แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Santari
Di tangan kanannya ada sebuah kantong makanan. Dari kemasannya, sepertinya itu menu andalan restoran ini, ikan kakap kukus. Di sampingnya ada beberapa rekan kerjanya dari rumah sakit.

Gavin punya fobia kebersihan dan paling membenci bau amis ikan.

Paruh pertama tahun ini, ibuku sempat datang menjengukku dan membawakan makanan khas kampung halaman yang paling kusukai, ikan layur goreng tepung. Ikan layur itu dipotong kecil-kecil, dibaluri tepung, dan sama sekali tidak berbau amis.

Namun, Gavin malah marah besar. Di depan ibuku, dia melempar ikan itu ke tempat sampah lalu memperingatkanku, "Kalau aku masih melihat ada apa pun yang berhubungan dengan ikan di rumah, kita putus."

Ibu tidak mengatakan apa-apa. Malamnya, dia diam-diam membeli tiket dan pulang ke kampung dengan alasan masih memikirkan ladang di rumah.

Di perjalanan pulang, dia bahkan sempat bertanya padaku, "Nak, apa ibu malah merepotkan kalian?"

Mengingat wajah ibu hari itu yang canggung dan kebingungan, hatiku terasa perih. Aku memejamkan mata sejenak, lalu menoleh kembali dengan dingin.

"Bukan. Kamu salah lihat."

Namun detik berikutnya, Gavin menoleh. Pandangannya tertuju lurus ke arahku, lalu dia melangkah mendekat.

....

"Kenapa belum pulang? Tante sudah berangkat?"

Selama dua puluh hari ibuku dirawat inap, ini adalah pertama kalinya dia menunjukkan kepedulian.

"Iya, sudah berangkat." Aku mengangguk, malas menatapnya.

"Tadi sore aku bukan sengaja nggak jemput kamu. Klinik hewan ramai sekali, aku nggak bisa pergi."

Aku memanggil pelayan untuk membayar.

"Aku mengerti."

"Aku sudah ambil cuti tahunan. Setelah anjing Serlina benar-benar sembuh, aku akan menemanimu pulang kampung."

Aku berdiri dan memberi isyarat pada rekan-rekan kerja agar bubar.

"Nggak perlu."

Gavin tercekat kata-kata. Dia melirik sekeliling, lalu nada bicaranya entah kenapa terdengar tidak senang. "Kalian sedang acara kumpul-kumpul kantor? Kenapa nggak kasih tahu aku?"

Aku tertegun. Atas dasar apa dia merasa tidak senang?

Ibuku dirawat di rumah sakit selama 20 hari, dia sibuk menemani Serlina dan tidak pernah muncul sekali pun. Ibuku pulang ke kampung halaman, dia berjanji akan mengantar, tetapi pada hari itu juga menghilang karena Serlina. Bahkan kebenciannya pada bau amis ikan, yang sempat membuat ibuku menyalahkan diri sendiri begitu lama, kini dia abaikan demi Serlina.

Sementara aku hanya mengadakan acara perpisahan karena mengundurkan diri tanpa mengundangnya. Atas alasan apa dia berhak marah?

Aku mengambil kartu ATM itu dan memasukkannya ke dalam tas, tanpa mengangkat kepala sama sekali. "Aku khawatir kamu sibuk, nggak ada waktu."

Selesai bicara, aku menunjuk Serlina yang berdiri di samping dengan wajah muram, senyumku setengah mengejek saat berkata, "Serlina-mu sedang menunggumu."

Gavin terkejut dan refleks menoleh ke belakang, tatapannya tepat bertemu dengan sorot mata Serlina yang tampak memelas. Ekspresinya seketika menjadi canggung.

"Orang tua Serlina sedang liburan ke luar negeri, nggak ada yang jaga dia. Jadi aku mengajaknya makan, jangan mikir macam-macam."

Aku mengangguk pelan.

"Aku nggak mikir apa-apa."

Lalu, aku mengangkat tas dan menyapa rekan-rekan kerja. "Sudah beres? Ayo kita pergi."

Mereka langsung paham, lalu serempak mengabaikan Gavin dan mengiringiku pergi. Sampai kami berjalan cukup jauh, aku masih bisa merasakan tatapannya yang penuh kebingungan.

Sesampainya di rumah, aku mulai membereskan barang.

Baju pasangan yang dulu kubeli bersama Gavin, kubuang. Foto pasangan yang kami ambil saat Natal, kusobek. Semua riwayat percakapan kami selama bertahun-tahun juga kubuka satu per satu dan kuhapus seluruhnya.

Saat hampir selesai berkemas, Gavin pulang.

Selama 20 hari aku menemani ibu di rumah sakit, dia tidak pernah pulang. Begitu aku mau pergi, di saat itulah dia kembali.

Melihat foto-foto di dalam tempat sampah, dia jelas tertegun. Bahkan tanpa melepas mantel, dia buru-buru masuk ke kamar dan bertanya padaku. "Kenapa kamu robek semua fotonya?"

Aku tidak menoleh. "Sudah nggak zamannya lagi, jadi aku juga nggak suka lagi."

Gavin tercengang. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi saat pandangannya jatuh pada koper yang sudah terbuka, raut wajahnya malah kembali rileks.

"Kalau sudah nggak suka ya sudahlah. Nanti aku temani kamu foto yang baru. Tapi, dokter bilang anjing peliharaan Serlina masih perlu kontrol, jadi akhir-akhir ini aku nggak punya waktu menemanimu liburan."

"Aku bawakan kamu makan malam. Makan selagi hangat." Dia meletakkan kotak makanan di atas meja. Untuk sesaat, aku sampai bertanya-tanya, apakah aku salah mendengar sesuatu barusan.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 10

    Gavin meliriknya sekilas, lalu berkata dengan nada dingin, "Kalau kamu nggak nyaman, pulang saja. Aku bisa menunggu di sini sendiri."Serlina terdiam dan matanya langsung memerah. "Aku bukan bermaksud begitu. Aku cuma khawatir sama kamu, Kak Gavin."Menghadapi ucapan penuh kepura-puraan itu, Gavin tiba-tiba meledak marah."Memangnya aku perlu dikasihani sama kamu? Kalau bukan karena kamu, Rebecca nggak akan meninggalkanku. Kamu pikir aku nggak bisa lihat trik-trikmu? Kamu mungkin bisa menipu orang tuaku, tapi aku nggak akan tertipu. Mulai hari ini, aku nggak ada hubungan apa pun lagi denganmu. Pergi.""Kamu ...."Serlina belum pernah diperlakukan seburuk itu. Dengan wajah penuh amarah dan hinaan, dia meninggalkan Gavin.Seiring waktu berlalu, aku pun malas memedulikannya. Aku hanya menganggapnya seperti patung yang berdiri di kompleks perumahan. Sampai suatu hari, di perjalanan membeli sayur, aku bertemu dengan Arkan, teman SD-ku sekaligus teman sebangku saat SMP.Dia tumbuh lebih ting

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 9

    Melihat sikapku yang begitu tenang, Gavin terus meminta maaf."Waktu itu aku nggak datang menjenguk Tante karena terlalu sibuk. Aku nggak tahu kalau kondisinya separah itu. Pukul aku saja, Rebecca. Asal kamu mau kembali bersamaku, apa pun akan kulakukan."Rekam medis ibuku bersifat terbuka. Asalkan dia mau mengecek, siapa pun bisa melihatnya. Sebagai dokter di rumah sakit itu, dia malah berkata tidak tahu kondisi ibuku separah apa. Apa dia sendiri tidak merasa itu terdengar lucu?Aku tidak ingin lagi terlibat dengannya. Aku menyampaikan dengan sangat jelas."Apa yang ingin kukatakan sudah kutulis dengan jelas di pesan waktu itu. Putus ya putus. Bersamamu itu benar-benar melelahkan. Pulanglah. Kalau kamu sama Serlina, orang tuamu juga akan bahagia. Jangan datang cari aku lagi.""Nggak!" Gavin tampak benar-benar hancur. "Orang yang kucintai adalah kamu. Selain denganmu, aku nggak akan bahagia dengan siapa pun. Percayalah, setelah aku pulang nanti aku akan memutus semua hubungan dengannya

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 8

    Perlahan-lahan, kondisi tubuh Ibuku juga mulai membaik dibanding sebelumnya. Aku tahu, semua yang kulakukan ini ada artinya. Sesekali Ibu tanpa sengaja menyebut nama Gavin di hadapanku. Aku selalu berusaha mengalihkan pembicaraan atau melewati topik itu begitu saja.Soal perpisahan kami, aku tidak menjelaskannya secara rinci pada Ibu. Sebab, aku tidak ingin dia merasa bahwa dirinyalah yang menghambat kebahagiaanku. Namun, aku tiba-tiba pulang kampung. Seberapa pun polosnya Ibu, mustahil dia tidak menebak apa yang sebenarnya terjadi.Di dalam hatinya, pasti ada rasa bersalah.Dulu setiap kali Ibu datang menjengukku, sikap Gavin selalu dingin padanya. Aku tahu Ibu menahannya demi aku. Karena hubunganku ini, Ibu telah menanggung terlalu banyak luka. Karena itu, rasa jijikku pada Gavin pun bertambah.Sejujurnya, aku sama sekali tidak menyangka Gavin akan mencariku.Bukankah orang sepertinya seharusnya akan memaki-maki dan menyalahkanku karena tidak tahu diri,lalu tak lama kemudian menikah

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 7

    "Dokter Gavin, ada pasien gawat darurat. Tolong segera datang!"....Setelah menyelesaikan sebuah operasi besar, waktu sudah menunjukkan dini hari keesokan harinya.Pekerjaan Gavin sangat melelahkan. Dulu, aku selalu merasa kasihan melihat betapa letihnya dia. Bahkan saat aku sendiri sudah lelah seharian bekerja, selama dia masih lembur di rumah sakit, aku pasti akan menyiapkan camilan malam kesukaannya atau merebus sup untuk diantarkan kepadanya.Walaupun dia sering berkata tidak perlu dan menyuruhku tidur saja di rumah, tapi begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Selalu ingin melakukan hal-hal yang pada akhirnya lebih menyentuh diri sendiri.Malam hari di rumah sakit begitu sepi. Gavin meminum sup yang kubawa, sementara aku menyeret kursi ke sampingnya dan menceritakan lelucon untuk menghiburnya.Pada saat-saat seperti itu ketika jauh dari orang tua dan Serlina, dunia hanya ada kami berdua. Seolah-olah, kami benar-benar sempat mendapatkan gambaran tentang kebahagiaan.Malam pun tid

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 6

    Dia ingin menahanku. Dia tidak ingin putus.Di sisi lain, aku sudah duduk di dalam kereta yang membawaku pulang. Di tengah bunyi deru kereta, aku mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, juga pada Gavin.Nada dering ponsel berbunyi tanpa henti. Aku melirik layar. Pesan-pesan itu dari Gavin, semuanya berisi permohonan agar aku kembali.[ Rebecca, kamu ke mana? ][ Rebecca, aku tahu aku salah, jangan tinggalkan aku .... ][ Rebecca, maafkan aku. Semua yang dulu itu salahku. Jangan pergi, ya? ]Melihat satu per satu pesan yang membanjiri layar, hatiku sama sekali tidak lagi terpengaruh. Kalau sudah begini, untuk apa menyesal sekarang? Seandainya dulu Gavin mau menoleh sedikit saja dan benar-benar melihatku, kami tidak akan sampai pada titik ini.Wajahku muram. Aku menghapus semua pesan itu satu per satu, lalu memblokir seluruh kontaknya di semua platform. Setelah itu, aku membuka ruang obrolan dengan ibu.Ibu menanyakan kira-kira jam berapa aku sampai. Kamarku sudah dia rapikan. Pagi-p

  • Memutuskan Pria yang Tak Pernah Hadir Untukku   Bab 5

    Sebaris kalimat yang singkat di layar ponsel itu membuat Gavin terdiam cukup lama.Sebenarnya dia sudah membayangkan aku akan marah. Dia bahkan sudah menyiapkan alasan untuk menjelaskannya kepadaku. Entah seperti biasa membeli hadiah kecil untuk membujukku atau melempar semua kesalahan kepadaku, menyalahkanku karena tidak pengertian dan tidak memahami kesulitannya.Dulu, setiap kali dia melakukan itu, aku selalu memaafkannya. Namun, kali ini berbeda.Tak peduli bagaimana Gavin dulu menipuku, membuatku berulang kali berharap lalu jatuh kecewa sepenuhnya, setidaknya sampai layar ponsel itu menyala dan dia melihat pesan putus dariku, dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi pihak yang lebih dulu mengajukan perpisahan.Gavin panik. Dia langsung berbalik dan pergi, tanpa sempat memedulikan orang tuanya dan Serlina yang masih berada di restoran.Ekspresi Serlina berubah. Dia segera menarik lengan Gavin. "Kak Gavin, kamu mau ke mana? Makanannya sudah dipesan semua, apa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status