LOGINGalang Pramudya adalah fotografer profesional yang dikenal dingin dan sulit didekati. Ia selalu menjaga jarak dengan para model yang bekerja dengannya. Tak ada yang mampu menarik perhatiannya lebih dari sekadar urusan pekerjaan, hingga muncul rumor bahwa Galang tidak tertarik pada perempuan. Padahal, di balik sikapnya yang kaku, ia menyimpan trauma akibat kecelakaan bertahun-tahun lalu yang mengubah hidupnya. Rumor itu sampai ke telinga Seren, supermodel yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Merasa tertantang oleh pria yang seolah tak terpengaruh pesonanya, Seren sengaja meminta Galang menjadi fotografer untuk proyek terbarunya.
View More"Turunkan sedikit tali gaunmu, Seren. Begitu saja. Tahan posisinya," ucap Galang Pramudya dengan nada datar, matanya mengintip dari balik jendela bidik kameranya.
Dengan mengenakan kaos hitam polos dan celana cargo berwarna cream, Galang yang memiliki tinggi sekitar seratus delapan puluh lima senti menjadi terlihat semakin tinggi. Rahang tegasnya mengeras setiap kali fokus, dan rambut hitamnya yang berantakan justru membuat auranya semakin dingin dan susah ditebak. Galang mengarahkan posisi model di depannya dengan tenang. Dulu dia cuma iseng memotret sudut kota. Tapi nasibnya berubah setelah karyanya sering masuk majalah, sampai sebuah agensi besar mengikat kontrak dengannya. Sudah banyak model yang ia potret. Tapi sialnya kali ini ia benar-benar dapat project yang paling ia hindari, yaitu pemotretan lingerie. Di bawah sorotan lampu yang terang, Seren malah tersenyum miring. Bukannya menurut, jemari lentik berkuteks merah darah itu malah menarik tali gaun satin merahnya melorot jauh, menyingkap bahu mulus dan belahan dadanya. Seren sengaja memamerkan lekuk tubuhnya yang memiliki kulit putih dan mulus tanpa malu. Galang mengerutkan keningnya. Ia sadar jika model ini sengaja mencari perhatiannya. Dia sangat tahu sudut mana dari dirinya yang paling menggoda. "Kita ini sedang pemotretan lingerie, Seren. Bukan majalah khusus dewasa," ujar Galang sambil menurunkan kamera. "Perbaiki pakaianmu!" Seren tertawa renyah. "Aduh, Mas Galang, tanganku kaku nih. Bisa bantu aku memperbaikinya? Sekalian belakangnya juga agak kendur." Seren Amanda. Model blasteran yang sudah lama berkecimpung di dunia modeling. Wajahnya cantik, tatapannya tajam dan liar. Ia memiliki tubuh sintal yang membuat pria manapun menelan ludah. Tapi buat Galang, semua model perempuan sudah tidak menarik lagi. Bukan karena ia tidak suka perempuan, tapi ia cuma memilih yang normal-normal saja. Menurut gosip yang beredar di kalangan para model, Galang Pramudya adalah pria yang dingin dan kebal godaan. Makanya Seren minta dipotret lagi oleh Galang karena ia merasa penasaran. Galang menghela napas, ia maju dan membetulkan tali gaun itu dengan cepat. "Diam. Jangan banyak bergerak." Belum sempat mundur, Seren tiba-tiba saja terhuyung. Entah karena haknya ketinggian atau memang disengaja. Tubuhnya jatuh kearah Galang. "Eh, Mas Galang! Aku jatuh!" Galang sigap menangkap pinggangnya, tapi tetap oleng. Mereka jatuh ke alas empuk di lantai dengan posisi Seren terlentang di bawah dan Galang menindih di antara kedua kakinya. Napas mereka beradu. Dan entah disengaja atau tidak, tangan Seren menyentuh selangkangan Galang. Berhenti sejenak, lalu mengelusnya pelan. "Maaf, mas. Aku nggak sengaja," bisiknya serak. Wajah Galang memerah. Napasnya berantakan. Dia langsung menjauh secepat mungkin. "Istirahat lima belas menit!" bentaknya, lalu kabur ke kamar mandi. Di kamar mandi, Galang menyender ke tembok dingin sambil memukul dinding dengan pelan "Sampai kapan gue akan kayak gini terus?" Di kepalanya, terputar kenangan tiga tahun lalu. Kecelakaan itu sudah merusak sarafnya. Dokter mengatakan peluangnya untuk sembuh sangat kecil sekali. Dan dengan alasan klasik, tunangannya pergi meninggalkannya begitu saja di saat tubuhnya masih tak berdaya di ranjang rumah sakit. "Aku butuh laki-laki normal," sebuah alasan yang basi keluar dari mulut tunangannya. Sejak saat itu, Galang merasa tidak lagi berharga. Maka dari itu, dia selalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Setelah merasa sedikit tenang, barulah Galang kembali ke studio. Namun, setelah kembali ia melihat Seren duduk di kursi santai dengan posisi yang jauh lebih berani. Gaun merahnya melorot sampai batas dada, memperlihatkan renda lingerie hitam yang ketat. Kakinya yang disilang memperlihatkan paha atasnya yang putih dan mulus. "Sudah siap lanjut, Mas?" sapanya sambil menatap tajam. "Ehm Mas Galang... gerah ya?" ucap Seren dengan santai meloloskan kedua tali gaunnya. Galang menggelengkan kepalanya dan mulai memotret lagi. Matanya menangkap semua lekuk tubuh Seren. Tapi di bawah sana, miliknya tetap diam. Mati rasa. Sama seperti tiga tahun terakhir ini. Seren mulai kehilangan sabarnya. Ia merasa tersinggung. Model cantik itu berdiri pelan dari sofa. Dengan goyangan pinggul yang disengaja, ia berjalan ke arah Galang dan menyenderkan bahunya ke lengan fotografer tampan itu. "Mas Galang kok diam saja sih? Aku kurang seksi ya gayanya?" bisiknya di telinga Galang. Tangannya naik turun di bahu dan dada Galang. Kaos tipis yang dikenakannya tidak cukup untuk menutupi otot keras lengan Galang. "Mas Galang," bisiknya lagi. Dari dekat dia bisa melihat peluh di pelipis Galang dan mata cokelat gelapnya yang sedingin es. "Nanti setelah pemotretan aku traktir kamu makan ya?" Galang kaku seperti patung. Rasanya ingin sekali ia mendorong gadis itu, tapi rasa panas, frustasi, dan rendah diri membuat dirinya tak bisa bergerak. Ini bukan pertama kalinya bagi Galang berhadapan dengan Seren. Beberapa bulan yang lalu mereka juga pernah bekerja sama sewaktu Galang menggantikan temannya untuk memotret. Waktu itu Seren tidak senekat dan seberani ini. Ia memang terlihat sangat menggoda dari dulu, namun masih berada di ambang batasnya. Galang menahan napas. "Jawab dong mas..." desak Seren, jarinya masih bermain di dada Galang. Galang menggeser badannya sedikit. "Kita masih bekerja, Seren. fokus saja sama penampilanmu." Seren tertawa kecil dan malah semakin mendekat. "Kerja boleh saja, tapi kalau sambil berkenalan boleh juga kan?" "Tidak boleh!" jawab Galang singkat sambil mengutak-atik kameranya biar terlihat sibuk. Seren menyeringai. Dia semakin yakin kalau Galang hanya pura-pura dingin. "Ah Mas Galang nggak asik," bisiknya, lalu kembali ke tempat pemotretan sembari menggoyangkan pinggulnya. Di tempatnya, Seren semakin berani. Ia memiringkan badannya, membusungkan dadanya, dan membiarkan gaun tipis itu semakin melorot. Galang kembali melanjutkan pemotretannya. Lensa kameranya menangkap semuanya dengan jelas. Melihat Seren terbuka seperti itu, pikirannya menjadi riuh, sementara bagian bawahnya tetap tak bergeming. Beberapa saat kemudian, seorang kru datang. "Mas Galang, lampu samping kanan agak gelap ya. Saya geser boleh?" "Silahkan," jawab Galang singkat, matanya tidak lepas dari Seren walau pikirannya saat ini entah kemana. "Mas Galang sudah beristri?" tanya Seren tiba-tiba. "Belum," jawabnya singkat. "Kalau pacar ada?" Seren tersenyum tipis. "Katanya sih Mas Galang yang segalak ini mana mungkin punya pacar." Jari Galang berhenti di tombol shutter. Dia melirik ke arah Seren dengan tatapan dingin. "Bisa fokus nggak?" "Iya... iya... galak amat," gumam Seren. Tepat saat kru menggeser tiang lampu, kakinya tersandung kabel tebal. Besi penyangga tinggi itu oleng dan roboh, mengarah tepat ke kepala Seren. "SEREN AWAS!" Galang melempar kameranya ke sofa dan langsung menarik tubuh Seren sehingga mereka berdua jatuh ke atas matras. DUAR!!! Tiang lampu menghantam lantai di samping mereka. Debu pun berterbangan. Napas Galang memburu. Jarak wajah mereka cuma berjarak sejengkal. Seren yang tadinya kaget, mendadak membeku. Ia merasakan paha bagian dalamnya tertekan sesuatu yang cukup keras dan panas dari balik celana Galang. Jantung Galang berhenti sedetik. Ada denyutan, arus hangat yang tiga tahun ini hilang total dari dirinya. Sarafnya yang divonis mati, kini kembali memberikan sinyal kehidupan. Mata Seren membelalak. Dia melihat ke bawah, lalu ke mata Galang. Sudut bibirnya naik. "Mas Galang... pantesan dari tadi Mas diam saja," bisiknya pelan, tapi menusuk. "Ternyata milikmu baru mau bangun kalau ditindih begini ya?"Ruangan itu langsung dingin. Bayi di gendongan Rara menangis makin kencang, seolah ia tahu ada bahaya yang baru saja masuk ke kamar itu. Rara langsung memeluk bayinya erat-erat, menatap Ibu Randy dengan mata yang sudah bengkak tapi tidak mau kalah. Mama Heny langsung berdiri di depan ranjang Rara, seperti benteng. Seren langsung berdiri di sampingnya. Galang langsung menarik kursi dan berdiri di dekat pintu, menghalangi pengacara itu untuk masuk lebih jauh. Hanya Randy yang masih berlutut di samping ranjang Rara. Ia tidak berani berdiri. Ia tidak berani menatap ibunya. Ia tidak berani menatap Rara. Ia terjepit di tengah-tengah dua wanita yang paling ia sayangi, dan keduanya sedang berperang untuk anak yang sama."Ibu," kata Randy, suaranya pecah. "Ibu baru saja pingsan di depan kontrakan. Tetangga bilang Ibu dibawa ke puskesmas. Kenapa Ibu bisa ada di sini? Ibu harus istirahat, Bu."Ibu Randy tertawa kecil. Tawa yang dingin, tawa yang membuat bulu kuduk Seren berdiri. "Pingsan?" kata
Randy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi
Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d
Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews