Share

bab 59

Author: Rifval
last update Last Updated: 2026-02-23 15:20:59

Tiga minggu kemudian.

"Barusan kulihat bu Atika keluar dari sini. Kalian bicara apa saja?" tanya Ratih setelah buah pinggulnya baru saja mengisi kursi kosong di samping meja kerja sang sekertaris, Rasak.

"Tidak sempat bicara apa - apa. Dia hanya datang menitip berkas terus buru - buru pergi. Dia 'kan ikut keluar dinas bersama pak Lurah." Rasak menyahut ringan dengan perhatian tetap tertuju pada pekerjaannya. "Kamu sendiri, Rat, kenapa tidak ikut?"

"Dinda ingin sekali ikut. Jadi aku minta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Melati di Kubangan   bab 64

    Hingga tibalah momen itu, momen penyatuan saat jemari lentik itu merogoh ke bawah dan memandu tugu di sana ke pintu gerbang miliknya. menekannya dan membawanya menelusup ke dalam dirinya bersama rintih merdunya. Jamal mengiringinya sambil mendengus pendek, meremas bokong si gadis. Itu selezat biasanya, tak perduli berapa kali pun ia telah menerobos ke sana. Ada jeda sejenak begitu tubuh mereka menyatu serapatnya. Mata mereka terkunci dalam pijar - pijar gairah, sebelum berpagutan liar dengan nafas - nafas terengah. Menit berikutnya, paman dan keponakan itu pun lantas berlayar mengarungi lautan nafsu, memacu birahi di tempat sunyi itu, dengan disaksikan beberapa ekor ayam dalam kandang. Suara pecakapan tak lagi terdengar, tergantikan oleh bunyi keriyut - keriyut balai bambu tanpa henti, berbaur dengan desah lirih, rintih tertahan, dan nafas-nafas berat saling memburu, Berlalu cukup lama.. Pinggul bulat putih si gadis yang sejak tadi membuat tarian erotis tanpa kenal lela

  • Melati di Kubangan   bab 63

    Setelah mengecup pipi gadis itu, ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan. "Bagaimana menurutmu tempat ini, Rat?" Ratih mengedarkan pandangan di ruangan ber-ukuran empat kali empat itu. "Di sini cukup tersembunyi. Asal saja Ibu tidak tiba-tiba muncul membawa bakul cucian." "Ibumu sedang sibuk menyulam di depan. Tidak mungkin mendadak ambil bakul cucian. Aku hanya sedikit khawatir dengan tetangga," kata Jamal pula sambil melirik sekilas dinding bambu sebelah kiri yang menghadap ke rumah tetangga. Ratih mengikuti pandangannya. "Madsud Om, Pak Karman dan pak Musa?" "Jadi, kamu sudah tahu ya? Memang hari itu mereka terlalu terang-terangan melototimu mandi di sumur, sana," kata Jamal tertawa. "Hm, tingkah mereka itu sudah lama kutahu. Aku bahkan tidak akan heran jika bapak - bapak itu sampai melobangi dinding rumah mereka agar bisa mengintipku mandi," cibir Ratih. "Sudah tahu, tapi kamu masih mandi secara sembrono begitu. Hari itu kamu bahkan sempat menyajikan pahamu cuk

  • Melati di Kubangan   bab 62

    "Om, aku ingin berterus terang tentang sesuatu." Sore itu Ratih dan Jamal berada di kandang ayam di belakang rumah yang baru selesai dipugar tempo hari. Kandang ayam itu kini menyerupai gubuk kecil. Di dalamnya bahkan ada balai bambu mungil yang bisa digunakan untuk duduk - duduk. Ini adalah kali pertama mereka menikmati kebersamaan di tempat itu, menggunakan kesempatan sewaktu Ratih datang mengantar pakan sore untuk ayam - ayamnya. Ratih mengatakan itu setelah bibirnya dibebaskan dari lumatan panjang. "Soal apa?' Jamal menatap wajah ayu itu dengan lengan tetap melingkar di pinggangnya. "Selama ini aku sebenarnya menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan pekerjaanku di kantor kelurahan," ucap Ratih pelan. Ia sengaja memberi jeda pada kalimatnya sambil mengerling wajah pamannya. Lalu ia melanjutkan. "Aku menjalin hubungan dengan sesorang di sana. Bukan hubungan emosi atau semacamnya. Hanya seperti kesepakatan atau transaksi." Mendengar ini, reaksi Jamal hanya

  • Melati di Kubangan   bab 61

    Setelah berada cukup jauh dari kantor kelurahan, barulah Atika merasa sedikit tenang, meski tangannya masih gemetar, juga tubuhnya masih menyisakan peluh dingin. Tindakan yang baru saja dilakukannya di samping gedung kelurahan sana benar - benar menguras semua nyali dan energinya. Berjam - jam bersembunyi dan meringkuk di bawah jendela, menahan napas dengan degup jantung bagai bunyi tambur, membuat ia kini sangat lelah secara fisik dan mental. Beruntung semua upaya keras itu tidak sia - sia. Ia berhasil dengan tujuannya, dan hasilnya kini tersembunyi dengan aman di dalam tas hitam di tangannya. Wajah keponakannya, Tono, serta merta terbayang dalam benaknya. Seulas senyum puas lantas muncul di sudut mulutnya. Demi menghindari berpapasan dengan seorang kenalan, Atika sengaja mengambil jalan kecil yang memotong area kebun kelapa. Ia sudah beberapa kali melalui jalur ini. Biasanya ia akan menemui satu dua petani yang sibuk di lahannya. Tetapi mungkin karena hari sudah menjelang sore

  • Melati di Kubangan   bab 60

    Seperti yang dikatakan Rasak, para pegawai sangat menikmati ketidakhadiran pak Bahar di kantor. Mereka berleha-leha, bersileweran, mengobrol santai, tertawa keras, bahkan rata-rata berkemas pulang di bawah jam kantor. Begitu berbeda dari keadaan biasanya yang adem, tertib, dan terkendali. Dari sini, barulah Ratih menyadari betul wibawa dan pengaruh pak Bahar selalu pemimpin kantor karena terbukti segalanya langsung tak beraturan begitu beliau tidak ada. Ratih termasuk orang yang patuh dan menyukai disiplin. Jadi ia cukup terganggu dengan perubahan suasana kantor. Beruntung bahwa hal itu hanya berlangsung lima hari dan kembali normal setelah kepulangan pak Bahar.Namun seperti yang dikatakan Rasak pula, benar saja, begitu datang, Lurah itu segera mencari kesempatan berduaan dengannya. Dan karena merasa bersyukur atas kembalinya Lurah itu, iapun tidak mencoba menampik. *** Siang itu kantor kelurahan sudah lengang ditinggal para pegawainya. Namun Pak Rasak masih berada di ruang k

  • Melati di Kubangan   bab 59

    Tiga minggu kemudian. "Barusan kulihat bu Atika keluar dari sini. Kalian bicara apa saja?" tanya Ratih setelah buah pinggulnya baru saja mengisi kursi kosong di samping meja kerja sang sekertaris, Rasak. "Tidak sempat bicara apa - apa. Dia hanya datang menitip berkas terus buru - buru pergi. Dia 'kan ikut keluar dinas bersama pak Lurah." Rasak menyahut ringan dengan perhatian tetap tertuju pada pekerjaannya. "Kamu sendiri, Rat, kenapa tidak ikut?" "Dinda ingin sekali ikut. Jadi aku minta tukaran. Untungnya pak Lurah setuju," ujar Ratih menyebut salah satu pegawai juniornya. Tangannya kini ikut sibuk, memilah - milah berkas dengan stapler. "Padahal enak jalan - jalan ke luar, justru kamu tolak. Tidak seperti aku yang memang tidak punya pilihan. Dinas pak Lurah selalu berarti segunung pekerjaan buatku," keluh pria itu. Tetapi setelah melirik si gadis, ia lantas menyambung dengan nada menggoda: "Tapi untungnya sekali ini pak Lurah cukup pengertian. Tampaknya sadar dengan penderit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status