LOGINGalang Pramudya menyembunyikan satu rahasia besar dari semua orang. Kecelakaan tiga tahun lalu membuat fotografer dingin ini kehilangan fungsi kejantanannya. Dokter bahkan sudah memvonis bagian bawah tubuhnya lumpuh dan mati rasa secara permanen. Sialnya, dia kini terpaksa memotret Seren Amanda. Model paling agresif dan sengaja menguji kesabaran Galang. Sampai sebuah insiden terjadi membuat Galang terpaksa menolongnya. Namun saat tak sengaja menolongnya, miliknya yang tak bangun selama bertahun mendadak keras. Namun bagaimana Seren tahu kalau Galang sebenarnya...
View More"Turunkan sedikit tali gaunmu, Seren. Begitu saja. Tahan posisinya," ucap Galang Pramudya dengan nada datar, matanya mengintip dari balik jendela bidik kameranya.
Dengan mengenakan kaos hitam polos dan celana cargo berwarna cream, Galang yang memiliki tinggi sekitar seratus delapan puluh lima senti menjadi terlihat semakin tinggi. Rahang tegasnya mengeras setiap kali fokus, dan rambut hitamnya yang berantakan justru membuat auranya semakin dingin dan susah ditebak. Galang mengarahkan posisi model di depannya dengan tenang. Dulu dia cuma iseng memotret sudut kota. Tapi nasibnya berubah setelah karyanya sering masuk majalah, sampai sebuah agensi besar mengikat kontrak dengannya. Sudah banyak model yang ia potret. Tapi sialnya kali ini ia benar-benar dapat project yang paling ia hindari, yaitu pemotretan lingerie. Di bawah sorotan lampu yang terang, Seren malah tersenyum miring. Bukannya menurut, jemari lentik berkuteks merah darah itu malah menarik tali gaun satin merahnya melorot jauh, menyingkap bahu mulus dan belahan dadanya. Seren sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang memiliki kulit putih dan mulus tanpa malu. Galang mengerutkan keningnya. Ia sadar jika model ini sengaja mencari perhatiannya. Dia sangat tahu sudut mana dari dirinya yang paling menggoda. "Kita ini sedang pemotretan lingerie, Seren. Bukan majalah khusus dewasa," ujar Galang sambil menurunkan kamera. "Perbaiki pakaianmu!" Seren tertawa renyah. "Aduh, Mas Galang, tanganku kaku nih. Bisa bantu aku memperbaikinya? Sekalian belakangnya juga agak kendur." Seren Amanda. Model blasteran yang sudah lama berkecimpung di dunia modeling. Wajahnya cantik, tatapannya tajam dan liar. Ia memiliki tubuh sintal yang membuat pria manapun menelan ludah. Tapi buat Galang, semua model perempuan sudah tidak menarik lagi. Bukan karena ia tidak suka perempuan, tapi ia cuma memilih yang normal-normal saja. Menurut gosip yang beredar di kalangan para model, Galang Pramudya adalah pria yang dingin dan kebal godaan. Makanya Seren minta dipotret lagi oleh Galang karena ia merasa penasaran. Galang menghela napas, ia maju dan membetulkan tali gaun itu dengan cepat. "Diam. Jangan banyak bergerak." Belum sempat mundur, Seren tiba-tiba saja terhuyung. Entah karena haknya ketinggian atau memang disengaja. Tubuhnya jatuh kearah Galang. "Eh, Mas Galang! Aku jatuh!" Galang sigap menangkap pinggangnya, tapi tetap oleng. Mereka jatuh ke alas empuk di lantai dengan posisi Seren terlentang di bawah dan Galang menindih di antara kedua kakinya. Napas mereka beradu. Dan entah disengaja atau tidak, tangan Seren menyentuh selangkangan Galang. Berhenti sejenak, lalu mengelusnya pelan. "Maaf, mas. Aku nggak sengaja," bisiknya serak. Wajah Galang memerah. Napasnya berantakan. Dia langsung menjauh secepat mungkin. "Istirahat lima belas menit!" bentaknya, lalu kabur ke kamar mandi. Di kamar mandi, Galang menyender ke tembok dingin sambil memukul dinding dengan pelan "Sampai kapan gue akan kayak gini terus?" Di kepalanya, terputar kenangan tiga tahun lalu. Kecelakaan itu sudah merusak sarafnya. Dokter mengatakan peluangnya untuk sembuh sangat kecil sekali. Dan dengan alasan klasik, tunangannya pergi meninggalkannya begitu saja di saat tubuhnya masih tak berdaya di ranjang rumah sakit. "Aku butuh laki-laki normal," sebuah alasan yang basi keluar dari mulut tunangannya. Sejak saat itu, Galang merasa tidak lagi berharga. Maka dari itu, dia selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Setelah merasa sedikit tenang, barulah Galang kembali ke studio. Namun, setelah kembali ia melihat Seren duduk di kursi santai dengan posisi yang jauh lebih berani. Gaun merahnya melorot sampai batas dada, memperlihatkan renda lingerie hitam yang ketat. Kakinya yang disilang memperlihatkan paha atasnya yang putih dan mulus. "Sudah siap lanjut, Mas?" sapanya sambil menatap tajam. "Ehm Mas Galang... gerah ya?" ucap Seren dengan santai meloloskan kedua tali gaunnya. Galang menggelengkan kepalanya dan mulai memotret lagi. Matanya menangkap semua lekuk tubuh Seren. Tapi di bawah sana, miliknya tetap diam. Mati rasa. Sama seperti tiga tahun terakhir ini. Seren mulai kehilangan sabarnya. Ia merasa tersinggung. Model cantik itu berdiri pelan dari sofa. Dengan goyangan pinggul yang disengaja, ia berjalan ke arah Galang dan menyenderkan bahunya ke lengan fotografer tampan itu. "Mas Galang kok diam saja sih? Aku kurang seksi ya gayanya?" bisiknya di telinga Galang. Tangannya naik turun di bahu dan dada Galang. Kaos tipis yang dikenakannya tidak cukup untuk menutupi otot keras lengan Galang. "Mas Galang," bisiknya lagi. Dari dekat dia bisa melihat peluh di pelipis Galang dan mata cokelat gelapnya yang sedingin es. "Nanti setelah pemotretan aku traktir kamu makan ya?" Galang kaku seperti patung. Rasanya ingin sekali ia mendorong gadis itu, tapi rasa panas, frustasi, dan rendah diri membuat dirinya tak bisa bergerak. Ini bukan pertama kalinya bagi Galang berhadapan dengan Seren. Beberapa bulan yang lalu mereka juga pernah bekerja sama sewaktu Galang menggantikan temannya untuk memotret. Waktu itu Seren tidak senekat dan seberani ini. Ia memang terlihat sangat menggoda dari dulu, namun masih berada di ambang batasnya. Galang menahan napas. "Jawab dong mas..." desak Seren, jarinya masih bermain di dada Galang. Galang menggeser badannya sedikit. "Kita masih bekerja, Seren. fokus saja sama penampilanmu." Seren tertawa kecil dan malah semakin mendekat. "Kerja boleh saja, tapi kalau sambil berkenalan boleh juga kan?" "Tidak boleh!" jawab Galang singkat sambil mengutak-atik kameranya biar terlihat sibuk. Seren menyeringai. Dia semakin yakin kalau Galang hanya pura-pura dingin. "Ah Mas Galang nggak asik," bisiknya, lalu kembali ke tempat pemotretan sembari menggoyangkan pinggulnya. Di tempatnya, Seren semakin berani. Ia memiringkan badannya, membusungkan dadanya, dan membiarkan gaun tipis itu semakin melorot. Galang kembali melanjutkan pemotretannya. Lensa kameranya menangkap semuanya dengan jelas. Melihat Seren terbuka seperti itu, pikirannya menjadi riuh, sementara bagian bawahnya tetap tak bergeming. Beberapa saat kemudian, seorang kru datang. "Mas Galang, lampu samping kanan agak gelap ya. Saya geser boleh?" "Silahkan," jawab Galang singkat, matanya tidak lepas dari Seren walau pikirannya saat ini entah kemana. "Mas Galang sudah beristri?" tanya Seren tiba-tiba. "Belum," jawabnya singkat. "Kalau pacar ada?" Seren tersenyum tipis. "Katanya sih Mas Galang yang segalak ini mana mungkin punya pacar." Jari Galang berhenti di tombol shutter. Dia melirik ke arah Seren dengan tatapan dingin. "Bisa fokus nggak?" "Iya... iya... galak amat," gumam Seren. Tepat saat kru menggeser tiang lampu, kakinya tersandung kabel tebal. Besi penyangga tinggi itu oleng dan roboh, mengarah tepat ke kepala Seren. "SEREN AWAS!" Galang melempar kameranya ke sofa dan langsung menarik tubuh Seren sehingga mereka berdua jatuh ke atas matras. DUAR!!! Tiang lampu menghantam lantai di samping mereka. Debu pun berterbangan. Napas Galang memburu. Jarak wajah mereka cuma berjarak sejengkal. Seren yang tadinya kaget, mendadak membeku. Ia merasakan paha bagian dalamnya tertekan sesuatu yang cukup keras dan panas dari balik celana Galang. Jantung Galang berhenti sedetik. Ada denyutan, arus hangat yang tiga tahun ini hilang total dari dirinya. Sarafnya yang divonis mati, kini kembali memberikan sinyal kehidupan. Mata Seren membelalak. Dia melihat ke bawah, lalu ke mata Galang. Sudut bibirnya naik. "Mas Galang... pantesan dari tadi Mas diam saja," bisiknya pelan, tapi menusuk. "Ternyata milikmu baru mau bangun kalau ditindih begini ya?"Di hotel bintang lima, Rara duduk di tepi ranjang. Wajahnya kusut, sama seperti selimut putih di yang ada di sebelahnya. Wajahnya merah padam menahan amarah dan juga malu.Tangannya gemetar saat menekan nomor seseorang."Halo? Dita? Iya, ini gue," suara Rara serak. "Gue butuh bantuan lo skarang.""Bantuan apa Ra? tanya Dita dari seberang."Gue mau lo cari tahu tentang Galang sekarang juga. Cari tahu dia sekarang kerja dimana, alamat studionya. Terus.... cari tahu juga siapa cewek yang namanya Seren. Gue feelingnya kalau dia itu salah satu model Galang. Cari asalnya dimana, bacground keluarganya. Cari tahu semuanya. Gue mau tahu titik lemah cewek sialan itu."Dita diam sebentar. "Ini serius, Ra? Memang ada urusan apa lagi lo sama Galang? Bukannya kalian udah lama berakhir?""Gue serius. Serius banget malahan. Gue mau dalam satu jam kedepan lo kasih semua informasinya sama gue. Gue bakal transfer lima juta kalau semuanya kelar.""Oke. Satu jam kelar," jawab Dita cepat.Rara memutuskan p
Di saat yang bersamaan, Seren tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berfikir. Lima detik kemudian ia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.Tok... Tok..."Mas Galang? Buka dong," rengeknya dari luar.Tidak ada jawaban. Yang ada hanya suara gemericik air mandi.Seren tersenyum tipis. "Oke. Aku masuk ya."KREKPintu pun terbuka.Uap panas langsung menyerang wajah Seren. Di dalamnya, Galang berdiri di bawah shower. Air mengalir dari rambut hitamnya, menuruni bahu bidang, punggung kekar, sampai ke....Seren menelan ludah."Seren," suara Galang rendah tapi mengancam. "Keluar!"Seren menelan ludah. Bukannya berbalik, Seren malah masuk tanpa ragu. Tanktop tipisnya langsung basah kuyup dan menempel di tubuhnya."Aku kedinginan," kata Seren polos. "Masa iya kamu tega membiarkan aku kedinginan sendirian?"Galang memejamkan mata. Menarik napas panjang. "Kamu....""Aku kenapa?" Seren mendekat, memeluk Galang dari belakang. Tubuh basahnya menempel ke punggung Galang. "Aku cuma mau nemenin ka
Galang refleks hendak merebut ponselnya. Tapi terlambat. Seren sudah keburu menekan tombol speaker.Di seberang sana, suara Rara langsung berubah. Dari yang sebelumnya manja, kini menjadi melengking, penuh selidik."SIAPA KAMU?!" bentak Rara. "Kenapa hp Galang ada sama kamu?! Berikan hp nya ke Galang sekarang juga!"Jantung Seren berdebar. Tapi wajahnya tetap tenang. Bahkan ia sengaja bersandar lebih dalam ke dada Galang. Merasakan hangat tubuh pria yang masih bertelanjang dada itu."Aku pacarnya Galang. Kamu siapa? Kenapa pagi-pagi begini gangguin pacar orang?" jawab Seren tenang. Nadanya dibuat semanis mungkin.Hening.Waktu seakan berjalan lambat sekali.Galang menatap Seren. Ia kaget, marah, tapi juga ada sesuatu yang lain. Mungkin lega?"Kamu.... kamu pasti bohong," suara Rara bergetar di seberang. "Galang nggak mungkin punya pacar. Dia... Dia kan.....""Dia kan apa?" potong Seren cepat. "Jangan bilang kalau dia masih nungguin kamu yang udah ninggalin saat dia sangat-sangat butuh
Pesan dari Rara masih terlihat jelas di layar milik Galang meskipun ia sudah menjauhkan benda itu dari pandangannya. Dengan hati yang kesal, Galang kembali meraih ponselnya dan mematikan layarnya.'Cih, bisa-bisanya dia kembali menghubungiku setelah pergi meninggalkan sakit yang seperti ini!' batin Galang mengumpat.Galang menghisap kembali rokok yang masih berada di sela jarinya, lalu mengepulkan asap putih yang ia keluarkan dari mulut dan hidungnya.Ia tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Rara. Apakah ia menyesal? Atau ada hal lain yang mendorongnya untuk kembali. Tapi satu hal yang pasti, Galang tidak ingin terlibat lagi dengan wanita yang sudah membuatnya hancur berkeping-keping.Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Galang tidak menoleh, namun ia tahu itu Seren. Seren melangkah pelan tapi pasti, menghampiri Galang yang kini tengah menatap langit-langit dengan tatapan kosong.Model cantik itu menyelimuti tubuh Galang dengan selimut tipis yang baru saja ia bawa dari


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.