Share

7. Bayangmu di Kabin Pesawat

Evia, pulau kedua terbesar di Yunani setelah Kreta, menyimpan pesona yang mengundang Adisti menelusuri setiap sudutnya. Dari bentangan hutan pinus di bagian utara hingga hamparan pasir putih di bagian selatan. Bahkan Homer, salah satu sosok legendaris yang akan dia teliti selama residensi, diceritakan pernah tinggal di sana.

“Mau pergi ke tempat bagus malah cemberut.” Gumilar menghampiri Adisti yang tengah merapikan perlengkapan dalam koper. "Maaf Papa tidak bisa membantu banyak buat mempertemukanmu dengan Biyan. Papa harus bersikap netral di rumah sakit. Apalagi mertuamu rajin menemani anaknya kontrol.”

It’s okay, aku paham.” Walau di dalam hati, Adisti berharap bisa mengamati dari kejauhan saat suaminya melakukan kunjungan. “Omong-omong, apa mereka pergi berdua?”

Sang ayah meliriknya keheranan. “Mmh, ya, hanya mereka berdua yang selalu masuk ke ruang kerja Papa. Ada apa?”

Lega Adisti mendengar keterangan itu. “Syukurlah. Cuma mau memastikan Mas Biyan pergi sama orang yang dia kenal.”

Diantar Gumilar dan Indah, Adisti bertolak ke bandara tiga jam sebelum keberangkatan. Sebenarnya, dia berangan-angan bisa satu pesawat dengan Biyan. Sayang, Salma menerbangkan putranya dua hari lebih awal. Tak perlu ditanyakan, Adisti yakin mertuanya sengaja pergi duluan untuk mencegahnya berdekatan dengan sang suami.

“Biyan sehat, lancar juga bicaranya waktu Papa ajak ngobrol,” Gumilar menjelaskan perkembangan menantunya. “Beberapa obat yang dia butuhkan sudah disiapkan sebelum dia pergi.”

“Kenapa Papa enggak kasih tahu aku obat-obatan yang harus Mas Biyan konsumsi.” Diterimanya ­iced  coffee yang dibelikan Indah. “Biar bisa aku jadikan alasan mendekati dia.”

That’s a smooth move,” gumam Indah menanggapinya.

“Bukannya Papa tidak mau membantu. Sekali lagi, ibunya….” Gumilar mengedik. “Hanya informasi tentang kondisi Biyan yang bisa Papa bagikan padamu. Selanjutnya, Papa doakan supaya kamu lancar menjalankan misi di Evia.”

*

“Mau permen, Mbak?”

Kabin pesawat menjadi pengingat pertemuan pertama Adisti dengan Biyan. Lima tahun lalu, mereka sama-sama terbang ke Singapura. Dia mendapat undangan untuk mewawancarai novelis kenamaan di sebuah panel festival buku, sementara pria yang kelak menjadi pasangan hidupnya sedang ada tugas bisnis.

Biyan, berjarak satu kursi kosong darinya, menyodorkan beberapa bungkus permen aneka rasa. “Saya bawanya kebanyakan,” tambah pria itu.

Mulanya, Adisti ragu. Dari segi penampilan, sosok itu jelas datang dari kalangan berada. Kemeja, celana, hingga sepatunya pasti produk-produk branded. Rapi, simpel, sekaligus berkelas. Rambutnya dipotong pendek, menegaskan bentuk wajah ovalnya yang tegas. Sementara hidungnya cenderung bulat ketimbang mancung, menyeimbangkan bibir tebalnya yang Adisti sebut sebagai Cupid’s bow.

Sadar diawasi, Biyan tersenyum kikuk. “Maaf, saya cuma mau kasih distraksi.”

Matanya mengerjap. “Distraksi buat apa?”

“Saya perhatikan, Mbak duduknya tegang, gelisah. Kelihatan pucat juga.” Pria itu berdeham. “Apa Mbak belum pernah bepergian pakai pesawat?”

Hebat. Dari sekali pindai, Biyan mampu menebak faktor penyebab kegelisahannya. Walau malu, Adisti mengangguk mengiyakan. “Ini kali pertama saya ke luar negeri juga.”

Sepanjang penerbangan, Biyan mengajaknya mengobrol. Mereka bertukar cerita, tentang kota asal, pekerjaan, tujuan ke Singapura. Lambat laun, Adisti merasakan otot-otot tubuhnya relaks, bahkan hampir tak menyadari pesawat akan mendarat sampai mendengar imbauan untuk mengenakan seat belt.

“Biar saya bantu,” Biyan menawarkan saat Adisti kesulitan memasangnya. “Saking seru mengobrol, saya sampai lupa mengenalkan diri. Biyan. Biyan Adiratna.”

Disambutnya uluran tangan itu. “Adisti Pramatya.”

Pesawat berguncang; membangunkan Adisti sekaligus mengakhiri mimpi. Mimpi berisi kenangan indahnya bersama Biyan. Alih-alih menemukan sosok itu, dia mendapati seorang perempuan paruh baya menempati kursi tengah. Sementara dari jendela tampak langit gelap memenuhi ruang pandangnya.

Sembari mengumpulkan kesadaran, Adisti mengecek rute penerbangan. Mereka bahkan belum meninggalkan kawasan Asia. Kini, saat tak lagi takut melayang di ketinggian, dia malah kesepian. Perempuan itu lantas bertanya-tanya, apa Biyan menawarkan permen pada seseorang di tengah perjalanan menuju Evia untuk menggantikan memori mereka?

**

“Selamat datang di Evia.”

Saat Utari membuka pintu yang mengarah ke balkon, bentangan laut biru yang jernih menyambut Biyan. Vila yang Salma pilihkan untuknya berada di kota Kymi, tepatnya di atas bukit yang posisinya menyuguhkan pemandangan memanjakan mata.

Selain pantai dan perairan luas, dari tempatnya berdiri Biyan dapat mengamati tebing hijau yang bangunan-bangunan penginapan yang tak kalah memukau.

“Kamarmu ada di sini.” Utari menunjuk pintu yang dicat biru. “Aku sama Tante Salma mau cari makanan buat dinner. Kecuali kalau kamu mau makan di luar.”

“Hari ini aku mau istirahat.” Penerbangan selama 15 jam ditambah perbedaan waktu begitu melelahkan tubuhnya. “Terima kasih untuk bantuannya.”

Anything for you,” ujar Utari sambil menepuk pundaknya. Pertemuan yang lumayan intens selama sebulan kadang membuat Biyan bertanya-tanya mengapa mereka putus. Perempuan di hadapannya bukan hanya supel, tetapi juga mampu menyamakan frekuensi dengan ibunya. “Aku pergi sekarang biar cepat pulang.”

Sepeninggal Utari dan Salma, Biyan memutuskan tidur sebelum jet lag-nya semakin parah. Barangkali gara-gara kunjungan ke luar negeri yang berkurang, tubuhnya kaget dan perlu menyesuaikan diri lagi. Ditambah memori empat tahun terakhir miliknya yang hilang, Biyan kian kesulitan memetakan ingatan.

Bukannya berbaring, Biyan malah duduk mengamati layar ponsel. Benar apa yang Utari jelaskan di taksi tadi, vila ini tak dipasangi koneksi internet. Katanya demi memenuhi permintaan sejumlah penyewa yang ingin healing tanpa distraksi teknologi…

…atau sang ibu sengaja tak ingin dia mengakses informasi mengenai kecelakannya.

Biyan benci harus mencurigai Salma maupun Utari. Namun, sejak sang ibu mengetahui upayanya menelusuri artikel terkait tragedi yang merenggut ingatannya, Wi-Fi di rumah mendadak lambat sampai putus. Utari pun selalu mengendalikan percakapan saat mereka jalan berdua.

Tindak-tanduk yang meyakinkan Biyan bahwa ada sesuatu atau seseorang yang sengaja ditutupi darinya.

“Aku harus lebih hati-hati,” gumamnya. Semoga saja selama menetap di Evia, dia dapat menemukan bantuan untuk membuka akses menuju masa lalunya.

*

Malam datang lebih lambat sepanjang musim panas. Akan tetapi, hal tersebut tak menghentikan Salma untuk menyiapkan makanan sebelum pukul tujuh, padahal matahari belum benar-benar terbenam. Di rooftop vila, perempuan yang mengenakan sun dress dan topi pantai itu menata pasta dan jus jeruk kesukaan Biyan.

“Mama pulang besok malam,” sang ibu membuka pembicaraan. “Utari akan menemuimu tiga atau empat kali seminggu, sekalian cek stok obat.”

“Untuk urusan obat, aku bisa urus sendiri.” Lagi pula, Biyan tak mau merepotkan Utari yang harus menempuh perjalanan dua jam dari kantor di pusat kota ke vilanya. “Kalau ada apa-apa, aku bisa kirim pesan ke Dokter Gumilar.”

Wajah Salma berubah masam. “Jangan buang-buang pulsamu. Biar Mama dan Utari yang urus semuanya.”

Sudah Biyan duga, padahal hanya Gumilar yang bisa diandalkan untuk membantunya. Dokter itu pasti memegang catatan medis, termasuk kronologi kecelakaan yang menimpanya.

“Nikmati waktumu di sini,” Utari menambahkan. Salah satu tangannya mengelus punggung tangan Biyan. “Kalau lagi senggang, aku bakal ajak kamu berkeliling Evia.”

“Tuh, daripada buang-buang pulsa buat kontak dokter di Indonesia, jalan-jalan sama Utari lebih hemat dan mudah.” Mengingat kekayaan keluarganya yang fantastis, janggal bagi Biyan mendengar Salma jadi perhitungan terhadap pemakaian pulsa. “Apa perlu Mama siapkan mobil buat kalian?”

Utari menggeleng cepat. “I’ll drive, Tante. Biar enggak keluar biaya tambahan.”

Itu berarti, Biyan harus pura-pura manut sampai berhasil mengambil kepercayaan mereka. Dengan begitu, mereka akan berhenti menaruh curiga, sehingga dia leluasa bergerak untuk mengungkap kebenaran yang terjadi padanya.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status