LOGINGalang Pramudya adalah fotografer profesional yang dikenal dingin dan sulit didekati. Ia selalu menjaga jarak dengan para model yang bekerja dengannya. Tak ada yang mampu menarik perhatiannya lebih dari sekadar urusan pekerjaan, hingga muncul rumor bahwa Galang tidak tertarik pada perempuan. Padahal, di balik sikapnya yang kaku, ia menyimpan trauma akibat kecelakaan bertahun-tahun lalu yang mengubah hidupnya. Rumor itu sampai ke telinga Seren, supermodel yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Merasa tertantang oleh pria yang seolah tak terpengaruh pesonanya, Seren sengaja meminta Galang menjadi fotografer untuk proyek terbarunya.
View MoreRandy tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah sakit. Ia hanya ingat, setelah ibunya menunjukkan foto Rara yang sedang memegang surat gugatan itu, dengan wajah yang hancur, kakinya langsung bergerak sendiri. Ia meninggalkan motornya yang masih terparkir di depan kontrakan, ia meninggalkan ibunya yang masih tersenyum dingin, ia meninggalkan pengacara itu yang masih memegang map coklatnya, dan ia berlari. Ia berlari membelah jalanan pagi yang ramai, berlari melewati gang, berlari melewati lampu merah, berlari sampai napasnya habis, sampai kakinya lemas, sampai bajunya basah oleh keringat. Yang ada di kepalanya hanya satu kalimat, kalimat yang ibunya katakan tadi, Rara pasti berpikir, kamu yang mengirim surat itu. Kamu yang mengkhianatinya lagi.Tidak. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpikir seperti itu. Tidak untuk kedua kalinya. Semalam ia sudah diam saat ibunya menghina Rara. Pagi ini ia sudah pergi dan meninggalkan Rara sendirian di kamar. Ia tidak boleh membiarkan Rara berpi
Sekitar pukul sepuluh, motor Randy berhenti mendadak di depan gang. Gang menuju kontrakan miliknya. Ia hampir jatuh saat turun dari motor, karena kakinya gemetar dan napasnya ngos-ngosan. Ia berlari, setengah berlari, setengah tersandung, ke arah kontrakan satu-satunya milik keluarganya. Dan apa yang ia lihat di sana, membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. Di depan kontrakan itu, masih ada dua orang laki-laki tadi. Satu masih memegang meteran, satu lagi masih memegang kamera, memfoto sudut demi sudut kontrakan yang sudah tua itu. Di depan pintu, ada sebuah papan kecil yang baru saja dipasang. Papan itu berisi pemberitahuan kalau kontrakan ini dijual, lengkap dengan nomor telepon yang bisa dihubungi.Randy membeku di depan papan itu. Tangannya gemetar. Papan itu nyata. Bukan ancaman lagi. Bukan gertakan semalam. Ibunya benar-benar sudah melakukannya."BU!" teriak Randy, suaranya pecah, serak karena semalaman tidak tidur dan menangis di lorong rumah sakit. Ibu Randy keluar dari d
Pukul 05.40 pagi. Langit di luar rumah sakit masih gelap kebiruan. Lampu lorong masih menyala. Bau obat masih sama seperti semalam, tapi sekarang bercampur dengan bau kopi sachet yang dibawa Seren dari kantin bawah. Di kursi lorong, Randy masih duduk di tempat yang sama seperti semalam. Ia tidak pulang. Ia tidak tidur. Bajunya kusut, matanya merah dan bengkak, rambutnya berantakan. Di tangannya, ponselnya sudah mati karena baterainya habis sejak jam tiga pagi.Di sampingnya, Galang tertidur sambil duduk, kepalanya bersandar ke dinding. Seren tertidur di bahu Galang, sambil memeluk Arka yang tertidur pulas di pangkuannya. Hanya Mama Heny yang tidak tidur. Ia duduk tegak, matanya menatap pintu ruang rawat Rara yang sudah dipindahkan semalam, tangannya terus mengelus tas kecil yang berisi baju bayi. Pintu kamar Rara terbuka pelan. Seorang perawat keluar, lalu menoleh ke Mama Heny. "Ibu, pasien sudah bangun. Bayinya juga sudah menyusu. Ibu boleh masuk, tapi jangan berisik, dan jangan ter
Pintu ruang bersalin itu tertutup lagi di belakang Randy. Suaranya pelan. Di dalam ruangan itu, bau obat dan bau darah masih kuat. Lampu di atas terang, terlalu terang. Di tengah ranjang, Rara terbaring lemah. Wajahnya pucat, rambutnya basah menempel di dahi, bibirnya kering. Di dadanya, bayi kecil itu masih tertidur, hangat, dengan tangan mungil yang mengepal di dekat pipi Rara.Rara membuka matanya perlahan. Ia mendengar langkah kaki. Ia menoleh. Dan ia melihat Randy. Randy berdiri di ujung ranjang, tidak berani mendekat. Matanya merah, air matanya masih jatuh, tangannya gemetar. Ia tersenyum, senyum yang dipaksakan, senyum orang yang berharap akan disambut dengan pelukan."Ra..." suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Aku masuk... aku di sini... anak kita... laki-laki ya, Ra? Anak kita..." Ia melangkah maju satu langkah. Tangannya terulur, ingin menyentuh bayi itu. Ingin menyentuh tangan Rara. Tapi Rara tidak tersenyum. Rara tidak menangis bahagia. Rara menatapnya dengan tatapan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews