แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Santari
Setelah berpacaran dengannya selama lima tahun, baru inilah pertama kalinya dia ingat untuk peduli padaku. Namun saat melihat ke dalam kotak makanan itu, ada seekor ikan kukus yang sudah dingin. Seketika, aku langsung mengerti.

Mungkin Serlina sudah tidak sanggup memakannya, jadi agar tidak terbuang, aku dijadikan tempat untuk menampung sisa makanan. Aku tidak berkata apa-apa. Aku mengangkat kepala dan menatapnya.

"Oh ya, bisa nggak kamu tukar rumah dengan Serlina. Di tempatnya sekarang nggak boleh pelihara anjing, pemilik rumah memintanya segera pindah. Cari rumah lagi terlalu merepotkan. Kupikir-pikir, tempatmu ini yang paling cocok."

Saat berkata demikian, ekspresinya terlihat ragu-ragu.

Aku tersenyum getir dalam hati. Ternyata bahkan untuk barang yang tidak diinginkan, aku harus menukarnya dengan pengorbanan.

"Nggak masalah." Aku mengangguk dengan tenang. Bagaimanapun juga, aku akan pulang ke kampung. Rumah ini jelas tidak akan kuperpanjang sewanya. Kalau dia mau, berikan saja padanya. Termasuk Gavin.

"Kamu ... kamu setuju?"

Mungkin karena jawabanku terlalu tegas dan cepat, dia tampak tidak menyangka. Sudut matanya melirikku beberapa kali. Lalu, dia tidak tahan untuk kembali membuka mulut. "Serlina itu adikku. Kamu 'kan calon kakak iparnya. Sudah seharusnya jaga dia sedikit."

"Besok kamu jangan pergi liburan dulu. Temani aku pulang, temui orang tuaku. Kamu 'kan selalu ingin menikah. Kita sudah bersama lima tahun, sudah waktunya."

Semakin dia bicara, nada bicaranya terdengar makin emosional. Dia melangkah maju dan hendak memelukku. Aku mengangkat tangan untuk menahan tubuhnya. Aku ingin membicarakan soal putus dengannya.

Lagi pula, ini kesempatan terakhir.

Namun sebelum sempat aku membuka mulut, ponselnya berdering. Telepon dari Serlina. Dia melirik layar, lalu mematikan panggilan. Ponsel itu berdering lagi. Pria itu menatapku dengan ragu.

Aku menatapnya dan berkata, "Angkat saja. Gimana kalau benar-benar ada sesuatu?"

Dari seberang telepon terdengar suara Serlina dengan nada sedikit menangis. Dia bilang tidak sengaja terjatuh dan meminta bantuan Gavin. Setelah menutup telepon, Gavin menatapku dengan ekspresi agak bersalah.

"Itu ... Serlina ada sedikit masalah. Dia sendirian di rumah, aku mungkin harus ke sana sebentar."

Saat berkata demikian, nada bicaranya terdengar seperti meminta izin. Aku menelan kembali kata-kata yang sudah hampir keluar dari mulutku, lalu memaksakan senyum dan mengangguk.

"Nggak apa-apa, pergilah."

Jawabanku membuatnya lega. Dia segera bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia masih sempat menegaskan sekali lagi. "Besok ke rumahku, jangan sampai lupa. Persiapkan yang baik."

Aku tak bisa menahan senyum pahit. Pada akhirnya, dia tetap tidak memberiku kesempatan untuk memutuskan hubungan ini secara langsung.

Keesokan paginya.

Aku membereskan koper dan langsung berangkat ke stasiun kereta. Menyusuri jalan yang pernah dilalui ibu, pulang ke rumah. Di pintu pemeriksaan tiket, aku menerima pesan dari Gavin.

[ Maaf ya, kaki Serlina keseleo. Dia minta aku antar dia pulang dulu. Nanti kamu naik taksi sendiri ke rumah orang tuaku. ]

Aku sudah menduganya. Setelah membalas singkat, aku masuk untuk naik kereta.

Di sisi lain, Gavin meletakkan ponselnya dengan pikiran tidak fokus, lalu menyetir menuju lokasi yang ditentukan Serlina.

Di depan hotel, Serlina menggandeng lengan orang tua Gavin dengan senyum cerah. "Kak Gavin, aku sudah bertemu Om dan Tante. Ayo kita makan."

Satu tangannya menarik lengan ibu Gavin, tangan satunya terulur hendak menggandeng Gavin. Gavin tertegun, lalu tiba-tiba menepis tangannya. "Hari ini aku bawa Rebecca untuk bertemu orang tuaku. Untuk apa kamu ke sini?"

Gavin mengeluarkan ponsel dan menasihati dengan sungguh-sungguh. "Ayah, Ibu, Rebecca sebentar lagi sampai. Dia pacarku. Jangan ikut-ikutan Serlina berbuat sema ...."

Ucapannya terhenti. Pandangannya terpaku kaku pada layar ponsel. Di sana terpampang balasanku.

[ Kamu nggak pernah menjenguk ibuku, jadi kurasa aku juga nggak perlu menemui orang tuamu. Oh ya, Gavin, aku sudah mengundurkan diri dan pulang ke rumah. Jadi, kita putus. ]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 10

    Gavin meliriknya sekilas, lalu berkata dengan nada dingin, "Kalau kamu nggak nyaman, pulang saja. Aku bisa menunggu di sini sendiri."Serlina terdiam dan matanya langsung memerah. "Aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma khawatir sama kamu, Kak Gavin."Menghadapi ucapan penuh kepura-puraan itu, Gavin tiba-tiba meledak marah."Memangnya aku perlu dikasihani sama kamu? Kalau bukan karena kamu, Rebecca nggak akan meninggalkanku. Kamu pikir aku nggak bisa lihat trik-trikmu? Kamu mungkin bisa menipu orang tuaku, tapi aku nggak akan tertipu. Mulai hari ini, aku nggak ada hubungan apa pun lagi denganmu. Pergi.""Kamu ...."Serlina belum pernah diperlakukan seburuk itu. Dengan wajah penuh amarah dan hinaan, dia meninggalkan Gavin.Seiring waktu berlalu, aku pun malas memedulikannya. Aku hanya menganggapnya seperti patung yang berdiri di kompleks perumahan. Sampai suatu hari, di perjalanan membeli sayur, aku bertemu dengan Arkan, teman SD-ku sekaligus teman sebangku saat SMP.Dia tumbuh lebih ting

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 9

    Melihat sikapku yang begitu tenang, Gavin terus meminta maaf."Waktu itu aku nggak datang menjenguk Tante karena terlalu sibuk. Aku nggak tahu kalau kondisinya separah itu. Pukul aku saja, Rebecca. Asal kamu mau kembali bersamaku, apa pun akan kulakukan."Rekam medis ibuku bersifat terbuka. Asalkan dia mau mengecek, siapa pun bisa melihatnya. Sebagai dokter di rumah sakit itu, dia malah berkata tidak tahu kondisi ibuku separah apa. Apa dia sendiri tidak merasa itu terdengar lucu?Aku tidak ingin lagi terlibat dengannya. Aku menyampaikan dengan sangat jelas."Apa yang ingin kukatakan sudah kutulis dengan jelas di pesan waktu itu. Putus ya putus. Bersamamu itu benar-benar melelahkan. Pulanglah. Kalau kamu sama Serlina, orang tuamu juga akan bahagia. Jangan datang cari aku lagi.""Nggak!" Gavin tampak benar-benar hancur. "Orang yang kucintai adalah kamu. Selain denganmu, aku nggak akan bahagia dengan siapa pun. Percayalah, setelah aku pulang nanti aku akan memutus semua hubungan dengannya

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 8

    Perlahan-lahan, kondisi tubuh Ibuku juga mulai membaik dibanding sebelumnya. Aku tahu, semua yang kulakukan ini ada artinya. Sesekali Ibu tanpa sengaja menyebut nama Gavin di hadapanku. Aku selalu berusaha mengalihkan pembicaraan atau melewati topik itu begitu saja.Soal perpisahan kami, aku tidak menjelaskannya secara rinci pada Ibu. Sebab, aku tidak ingin dia merasa bahwa dirinyalah yang menghambat kebahagiaanku. Namun, aku tiba-tiba pulang kampung. Seberapa pun polosnya Ibu, mustahil dia tidak menebak apa yang sebenarnya terjadi.Di dalam hatinya, pasti ada rasa bersalah.Dulu setiap kali Ibu datang menjengukku, sikap Gavin selalu dingin padanya. Aku tahu Ibu menahannya demi aku. Karena hubunganku ini, Ibu telah menanggung terlalu banyak luka. Karena itu, rasa jijikku pada Gavin pun bertambah.Sejujurnya, aku sama sekali tidak menyangka Gavin akan mencariku.Bukankah orang sepertinya seharusnya akan memaki-maki dan menyalahkanku karena tidak tahu diri,lalu tak lama kemudian menikah

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 7

    "Dokter Gavin, ada pasien gawat darurat. Tolong segera datang!"....Setelah menyelesaikan sebuah operasi besar, waktu sudah menunjukkan dini hari keesokan harinya.Pekerjaan Gavin sangat melelahkan. Dulu, aku selalu merasa kasihan melihat betapa letihnya dia. Bahkan saat aku sendiri sudah lelah seharian bekerja, selama dia masih lembur di rumah sakit, aku pasti akan menyiapkan camilan malam kesukaannya atau merebus sup untuk diantarkan kepadanya.Walaupun dia sering berkata tidak perlu dan menyuruhku tidur saja di rumah, tapi begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Selalu ingin melakukan hal-hal yang pada akhirnya lebih menyentuh diri sendiri.Malam hari di rumah sakit begitu sepi. Gavin meminum sup yang kubawa, sementara aku menyeret kursi ke sampingnya dan menceritakan lelucon untuk menghiburnya.Pada saat-saat seperti itu ketika jauh dari orang tua dan Serlina, dunia hanya ada kami berdua. Seolah-olah, kami benar-benar sempat mendapatkan gambaran tentang kebahagiaan.Malam pun tid

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 6

    Dia ingin menahanku. Dia tidak ingin putus.Di sisi lain, aku sudah duduk di dalam kereta yang membawaku pulang. Di tengah bunyi deru kereta, aku mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, juga pada Gavin.Nada dering ponsel berbunyi tanpa henti. Aku melirik layar. Pesan-pesan itu dari Gavin, semuanya berisi permohonan agar aku kembali.[ Rebecca, kamu ke mana? ][ Rebecca, aku tahu aku salah, jangan tinggalkan aku .... ][ Rebecca, maafkan aku. Semua yang dulu itu salahku. Jangan pergi, ya? ]Melihat satu per satu pesan yang membanjiri layar, hatiku sama sekali tidak lagi terpengaruh. Kalau sudah begini, untuk apa menyesal sekarang? Seandainya dulu Gavin mau menoleh sedikit saja dan benar-benar melihatku, kami tidak akan sampai pada titik ini.Wajahku muram. Aku menghapus semua pesan itu satu per satu, lalu memblokir seluruh kontaknya di semua platform. Setelah itu, aku membuka ruang obrolan dengan ibu.Ibu menanyakan kira-kira jam berapa aku sampai. Kamarku sudah dia rapikan. Pagi-p

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 5

    Sebaris kalimat yang singkat di layar ponsel itu membuat Gavin terdiam cukup lama.Sebenarnya dia sudah membayangkan aku akan marah. Dia bahkan sudah menyiapkan alasan untuk menjelaskannya kepadaku. Entah seperti biasa membeli hadiah kecil untuk membujukku atau melempar semua kesalahan kepadaku, menyalahkanku karena tidak pengertian dan tidak memahami kesulitannya.Dulu, setiap kali dia melakukan itu, aku selalu memaafkannya. Namun, kali ini berbeda.Tak peduli bagaimana Gavin dulu menipuku, membuatku berulang kali berharap lalu jatuh kecewa sepenuhnya, setidaknya sampai layar ponsel itu menyala dan dia melihat pesan putus dariku, dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi pihak yang lebih dulu mengajukan perpisahan.Gavin panik. Dia langsung berbalik dan pergi, tanpa sempat memedulikan orang tuanya dan Serlina yang masih berada di restoran.Ekspresi Serlina berubah. Dia segera menarik lengan Gavin. "Kak Gavin, kamu mau ke mana? Makanannya sudah dipesan semua, apa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status