Chapter: Bab 119Sarah terpaku dan menatap lekat sepasang mata Reno yang kini telah basah oleh air mta. Melihat pria sekuat dan sehebat Reno meneteskan air mata untuknya, rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hati Sarah. Dadanya terasa begitu sesak, menyadari betapa kejamnya ia jika harus menutup mulut dan membiarkan Reno menyalahkan dirinya sendiri."Ini bukan salahmu, Reno. Ini sama sekali bukan salahmu,"isak Sarah, suaranya parau, nyaris habis akibat terlalu banyak menangis. Kedua tangan mungilnya naik, balas menyentuh pergelangan tangan Reno yang masih menangkup wajahnya. "Ini tentang keluargaku, dan tentang Aditama Group,,,"Rahang Reno seketika mengeras mendengar nama keluarga besarnya disebut oleh Sarah. Sorot matanya menajam, menduga-duga hal besar apa yang sudah terjadi antara keluarganya dengan keluarga Sarah."Apa yang orang tuamu katakan tentang Aditama Group? Dan apa hubungan keluargamu dengan Aditama Group?" tanya Reno dengan suara baritonnya yang mendadak berubah di
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 118Di sebarang telepon, terdengar helaan napas yang teramat berat dan serak dari Sarah di dalam kamarnya. "Iya, May... ini saya akan bersiap-siap. Saya kurang enak badan, jadi agak sedikit ketiduran. Kamu tolong pastikan ruang operasi dan berkas pasien siap semua ya. Saya mungkin akan sampai mepet dengan waktu operasi pagi ini,""Baik, dok. Segala sesuatunya sudah aman di sini. Dokter hati-hati di jalan ya," ucap Maya sebelum mengakhiri panggilan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk.Maya menurunkan ponselnya, lalu menatap Reno yang sejak tadi berdiri tegang di hadapannya dengan sepasang mata penuh harap. "Dokter Sarah bilang kalau dia merasa kurang enak badan, tapi dia akan tetap datang untuk jadwal operasi pagi ini. Nanti aku akan cari cara agar kamu bisa bertemu dan berbicara empat mata dengannya. Semoga saja hubunganmu dengan dokter Sarah baik-baik saja ya, Ren,"Mendengar hal itu, ulu hati Reno seperti diremas kuat. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana seragam keber
Last Updated: 2026-06-14
Chapter: Bab 117Tut... Tut...Sambungan telepon terputus sepihak. Reno terpaku di balik kemudi mobil SUV hitamnya dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Kalimat dingin namun bergetar dari Sarah barusan terus berdengung di kepalanya. 'Mulai detik ini kita putus.. kamu bukan lagi sopir pribadiku,' Keheningan malam di dalam mobil itu mendadak berubah menjadi sangat kuat, berbanding terbalik dengan gemuruh hujan yang kian lebat menghantam kaca depan. Perlahan, Reno menurunkan ponselnya. Matanya yang biasa memberikan keteduhan untuk Sarah, kini seketika meredup, berganti dengan kilatan dingin yang amat pekat dan mematikan. Aura mafia yang selama ini ia telah kubur dalam-dalam demi bisa hidup tenang bersama dengan Sarah, kini bangkit seutuhnya dalam satu kedipan mata.Reno mencengkram setir mobilnya begitu kuat dan mengeluarkan suara derit yang kasar. Pria itu tahu betul seperti apa watak Sarah. Dokter cantik itu teramat mencintainya, tidak mungkin Sarah secara tiba-tiba meminta putus tanpa ada ses
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: Bab 116Ruangan tengah itu mendadak terasa begitu sunyi. Sarah meremas jemarinya sendiri, menatap lurus ke dalam sepasang mata Papa nya tanpa ada niat untuk mundur selangkah pun. Dinding pertahanan yang selama ini ia bangun untuk melindungi hubungannya dengan Reno, kini harus ia runtuhkan demi masa depan mereka."Namanya Reno, Pa," jawab Sarah dengan satu helaan napas berat, suaranya terdengar begitu lantang dan berani. "Dia adalah pria yang menemani Sarah di masa-masa terseulit setelah perceraian itu. Dan dia.. dia adalah sopir pribadi Sarah saat ini,"BRAKK!Baskoro langsung berdiri dari tempat duduknya, membuat kursi di belakangnya bergeser kasar. Wajah pria paruh baya itu memerah padam, menahan amarah yang luar biasa besar setelah mendengar pengakuan putri keduanya itu."A... Apa? Sopir pribadimu? Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu yang merupakan seorang dokter terbaik di ibu kota ini memiliki hubungan dengan seorang sopir pribadi? Apa kata orang nanti, Sarah? Mau di taruh dimana muka Papa s
Last Updated: 2026-06-11
Chapter: Bab 115Jam dinding di ruang tamu rumah Sarah sudah berdentang menunjukkan pukul delapan malam ketika deru mesin mobil Sarah terdengar memasuki halaman. Langkah kakinya terasa begitu sangat berat karena ia merasa cukup lelah kali ini."Istirahatlah setelah ini, sayang. Kamu sepertinya sangat lelah sekali," ucap Reno sembari menggenggam tangan Sarah yang hendak turun."Aku maunya begitu, Ren. Tapi aku harus menemui kedua orang tua ku dulu. Sepertinya mereka sudah menungguku dari tadi,""Ya sudah, kalau begitu segera setelah menemui mereka, kamu langsung istirahat saja," ucap Reno mengecup bibir Sarah sekilas.Sarah pun turun, meninggalkan sedikit senyumannya untuk sopir kesayangannya itu.Begitu sampai di depan pintu rumahnya, Sarah menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum terbaiknya sebelum memutar kenop pintu utama. "Mama... Papa," sapa Sarah setelah melihat kedua orang tuanya dengan wajah seceria mungkin.Di ruang tengah yang hangat, Saras dan Baskoro langsung bangkit dari duduk mereka..
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 114Jam pulang kantor akhirnya tiba, ditandai dengan riuhnya para staf yang mulai mengemas barang-barang mereka. Namun, bagi Adrian, sore itu terasa bagai neraka yang berjalan. Sepanjang sisa jam kerjanya, ia terus dibayangi oleh ketakutan yang luar biasa jika Sarah benar-benar melaporkan tindakan lancangnya tadi pagi kepada Reno.Sembari mengganti pakaian seragam kebersihannya di ruang loker belakang, Adrian menatap pantulan dirinya di cermin dengan napas yang memburu. Rasa malu, miskin, dan penolakan mentah-mentah dari Maya tadi pagi perlahan mulai bermutasi menjadi rasa benci yang kelam di dalam dadanya."Kamu egois, Maya.. Kamu sengaja membuangku karena sekarang sudah ada Samuel yang kaya raya itu, kan?!" bisik Adrian dengan seringai getir, matanya menyipit penuh dendam. Pikiran piciknya mulai merancang sebuah rencana nekat. Jika ia tidak bisa mendapatkan Maya kembali dengan cara memohon, maka ia harus memaksa Maya untuk bertekuk lutut di bawah kakinya lagi.Sementara itu, di lobi de
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Bayangan Dari Masa LaluFajar yang baru menyingsing di atas Danau Como tidak hanya mewarnai langit dengan palet emas, merah muda, dan ungu, tetapi juga menumpahkan cahaya keperakan ke dalam kamar tidur kecil Reza dan Sabe. Cahaya itu membelai seprai putih yang kini berantakan, sebuah kanvas dari malam yang penuh makna, malam di mana janji ditepati dan bayangan masa lalu dilepaskan.Sabe terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kedamaian yang mendalam. Ia meringkuk di dalam pelukan Reza, menghirup aroma maskulin suaminya yang merupakan campuran unik dari kopi pahit, tembakau mahal yang samar-samar, dan kini, aroma ketenangan yang baru. Aroma itu adalah aroma rumah, aroma dermaga yang telah lama ia cari.Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reza yang terlelap. Bekas-bekas ketegasan dan kekejaman yang pernah menggaris di wajahnya kini melunak, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang hampir seperti seorang anak. Semua kelelahan yang diakumulasi dari tiga tah
Last Updated: 2025-12-07
Chapter: Awal Yang Baru Dan Malam Pertama Reza SabeMalam itu, Danau Como diselimuti oleh keheningan yang agung, sebuah karpet beludru biru gelap yang ditaburi intan dari bintang-bintang. Di dalam rumah kecil mereka yang hangat, Udara yang bersujud terasa nyata, kesunyian yang dipenuhi rasa syukur, bukan kesedihan. Ini adalah malam di mana dua jiwa yang telah melalui badai akhirnya menemukan dermaga untuk berlabuh.Sabe berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang terasa dingin. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih polos, hadiah dari Reza yang tahu bahwa kini ia mendambakan kesederhanaan. Gaun itu memeluknya dengan lembut, sangat berbeda dari gaun-gaun mahal yang dulu ia pakai sebagai ratu mafia yang terpaksa.Ia menoleh ketika Reza memasuki kamar. Reza telah berganti pakaian menjadi piyama linen berwarna gelap, sosoknya yang dulu dipenuhi ketegangan kini terasa santai, namun matanya memancarkan rasa hormat dan gugup yang tak tersembunyi. Usia mereka yang terpaut cukup jauh, dan sejarah gelap yang mengiringi hubungan mereka,
Last Updated: 2025-12-06
Chapter: Pilar Ketiga, Kemenangan Sabe dan Penyesalan RezaLorong di balik pintu baja rahasia itu memang menurun curam, membawa Sabe dan Maya ke kedalaman tanah yang lebih panas dan berbau belerang. Namun, ketegangan yang mencekik di permukaan telah tergantikan oleh kelegaan yang dingin, bercampur dengan adrenalin murni dari kemenangan kecil mereka."Kau berhasil, May," bisik Sabe, suaranya parau karena debu dan ketakutan yang tertinggal.Maya menyeka air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan keringat yang bercampur debu. "Itu bukan aku. Itu Ayah. Dia selalu tahu bagaimana meluluhkan hati para pahlawan yang keras kepala, bahkan jantung baja sekalipun."Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang kecil dan remang-remang, yang tidak terlihat seperti bagian dari pabrik peleburan. Di tengahnya, sebuah peti kayu tua tampak diletakkan di atas altar batu."Pilar Ketiga," gumam Maya, mendekat dengan hati-hati. “Ini adalah tempat persembunyian terakhir. Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu… dan di sini, di mana semuanya berakhir,
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: Pilar KeduaSabe dan Maya berlari tanpa henti, membiarkan kegelapan hutan yang lebat menelan mereka. Tanah basah dan berlumpur di lereng bukit Cikandel menjadi sekutu mereka. Mereka menembus semak belukar yang berduri, suara napas mereka yang terengah-engah dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk. Di kejauhan, mereka masih bisa mendengar teriakan Reza, sebuah janji yang kejam. Ia tidak akan pernah berhenti."Pabrik Pemurnian Emas..." Sabe berusaha mengatur napas, menyeimbangkan diri saat Maya menarik tangannya melompati akar pohon yang melintang."Tempat pembersihan aset kotor. Bagaimana... Bagaimana itu bisa menjadi tempat di mana Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu?"Maya memperlambat langkahnya sedikit, bersembunyi di balik sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjulang seperti jaring laba-laba raksasa."Ayah tidak pernah menggunakan metafora biasa. Dia bermain dengan kata-kata kuno, dengan alkimia. Cahaya Merangkak. Itu adalah cahaya tersembunyi, yang tidak diakui
Last Updated: 2025-12-05
Chapter: Pilar PertamaSabe mengikuti Maya, langkahnya kini lebih mantap meskipun air kotor di selokan itu dingin dan kental. Bau lumpur, karat, dan air pembuangan yang menyengat terasa seperti minyak wangi kebebasan setelah aroma pengap di ruang arsip. Mereka berjalan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh gemericik air dan napas terengah-engah. Di atas, suara sirene mobil polisi dan mobil dinas yang tergesa-gesa terdengar seperti lolongan hantu yang jauh, memburu mereka.Mereka harus bergerak cepat. Reza tidak bodoh. Kemarahannya yang besar akan segera memudar, digantikan oleh perhitungan yang dingin. Catatan Plato itu adalah gangguan, bensin yang membakar amarahnya, tetapi hanya sementara."Kau bilang ada tiga pilar, tiga petunjuk," kata Sabe, suaranya bergema samar di terowongan beton. Ia harus memecah keheningan yang mencekam itu. "Petunjuk pertama, Pilar Pertama, dimana Waktu Berhenti. Di sana, lonceng Mati tidak akan berdentang lagi. Apa yang kau ketahui tentang ini?"Maya tidak langsung
Last Updated: 2025-11-02
Chapter: Jalan Dibawah TanahSabe terpeleset di ambang pintu, menabrak punggung Maya yang sudah melangkah cepat ke dalam lorong yang sempit dan gelap. Aroma di sini jauh berbeda. Bukan lagi kertas tua dan kapur barus, melainkan tanah lembab, lumut, dan bau karat yang menusuk hidung."Hati-hati. Lantai kayu ini sudah lapuk," desis Maya tanpa menoleh.Suara decit rem yang tajam di jalan depan kini diikuti oleh debuman pintu mobil yang keras dan suara sepatu pantofel yang tergesa-gesa menghantam aspal. Mereka hanya punya beberapa detik."Nyaris," bisik Sabe, menelan ludah. Adrenalinnya melonjak, membakar rasa takut menjadi fokus tajam. Ia mengikuti Maya, tangannya meraba dinding di sampingnya yang terasa seperti batu bata tua yang dingin. Lorong itu menukik tajam ke bawah, membentuk tangga curam yang dibuat dari kayu yang tidak rata."Apa yang kau ketik di ponselku?" tanya Sabe, suaranya tercekat."Alamat Yayasan," jawab Maya, langkahnya tanpa cela di kegelapan. "Candra akan memimpin pasukan serigalanya ke sana, me
Last Updated: 2025-10-29