Chapter: Bab 133Reno mempererat pelukannya pada tubuh Sarah, membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh rasa lelah dan sisa keterkejutannya di dada bidangnya. Detak jantung Reno yang tenang seolah menjadi melodi penenang yang paling ampuh untuk meredakan badai emosi di dalam dada sang dokter cantik. Setelah beberapa menit berlalu dan isakan Sarah mulai mereda, Reno perlahan mengurai pelukan mereka."Sudah lebih tenang, hmm?" tanya Reno lembut, jemarinya bergerak menghapus sisa air mata di sudut mata Sarah.Sarah mengangguk pelan, seluas senyuman tipis yang tulus terbit di bibirnya. "Iya, Ren. Terima kasih. Kalau tidak ada kamu tadi, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Papa,""Sudah kewajibanku untuk selalu menjagamu, Sarah. Sekarang, gantilah pakaianmu. Kita pulang dan beristirahat, oke?" ucap Reno yang langsung dihadiahi anggukan patuh oleh Sarah.Setelah memastikan Sarah masuk ke dalam ruang kerjanya dengan aman untuk berganti pakaian, Reno melangkah mundur beberapa jarak ke sudut koridor yang
Dernière mise à jour: 2026-07-08
Chapter: Bab 132Lampu indikator merah di atas pintu ruang operasi bedah utama rumah sakit akhirnya berubah menjadi hijau, dan sesaat kemudian, Sarah melangkah keluar dengan tubuh yang tampak begitu lelah, namun memancarkan kelegaan yang luar biasa. Operasi penggantian katup jantung yang dipimpinnya selama hampir tiga jam baru saja berjalan dengan sukses tanpa ada komplikasi sedikit pun.Sarah melepas masker bedah dan penutup kepalanya, membiarkan rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Ia mengusap perut buncitnya yang terasa agak tegang akibat berdiri terlalu lama di depan meja operasi."Kerja bagus semuanya. Tolong pantau tanda-tanda vital pasien secara berkala di ruang ICU," ucap Sarah lembut kepada tim perawat yang mengikutinya dari belakang. Setelah mendapatkan anggukan hormat dari timnya, Sarah berjalan menuju ruang pribadinya untuk beristirahat dan membersihkan diri.Namun, baru saja Sarah melintasi lorong menuju area lobi lift lantai empat, langkah kakinya mendadak terhenti. Atmosfer di
Dernière mise à jour: 2026-07-07
Chapter: Bab 131Mentari pagi bersinar cukup terik, memayungi halaman rumah mewah dokter Sarah yang tampak sunyi dari luar. Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil hitam terparkir di gerbang samping. Di balik kemudinya, Reno duduk dengan mengenakan pakaian kepala petugas kebersihan rumah sakit. Pagi ini, ia kembali melakoni peran terbaiknya di dunia, yaitu menjadi sopir kesayangan dokter cantik itu.Tak lama kemudian, pintu kediaman mewah itu terbuka. Sarah melangkah keluar dengan anggun, mengenakan gaun ibu hamil dan dilapisi dengan jas dokternya yang berwarna putih bersih.Sementara di dalam rumah, Sarah menuruni anak tangga dengan senyuman yang merekah. Ia tidak memperdulikan tatapan sinis kedua orang tuanya yang duduk di kursi meja makan.Dengan langkah santai, Sarah melangkahkan kakinya, meninggalkan rumah tanpa bertegur sapa dengan kedua orang tuanya itu.Sesaat kemudian, pintu rumah pun dibuka. Sarah melangkah keluar dengan sangat anggun, dan senyuman manis itu langsung ia lemparkan kepada Reno
Dernière mise à jour: 2026-07-01
Chapter: Bab 130Setelah mengantar Elena ke apartemennya, dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajah tampannya, sopir kesayangan dokter cantik itu langsung menuju ke apartemen Samuel. Tak butuh waktu lama, mobil Reno kini sudah berada di parkiran apartemen elite itu. Dan tak butuh waktu lama, Reno pun sudah berada di unit apartemen Samuel.Asap rokok mengepul tipis di dalam ruang kerja apartemen Samuel yang temaram. Jam dinding yang menempel di sudut ruangan sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, namun baik Reno maupun Samuel sama sekali tidak menunjukkan raut wajah mengantuk. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu dalam dan pekat."Gila... Baskoro itu benar-benar iblis berwajah manusia, Sam," desis Reno tiba-tiba menyeletuk di hadapan Samuel yang masih sibuk dengan layar laptopnya."Ada apa, Ren? Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Samuel mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Reno sembari menyandarkan punggungnya ke kursi.Sebelum Reno memulai ceritanya, Sopi
Dernière mise à jour: 2026-06-29
Chapter: Bab 129Reno melirik sekilas ke arah Elena dari sudut matanya, sementara kedua tanganya tetap fokus mengendalikan setir mobil menembus jalanan kota yang mulai lengang. Kening Reno masih saja berkerut. Ia terlalu penasaran dengan rahasia Baskoro yang ada di tangan Elena."Katakan, Elena! Sebenarnya kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba kamu mencegatku di jalanan seperti ini?" tanya Reno lagi. Mobil sedan hitam yang dikemudikannya itu terus melaju membelah gedung demi gedung yang berderet di jalanan ibu kota."Sebenarnya aku baru saja selesai bertemu dengan Baskoro di cafe ujung kompleknya itu. Tadinya aku berniat menunggu taksi untuk pulang. Eh, aku malah melihat mobil kamu. Ya sudah, aku embat aja," jawab Elena dengan santai sembari mengusap perutnya yang buncit.Mendengar penjelasan dari Elena, tentu saja Reno terkejut. Ia menepikan mobilnya lalu beralih menatap Elena dengan serius."Katakan padaku, Elena! Ada urusan apa kamu dengan papanya Sarah. Plis Elena, jangan buat aku penasaran seperti i
Dernière mise à jour: 2026-06-28
Chapter: Bab 128Suasana di dalam kamar tidur Sarah terasa begitu tenang, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan suasana mencekam yang baru saja terjadi di ruang tamu bawah. Sarah berjalan perlahan menuju tepi ranjangnya, lalu menundukkan diri dengan ahelaan napas panjang yang penuh dengan rasa lega. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah luruh bersama angin siang itu.Tok.. Tok.. Tok..Ketukan pintu yang teramat pelan seketika membuat Sarah langsung menoleh. Pintu kamar itu sedikit terbuka, menampilan sosok Reno yang melangkah masuk setelah memastikan Baskoro dan istrinya masih mematung di bawah. Saat Reno tadi sudah sampai di mobilnya, ia kembali masuk ke dalam rumah Sarah dan menemui Sarah di kamarnya."Boleh aku masuk?" tanya Reno lembut, seulas senyuman tulus terukir di wajah tampannya."Tentu saja, Ren. Kemarilah," sahut Sarah sembari menggeser duduknya, memberikan ruang untuk pria yang baru saja menyelamatkan hidup dan masa depannya itu.Reno melangkah mendeka
Dernière mise à jour: 2026-06-25
Chapter: Bayangan Dari Masa LaluFajar yang baru menyingsing di atas Danau Como tidak hanya mewarnai langit dengan palet emas, merah muda, dan ungu, tetapi juga menumpahkan cahaya keperakan ke dalam kamar tidur kecil Reza dan Sabe. Cahaya itu membelai seprai putih yang kini berantakan, sebuah kanvas dari malam yang penuh makna, malam di mana janji ditepati dan bayangan masa lalu dilepaskan.Sabe terbangun perlahan, kelopak matanya terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena kedamaian yang mendalam. Ia meringkuk di dalam pelukan Reza, menghirup aroma maskulin suaminya yang merupakan campuran unik dari kopi pahit, tembakau mahal yang samar-samar, dan kini, aroma ketenangan yang baru. Aroma itu adalah aroma rumah, aroma dermaga yang telah lama ia cari.Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Reza yang terlelap. Bekas-bekas ketegasan dan kekejaman yang pernah menggaris di wajahnya kini melunak, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang hampir seperti seorang anak. Semua kelelahan yang diakumulasi dari tiga tah
Dernière mise à jour: 2025-12-07
Chapter: Awal Yang Baru Dan Malam Pertama Reza SabeMalam itu, Danau Como diselimuti oleh keheningan yang agung, sebuah karpet beludru biru gelap yang ditaburi intan dari bintang-bintang. Di dalam rumah kecil mereka yang hangat, Udara yang bersujud terasa nyata, kesunyian yang dipenuhi rasa syukur, bukan kesedihan. Ini adalah malam di mana dua jiwa yang telah melalui badai akhirnya menemukan dermaga untuk berlabuh.Sabe berdiri di depan jendela, tangannya menyentuh kaca yang terasa dingin. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih polos, hadiah dari Reza yang tahu bahwa kini ia mendambakan kesederhanaan. Gaun itu memeluknya dengan lembut, sangat berbeda dari gaun-gaun mahal yang dulu ia pakai sebagai ratu mafia yang terpaksa.Ia menoleh ketika Reza memasuki kamar. Reza telah berganti pakaian menjadi piyama linen berwarna gelap, sosoknya yang dulu dipenuhi ketegangan kini terasa santai, namun matanya memancarkan rasa hormat dan gugup yang tak tersembunyi. Usia mereka yang terpaut cukup jauh, dan sejarah gelap yang mengiringi hubungan mereka,
Dernière mise à jour: 2025-12-06
Chapter: Pilar Ketiga, Kemenangan Sabe dan Penyesalan RezaLorong di balik pintu baja rahasia itu memang menurun curam, membawa Sabe dan Maya ke kedalaman tanah yang lebih panas dan berbau belerang. Namun, ketegangan yang mencekik di permukaan telah tergantikan oleh kelegaan yang dingin, bercampur dengan adrenalin murni dari kemenangan kecil mereka."Kau berhasil, May," bisik Sabe, suaranya parau karena debu dan ketakutan yang tertinggal.Maya menyeka air mata yang bukan karena kesedihan, melainkan keringat yang bercampur debu. "Itu bukan aku. Itu Ayah. Dia selalu tahu bagaimana meluluhkan hati para pahlawan yang keras kepala, bahkan jantung baja sekalipun."Lorong itu berakhir di sebuah ruangan batu yang kecil dan remang-remang, yang tidak terlihat seperti bagian dari pabrik peleburan. Di tengahnya, sebuah peti kayu tua tampak diletakkan di atas altar batu."Pilar Ketiga," gumam Maya, mendekat dengan hati-hati. “Ini adalah tempat persembunyian terakhir. Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu… dan di sini, di mana semuanya berakhir,
Dernière mise à jour: 2025-12-05
Chapter: Pilar KeduaSabe dan Maya berlari tanpa henti, membiarkan kegelapan hutan yang lebat menelan mereka. Tanah basah dan berlumpur di lereng bukit Cikandel menjadi sekutu mereka. Mereka menembus semak belukar yang berduri, suara napas mereka yang terengah-engah dan gemerisik dedaunan menjadi satu-satunya petunjuk. Di kejauhan, mereka masih bisa mendengar teriakan Reza, sebuah janji yang kejam. Ia tidak akan pernah berhenti."Pabrik Pemurnian Emas..." Sabe berusaha mengatur napas, menyeimbangkan diri saat Maya menarik tangannya melompati akar pohon yang melintang."Tempat pembersihan aset kotor. Bagaimana... Bagaimana itu bisa menjadi tempat di mana Cahaya Merangkak, Air Menangis, dan Api Membisu?"Maya memperlambat langkahnya sedikit, bersembunyi di balik sebatang pohon beringin tua yang akarnya menjulang seperti jaring laba-laba raksasa."Ayah tidak pernah menggunakan metafora biasa. Dia bermain dengan kata-kata kuno, dengan alkimia. Cahaya Merangkak. Itu adalah cahaya tersembunyi, yang tidak diakui
Dernière mise à jour: 2025-12-05
Chapter: Pilar PertamaSabe mengikuti Maya, langkahnya kini lebih mantap meskipun air kotor di selokan itu dingin dan kental. Bau lumpur, karat, dan air pembuangan yang menyengat terasa seperti minyak wangi kebebasan setelah aroma pengap di ruang arsip. Mereka berjalan dalam keheningan yang tegang, hanya diselingi oleh gemericik air dan napas terengah-engah. Di atas, suara sirene mobil polisi dan mobil dinas yang tergesa-gesa terdengar seperti lolongan hantu yang jauh, memburu mereka.Mereka harus bergerak cepat. Reza tidak bodoh. Kemarahannya yang besar akan segera memudar, digantikan oleh perhitungan yang dingin. Catatan Plato itu adalah gangguan, bensin yang membakar amarahnya, tetapi hanya sementara."Kau bilang ada tiga pilar, tiga petunjuk," kata Sabe, suaranya bergema samar di terowongan beton. Ia harus memecah keheningan yang mencekam itu. "Petunjuk pertama, Pilar Pertama, dimana Waktu Berhenti. Di sana, lonceng Mati tidak akan berdentang lagi. Apa yang kau ketahui tentang ini?"Maya tidak langsung
Dernière mise à jour: 2025-11-02
Chapter: Jalan Dibawah TanahSabe terpeleset di ambang pintu, menabrak punggung Maya yang sudah melangkah cepat ke dalam lorong yang sempit dan gelap. Aroma di sini jauh berbeda. Bukan lagi kertas tua dan kapur barus, melainkan tanah lembab, lumut, dan bau karat yang menusuk hidung."Hati-hati. Lantai kayu ini sudah lapuk," desis Maya tanpa menoleh.Suara decit rem yang tajam di jalan depan kini diikuti oleh debuman pintu mobil yang keras dan suara sepatu pantofel yang tergesa-gesa menghantam aspal. Mereka hanya punya beberapa detik."Nyaris," bisik Sabe, menelan ludah. Adrenalinnya melonjak, membakar rasa takut menjadi fokus tajam. Ia mengikuti Maya, tangannya meraba dinding di sampingnya yang terasa seperti batu bata tua yang dingin. Lorong itu menukik tajam ke bawah, membentuk tangga curam yang dibuat dari kayu yang tidak rata."Apa yang kau ketik di ponselku?" tanya Sabe, suaranya tercekat."Alamat Yayasan," jawab Maya, langkahnya tanpa cela di kegelapan. "Candra akan memimpin pasukan serigalanya ke sana, me
Dernière mise à jour: 2025-10-29