jadi aku?! Dulu aku dimanja! Sekarang aku disuruh nyuci pake tangan!"Randy menghela napas. "Ra... kita em

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 78

    Dua minggu setelah hasil DNA keluar. Suasana rumah Mama Heny udah agak tenang. Seren masuk 9 bulan. Perutnya udah besar banget. Jalan aja susah. Rara masuk 6 bulan. Perutnya mulai keliatan. Randy tiap minggu datang. Tapi cuma duduk di ruang tamu. Nggak pernah nginep.Galang fokus kerja dan nemenin Seren kontrol. Yuda yang ngurus rumah. Masak. Belanja. Nganterin Rara kontrol. Mama Heny tiap hari ngaji. Minta rumah ini cepet adem.Hari ini ada acara tasyakuran kecil. 7 bulanan Seren. Undangannya cuma keluarga dekat dan tetangga. 30 orang.Pagi harinya ..Dari jam 6 rumah udah rame. ART masak. Tenda di halaman. Seren pakai gamis sage green. Duduk di kursi pelaminan kecil. Galang di sebelah. Ganteng. Pakai koko.Rara pakai dress ungu. Sengaja agak ketat biar keliatan hamilnya. Yuda pakai kemeja putih. Sibuk kesana kemari. Mama Heny pakai mukena. Jadi tuan rumah.Tamu datang. Salaman. Foto-foto. "Selamat ya, Bu Seren. Sehat-sehat bayinya." "Alhamdulillah, Makasih, Bu."Ra

  • Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!   Bab 77

    Satu minggu setelah Rara pulang dari RS. Rumah Mama Heny kondisinya lebih tertib. Rara full bedrest di kamar. Nggak boleh keluar kecuali ke kamar mandi. Mama Heny yang masakin. Yuda yang nganterin makan. Seren yang nemenin ngobrol. Galang yang bayar semua.Tapi diantara mereka ada tembok. Tembok yang namanya "kebohongan".Hari H...Jam 8 pagi. Mobil sudah nunggu di depan. Tujuannya adalah Laboratorium DNA Pusat, Jakarta.Semua anggota rumah ikut kecuali Seren. Galang, Yuda, Rara, Mama Heny. Seren nggak ikut karena perutnya udah 8 bulan dan dokter nggak nyaranin.Di mobil hening. Rara duduk di tengah. Diapit Yuda dan Mama Heny. Tangannya dingin. Galang nyetir. Raut wajahnya datar. Tapi rahangnya mengeras."Sampai, Ma." kata Yuda pelan. Mama Heny mengangguk. "Bismillah."Mereka masuk. Ruangannya putih. Dingin. Ada bau alkohol. Petugas: "Yang mau tes siapa?" Galang: "Saya. Dan dia." nunjuk Rara. "Bayinya?" "Belum lahir, Bu." jawab Yuda. "Jadi kita tes darah ibu dan dar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status