Share

Membela Anak dari Tuduhan
Membela Anak dari Tuduhan
Author: Peachy

Bab 1

Author: Peachy
Tetangga baruku menuntutku. Di pengadilan, dia terisak sambil menuduh putraku memperkosa putrinya.

"Putramu itu menjijikkan!" teriak Nadia ke wajahku yang tanpa ekspresi. "Dia baru pindah, lalu dia memukuli putriku, Tiffany! Dia memperkosanya!"

"Ibu Sabrina." Pengacara Tiffany, Julian, menatapku tajam. "Mari kita perjelas. Pada malam tanggal lima belas Juli, apakah putramu melakukan serangan brutal pada klien saya atau tidak?"

Aku duduk di meja terdakwa. Tuduhan itu menggantung di udara, aku tidak mengatakan apa-apa.

Di luar, para demonstran berteriak. "Keadilan untuk Tiffany." Kilatan kamera menembus jendela seperti petir menyambar.

"Tidak," kataku akhirnya dengan suaraku yang dingin.

Julian berbalik ke arah juri. Wajahnya menjadi topeng penderitaan. "Hadirin sekalian, dia menolak bertanggung jawab atas kekerasan putranya."

Aku melirik ke arah bangku penonton.

Para tetangga baruku berbisik dan tatapan mereka penuh rasa jijik.

Nyonya Lina menggelengkan kepala. Orang-orang dari Keluarga Santoso bahkan memalingkan wajah mereka.

Padahal baru minggu lalu, orang-orang ini tersenyum lebar di acara kumpul-kumpul tetangga. Mereka tidak sabar menyambut seorang tokoh sukses di bidang teknologi di lingkungan mereka.

Begitu mendengar aku punya seorang putra yang bahkan adalah seorang juara binaraga, hal ini sontak membuat mereka terpana. "Pasti anak muda yang hebat!" Mereka berseru dengan kagum. "Kamu beruntung sekali!"

Sekarang, mereka memandangku seperti sampah.

Kemunafikan itu begitu pekat hingga terasa menyesakkan.

Aku teringat sore itu. Seminggu yang lalu.

Nadia berdiri di teras rumahku.

"Sabrina! Kamu harus keluar mengurus ini!"

Dia memeluk Tiffany. Gadis itu penuh memar, dan tampak seperti baru keluar dari ruang gawat darurat.

"Putra binaragamu yang melakukan ini!" Suara Nadia memecah kesunyian.

Teriakannya merusak momen damai yang jarang aku rasakan. Aku baru saja mendapat kesepakatan besar.

"Putraku tidak pernah meninggalkan rumah."

"Jangan berpura-pura bodoh!" Tiffany mengangkat kepala dengan lemah, air mata menggenang di matanya. "Tadi malam … di halaman belakang … Rian … dia … dia mengerikan."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Dia menjatuhkanku ke tanah dan mulai merobek pakaianku … mencoba menurunkan celanaku … mau memperkosaku." Tiffany tergagap, dan seluruh tubuhnya gemetar. "Aku melawan sekuat tenaga, jadi dia mulai memukuliku. Wajahku, tubuhku .…"

Nadia menyela, "Delapan puluh miliar. Selesaikan ini secara diam-diam atau kita ke pengadilan dan tunjukkan ke seluruh dunia sampah seperti apa yang kamu besarkan."

Aku menatap sandiwara mereka dan tidak merasakan apa-apa.

"Aku menolak."

"Apa?" Nadia jelas tidak menyangka itu.

"Aku sudah bilang, aku menolak. Kalau memang mau uang, kita selesaikan di pengadilan."

Aku menutup pintu tepat di depan wajah mereka.

Mengingat kembali, aku pun tahu aku telah membuat keputusan yang tepat.

"Yang Mulia," kata Julian sambil membuka sebuah berkas. "Saya ingin memperlihatkan kepada pengadilan foto-foto luka yang dialami Ibu Tiffany."

Sebuah gambar Tiffany muncul di layar besar.

Dia memakai penyangga leher. Lengan kanannya dibalut gips dan ada bekas goresan jelas di wajahnya.

Para juri terkejut.

"Apa yang foto-foto ini tunjukkan?" Julian menunjuk layar. "Ini menunjukkan betapa menakutkannya kekuatan pelaku, dan betapa brutal caranya."

Dia menampilkan foto lain. Foto buram yang diambil di malam hari dengan ponsel.

Dalam foto itu, seorang pria tampak membelakangi kamera seolah hendak menyerang seorang wanita yang berada di tanah.

"Foto ini diambil oleh tetangga yang mendengar teriakan. Buram, tapi jelas terlihat serangan sedang berlangsung."

Desahan marah memenuhi ruang sidang.

"Menjijikkan sekali."

"Anak orang kaya semuanya sama."

"Begini caranya membesarkan anak?"

Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi saham.

Saham perusahaan turun tiga persen lagi.

Aku meliriknya, lalu membalikkan ponsel itu menghadap ke bawah.

Gerakan itu tidak luput dari perhatian. Terasa dingin dan penuh kesombongan.

Seorang pria di bangku penonton mendesis, "Lihat dia. Gadis itu nyaris mati, tapi dia malah mengecek sahamnya!"

"Ibu macam apa yang membesarkan anak seperti itu?"

"Apa dia pikir uang membuatnya lebih hebat dari kita?"

Julian menatapku dengan senyum menyeringai. Dia lalu kembali menghadap juri. "Sikapnya sudah menjelaskan segalanya. Dia pikir uangnya bisa menutupi dosa putranya."

Hakim mengetuk palu. "Diam!"

Tapi itu tak menghentikan badai di media sosial. Seseorang di ruang sidang sedang menyiarkan langsung, dan komentar mengalir deras.

[Wanita ini kejam sekali.]

[Aku tidak akan melupakan nama itu. Rian.]

[Anak orang kaya itu sampah.]

[Sabrina Mahendra, keluar dari kota kami.]

Aku menjaga posturku. Punggung tetap tegak seperti berada di ruang rapat, bukan ruang sidang.

Angkanya jelas. Kemarahan publik meledak dengan cepat.

Tagar [#KeadilanUntukTiffany] disebarkan ulang sebanyak lima puluh ribu kali dalam waktu tiga jam.

Semuanya berjalan sesuai naskah mereka.

"Sekarang," kata Julian sambil melangkah menuju bangku juri. "Saya ingin meminta Ibu Tiffany menceritakan sendiri malam mengerikan itu."

Tiffany perlahan berdiri, dan berjalan ke kursi saksi dengan langkah gemetar.

Setiap gerakan tampak menyakitkan, sulit, seolah gerakan sekecil apa pun akan merobek kembali luka-lukanya.

Akting yang bagus.

Dia duduk, menarik napas dalam, dan matanya kembali berlinang air mata.

"Aku tidak akan pernah melupakan mata itu," katanya tercekat. "Penuh dengan … dengan amarah. Rian menatapku seperti .…"

Dia lalu berhenti, seakan mencari kata yang tepat.

"Seperti … seperti binatang yang menatap mangsanya."

Para juri menahan napas.

Seorang pria paruh baya di bangku penonton tidak tahan lagi. Dia melompat berdiri, dan menunjuk ke arahku.

"Sampah seperti dia pantas dikurung!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 8

    Skenario telah berubah.Sekarang giliran Nadia dan Tiffany yang panik."Pemerasan?" Suara Nadia menjerit. "Sabrina! Bagaimana kamu bisa bilang begitu? Kami ini korban!"Dia mencoba merebut kendali, tapi suaranya gemetar."Putriku sudah mengalami begitu banyak trauma, dan sekarang kamu berbalik menyerang kami?"Tiffany segera mengikuti, dan meneteskan air mata lebih banyak."Aku sudah cukup menderita … aku benar-benar hanya membuat kesalahan … tolong jangan menyiksaku lagi .…"Suaranya bergetar saat dia mencoba kembali berperan sebagai korban tidak bersalah."Aku punya gangguan stres pasca trauma … ingatanku kacau … ini bukan salahku .…"Beberapa juri mulai ragu."Mungkin mereka memang salah .…""Mereka kelihatan menyedihkan .…"Tapi ekspresiku tetap dingin.Aku mengelus Rian yang menguap malas."Gangguan stres pasca trauma?" Aku mengulang istilah itu. "Teori yang menarik."Aku menatap ke belakang ruang sidang.Pengacaraku, Hendra, pria paruh baya berpakaian rapi berdiri."Yang Mulia, p

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 7

    Layar besar menyala.Dokumen pertama muncul.Itu adalah sertifikat resmi yang megah, dengan cap emas kontes kucing internasional.Nama Rian Mahendra tercetak jelas.Sertifikat silsilahnya, nomor identitas mikrocip, catatan vaksinasi, dan riwayat kompetisinya. Semuanya lengkap.Informasi pemilik, Sabrina Mahendra.Tanggal pendaftarannya adalah dua tahun lalu.Seseorang di ruang sidang terengah."Ini … nyata?" bisik seorang juri.Aku menyentuh layar, dan menampilkan halaman berikutnya.Profil Instagram Rian memenuhi layar.[@RianSiKucingBengal – 52.000 pengikut.]Foto profilnya adalah potret elegan Rian dari samping, dan mata kuning kecokelatan berkilau menghadap kamera."Saya memilih untuk tidak memiliki anak manusia. Tapi saya punya seorang anak. Anak kucingku, Rian, punya akun media sosial sendiri," kataku dengan tenang. "Dengan lima puluh dua ribu pengikut."Aku mulai menggulir layar.Banyak foto dan video muncul di layar.Rian bermain di kediamanku.Rian tidur di jet pribadi.Rian m

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 6

    Tuduhan Nadia meledak bagaikan bom di ruang sidang.Beberapa juri mulai berbisik satu sama lain."Dia benar. Bagaimana bisa dia membuktikan kucing ini adalah Rian yang dituduh?""Bisa jadi hanya pengganti.""Mungkin pelaku aslinya sedang bersembunyi."Aku menatap pikiran mereka yang mudah goyah itu, rasa tenang yang menakutkan merayap ke seluruh tubuhku.Julian langsung menangkap kesempatan itu.Dia berdiri, suaranya gemetar tapi penuh semangat baru."Yang Mulia! Terdakwa sedang mempermainkan pengadilan! Dia mencoba menutupi semuanya dengan … dengan hewan ini!"Dia menunjuk Rian yang ada di pelukanku."Ini adalah penghinaan terhadap klien saya, dan terhadap konsep keadilan itu sendiri!"Tiffany segera mengikuti dan berdiri dari kursi saksi dengan mata yang basah."Benar! Dia melindungi Rian yang sebenarnya! Sampah yang menyakitiku!"Suaranya gemetar."Rian yang asli itu manusia! Pria kasar dan berbahaya! Bukan kucing ini!"Ekspresi para juri mulai goyah.Seorang wanita paruh baya di ba

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 5

    Petugas pengadilan mendorong pintu ruang sidang hingga terbuka, lalu masuk sambil mendorong sebuah tas hewan yang ramping dan kelihatan sangat mahal.Tas hitam itu dipenuhi stiker perjalanan internasional, terlihat profesional sekaligus misterius.Semua orang di ruang sidang seolah menahan napas.Kamera-kamera menyala, dan kilatan cahaya berhamburan. Kolom percakapan siaran langsung melaju secepat kilat:[Apa isinya?][Barang bukti?][Senjata pembunuhan?][Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Sabrina?]Para juri duduk tegak, pandangan mereka terpaku pada tas itu.Buku-buku jari Tiffany memutih saat dia menggenggam tangan ibunya, matanya membelalak penuh kecemasan.Nadia mengerutkan kening, dan garis dalam muncul di antara alisnya. Dia benar-benar kebingungan.Julian langsung berdiri."Keberatan! Yang Mulia, apa maksud sandiwara ini?""Biarkan dia lanjutkan." Hakim melambaikan tangan menghentikannya.Aku melangkah perlahan ke arah tas itu, setiap langkah mantap dan terukur.Kesunyian

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 4

    "Bukti DNA!"Bisik-bisik penuh antusias terdengar di bangku juri."Sekarang dia tidak punya lagi alasan!""Sains tidak pernah bohong!""Sabrina, apa alasanmu sekarang?"Julian berjalan di tengah ruang sidang seperti merayakan kemenangan."Yang Mulia, di hadapan bukti yang begitu meyakinkan, saya menuntut putusan segera sebesar delapan puluh miliar sebagai ganti rugi sipil!"Dia menunjuk ke arahku, suaranya bergema penuh kuasa. "Dan kami akan mengajukan perintah penahanan darurat, pastikan sampah itu tidak mendekati klien saya!"Bangku penonton bergemuruh dengan bertepuk tangan."Ya! Jauhkan sampah itu darinya!""Delapan puluh miliar saja tidak cukup!""Dia harus dipenjara!"Aku menatap kantong bulu emas itu, sudut bibirku terangkat menunjukkan senyum tipis.Perubahan ekspresi kecil itu langsung menarik perhatian semua orang."Lihat dia!" teriak Nadia dari bangku penonton. "Buktinya jelas di depan mata, tapi dia malah tersenyum! Perempuan itu tidak punya hati!"Suaranya semakin nyaring.

  • Membela Anak dari Tuduhan   Bab 3

    Wajah Tiffany memerah.Jelas dia tidak menyangka aku akan menantangnya secara langsung."Bagaimana … bagaimana bisa kamu mengatakan itu?" gumamnya dengan suaranya yang penuh amarah. "Aku hampir mati!""Tapi kamu tidak mati," kataku tenang sambil memperhatikan reaksinya. "Dan kamu masih bisa berdiri di sini serta memberi kesaksian dengan sangat rinci.""Karena aku beruntung!" Tiffany hampir berteriak sekarang. "Kalau tetanggaku tidak mendengar .…"Dia terhenti, ada niat tersembunyi dari tatapannya."Sebenarnya … ini bukan pertama kalinya."Seluruh ruangan kembali fokus padanya."Sejak mereka pindah, dia selalu mengikuti saya. Di pusat kebugaran lingkungan, di kolam renang, bahkan di depan rumahku." Dia menarik napas panjang, membuat dirinya terlihat lemah. "Tatapan matanya … seperti pemangsa. Seperti … ingin mencabik-cabikku."Bisikan marah terdengar dari bangku juri."Benar-benar menjijikkan!""Anak seperti itu berbahaya untuk semua orang!""Dia harus dikurung!"Aku tetap tenang dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status