Beranda / Romansa / Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil / BAB 13: INTEROGASI DI BAWAH LAMPU REMANG

Share

BAB 13: INTEROGASI DI BAWAH LAMPU REMANG

Penulis: panmie
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 00:03:16

Udaranya perlahan menghangat di dalam kamar kos Sisca yang berukuran sedang setelah deru hujan gerimis di luar mulai mereda. Rian baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian seadanya—sebuah kaus oblong katun polos berwarna hitam kebesaran (oversized t-shirt) milik kakak laki-laki Sisca yang kebetulan pernah ditinggal di sana, dipadukan dengan celana pendek santai. Ukuran kaus yang sedikit longgar di tubuh tegap Rian justru semakin membingkai bahunya yang kokoh dan leng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 20: TANDA BAHAYA DI MALAM MINGGU

    Sinar jingga kemerahan perlahan surut di ufuk barat, digantikan oleh langit malam akhir pekan yang bertabur bintang tipis di atas kawasan kampus Universitas Nusa Bangsa. Suasana akhir pekan selalu membawa ritme hidup yang lebih santai bagi sebagian besar mahasiswa. Namun, bagi Rian dan Sisca, malam minggu memiliki arti yang jauh lebih sakral—sebuah waktu rutin yang biasanya mereka habiskan berdua untuk menikmati udara malam kota sambil mencari jajanan favorit.Rian berdiri di depan pintu kamar kos Sisca, mengetuk permukaan kayu dengan ketukan teratur. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja katun lengan panjang berwarna hitam legam yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana jins gelap. Penampilannya tampak begitu memukau; garis wajahnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta aura karismatiknya berpadu sempurna, menciptakan pesona luar biasa seorang pemuda jenius yang selalu berhasil memikat perhatian siapapun.Klek.Pint

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 19: BEKAL CINTA BENTUK HATI

    Pagi berganti dengan pendar sinar matahari yang hangat, menyapu sudut-sudut pelataran dan gazebo utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa. Kantin kampus yang berkonsep outdoor itu sudah dipenuhi hiruk-pikuk mahasiswa yang menikmati sarapan atau sekadar mengobrol sebelum jam kuliah pertama dimulai.Rian duduk di salah satu meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang. Pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM itu mengenakan kemeja putih kasual berkerah rapi dengan lengan tergulung sebatas siku. Garis rahangnya yang tegas, sorot mata elangnya yang tenang, serta ketampanannya yang luar biasa tak pelak kembali menjadi pusat perhatian. Beberapa mahasiswi dari meja seberang tampak berbisik-bisik sembari mencuri pandang ke arahnya, mengagumi pembawaannya yang cerdas dan karismatik.Rian yang sedang membaca draf dokumen laporan BEM di ponselnya hanya menghembuskan napas halus. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, namun kesendirian di meja itu tak berta

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 18: TERJEBAK DI RUANG PENYIMPANAN TEATER

    Lorong gedung kesenian Universitas Nusa Bangsa tampak lengang pada sore menjelang senja itu. Sebagai Ketua BEM yang selalu bertanggung jawab penuh terhadap koordinasi acara antar-UKM, Rian terpaksa menyetujui permintaan pengurus Klub Teater untuk membantu memindahkan beberapa kotak besar berisi kostum pementasan lama ke ruang penyimpanan bagian belakang.Rian berjalan mantap dengan langkah tegap, membawa kardus besar di tangan kanannya. Di depannya, Mila—senior Klub Teater yang tadi sempat bersitegang dengan Sisca—berjalan memimpin jalan sambil membawa kunci akses ruangan tersebut. Penampilan Mila tampak semakin mencolok dengan balutan busana ketat berpotongan asimetris yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna."Taruh saja kotaknya di dekat rak besi sudut itu, Rian," ujar Mila dengan suara lembut yang mendayu-dayu, menunjuk area paling dalam dari ruang penyimpanan yang temaram. Ruangan berukuran tiga kali empat meter itu dipenuhi aroma kain beludru tua, debu halus, dan deretan kos

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 17: BEBAN PENDAFTARAN KLUB KAMPUS

    Suasana pelataran utama Universitas Nusa Bangsa mendadak berubah riuh dan berwarna. Memasuki minggu pendaftaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), deretan stan dari berbagai klub—mulai dari seni, olahraga, sastra, hingga sains—berjejer rapi di sepanjang jalan setapak kampus. Spanduk warna-warni berkibar tertiup angin siang, disertai alunan musik dan suara pameran dari pengeras suara yang bersahutan.Di tengah lautan mahasiswa baru yang sibuk memperebutkan brosur pendaftaran, sebuah titik keramaian tampak mencolok di dekat area stan pusat. Titik pusat perhatian itu tidak lain adalah Rian.Sebagai Ketua BEM sekaligus mahasiswa berprestasi yang namanya tengah naik daun, kehadiran Rian di area pendaftaran langsung menarik magnet dari berbagai penjuru klub. Rian berdiri tenang dengan mengenakan kemeja putih kasual yang digulung rapi hingga siku dan celana jins gelap. Garis rahangnya yang tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, serta sorot mata elang yang teduh membuatnya tampak begitu menonj

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 16: INTAIAN SANG SAHABAT

    Sinar matahari pagi di lantai tiga gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa terasa begitu menyengat, namun sama sekali tidak menyurutkan langkah gelisah yang sedari tadi mondar-mandir di depan jendela kaca buram ruang dosen. Sisca. Gadis berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Sekretaris BEM itu berdiri resah di balik dinding luar kaca jendela ruangan Bu Dian. Rambut panjangnya yang terikat setengah berayun setiap kali ia menghentakkan kaki kecilnya dengan perasaan tak keruan. Kedua tangannya terlipat erat di depan dada, sementara matanya yang bulat jengkel taksi menyipit tajam menembus kaca, berusaha mengawasi setiap gerak-gerik di dalam ruangan tersebut. Bagaimana Sisca tidak cemas? Sejak sepuluh menit lalu, Rian—sahabat masa kecil sekaligus pria yang sudah mengunci hatinya—dipanggil sendirian ke ruangan dosen muda berparas jelita yang terkenal paling sensual seantero kampus. Dan sialnya lagi, posisi meja kerja Bu Dian berada persis di sudut yang membuat bay

  • Menahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil   BAB 15: PENOLAKAN ELEGAN SANG GENIUS

    Suasana di dalam ruangan dosen berpendingin udara itu terasa mendadak sunyi, hanya menyisakan desing halus dari pendingin ruangan dan debar napas yang tertahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk dan bunga anggrek yang pekat masih mengepung udara di sekeliling meja kerja. Jemari lentik Bu Dian—dengan cat kuku senada—masih menggenggam erat dan mengelus perlahan punggung tangan Rian, menawarkan sebuah jalan pintas akademis yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa.Rian menatap tangan mereka yang bersentuhan sejenak. Pemuda berusia 21 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, keterkejutan, ataupun kegugupan yang biasanya dialami mahasiswa lain saat menghadapi dosen idola berpenampilan sensual. Garis wajahnya tetap tenang, tegas, dan memancarkan wibawa alami yang luar biasa.Dengan gerakan yang sangat halus, terukur, dan penuh kesopanan, Rian perlahan menarik punggung tangannya dari genggaman Bu Dian. Ia merenggangkan jarak duduknya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di at

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status