LOGINBenarkah ke 3 selir itu nenek moyang ke 3 wanita yang di sebut Mamon..? Tunggu di bab selanjutya...salam MRD_BB
“Silahkan di minum airnya bu!” Mante letakan air di meja Anggia Ginting.“Mante, duduk dulu di depan aku ini, aku mau bicara sebentar!” Anggia menahan langkah kaki Mante yang akan keluar dari ruangan ini.“Baik bu!” dengan sikap sopan Mante pun duduk di depan Anggia.“Mante, kemarin kan aku tanya siapa ortumu, tapi belum kamu jawab!” kata Anggia, dengan pandangan mata curiga pada Mante.“Nama ayahku Mulyadi dan ibuku Lastri bu!” sahut Mante cepat.“Ohh yaa…kirain kamu ada hubungannya dengan Aron Talang,” sela Anggia sambil kembali menatap wajah Mante yang brewokan ini.Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah sang CEO Princes Lecia, Mante langsung berdiri dan membungkukan tubuh beri hormat pada orang nomor satu di perusahaan ini.“Hmm…masa pegawai rendahan duduk di sini bu Anggi?” tegur Lecia dengan gaya meremehkan ke Mante, pria tegap ini hanya diam dan menunduk, sambil menahan kemangkelan di dadanya.“Aku tadi wawancara dia Nona Lecia, silahkan kembali Mante ke tempat tugasmu!” sela Ang
Hubungan Mante dengan orang tua dan adik-adiknya makin dekat, Mante bahkan tertawa kecil, ayahnya yang nggak pernah pegang pacul dan parang, sampai harus kursus singkat dengan ‘petani’ setempat yang sengaja dipekerjakan di sini.Tapi hasilnya, dua hari kemudian Mamon sudah lihai pegang kedua benda ini dan imbasnya, biarpun tangan lecet dan mulai kapalan, tapi Mamon terlihat makin enjoy jadi…petani.Walaupun tubuhnya mulai terbakar matahari, Mamon malah terlihat makin sehat, wajah tampannnya yang dulu sering murung kini mulai berubah ceria.Biarpun bangkrut, jangan di kira keluarga ini miskin, uang mereka masih ada, Mante saja masih triliunan uangnya, sebab dia belum masuk akta keluarga Mamon Mante, sehingga uangnya tak di sita.Makin dekat dengan ayahnya, membuat Mante jadi tahu secara detil apa yang membuat perusahaan ayahnya ini di bikin pailit.“Jadi…kamu ingin bergerak sendiri selidiki ini?” tanya Mamon sambil istirahat di teras, usai mencangkul hingga peluh bercucuran, tapi bikin
Sudah 3 bulan pasca ‘pailit’ Mamon hanya duduk termangu saja kerjaannya di rumah orangtuanya, buntu otak Mamon memikirkan usahanya yang bangkrut ini, macam - macam usaha sudah dia lakukan untuk menolong perusaaannya, tap hasilnya tetap nihil hingga saat ini.Brigitha, Putri Intan dan Putri Dyah yang mulai beranjak abege kasian sekali melihat papa mereka begitu, tapi apa yang bisa mereka lakukan...?“Pah…ada tamu?” Brigitha menegur perlahan suaminya yang kini kurusan. Mamon hanya menoleh dan membiarkan istrinya kini memanggil seseorang untuk menemuinya.“Siang…p-pah!” terdengar suara dan Mamon langsung menoleh, kaget juga dia saat tahu siapa tamunya.“Mante…!” sahut Mamon sambil matikan rokoknya, padahal Putri Intan capek menegur papa-nya agar berhenti merokok.Mante dengan agak kikuk duduk di depan ayahnya, trenyuh juga dia melihat ayahya yang kurusan dan tak bersemangat ini, brewoknya juga makin lebat saja, mata agak cekung tanda kurang tidur.“Pah, Mante ke sini mau minta maaf,” sahu
Hampir syok juga Mante melihat saldo dari kartu premium ini saat dia cek ke ATM terdekat, bahkan sudah atas nama dia, yang entah darimana ayahnya tahu KTP-nya.Padahal KTP-nya pernah di pinjam Raka, saat mengurus pembelian rumah dan KTP ini lalu di perlihatkan Raka pada Mamon.“Gileee….nggak tanggung-tanggung papa kasih duit, 7,5 triliun?” batin Mante, sampe mau pingsan dia melihat angka di nolnya.Om Par menatap wajah Mante, pria muda bertubuh kekar ini menawar lahan kebun dan hutan miliknya, yang sudah lebih 3 tahunan tidak laku-laku.Dari 35 miliar yang ia tawarkan, Mante menawar 25 miliar, tapi setelah saling tawar-tawaran, disepakati harganya adalah 28,5 miliar rupiah.Dan tanpa ragu Mante langsung bayar 25 miliar, sisanya sambil nunggu balik nama di SHM dan setelah itu beres baru yang 3,5 miliar di bayarkan."Paling lama 2 bulan, beres surat-suratnya," kata Om Par sambil salami Mante dengan wajah berbinar.Mante lalu meminta mencari seorang kontraktor untuk membangun sebuah rumah
Di sebuah jalan sepi , Mante kaget mobilnya tiba-tiba mogok!“Ahh sial ni mobil tua ini, mana aku ngga bawa alat-alat bengkel lagi, masa aku harus bermalam di jalan yang sepi ini,” batin Mante jengkel bukan main, mana ini sudah pukul 3 dinihari lagi, batinya.Mante lalu keluar dari mobil ini dan menatap jalanan yang sepi, dia sama sekali tidak takut, pengalaman di alam masalalu membuat batinnya sudah teruji kuat dan mau mogok di tempat angker sekalipun hatinya bisa saja.Saat dari kejauhan melihat ada nyala lampu pelita yang menandakan itu sebuah rumah, Mante tanpa ragu ke sanalah ia menuju.Dan memang benar, ada gubuk tua yang ada pelitanya di depan rumah.“Siapa di luar?” terdengar suara dari rumah saat Mante mengetuknya, lau terdengar pintu rumah ini di buka.Mante menatap si tuan rumah yang wajahnya teduh dan menyenangkan, seorang pria tua kurus dengan kopiah yang sudah agak pudar warnanya, bajunya koko putih yang juga agak kekuningan termakan usia .“Siapa di luar kek?” terdengar
Raka benar-benar membuktikan ucapan Ki Puji, selain bersama Putri Moana dia juga dengan Putri Arumi dan dua dayangnya.Ketiga wanita cantik dengan tubuh menggiurkan berhasil dia taklukan dan kini tertidur kelelahan setelah mengarungi percintaan yang tiada puasnya malam lanjut siang dan malam lagi dan ini sudah hari ke 6, bukan main daaahh. Hanya Mante yang tetap setia dengan Maharatu Dyah, terlebih bibit-bibit cinta sudah tumbuh di hatinya, uhuiiii .Beda dengan Raka, seolah tak kenal puas dan tanpa dia sadari itu semua gara-gara…kalung mestika yang masih pakai Raka dan anehnya Mante sama sekali tidak keberatan dengan ulah adiknya ini.Hari ke tujuh...Prabu Rangkabhumi geleng-geleng kepala menatap salah satu cucutnya ini, yang terlihat kelelahan dan ketiduran dengan dalam pelukan Putri Arumi dan di dekat kakinya ada dua dayang jelita yang juga terlihat kecapekan dan lagi enak-enakan molor.Lalu si roh sakti ini membaca mantera – mantera dan meniupkan ke wajah Raka.Tranggg….Raka da







