author-banner
Ryu Lee
Ryu Lee
Author

Novel-novel oleh Ryu Lee

Sopir Kesayangan Dokter Cantik

Sopir Kesayangan Dokter Cantik

Menjadi sopir pribadi dokter tercantik, membuatku terjebak dalam hasrat di mana sang dokter ternyata tidak pernah dijamah suaminya yang seorang pelaut. Tidak hanya itu, aku juga terjebak dalam hasrat kedua pelayan pribadinya, yang sama-sama menggoda! "Kalau kamu mau, masuklah! Perlihatkan kepadaku kalau keahlianmu tidak hanya menyetir mobilku, tapi menyetir tubuhku juga," ucap dr. Sarah memancing kejantanan dan juga adrenalin Reno secara bersamaan.
Baca
Chapter: Bab 133
Reno mempererat pelukannya pada tubuh Sarah, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh rasa lelah dan sisa keterkejutannya di dada bidangnya. Detak jantung Reno yang tenang seolah menjadi melodi penenang yang paling ampuh untuk meredakan badai emosi di dalam dada sang dokter cantik. Setelah beberapa menit berlalu dan isakan Sarah mulai mereda, Reno perlahan mengurai pelukan mereka."Sudah lebih tenang, hmm?" tanya Reno lembut, jemarinya bergerak menghapus sisa air mata di sudut mata Sarah.Sarah mengangguk pelan, seluas senyuman tipis yang tulus terbit di bibirnya. "Iya, Ren. Terima kasih. Kalau tidak ada kamu tadi, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Papa,""Sudah kewajibanku untuk selalu menjagamu, Sarah. Sekarang, gantilah pakaianmu. Kita pulang dan beristirahat, oke?" ucap Reno yang langsung dihadiahi anggukan patuh oleh Sarah.Setelah memastikan Sarah masuk ke dalam ruang kerjanya dengan aman untuk berganti pakaian, Reno melangkah mundur beberapa jarak ke sudut koridor yang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-08
Chapter: Bab 132
Lampu indikator merah di atas pintu ruang operasi bedah utama rumah sakit akhirnya berubah menjadi hijau, dan sesaat kemudian, Sarah melangkah keluar dengan tubuh yang tampak begitu lelah, namun memancarkan kelegaan yang luar biasa. Operasi penggantian katup jantung yang dipimpinnya selama hampir tiga jam baru saja berjalan dengan sukses tanpa ada komplikasi sedikit pun.Sarah melepas masker bedah dan penutup kepalanya, membiarkan rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Ia mengusap perut buncitnya yang terasa agak tegang akibat berdiri terlalu lama di depan meja operasi."Kerja bagus semuanya. Tolong pantau tanda-tanda vital pasien secara berkala di ruang ICU," ucap Sarah lembut kepada tim perawat yang mengikutinya dari belakang. Setelah mendapatkan anggukan hormat dari timnya, Sarah berjalan menuju ruang pribadinya untuk beristirahat dan membersihkan diri.Namun, baru saja Sarah melintasi lorong menuju area lobi lift lantai empat, langkah kakinya mendadak terhenti. Atmosfer di
Terakhir Diperbarui: 2026-07-07
Chapter: Bab 131
Mentari pagi bersinar cukup terik, memayungi halaman rumah mewah dokter Sarah yang tampak sunyi dari luar. Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil hitam terparkir di gerbang samping. Di balik kemudinya, Reno duduk dengan mengenakan pakaian kepala petugas kebersihan rumah sakit. Pagi ini, ia kembali melakoni peran terbaiknya di dunia, yaitu menjadi sopir kesayangan dokter cantik itu.Tak lama kemudian, pintu kediaman mewah itu terbuka. Sarah melangkah keluar dengan anggun, mengenakan gaun ibu hamil dan dilapisi dengan jas dokternya yang berwarna putih bersih.Sementara di dalam rumah, Sarah menuruni anak tangga dengan senyuman yang merekah. Ia tidak memperdulikan tatapan sinis kedua orang tuanya yang duduk di kursi meja makan.Dengan langkah santai, Sarah melangkahkan kakinya, meninggalkan rumah tanpa bertegur sapa dengan kedua orang tuanya itu.Sesaat kemudian, pintu rumah pun dibuka. Sarah melangkah keluar dengan sangat anggun, dan senyuman manis itu langsung ia lemparkan kepada Reno
Terakhir Diperbarui: 2026-07-01
Chapter: Bab 130
Setelah mengantar Elena ke apartemennya, dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah tampannya, sopir kesayangan dokter cantik itu langsung menuju ke apartemen Samuel. Tak butuh waktu lama, mobil Reno kini sudah berada di parkiran apartemen elite itu. Dan tak butuh waktu lama, Reno pun sudah berada di unit apartemen Samuel.Asap rokok mengepul tipis di dalam ruang kerja apartemen Samuel yang temaram. Jam dinding yang menempel di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun baik Reno maupun Samuel sama sekali tidak menunjukkan raut wajah mengantuk. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu dalam dan pekat."Gila... Baskoro itu benar-benar iblis berwajah manusia, Sam," desis Reno tiba-tiba menyeletuk di hadapan Samuel yang masih sibuk dengan layar laptopnya."Ada apa, Ren? Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Samuel mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Reno sembari menyandarkan punggungnya ke kursi.Sebelum Reno memulai ceritanya, Sopi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-29
Chapter: Bab 129
Reno melirik sekilas ke arah Elena dari sudut matanya, sementara kedua tanganya tetap fokus mengendalikan setir mobil menembus jalanan kota yang mulai lengang. Kening Reno masih saja berkerut. Ia terlalu penasaran dengan rahasia Baskoro yang ada di tangan Elena."Katakan, Elena! Sebenarnya kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba kamu mencegatku di jalanan seperti ini?" tanya Reno lagi. Mobil sedan hitam yang dikemudikannya itu terus melaju membelah gedung demi gedung yang berderet di jalanan ibu kota."Sebenarnya aku baru saja selesai bertemu dengan Baskoro di cafe ujung kompleknya itu. Tadinya aku berniat menunggu taksi untuk pulang. Eh, aku malah melihat mobil kamu. Ya sudah, aku embat aja," jawab Elena dengan santai sembari mengusap perutnya yang buncit.Mendengar penjelasan dari Elena, tentu saja Reno terkejut. Ia menepikan mobilnya lalu beralih menatap Elena dengan serius."Katakan padaku, Elena! Ada urusan apa kamu dengan papanya Sarah. Plis Elena, jangan buat aku penasaran seperti i
Terakhir Diperbarui: 2026-06-28
Chapter: Bab 128
Suasana di dalam kamar tidur Sarah terasa begitu tenang, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana mencekam yang baru saja terjadi di ruang tamu bawah. Sarah berjalan perlahan menuju tepi ranjangnya, lalu menundukkan diri dengan ahelaan napas panjang yang penuh dengan rasa lega. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah luruh bersama angin siang itu.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan pintu yang teramat pelan seketika membuat Sarah langsung menoleh. Pintu kamar itu sedikit terbuka, menampilan sosok Reno yang melangkah masuk setelah memastikan Baskoro dan istrinya masih mematung di bawah. Saat Reno tadi sudah sampai di mobilnya, ia kembali masuk ke dalam rumah Sarah dan menemui Sarah di kamarnya."Boleh aku masuk?" tanya Reno lembut, seulas senyuman tulus terukir di wajah tampannya."Tentu saja, Ren. Kemarilah," sahut Sarah sembari menggeser duduknya, memberikan ruang untuk pria yang baru saja menyelamatkan hidup dan masa depannya itu.Reno melangkah mendeka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-25
Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!

Mbak Model, Tolong Jangan Nakal!

Galang Pramudya menyembunyikan satu rahasia besar dari semua orang. Kecelakaan tiga tahun lalu membuat fotografer dingin ini kehilangan fungsi kejantanannya. Dokter bahkan sudah memvonis bagian bawah tubuhnya lumpuh dan mati rasa secara permanen. Sialnya, dia kini terpaksa memotret Seren Amanda. Model paling agresif dan sengaja menguji kesabaran Galang. Sampai sebuah insiden terjadi membuat Galang terpaksa menolongnya. Namun saat tak sengaja menolongnya, miliknya yang tak bangun selama bertahun mendadak keras. Namun bagaimana Seren tahu kalau Galang sebenarnya...
Baca
Chapter: Bab 79
Seminggu setelah Arka lahir. Rumah Mama Heny penuh tawa. Sepanduk "Aqiqah Arka Pratama" dipasang di halaman.Seren sehat. Arka gemuk. Galang tiap malam begadang gantiin popok. Yuda jadi om paling siaga. 24 jam standby. Mama Heny tiap hari masak 4 sehat 5 sempurna buat Seren.Sementara itu... Di rumah Randy, di kontrakan petakan Bekasi.Dikontrakan Randy..Rara duduk di lantai. Kipas angin bunyi berisik. Perutnya udah 7 bulan. Panas. Pengap. Randy kerja dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Gaji 4 juta. Cukup buat makan dan bayar kontrakan 1.5 juta."Ibu mertua" Rara datang tiap hari. Cerewet. "Rara, itu cucian numpuk!" "Rara, masak dong. Masa aku terus." "Rara, jangan tiduran terus. Jalan biar lahirannya gampang."Malamnya Randy pulang capek. "Ra, makan." Rara: "Aku nggak nafsu." "Ya makan dikit lah. Demi anak." Rara melempar sendok. "Kamu tau nggak sih rasanya jadi aku?! Dulu aku dimanja! Sekarang aku disuruh nyuci pake tangan!"Randy menghela napas. "Ra... kita em
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 78
Dua minggu setelah hasil DNA keluar. Suasana rumah Mama Heny udah agak tenang. Seren masuk 9 bulan. Perutnya udah besar banget. Jalan aja susah. Rara masuk 6 bulan. Perutnya mulai keliatan. Randy tiap minggu datang. Tapi cuma duduk di ruang tamu. Nggak pernah nginep.Galang fokus kerja dan nemenin Seren kontrol. Yuda yang ngurus rumah. Masak. Belanja. Nganterin Rara kontrol. Mama Heny tiap hari ngaji. Minta rumah ini cepet adem.Hari ini ada acara tasyakuran kecil. 7 bulanan Seren. Undangannya cuma keluarga dekat dan tetangga. 30 orang.Pagi harinya ..Dari jam 6 rumah udah rame. ART masak. Tenda di halaman. Seren pakai gamis sage green. Duduk di kursi pelaminan kecil. Galang di sebelah. Ganteng. Pakai koko.Rara pakai dress ungu. Sengaja agak ketat biar keliatan hamilnya. Yuda pakai kemeja putih. Sibuk kesana kemari. Mama Heny pakai mukena. Jadi tuan rumah.Tamu datang. Salaman. Foto-foto. "Selamat ya, Bu Seren. Sehat-sehat bayinya." "Alhamdulillah, Makasih, Bu."Ra
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 77
Satu minggu setelah Rara pulang dari RS. Rumah Mama Heny kondisinya lebih tertib. Rara full bedrest di kamar. Nggak boleh keluar kecuali ke kamar mandi. Mama Heny yang masakin. Yuda yang nganterin makan. Seren yang nemenin ngobrol. Galang yang bayar semua.Tapi diantara mereka ada tembok. Tembok yang namanya "kebohongan".Hari H...Jam 8 pagi. Mobil sudah nunggu di depan. Tujuannya adalah Laboratorium DNA Pusat, Jakarta.Semua anggota rumah ikut kecuali Seren. Galang, Yuda, Rara, Mama Heny. Seren nggak ikut karena perutnya udah 8 bulan dan dokter nggak nyaranin.Di mobil hening. Rara duduk di tengah. Diapit Yuda dan Mama Heny. Tangannya dingin. Galang nyetir. Raut wajahnya datar. Tapi rahangnya mengeras."Sampai, Ma." kata Yuda pelan. Mama Heny mengangguk. "Bismillah."Mereka masuk. Ruangannya putih. Dingin. Ada bau alkohol. Petugas: "Yang mau tes siapa?" Galang: "Saya. Dan dia." nunjuk Rara. "Bayinya?" "Belum lahir, Bu." jawab Yuda. "Jadi kita tes darah ibu dan dar
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 76
Tiga hari setelah HP-nya disita. Rumah Mama Heny rasanya kayak penjara buat Rara.Pagi disuruh sarapan bareng. Siang disuruh istirahat di kamar. Sore diawasi Yuda. Malam pintu dikunci dari luar.Galang sibuk WFH. Seren sibuk persiapan lahiran. Mama Heny sibuk ngaji. Nggak ada yang nanya kabar Rara. Nggak ada yang chat.Rara duduk di kasur. Nendang bantal. "Gila. Aku kayak tahanan."Dia liat jendela. Lantai satu. Ada pohon mangga. Otaknya langsung jalan.Jam dua malam. Semua tidur. Rara pelan-pelan buka jendela. Turun lewat dahan. Jatuh. Sakit. Tapi dia tahan.Dia lari ke ujung gang. Naik ojek online. "Tujuan ke Cafe Sudut Kota ya, Mbak?" "Iya, Mas. Cepat."Di cafe..Randy udah nunggu. Wajahnya panik. "Kamu gila? Kabur?" "Aku nggak kuat, Ran." Rara langsung peluk Randy. "Aku dikurung."Randy mengelus punggung Rara. "Udah, tenang. Kita kabur bareng aja. Ke Bandung. Ke rumah temen aku." Rara mengangguk. "Iya. Aku ikut."Mereka pesan tiket travel online. Jam 4 subu
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 75
Pagi sekali, rumah Mama Heny masih sepi. Hanya suara burung dan mesin dispenser yang bunyi.Yuda duduk di meja makan. Kopi hitam di depannya. Matanya sembab. Semalaman dia nggak bisa tidur.Di kepalanya muter terus bayangan semalam. Rara masuk dari pintu belakang. Sama laki-laki. Pelukan."Yud, udah bangun?" suara Mama Heny dari dapur. "Iya, Ma." Yuda langsung berdiri. "Aku yang masak ya." "Nggak usah. Mama aja. Kamu istirahat." "Enggak, Ma. Aku pengen masak." Mama Heny mengangguk. Lalu masuk ke kamar buat bangunin Seren.Jam setengah tujuh. Semua udah duduk di meja makan. Galang datang dari ruang kerja. Kemejanya kusut. Rara turun paling terakhir. Pakai daster. Wajah pucat. Kayak kurang tidur."Selamat pagi semua." Rara tersenyum. Terlalu lebar. "Pagi." jawab Seren pelan. Galang cuma ngangguk. Sibuk scroll HP. Yuda menatap Rara. Lama.Rara merasa nggak nyaman. "Kenapa, Mas Yuda?" "Enggak." Yuda nyuapin nasi. "Sarapan dulu."Setelah sarapan, Galang langsung ke ruang kerja. K
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 74
Sudah dua minggu sejak sidang cerai. Rumah Mama Heny lebih tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada banting pintu. Pagi hari jadwalnya Seren kontrol ke dokter kandungan. Siangnya Rara kontrol ke dokter umum karena katanya sering pusing. Sorenya Galang WFH dari ruang kerja. Malamnya Yuda yang masak.Semua berjalan seperti rumah biasa. Terlalu biasa sampai Rara merasa bosan.Dikamar Rara...Rara duduk di depan kaca. Perutnya sudah semakin membesar. Dia pakai dress longgar warna krem. Rambut disasak biar kelihatan rapi.HP-nya bergetar. Nama Randy tertulis disana.Chat masuk. Kamu jadi ketemu hari ini? Jadi. Jam dua. Di cafe deket RS Mitra ya," tulis Rara."Oke. Aku pesen tempat paling pojok," balas Randy cepat.Rara senyum. Dia hapus chat itu. Lalu buka laci, ambil dompet dan masker.Tok tok. "Mbak Rara, mau keluar?" suara ART. "Iya, Bu. Mau kontrol ke dokter. Bilang ke Mama ya." "Baik, Mbak."Rara keluar kamar dengan santai. Lewat ruang tamu, Mama Heny lagi nyuapin Seren buah. "Ma
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Pawang Hati Mafia Kejam

Pawang Hati Mafia Kejam

Sekejam-kejamnya laki-laki, ia akan tunduk pada wanitanya. Begitulah yang terjadi kepada Reza Yunanda, seorang mafia kejam yang terkenal bengis dan juga dingin. Tak ada yang berani berurusan dengannya, hingga pada suatu hari, sebuah perusahaan terkenal tersangkut masalah dengannya sehingga membuat Hartawan, pemilik perusahaan tersebut harus merelakan putri kandungnya untuk dijadikan istri dari mafia kejam tersebut. Alih-alih akan hidup menderita seperti rumor yang beredar, wanita yang biasa dipanggil Sabe itu justru dibuat seperti ratu oleh Reza. Sabe berhasil meluluhkan Reza dan membuat Reza tak bisa hidup tanpa dirinya. Hingga di suatu hari, seseorang dari masa lalu Reza kembali dan merusak rumah tangga mereka. Apakah Reza dan Sabe bisa melalui cobaan dalam rumah tangga mereka? Ataukah salah satu diantara mereka harus hidup dalam penyesalan tiada akhir?
Baca
Chapter: Bayangan Dari Masa Lalu
Fajar yang baru menyingsing di atas Danau Como tidak hanya mewarnai langit dengan palet emas, merah muda, dan ungu, tetapi juga menumpahkan cahaya keperakan ke dalam kamar tidur kecil Reza dan Sabe. Cahaya itu membelai seprai putih yang kini berantakan, sebuah kanvas dari malam yang penuh makna, malam di mana janji ditepati dan bayangan masa lalu dilepaskan.Sabe terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kedamaian yang mendalam. Ia meringkuk di dalam pelukan Reza, menghirup aroma maskulin suaminya yang merupakan campuran unik dari kopi pahit, tembakau mahal yang samar-samar, dan kini, aroma ketenangan yang baru. Aroma itu adalah aroma rumah, aroma dermaga yang telah lama ia cari.Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reza yang terlelap. Bekas-bekas ketegasan dan kekejaman yang pernah menggaris di wajahnya kini melunak, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang hampir seperti seorang anak. Semua kelelahan yang diakumulasi dari tiga tah
Terakhir Diperbarui: 2025-12-07
Chapter: Awal Yang Baru Dan Malam Pertama Reza Sabe
Malam itu, Danau Como diselimuti oleh keheningan yang agung, sebuah karpet beludru biru gelap yang ditaburi intan dari bintang-bintang. Di dalam rumah kecil mereka yang hangat, Udara yang bersujud terasa nyata, kesunyian yang dipenuhi rasa syukur, bukan kesedihan. Ini adalah malam di mana dua jiwa yang telah melalui badai akhirnya menemukan dermaga untuk berlabuh.Sabe berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang terasa dingin. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih polos, hadiah dari Reza yang tahu bahwa kini ia mendambakan kesederhanaan. Gaun itu memeluknya dengan lembut, sangat berbeda dari gaun-gaun mahal yang dulu ia pakai sebagai ratu mafia yang terpaksa.Ia menoleh ketika Reza memasuki kamar. Reza telah berganti pakaian menjadi piyama linen berwarna gelap, sosoknya yang dulu dipenuhi ketegangan kini terasa santai, namun matanya memancarkan rasa hormat dan gugup yang tak tersembunyi. Usia mereka yang terpaut cukup jauh, dan sejarah gelap yang mengiringi hubungan mereka,
Terakhir Diperbarui: 2025-12-06
Chapter: Pilar Ketiga, Kemenangan Sabe dan Penyesalan Reza
Lorong di balik pintu baja rahasia itu memang menurun curam, membawa Sabe dan Maya ke kedalaman tanah yang lebih panas dan berbau belerang. Namun, ketegangan yang mencekik di permukaan telah tergantikan oleh kelegaan yang dingin, bercampur dengan adrenalin murni dari kemenangan kecil mereka."Kau berhasil, May," bisik Sabe, suaranya parau karena debu dan ketakutan yang tertinggal.Maya menyeka air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan keringat yang bercampur debu. "Itu bukan aku. Itu Ayah. Dia selalu tahu bagaimana meluluhkan hati para pahlawan yang keras kepala, bahkan jantung baja sekalipun."Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang kecil dan remang-remang, yang tidak terlihat seperti bagian dari pabrik peleburan. Di tengahnya, sebuah peti kayu tua tampak diletakkan di atas altar batu."Pilar Ketiga," gumam Maya, mendekat dengan hati-hati. “Ini adalah tempat persembunyian terakhir. Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu… dan di sini, di mana semuanya berakhir,
Terakhir Diperbarui: 2025-12-05
Chapter: Pilar Kedua
Sabe dan Maya berlari tanpa henti, membiarkan kegelapan hutan yang lebat menelan mereka. Tanah basah dan berlumpur di lereng bukit Cikandel menjadi sekutu mereka. Mereka menembus semak belukar yang berduri, suara napas mereka yang terengah-engah dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk. Di kejauhan, mereka masih bisa mendengar teriakan Reza, sebuah janji yang kejam. Ia tidak akan pernah berhenti."Pabrik Pemurnian Emas..." Sabe berusaha mengatur napas, menyeimbangkan diri saat Maya menarik tangannya melompati akar pohon yang melintang."Tempat pembersihan aset kotor. Bagaimana... Bagaimana itu bisa menjadi tempat di mana Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu?"Maya memperlambat langkahnya sedikit, bersembunyi di balik sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjulang seperti jaring laba-laba raksasa."Ayah tidak pernah menggunakan metafora biasa. Dia bermain dengan kata-kata kuno, dengan alkimia. Cahaya Merangkak. Itu adalah cahaya tersembunyi, yang tidak diakui
Terakhir Diperbarui: 2025-12-05
Chapter: Pilar Pertama
Sabe mengikuti Maya, langkahnya kini lebih mantap meskipun air kotor di selokan itu dingin dan kental. Bau lumpur, karat, dan air pembuangan yang menyengat terasa seperti minyak wangi kebebasan setelah aroma pengap di ruang arsip. Mereka berjalan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh gemericik air dan napas terengah-engah. Di atas, suara sirene mobil polisi dan mobil dinas yang tergesa-gesa terdengar seperti lolongan hantu yang jauh, memburu mereka.Mereka harus bergerak cepat. Reza tidak bodoh. Kemarahannya yang besar akan segera memudar, digantikan oleh perhitungan yang dingin. Catatan Plato itu adalah gangguan, bensin yang membakar amarahnya, tetapi hanya sementara."Kau bilang ada tiga pilar, tiga petunjuk," kata Sabe, suaranya bergema samar di terowongan beton. Ia harus memecah keheningan yang mencekam itu. "Petunjuk pertama, Pilar Pertama, dimana Waktu Berhenti. Di sana, lonceng Mati tidak akan berdentang lagi. Apa yang kau ketahui tentang ini?"Maya tidak langsung
Terakhir Diperbarui: 2025-11-02
Chapter: Jalan Dibawah Tanah
Sabe terpeleset di ambang pintu, menabrak punggung Maya yang sudah melangkah cepat ke dalam lorong yang sempit dan gelap. Aroma di sini jauh berbeda. Bukan lagi kertas tua dan kapur barus, melainkan tanah lembab, lumut, dan bau karat yang menusuk hidung."Hati-hati. Lantai kayu ini sudah lapuk," desis Maya tanpa menoleh.Suara decit rem yang tajam di jalan depan kini diikuti oleh debuman pintu mobil yang keras dan suara sepatu pantofel yang tergesa-gesa menghantam aspal. Mereka hanya punya beberapa detik."Nyaris," bisik Sabe, menelan ludah. Adrenalinnya melonjak, membakar rasa takut menjadi fokus tajam. Ia mengikuti Maya, tangannya meraba dinding di sampingnya yang terasa seperti batu bata tua yang dingin. Lorong itu menukik tajam ke bawah, membentuk tangga curam yang dibuat dari kayu yang tidak rata."Apa yang kau ketik di ponselku?" tanya Sabe, suaranya tercekat."Alamat Yayasan," jawab Maya, langkahnya tanpa cela di kegelapan. "Candra akan memimpin pasukan serigalanya ke sana, me
Terakhir Diperbarui: 2025-10-29
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status