Share

bab 5

Author: Rifval
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-21 10:20:48

Gadis itu tak sempat berpikir bahwa mandi di ruang tertutup yang keadaannya serba tanggung justru lebih beresiko mengundang mata-mata nakal dibanding di luar rumah. Itu karena sang pengintip bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Dan lebih - lebih Ia tidak akan menduga bahwa situasi demikianlah yang terjadi atas dirinya beberapa saat kemudian. Bahwa tubuh polosnya yang bagai bayi baru lahir itu dijadikan tontonan syur beberapa pasang mata anak tanggung yang sebelumnya asyik bermain sepak bola di luar sana. Anak-anak itu saling desak dan memperebutkan lobang-lobang kecil di dinding dapur itu sambil berbisik-bisik tertahan.

Tadinya hal itu dipergoki tanpa sengaja oleh salah satu dari mereka waktu mengambil bola yang menggelinding dan kebetulan berhenti di bawah dinding dapur Ratih. Karena dari dalam terdengar suara guyuran air, iseng anak itu mengintip ke dalam melalui celah dinding papan.

Maka seketika terbeliaklah matanya mendapati pemandangan syur di dalam sana. Segera ia memberi kode kepada teman-temannya, menaruh telunjuk di bibir sambil menuding-nuding ke arah dalam. Dengan penasaran teman-temannya pun lantas datang merubung. Maka berikutnya anak-anak tanggung itu sudah tampak berebutan lobang dinding.

Sebab mereka terus berdesakan dan saling dorong dengan sengit, lama-lama itu mulai menerbitkan suara cukup berisik. Namun Ratih yang mendengarnya masih belum menaruh curiga. Dikiranya anak-anak itu tengah memainkan permainan baru apa pula, mungkin adu jangkrik atau semacamnya. Ia tidak begitu menaruh perhatian dan tetap melanjutkan mandinya dengan santai.

Kemudian suara berisik itu mulai di barengi suara tawa tertahan. Tawa kecil satu-satu yang kedengarannya agak ganjil, Ratih mulai sedikit heran. Anak-anak badung itu lagi menertawakan apa? Memangnya model permainan lucu apa yang bisa menimbulkan tawa mengikik diselingi bisik-bisik begitu? pikirnya penasaran. Jenis tawa seperti itu mirip tawa anak-anak yang lagi mengerjai teman mereka yang sedang tidur. Tertawa tertahan, takut ketahuan.

Eh, takut ketahuan? Sampai di sini jalan pikiran gadis itu tiba-tiba membeku, kedua tangannya yang sibuk menggosok-gosok tubuhnya itu pun seketika terhenti. Kepalanya menengok ke arah sumber suara itu yang datangnya dari balik dinding sebelah kiri. Sedetik, dua detik, lalu kesadaran mendadak menyergap otaknya. Matanya terbeliak sock!

"Aihh... !"

Berbareng pekikan kecil dari mulutnya, ia terlonjak berdiri bagai disundul puntung rokok,, menyambar sarung dan buru-buru mengenakannya dengan blingsatan. Kulit wajahnya merah padam.

"Anak-anak kurang ajar! Awas...Awas kalian ya!" teriaknya berang sambil menuding ke arah anak-anak nakal di luar itu yang sekarang samar-samar bisa Ia lihat bayangannya melalui sela dinding.

Bagai anjing di hardik, sekelompok anak tanggung itu seketika berhamburan dengan menerbitkan suara gedubrakan ramai, bahkan terdengar beberapa suara mengaduh. Tampaknya di antara mereka ada yang nekat mengintip menggunakan semacam balok dan mungkin jatuh terpelanting.

Dengan cepat suara derap kaki anak-anak itu menjauh dan menghilang ,menyisakan Ratih masih termangu di bilik dapur itu dengan dada naik turun.

Namun segera gadis itu mampu menenangkan diri Meski masih marah dan malu atas kejadian barusan serta sempat menyumpahi anak-anak nakal itu, Ia segera sadar bahwa hal itu adalah akibat keteledorannya sendiri. Ia terlalu malas dan bermasa bodoh, tidak mau repot membaca situasi sekitar. Memilih mandi di dapur saat banyak anak-anak sedang bermain di luar adalah tindakan sangat sembrono. Itu sama saja seolah sengaja memberi pertunjukan gratis pada anak-anak badung itu.

Tapi juga tidak sepenuhnya gratis. pikir gadis itu dengan sedikit rasa puas di antara rasa gusar dan jengahnya. Tadi ketika dihardik, telinganya bisa menangkap suara mengaduh beberapa mulut. Tentu disebabkan tertimpa balok atau semacamnya. Membayangkan anak-anak itu lari terpincang-pincang dengan tulang kaki bengkak dan kepala benjol, mau tidak mau membuat Ratih rada geli juga.

Saat kembali berada di kamar dan mengenakan pakaian, kejadian barusan sudah hampir meninggalkan benaknya. Ia cukup maklum akan kebadungan anak lelaki menjelang remaja seperti mereka. Amatlah tidak bijaksana jika sebagai orang dewasa ia menanggapi serius ulah nakal mereka yang terang hanya terdorong keisengan seorang kanak-kanak.

***

Waktu jam istirahat siang, Ratih tergopoh mendatangi kantin satu-satunya di kantor kelurahan yang berada di pojok halaman belakang. Dari pukul 10.00, ia terus bekerja sambil menahan perut kerocongan lantaran lupa sarapan di rumah.

Sampai di sana, Ia agak terkejut mendapati dua rekan prianya sudah lebih dulu ada di situ. Padahal Ia mengira akan menjadi orang pertama yang mengisi ruang kantin di awal jam istirahat siang ini. Tentu karena mereka pun sama kelaparan seperti diriku. Pikir gadis itu yang serta merta timbul pikiran jahilnya, apa lagi melihat cara makan kedua rekannya itu yang terlihat amat rakusnya seolah seminggu tak pernah ketemu nasi. Bahkan kedatangannya cuma disambut dengan lirikan sekilas. Butir keringat besar-besar bersembulan di dahi dan pelipis mereka.

Ratih menghampiri Ibu pemilik kantin yang sedang mengelap piring di belakang meja dan bertanya cemas, "Bu, aku masih kebagian nasi kan?"

"Ah, dasar, Nak Ratih suka bergurau. Tentu saja masih banyak. Ini kan baru awal jam istirahat," kata ibu pemilik kantin dengan senyum lebar.

"Ah, syukurlah. Baru lega perasaanku,"

"Memang kenapa, Nak Ratih? Tumben-tumbenan Nak Ratih khawatir soal makanan,"

"Ya, mau tidak mau, Bu. Siapa pun juga akan langsung was-was melihat sepagi ini kantin Ibu sudah diserbu dua gorilla kelaparan di sana itu,"

Ucapan Ratih kontan disambut tawa cekikin Ibu pemilik kantin juga suara tersedak dari salah satu pria di sana yang buru-buru menyambar gelas minumnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Melati di Kubangan   bab 74

    Ratih membuka kisi nako di jendela dalam kamarnya dan membiarkan angin menerobos masuk. Ia memgambil kursi dan duduk di sana mengusir rasa penat dan gerah. Siang ini Ratih baru saja pulang dari tempat pemakaman. Sudah tiga hari ini dia dan para pegawai lain secara berturut - turut nyekar di kuburan pak Bahar. Hari itu, setelah dilarikan ke rumah sakit, pak Bahar hanya mampu bertahan dua jam di sana. Lukanya sangat parah dan kehilangan terlalu banyak darah sehingga nyawanya tidak bisa diselamatkan. Sementara itu Tono sudah ditangani pihak kepolisian dan kasusnya sedang di proses. Pemuda itu datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui perbuatannya. Ia mengatakan bahwa alasan perbuatannya adalah atas dendam keluarga yang sudah berlarut - larut. Karena pernyataannya, kini kasus Suriati, kakak perempuan Tono, terpaksa kembali diangkat ke permukaan. Sampai sekarang Ratih masih belum sepenuhnya bisa memahami tragedi berdarah di depan toko kelontong tempo hari. Ia tentu saja tahu Tono

  • Melati di Kubangan   bab 73

    Selama beberapa detik, hening yang mati membungkam suasana di tempat itu. Pak Bahar menatap langsung ke dalam bola mata pemuda itu, lalu menunduk melihat perutnya, tak percaya! Ujung mulutnya berkedutan tanpa henti. Matanya melotot besar. Tubuhnya yang gemetar lantas limbung dan jatuh terpuruk ke bawah. Kedua telapak tangannya mendekap perutnya. Perut yang robek besar dan terus - menerus menyumpitkan cairan merah pekat! Suasana gempar seketika! Teriakan ngeri serentak pecah ke udara! Orang - orang berlarian panik! Ratih berdiri terperangah di tempatnya. Barang belanjaan berserakan di bawahnya. Kedua telapak tangannya membekap mulutnya yang baru saja melepaskan pekikan syok! Matanya terbelalak menatap pemuda itu. Pemuda yang berdiri di sana dengan tangan mencekal belati bersimbah darah. Belati berkilau dengan ujung yang masih menetes - neteskan darah. Wajah pemuda itu pucat, namun tampak beringas! Pemuda itu adalah Tono. Dan pemuda itu balas menatap si gadis dengan dingin.

  • Melati di Kubangan   bab 72

    "Ti..dak ada. Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun." Ratih menganggap madsud pertanyaan pak Bahar adalah seorang kekasih. Jadi ia tidak merasa sedang berbohong. Hubungannya dengan pamannya toh memang tidak dalam kategori demikian. Lurah itu masih mengawasi si gadis beberapa lamanya, lalu katanya, "Baiklah. Aku bersedia tetap menunggu. Tapi jika kau ingin aku percaya kau tidak sedang memiliki hubungan dengan pria lain, kau tidak boleh menolak ajakanku dan membuatku curiga." Ratih mengerling ke arah Lurah itu. Setelah menarik nafas, akhirnya ia berkata pelan, "Baiklah. Lusa aku akan menemani Bapak." "Nah, begitu baru menjadi anak manis," seringai Lurah itu. Tangannya melingkari pinggang si gadis. Mengelus turun dan meremas buah pantatnya. Saat itu mereka berada di sudut ruangan dan teraling oleh rak - rak jualan. Ratih melihat tidak ada siapa pun di sekitar mereka. Maka ia membiarkannya saja. Namun Ratih dan pak Bahar sama sekali tidak sadar bahwa dari balik rak jualan ta

  • Melati di Kubangan   bab 71

    Jamal mengangguk. "Terima Kasih.' "Abang tak perlu sungkan. Itu sudah menjadi tugasku. Bahkan kalau masih ada pekerjaan lain, Abang tinggal bilang saja." "Memang tujuan utamaku datang malam ini adalah hendak kembali merepotkanmu." "Bilang saja, Bang. Tugas apa kali ini dan di mana?" Doni tampak bersemangat. "Sama seperti sebelumnya. Hanya kali ini lebih ringan karena orangnya ada di sini. Sebenarnya hal ini bisa kukerjakan sendiri. Tapi seperti kau tahu, aku sedang diawasi orang belakangan ini." "Tentu saja Abang tak perlu mengerjakannya sendiri. Apa lagi hanya tugas sepele begini." "Meskipun ringan, tapi kali ini aku tidak ingin kau terlibat secara langsung. Suruh anak - anak atau siapa saja yang tidak terlalu menarik perhatian." "Saya mengerti, Bang. Abang tenang saja. Aku bisa mendatangkan orang luar untuk mengerjakannya," kata Doni meyakinkan. "Tapi siapa orang ini, Bang?" Jamal merogoh saku jaketnya dan meletakkan selembar amplop putih di atas meja. Di atas amplop itu ter

  • Melati di Kubangan   bab 70

    Wajah Atika memerah. Mulutnya terbuka untuk menanggapi, tetapi yang keluar dari sana kembali hanya suara lenguh dan desis seperti orang kepedasan, bersama ringisan dan sesekali gigitan di ujung bibir. Satu tangannya mencengkeram apa saja yang ada di sekitarnya, sementara jemari yang lain meremas lengan Rasak yang tengah mengobok - obok dirinya di bawah sana. Permainan jemari nakal pria itu sungguh - sungguh sangat liar, membuatnya blingsatan menahan gelenyar rasa ngilu dan geli di sekujur tubuhnya. Tumit - tumitnya beradu keras dengan permukaan tikar, demikian pula pinggulnya yang tak henti menggeliat seperti tengah memperagakan tarian perut. Sekali waktu pinggul besar itu menggelinjang keras sekali, terus mundur ke atas seperti hendak melarikan diri, namun jemari itu tak membiarkannya lolos dan langsung mengejarnya. Bahkan lalu didesak lebih rapat, lebih kencang, lebih menggila! Atika mengerang tersendat - sendat. Kedua batang pahanya bergetar, kaki - kakinya menjejak lebih kuat,

  • Melati di Kubangan   bab 69

    "Ya, aku juga berpikir begitu. Aku bahkan sempat menduga orang ini adalah adalah orang suruhan pak Bahar. Makanya beberapa hari aku amat hati - hati terhadapnya." "Tidak. Aku pasti tahu kalau dia memiliki pembantu lain." Rasak menggeleng tegas. "Aku sangat yakin tentang ini. Jika tidak, aku tidak akan berani membantumu menyusup ke kantor keluahan tempo hari itu dan membahayakan diriku sendiri." "Ya, untungnya memang bukan. Maka sekarang kita hanya perlu mengarahkan mata ke luar, pada orang - orang berpotensi terlibat dalam urusan ini. Dan orang - orang di sekitar Ratih tentulah yang pertama harus kita selidiki. Jadi apa kau sudah mendapatkan informasi penting mengenai si Jamal itu?" Atika mengulang pertanyaan ini. Suaranya bergetar membawa rasa tidak sabar. "Ada. Tapi tentunya ini harus dilaporkan kepada pak Bahar lebih dulu karena dialah yang menyuruhku," ujar Rasak kembali dengan sikap santainya. "Kau masih bersetia kepada Bandot tua itu?" "Itu tak terhindarkan. Bagaimana p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status