Home / Romansa / Meet With Mr. Mafia / Bab [02] The Traitor Deserves To Die

Share

Bab [02] The Traitor Deserves To Die

Author: Eeeellllaaaaa
last update publish date: 2024-05-28 21:31:11

Suasana rasanya tegang sekali. Terlebih di dalam lift ini hanya ada mereka berdua. Rheanne sesekali melirik Justin yang berdiam dengan pandangan lurus ke depan. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku, dan wajahnya masih setia dengan raut yang dingin.

Rheanne tidak tahu jika di lift ini akan ada Justin. Sungguh suasana saat ini terasa begitu canggung dan kikuk. Pelan-pelan Rheanne melangkah ke samping. Mencoba berjaga jarak dengan Justin. Namun itu justru malah membuat Justin melirik dingin padanya. Rheanne memalingkan wajahnya berusaha untuk mengabaikan pria itu.

Rheanne bernapas lega saat lift sudah berada di lantai dasar. Rheanne bersiap untuk keluar dari lift guna menghindari situasi aneh itu. Namun goncangan kecil dari lift justru malah membuat tubuhnya oleng dan hampir terjatuh jika saja tangannya tidak bergerak lebih dulu untuk mencari pegangan. Akan tetapi, bukannya berpegangan pada pembatas lift, Rheanne malah mencengkram erat lengan Justin yang berada di sebelahnya. Hal itu sontak membuat Justin melirik pada tangan Rheanne yang berada di lengannya lalu bergulir menatap Rheanne yang terkejut.

"Sorry, Sir. Aku tidak sengaja." Rheanne segera menarik kembali tangannya.

Justin tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya dan segera keluar dari lift. Rheanne menyusul dengan langkah kecil di belakang tubuh pria itu. Tiba-tiba langkah Justin terhenti saat merasakan getaran dari ponselnya. Maka otomatis, Rheanne juga ikut menghentikan langkahnya.

"Aku ke sana sekarang."

Tanpa mempedulikan Rheanne yang masih berdiri di belakang tubuhnya, Justin melangkah pergi begitu saja. Rheanne menatap aneh atas kepergian Justin yang terlihat terburu-buru seperti itu, namun kemudian dia hanya mengendik acuh.

***

Suara langkah kaki yang menggema memenuhi ruangan itu. Orang-orang yang berjejer rapi lengkap dengan pakaian hitam segera membungkuk hormat pada seseorang yang baru saja memasuki ruangan.

"Sir?"

"Di mana dia?"

"Dia ada di dalam."

Tanpa berlama-lama pria itu melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan. Hal pertama yang ia lihat adalah beberapa anak buahnya yang berjaga di sana. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya saat ini, melainkan seorang pria yang berdiri di ujung ruangan dengan kedua tangan yang sudah dirantai.

"Sir, aku ..."

Bugh

Belum sempat pria itu bicara, satu pukulan keras di wajahnya ia dapatkan. Wajahnya yang sudah babak belur kembali meringis akibat pukulan itu. Justin mendengus dingin lalu terkekeh kecil melihat bagaimana hancurnya keadaan pria di depannya ini.

"Hebat sekali. Aku apresiasi untuk keberanianmu," seru Justin tersenyum mengejek.

Justin kemudian melangkah mengitari tubuh Mac yang sudah tidak berdaya. Langkahnya terhenti tepat di depan wajah Mac. Tanpa menghitung waktu lama, Justin melayangkan tendangan di wajah pria itu hingga membuat hidungnya berdarah. Kendati begitu Justin tetap tidak peduli. Dia terus melayangkan tendangan di sekujur wajah dan tubuh Mac.

Melihat Mac yang sudah terkapar lemah, Justin menghentikan dirinya. Dalam sekejap wajahnya berubah sedatar mungkin.

"Kau tahu, apa hukuman untuk seorang pengkhianat?" tanya Justin rendah. "Dia pantas mati."

Mac menggeleng kuat mendengar itu. Dia beringsut mendekati Justin lalu mendongak disertai tatapan memohon.

"Tidak, Sir. Maafkan aku. Aku mohon jangan bunuh aku," pintanya seakan meminta pengampunan.

Kekehan kembali terdengar. Kali ini dengan nada ejekan. "Ya, memohonlah."

"Bahkan sampai mulutmu berbusa pun, aku tidak peduli." Justin mendorong Mac dengan satu kakinya.

"Reymond, berikan aku senjata yang paling bagus agar pria ini segera pergi dengan tenang," seru Justin tanpa melepas pandang dari Mac.

"Baik, Sir."

Saat Raymond kembali dan memberikan sebuah senjata, bibirnya menyeringai kecil. Penuh cekatan Justin mengotak-atik benda itu.

"Tidak, Sir! Aku mohon ampuni aku. Bagaimana nasib keluargaku jika aku mati?" Justin tertawa sejenak. "Aku tidak peduli, Mac."

"Sir, tolong jangan bunuh aku ..."

Terlambat, satu peluru sudah bersarang di perut Mac hingga membuatnya tersungkur ke tanah. Tiga kali tembakan yang Justin layangkan sudah membuat Mac tidak bernyawa.

Justin menarik benda itu setelah memastikan Mac benar-benar mati. "Berikan dia pada Rolf."

"Baik, Sir."

Setelah memberikan perintah kepada anak buahnya, Justin melenggang pergi. Urusannya sudah beres dengan menyingkirkan Mac. Justin melangkah keluar dari gedung tua itu lalu masuk ke dalam mobil. Justin masih bersikap tenang meskipun ia baru saja membunuh seseorang.

Justin Melviano. Siapa sangka di balik profesinya sebagai pengusaha sukses justru menyimpan rahasia dalam hidupnya. Selain berjaya di bidang bisnis, Justin juga berjaya dalam bisnis ilegal lainnya. Seperti, penyelundupan senjat*, perdagangan nark*b*, bahkan bisnis kebun anggur yang menjadi salah satu keuntungan terbesarnya. Dengan banyak anggota dan organisasi yang ia pimpin, Justin menjadi ketua mafia dengan kekejaman dan kesadisannya dalam membunuh musuh-musuhnya.

...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [35] Death Bad

    Setelah menghabiskan satu minggu di Dubai, Justin dan Anne akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum kembali ke Amerika, mereka menyempatkan singgah ke Italia untuk bertemu dengan Bianca. Meski merasa berat karena harus berpisah lagi, Bianca tetap berusaha memahami keputusan mereka. Bianca tahu, Justin pasti sibuk dengan urusan pekerjaannya. Di dalam pesawat, Justin melirik ke arah Anne yang tertidur di sampingnya. Perjalanan masih jauh, jadi ia membiarkan istrinya beristirahat. Pandangan Justin kemudian beralih ke tangannya yang masih terbalut perban. Ingatannya kembali berputar pada kejadian beberapa hari lalu—insiden penyerangan di penginapan. Amarahnya perlahan bangkit lagi. Justin mengepalkan tangan meski kepalan tangannya melukai lukanya. Tidak peduli jika apa yang ia lakukan membuat luka itu kembali mengeluarkan darah dari sela-sela perban. Di sisi lain, Anne mulai terbangun. Wanita itu mengerjapkan mata perlahan, lalu mengerutkan kening saat mencium aroma amis yang

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [34] All Night With You

    Setelah insiden penyerangan yang baru daja terjadi, Anne langsung meminta Reymond untuk memanggil dokter ke penginapan mereka. Meskipun Justin sempat menolak, dan ingin mengobati lukanya sendiri, Anne bersikeras memaksanya. Terlebih luka itu tampak menghkawatirkan dan memerlukan bantuan medis. Tidak lama, seorang dokter pria datang untuk mengobati Justin. Anne mengigit bibir bawahnya menahan rasa ngilu saat melihat luka sobek di telapak tangan suaminya. Anne menyaksikan sendiri bagaimana peluru itu dikeluarkan, lalu dibersihkan dan diperban dengan hati-hati. Matanya melirik Justin yang kini tampak pucat. Namun pria itu tetap tenang, memasang ekspresi datar seolah rasa sakit itu bukan apa-apa. Andai Anne yang berada di posisi itu, mungkin ia sudah meraung kesakitan. Berbeda dengan Justin yang bersikap tenang, nyaris tidak menunjukkan reaksi apa pun. "Sir, lukanya sudah saya tangani. Tapi perlu waktu beberapa minggu untuk sembuh total," ujar sang dokter, mengemasi peralatannya.Justi

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [33] Snooper

    ...Ketegangan belum mereda ketika api terus membesar dan melahap seluruh bangunan serta isinya. Sirine meraung keras saat mobil pemadam kebakaran akhirnya tiba. Para petugas segera menyemprotkan air, berusaha untuk memadamkan api. Anne yang melihat itu langsung berlari ke arah petugas pemadam, mengabaikan teriakan Reymond yang memanggil namanya. "Nyonya!" Reymond mempercepat langkahnya menyusul Anne yang tampak panik. "Sir, please. My husband is still inside!" teriak Anne dengan kalut. Seorang petugas menoleh cepat pada Anne. "Tenangkan diri Anda, Nyonya. Kami akan menyelamatkan semuanya." Namun Anne menggeleng kuat. Ia tidak bisa tenang sampai Justin keluar dari sana. Pandangannya menatap ke arah gedung yang semakin hitam karena dilahap api. Tanpa sadar, air matanya membasahi wajahnya. Anne tidak menahan dirinya lagi yang kian dilanda kecemasan. Waktu sudah terlalu lama berlaru, tapi Justin masih belum keluar. Apakah suaminya baik-baik saja di dalam sana? Bagaimana jika Justin

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [32] Burning

    ...Malam di Dubai memancarkan kemewahan yang tenang. Lampu kota berkilau bagaikan bintang-bintang yang tumpah dari langit. Malam ini, Justin sudah mengatur makan malam romantis untuk mereka berdua. Sebuah restaurant bintang tujuh yang menjadi tujuan mereka. Anne berdiri di depan cermin besar, mematut dirinya yang tampak mempesona dalam balutan gaun panjang berwarna abu yang membingkai tubuh rampingnya dengan sempurna. Belahan punggung yang terbuka hingga ke pinggang membuatnya terlihat berani malam ini. Tidak lupa, sanggul rendah yang memperlihatkan tengkuk jenjangnya. Setiap gerakannya tampak lembut dan penuh percaya diri. Sementara di balik punggungnya, Justin berdiri mematung namun memerhatikan sepenuhnya ujung kepala hingga ujung kaki dari istrinya, terpaku melihat pemandangan indah di depannya. Jika seperti ini, Justin rasanya enggan pergi ke mana pun, selain mengurung Anne di kamar, lalu menghabiskan waktu berdua dengan penuh keromantisan. Dengan gerakam tenang, Justin merang

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [31] Honeymoon

    ...Setelah beberapa hari tinggal di Italia, hari ini keberangkatan Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Rencana bulan madu ini sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari, bahkan setelah hari pernikahan mereka. Namun karena kondisi Anne yang sempat terluka dan belum sepenuhnya pulih sebab insiden beberapa waktu lalu, Justin memutuskan untuk menunda keberangkatan bulan madu mereka sementara. Bianca mengantar Justin dan Anne sampai teras depan. Sebenarnya Bianca merasa sedih, tapi ia tidak bisa mencegah mereka begitu saja, terlebih kepergian Justin dan Anne untuk melakukan bulan madu. Sejak kedatangan Anne, mansion yang sunyi seakan kembali bernyawa. Kini, Bianca harus kembali merelakan kepergian keduanya. "Berjanjilah untuk selalu berkunjung ke sini," ujar Bianca seraya menggenggam tangan Anne di atas pangkuannya. Anne tersenyum lembut. Ia mengangguk mantap, menggenggam balik tangan Bianca. "Iya, kami berjanji. Mam tidak perlu khawatir, kami akan sering berkunjung ke sini,

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [30] About Veer

    ... Alissa berdehem canggung ketika menyadari kesalahannya yang telah tertidur di bahu Veer. Dalam hati Alissa menggerutu, seharusnya dia bisa menahan kantuknya. Dengan gerakan halus, Alissa melirik diam-diam pada Veer yang masih duduk tenang di kursinya. Namun gerakan Alissa tampaknya diketahui oleh Veer, sebab pria itu turut menoleh dan memerhatikan Alissa dalam beberapa detik. Ada sedikit keterkejutan di sana saat tatapan Alissa tertangkap basah oleh Veer. Segera gadis itu mengulum bibirnya hendak membuka suara. "Aku tidak bermaksud tidur di—" "Para penumpang yang terhormat, kita sedang dalam proses menuruni ketinggian dan akan segera mendarat di Bandara Internasional Los Angeles. Mohon pastikan sabuk pengaman Anda terpasang, sandaran kursi dan meja dalam posisi tegak, serta barang bawaan tersimpan dengan aman. Semua perangkat elektronik harap dimatikan atau diatur ke mode pesawat. Terima kasih." Suara pengumuman itu menghentikan ucapan Alissa sehingga membuat gadis itu

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [23] Attack

    Sejak awal pesta bahkan di penghujung pesta sekalipun, Rheanne masih bersikap ketus pada Justin. Selama di mobil pun setiap Justin mengajak bicara hanya dibalas kebungkaman oleh Rheanne.Astaga! Wanita dengan segala sifat rumitnya."Rheanne ..." panggil Justin seraya menggapai tangan Rheanne dan henda

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [07] Party and Kiss

    Saat malam tiba, Rheanne sudah menyiapkan dirinya. Menatap wajahnya di cermin dengan malas. Wajahnya sudah terlihat cantik dengan riasan tipis, dan gaun pesta yang sudah serasi dengan ukuran tubuhnya. Sebenarnya, ini bukan kemauan Rheanne mamakai gaun seperti ini. Lihat saja, bagaiman model gaun i

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [06] Undangan Pesta

    Di dalam ruangannya, Rheanne menatap kartu undangan itu dengan tatapan yang lesu. Malam ini tepatnya, rekan kerja Justin mengadakan sebuah pesta dan semua orang kantor mendapatkan undangannya termasuk Rheanne sendiri.Namun, sejak tadi Rheanne terus menatap kartu undangan miliknya dengan tidak sema

  • Meet With Mr. Mafia   Bab [05] Strange

    Jam makan siang sudah tiba. Suasana kantin pun sangat ramai. Bersama dengan Alissa, Rheanne duduk dan menyantap makan siangnya. Kantin perusahaan berada di lantai tiga, sementara ruangan Rheanne berada di lantai tujuh. Itu artinya dia harus turun melewati empat lantai. Jika bukan paksaan dari gadis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status