LOGINPutri angkat ayah secara tidak sengaja terkunci di gudang kecil selama belasan menit. Hal itu membuat Ayah langsung mengikat dan memasukkanku ke dalam gudang, bahkan menutup ventilasi udara dengan handuk. Dia berkata, "Sebagai kakak, kalau nggak bisa menjaga adikmu, kamu harus merasakan penderitaan yang dia alami!" Tapi aku punya fobia terhadap ruangan sempit. Di gudang yang kecil dan gelap itu, aku hanya bisa menahan rasa takut untuk memohon belas kasihan Ayah. Sementara dia hanya menegurku dengan keras, "Ini adalah pelajaran agar kamu ingat bagaimana menjadi seorang kakak!" Ketika cahaya terakhir sirna, aku berjuang dalam kegelapan. Seminggu kemudian, Ayah akhirnya teringat padaku dan memutuskan untuk mengakhiri hukuman ini. "Semoga pelajaran ini bisa membuatmu selalu ingat dan kalau terjadi lagi hal seperti ini, kamu akan kuusir dari rumah ini!" Tapi dia tidak tahu bahwa aku sudah lama mati di gudang, dan tulang-tulangku pun mulai membusuk.
View MoreAroma tanah basah dan kesegaran daun-daun hijau yang biasanya menjadi penenang terbaik bagi ghea hari ini sama sekali tidak berfungsi. Di sudut toko tanaman hias "Amerta Green" yang asri namun mulai sepi, dia duduk bersimpuh di lantai semen, kedua lututnya ditekuk menyembunyikan wajahnya yang sudah sembap karena tangis yang pecah sejak satu jam lalu.
Di genggamannya, selembar kertas putih berlogo firma hukum besar mengenai perintah pengosongan lahan yang sudah diremuk oleh ghea. "Ibu... Aku harus gimana?" bisiknya lirih, menatap satu pot bunga Lily putih di dekatnya tanaman kesayangan almarhum ibunya yang selalu ia rawat seperti jimat keberuntungan. Toko ini adalah seluruh sisa kenangan tentang ibunya, kehilangan tempat ini sama saja dengan kehilangan separuh jiwanya. *Kring!* Suara lonceng angin di pintu masuk toko berdenting keras. ghea tersentak, belum sempat ia menghapus air matanya dengan sempurna, langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar mendekat. Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku berdiri di ambang pintu. Postur tubuhnya tinggi, rahangnya tegas, dan sepasang matanya menatap sekeliling toko dengan pandangan menilai yang sangat dingin. Dia adalah Arga Dirgantara. Arsitek utama yang disewa untuk melenyapkan tempat ini. "Selamat sore. Dengan Saudari Ghea Kirana?" suara Arga terdengar berat, datar, dan tanpa emosi. Ghea bangkit berdiri, menatap pria asing itu dengan sisa air mata di pipinya, tapi matanya menyala penuh defensif. "Iya, saya sendiri. Ada keperluan apa?" Arga melangkah maju, tanpa basa-basi ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map kulitnya. "Saya Arga, arsitek lanskap dari tim pengembang. Saya datang untuk meninjau lokasi sekaligus memastikan Anda sudah membaca surat peringatan terakhir. Lahan ini harus dikosongkan dalam waktu dua minggu karena proyek pembangunan kafe modern akan segera dimulai." Mendengar kalimat yang begitu kasual keluar dari mulut Arga, dada Ghea rasanya sesak luar biasa. Rasa sedihnya instan berubah menjadi amarah yang membakar. "Dua minggu?!" suara Ghea meninggi, gemetar karena menahan emosi. "Anda pikir memindahkan ratusan makhluk hidup di toko ini sama seperti memindahkan tumpukan batu bata? Tempat ini punya sejarah, punya jiwa! Anda tidak bisa datang begitu saja dan mengusir saya!" Arga menatap Ghea flat, seolah kemarahan gadis di depannya hanyalah angin lalu. "Secara hukum, masa sewa lahan ini sudah habis bulan lalu, dan pemilik tanah sudah menjualnya kepada klien kami. Berteriak pada saya tidak akan mengubah fakta kalau toko kecil yang hampir bangkrut ini memang harus digusur, Saudari Ghea. Ini murni bisnis." "Murni bisnis?!" Ghea tertawa sarkas, air matanya menetes lagi, kali ini karena murka. "Bagi orang kota egois seperti Anda, ini mungkin cuma bisnis dan angka-angka di atas kertas. Tapi bagi saya, ini hidup saya! Pergi dari sini!" "Saya hanya menjalankan tugas profesional saya-" "SAYA BILANG PERGI!" Napas Ghea memburu. Gengsinya runtuh berganti nekat. Tepat di sampingnya, ada sebuah ember plastik kecil berisi air sisa siraman bunga sore tadi. Tanpa pikir panjang, Ghea meraih ember itu dan melemparkan seluruh isinya tepat ke arah Arga. *BYUURRR!* Air dingin bercampur sedikit sisa pupuk organik sukses membasahi bagian depan kemeja hitam mahal Arga, bahkan beberapa tetesnya mengenai wajah tegas pria itu. Suasana toko langsung hening seketika. Hanya terdengar suara rintik gerimis di luar. Arga memejamkan matanya perlahan. Rahangnya mengeras, menahan kejutan sekaligus amarah yang luar biasa. Saat ia membuka mata, tatapannya begitu tajam, sedingin es. Ia mengusap air di wajahnya lalu menatap Ghea yang berdiri gemetar sambil memegang ember kosong nampak ketakutan dengan apa yang baru saja ia lakukan "Tindakan impulsif yang sangat tidak profesional," ucap Arga, suaranya sangat rendah dan penuh penekanan yang mengintimidasi. Arga merapikan kemejanya yang basah lalu berbalik. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Nikmati sisa waktu dua minggumu, Ghea. Karena tempat ini tetap akan rata dengan tanah." Lonceng pintu kembali berdenting keras seiring langkah lebar Arga yang menembus gerimis sore. *Prang!* Ember plastik di genggamannya terlepas, membentur lantai semen dengan nyaring, rasa marahnya yang meledak-ledak tadi digantikan oleh rasa takut yang mendadak mencekik leher. "Ghea, apa yang kamu lakukan..." bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Dia baru saja menyiram seorang arsitek utama dari perusahaan pengembang besar dengan air bekas pupuk organik. Alih-alih menyelamatkan toko peninggalan ibunya, tindakan impulsifnya tadi justru bisa menjadi senjata bagi Arga untuk menendangnya dari lahan ini lebih cepat. Ghea duduk bersandar pada meja kasir kayu sambil memeluk kedua lututnya. Isak tangisnya kembali pecah di tengah suara badai hujan yang mulai memukul atap seng toko. Sementara itu, di dalam mobil hitam yang melaju di jalanan kota. Arga mencengkeram kemudi dengan sangat erat, menahan amarah yang rasanya siap meledak kapan saja. Bau samar pupuk organik yang menempel di kemeja hitam mahalnya benar-benar merusak seluruh harinya. Sepanjang kariernya sebagai arsitek lanskap, Arga selalu didekati dengan rasa hormat oleh klien-klien kelas atas. Belum pernah ada satu orang pun, terutama seorang gadis pemilik toko tanaman yang keras kepala, berani memperlakukannya sekasar ini. Keesokan harinya, Ghea mengira hari buruknya telah selesai. Namun dia salah besar. Baru saja Ghea membuka gerbang toko menjelang siang, sebuah truk tronton besar tiba-tiba berhenti tepat di depan toko "Amerta Green". Beberapa pekerja berkaos proyek turun dan langsung memasang pagar pembatas seng raksasa tepat di depan halaman tokonya. Pagar itu tinggi menjulang, menutup akses jalan masuk dan membuat toko tanaman Ghea benar-benar tidak terlihat dari pinggir jalan raya. Ghea panik dan langsung berlari keluar. "Permisi! Pak! Ini maksudnya apa ya? Kenapa dipasang pagar di depan toko saya?!" "Perintah dari arsitek utama, Mbak. Katanya proyek pembersihan lahan sisi depan dimulai hari ini," jawab salah satu pekerja dengan santai. Di saat Ghea sedang melongo shock, sebuah mobil sedan mewah berhenti di seberang jalan. Kaca mobilnya turun perlahan, menampilkan sosok Arga yang memakai kemeja abu-abu rapi, pria tersebut menatap Ghea dari kejauhan dengan senyum tipis yang amat sangat sinis seperti sebuah senyuman kemenangan. Ghea mengepalkan tinjunya kuat-kuat, dadanya naik turun karena murka. Arga sengaja menutup akses tokonya agar tidak ada pelanggan yang bisa datang, sebuah cara kotor untuk membunuh tokonya secara perlahan sebelum masa dua minggu itu habis. Arga menaikkan kembali kaca mobilnya dan melesat pergi begitu saja meninggalkan Ghea yang berdiri gemetar di tepi jalan di balik pagar seng yang kokoh. "Arga Dirgantara... kamu benar-benar seorang iblis!" desis Ghea dengan mata yang menyala penuh dendam.Setibanya di kantor polisi, aku berniat mengikutinya ke ruang interogasi. Aku sangat ingin melihatnya mengaku dengan mata kepalaku sendiri.Tapi begitu tiba di pintu, aku terpental keluar dan merasakan sedikit rasa sakit setelah sekian lama.Aku mencoba masuk beberapa kali, tapi tetap gagal. Rasa nyeri yang seperti membakar jiwa itu begitu menusuk, membuatku akhirnya menyerah dan kecewa.Beberapa hari berikutnya, aku hanya mondar-mandir di pintu masuk kantor polisi dan menyusun beberapa informasi dari percakapan orang-orang.Tidak banyak kabar yang aku dapatkan, tetapi aku juga mendengar kabar yang membuatku senang.Bukti pembunuhan berencana Ayah sudah jelas. Dia mengaku bersalah dan akan segera dijatuhi hukuman, kemungkinan besar hukuman mati.Perusahaannya telah ditutup karena dugaan penggelapan pajak dan masalah lainnya dalam tiga tahun terakhir. Awalnya aku mengira Wisha akan dibebaskan, tetapi selama penyelidikan, aku dengar polisi menemukan bahwa putra paman Wisha tidak meningg
Suara itu membuat dua orang yang duduk di sofa itu kaget setengah mati.Ayah adalah orang yang pertama duduk dengan tegak, pura-pura merapikan bajunya, lalu baru bernapas lega setelah memastikan tidak ada orang di sekitar.Aku juga terkejut. Aku benar-benar tidak menyangka bisa mengambil sesuatu, jadi secara naluriah aku terbang mendekat untuk mengamatinya dengan saksama."Ah!""Ada hantu!"Wisha kebetulan melihat bayangan, yang membuatnya takut dan menjerit.Apa yang terjadi? Apa dia bisa melihatku?Aku tiba-tiba terpaku di tempat, tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan tidak berani bergerak sejenak.Setelah terdiam beberapa detik dan menyadari tidak ada apa-apa di sekitar, Wisha mengulurkan tangan dan memeluk pinggang Ayah dengan manja."Aku takut, peluk aku!"Dia tiba-tiba duduk di pangkuan Ayah dengan pakaian bagian atasnya setengah terbuka.Mereka berdua kembali bercumbu, hanya menyisakan suara desahan sesekali. Aku benar-benar berharap aku buta saat menyaksikan adegan ini,
"Kenapa kau tidak takut saat mengurung Wisha? Sudah terlambat untuk memohon belas kasihan!""Kau telah dimanja oleh orang tuamu selama bertahun-tahun, kurasa kau sudah cukup menikmatinya. Sementara Wisha sangat menyedihkan tidak punya Ayah dan Ibu, tapi kamu bahkan berani menindasnya.""Aku beri tahu, kalau kamu berani menyentuh sehelai rambutnya, hukumanku akan membuatmu ingat selamanya.""Kak, kamu gadis yang sangat kejam. Hukuman Ayah untukmu itu terlalu ringan.""Nantinya, kamu bukan lagi kakakku dan aku nggak punya saudara yang jahat sepertimu.""Lebih baik kamu mati saja, memalukan punya Kakak sepertimu."Aku terus berjuang sambil mendengarkan kata-kata ini dalam kegelapan, sampai aku benar-benar putus asa.Apa yang kupikirkan ketika aku berjuang mati-matian dalam kegelapan?Waktu itu, aku terlalu banyak berpikir macam-macam. Sekarang aku bahkan tidak bisa mengingat apa pun dengan jelas.Mungkin aku akan menyesal.Aku menyesal begitu naif dan sampai tidak punya sedikit pun rasa w
Malam itu, ketika kembali ke ruang kerjanya, Ayah masih yakin aku kabur.Untuk membuktikan dugaannya dan menemukanku, dia bahkan memeriksa rekaman CCTV rumah sendiri.Di dalam vila keluarga kami memang tidak ada kamera CCTV, tapi setiap sudut di luar kamar terpasang kamera pengawas tanpa celah. Siapa pun yang masuk atau keluar akan terlihat jelas.Dan di rekaman itu, terlihat dengan sangat jelas bahwa aku tidak pernah keluar sejak dikurung di gudang pada hari itu."Nggak mungkin!"Ayah tetap tidak percaya. Dia marah dan membanting laptopnya ke dinding, pecahannya berhamburan ke seluruh ruang kerja."Pasti Sasha memanipulasi video rekaman ini. Dia ‘kan sangat pintar, melakukan hal ini pasti sangat mudah.""Bagaimana bisa aku punya anak berengsek yang kejam sepertinya!"Setelah memaki, rupanya kemarahan Ayah belum reda. Dia mengangkat tangan dan melempar asbak di atas meja.Saat itu, Wisha kebetulan masuk sambil membawa segelas susu.Asbak yang melayang membuatnya kaget setengah mati. Ge












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews