LOGINMenahan Hasrat Demi Sang Sahabat Masa Kecil Oleh: PANMIE Memiliki wajah tampan rupawan dan kecerdasan di atas rata-rata tidak membuat kehidupan Rian (21 tahun) di kampus tenang. Di kampus, ketampanannya dan kepintarannya adalah sebuah magnet. Setiap langkahnya memancing godaan dari para wanita-wanita seksi, mahasiswi populer, hingga dosen muda. Berbagai jebakan gairah dan bisikan nakal terus menghampirinya tanpa henti. Namun, di balik riuhnya wanita yang membuai, mata dan hati Rian hanya terkunci pada satu nama: Sisca, teman masa kecilnya yang menggemaskan, galak, dan sering cemburu berlebihan. Bisakah Rian menjaga kesetiaannya di tengah lautan godaan yang kian hari kian membara? Dan bagaimana jadinya saat rasa cemburu Sisca justru meledak menjadi malam puncak yang tak terlupakan di atas ranjang? "Tubuhku mungkin dikejar banyak wanita, tapi jiwaku hanya milikmu sejak kita masih kecil."
View MoreSinar matahari pagi menusuk tajam melalui celah pepohonan mahoni di Universitas Nusa Bangsa. Hari pertama kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) terasa begitu riuh. Ribuan pasang kaki melangkah terburu-buru di bawah teriakan panitia senior yang sibuk mengarahkan barisan mengisi auditorium utama.
Di tengah riuhnya suasana, ritme waktu seolah melambat saat seorang pemuda melangkah santai melintasi gerbang aula. Rian yang kini berusia 21 tahun melangkah tegap. Sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sekaligus mahasiswa tingkat akhir, penampilannya selalu sederhana namun karismatik—hanya kemeja putih polos berpendar bersih dengan lengan dilipat asal hingga siku, celana kain hitam kasual, dan ransel kulit tua melingkar di bahunya. Takdir begitu murah hati merancang wajahnya: garis rahang tegas, hidung mancung proporsional, serta sepasang mata elang beriris gelap yang menghanyutkan. "Tunggu... itu Ketua BEM kita?" bisik seorang mahasiswi baru berambut gelombang di barisan Fakultas Ekonomi. "Gila... dia ganteng banget! Kayak aktor drama Korea!" "Bukan main... auranya berwibawa tapi bikin merinding!" timpal temannya dengan napas tertahan. Dalam hitungan detik, gelombang bisik-bisik menjalar dari pintu depan hingga barisan tengah. Para mahasiswi baru mendadak mendongak, sibuk merapikan riasan wajah saat Rian berjalan melintasi lorong tengah. Rian menghembuskan napas halus. Baginya, perhatian berlebih ini selalu menjadi beban rutin yang merepotkan. "Hentikan jalan sok kerenmu itu, Pak Ketua BEM. Kau membuat udara di ruangan ini makin sesak," sebuah suara feminin yang sangat familier berbisik tajam dari samping kirinya. Rian menoleh pelan, mengukir senyum tipis yang memicu jeritan halus di barisan maba. Gadis di sampingnya adalah Sisca, yang juga berusia 21 tahun. Sebagai Sekretaris BEM sekaligus sahabat masa kecilnya, Sisca tampil manis dengan kemeja putih yang diselipkan rapi dan rambut panjang sebahunya. Wajah manis berkulit bersih itu kini tampak dilipat sebal dengan bibir memanyun gemas. "Aku cuma berjalan biasa, Sisca," sahut Rian santai, suaranya berat dan hangat. "Kamu saja yang terlalu paranoid." "Paranoid katamu?" Sisca melirik sekeliling. "Lihat mata mahasiswi baru itu! Mereka memandangmu seperti serigala lapar! Kalau kamu tidak tebar pesona dengan gaya melipat lengan baju begitu, mereka tidak akan seheboh ini!" Rian tertawa renyah. "Lengan bajuku kebesaran, makanya dilipat. Mau aku gulung sampai bahu biar seperti tukang bangunan?" "Ih, Rian! Kenapa malah bercanda!" Sisca bersungut-sungut, menyilangkan tangan di dada saat mereka berdiri di samping panggung utama. "Pokoknya aku tidak mau berdiri di dekatmu kalau mereka mulai berkerumun meminta nomor teleponmu." "Tapi kamu tidak punya pilihan lain, kan?" balas Rian seraya mengedipkan sebelah matanya. "Laporan pembukaan PMB ada di tanganku, Bu Sekretaris." Sisca mendengus pelan, namun pipinya merona tipis akibat perhatian-perhatian kecil Rian yang selalu berhasil melumpuhkan pertahanannya. Suasana aula mendadak hening saat Profesor Hendra, dosen kepala yang terkenal galak, melangkah naik ke panggung. Beliau langsung menuliskan deretan persamaan matematika, kode simbolik, dan teka-teki logika yang sangat rumit di papan tulis besar. "Siapa pun di antara kalian—termasuk panitia senior—yang bisa menemukan kesalahan destruktif dari fungsi logika ini secara langsung... saya berikan nilai A mutlak," tantang Profesor Hendra dingin. Ratusan mahasiswa baru saling pandang dengan wajah pucat. Sisca ikut memiringkan kepalanya, menatap papan tulis dengan mata berkedip cepat. "Itu rumus matematika atau mantra pemanggil setan? Profesor itu pasti sudah gila," bisik Sisca sambil menyiku lengan Rian. Rian menatap papan tulis itu tak lebih dari sepuluh detik. Tanpa kertas atau kalkulator, pola angka di papan terurai alami di dalam kepala jeniusnya. "Profesor," Rian menyela keheningan aula dengan mengangkat tangan kanannya tenang. Seluruh pandangan seketika tertuju pada sang Ketua BEM. "Kerancuan pada persamaan Anda terletak pada asumsi konstan di baris kedua," ucap Rian lancar dan berwibawa. "Anda menggunakan fungsi turunan kontinu untuk himpunan data diskrit. Cukup ubah pembagi pada matriks kedua dengan memfaktorkan limit x terhadap nol. Hasil akhirnya adalah nilai konstan 2." Profesor Hendra membelalakkan mata, lalu bertepuk tangan bangga. "Luar biasa. Tepat sekali, Rian!" Tepuk tangan dan decak kagum meledak di seluruh auditorium. Aura karisma Rian berada pada puncaknya—tampan, menjabat Ketua BEM, dan berotak jenius. Gumaman kekaguman para maba makin heboh dan terang-terangan. Rian menghela napas pendek, lalu berbalik menatap Sisca. "Sisca, kamu—" Cubit! "Auw!" Rian merintih pelan. Di balik papan jalan yang mereka pegang, tangan mungil Sisca meluncur cepat mencubit pinggang Rian dengan sangat keras. "Sisca... lepas," bisik Rian dengan napas agak tertahan. "Kenapa mencubitku?" Sisca tidak melepaskan cubitannya. Wajahnya memerah padam menahan cemburu melihat panik manis mahasiswi baru yang menatap Rian. "Kamu sengaja, kan?! Sengaja tebar pesona dan sok pintar di depan umum!" Rian memiringkan tubuhnya mendekat, memangkas jarak hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Hawa napas hangatnya menerpa leher Sisca. "Kenapa? Kamu cemburu, Sisca?" Pipi Sisca makin memerah bagai buah tomat matang. Jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. "Si-siapa yang cemburu?!" sahut Sisca terbata-bata, menyikut perut Rian pelan untuk melepaskan diri dari tatapan memikat itu. "Aku cuma tidak mau merepotkan diri mengurus fansmu!" Rian terkekeh pelan. Ia mendekatkan bibirnya ke dekat telinga gadis itu, membisikkan kata-kata yang membelai rasa canggung di antara mereka. "Tenang saja, Sisca. Berapa pun banyaknya maba di ruangan ini... yang berdiri di sebelahku cuma kamu." Sisca menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, berusaha menahan senyuman yang hampir lolos. Ia menyikut pinggang Rian sekali lagi dengan lembut sambil berbisik gemas, "Diamlah, Rian. Jangan tebar pesona padaku juga!"Suasana di dalam ruangan dosen berpendingin udara itu terasa mendadak sunyi, hanya menyisakan desing halus dari pendingin ruangan dan debar napas yang tertahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk dan bunga anggrek yang pekat masih mengepung udara di sekeliling meja kerja. Jemari lentik Bu Dian—dengan cat kuku senada—masih menggenggam erat dan mengelus perlahan punggung tangan Rian, menawarkan sebuah jalan pintas akademis yang diidam-idamkan oleh banyak mahasiswa.Rian menatap tangan mereka yang bersentuhan sejenak. Pemuda berusia 21 tahun itu sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, keterkejutan, ataupun kegugupan yang biasanya dialami mahasiswa lain saat menghadapi dosen idola berpenampilan sensual. Garis wajahnya tetap tenang, tegas, dan memancarkan wibawa alami yang luar biasa.Dengan gerakan yang sangat halus, terukur, dan penuh kesopanan, Rian perlahan menarik punggung tangannya dari genggaman Bu Dian. Ia merenggangkan jarak duduknya sedikit, lalu meletakkan kedua tangannya di at
Sinar matahari pagi yang cerah menembus sela-sela kaca jendela koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Bangsa. Suasana di sekitar ruang dosen lantai tiga terasa lebih tenang dibandingkan area kuliah umum. Para mahasiswa yang berlalu-lalang berjalan dengan langkah pelan, menjaga kesopanan di depan pintu-pintu ruangan para pengajar. Rian, pemuda berusia 21 tahun yang menjabat sebagai Ketua BEM, berjalan tenang menyusuri koridor tersebut. Ia mengenakan kemeja katun abu-abu muda berkerah rapi dengan lengan yang digulung sebatas siku, memamerkan garis rahang yang tegas, postur tubuh tegap, serta aura karismatik yang selalu berhasil menarik perhatian siapa pun yang dilewatinya. Langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berlabel nama: Dian Sastranegara, M.Sc. — Dosen Pengampu & Konselor Akademik. Ibu Dian—atau yang lebih akrab disapa Bu Dian di kalangan mahasiswa—adalah salah satu dosen muda berparas jelita yang baru bergabung tahun ini. Dengan usia yang ba
Udaranya perlahan menghangat di dalam kamar kos Sisca yang berukuran sedang setelah deru hujan gerimis di luar mulai mereda. Rian baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian seadanya—sebuah kaus oblong katun polos berwarna hitam kebesaran (oversized t-shirt) milik kakak laki-laki Sisca yang kebetulan pernah ditinggal di sana, dipadukan dengan celana pendek santai. Ukuran kaus yang sedikit longgar di tubuh tegap Rian justru semakin membingkai bahunya yang kokoh dan lengan bawahnya yang berurat maskulin dengan sangat sempurna.Sisca sedang berdiri di dekat meja kecil sudut ruangan, menuangkan air seduhan teh chamomile hangat ke dalam dua cangkir keramik berpola bunga aster. Gadis itu sendiri sudah berganti pakaian mengenakan piyama katun berlengan panjang yang longgar dan nyaman, serta rambut basahnya yang telah dikeringkan tergerai indah membingkai wajah manisnya."Minumlah, biar badanmu tidak masuk angin setelah tadi basah-basah di jalan," kata Sisca pelan sa
Rintik hujan yang tadinya menderu lebat kini berangsur mereda menjadi tetesan air yang menimpa permukaan aspal dengan ritme monoton. Lorong indekos putri tempat Sisca tinggal tampak lengang dan basah, memantulkan pendar cahaya lampu kuning hangat dari teras-teras kamar.Rian dan Sisca berjalan beriringan menaiki tangga menuju lantai dua. Walaupun sempat berteduh di selasar perpustakaan dan berbagi jaket hangat, terjangan angin basah dan cipratan air hujan dalam perjalanan pulang membuat pakaian mereka tetap basah kuyup. Kemeja biru tua yang dikenakan Rian menempel ketat di dada bidang dan bahunya yang kokoh, memperlihatkan pahatan otot maskulin di baliknya secara samar-samar. Di sampingnya, Sisca berjalan dengan langkah kecil sambil mendekap tubuhnya sendiri, merapatkan kardigan rajut abu-abunya yang basah dan terasa berat.Begitu mereka tiba di depan pintu kamar kos Sisca, gadis itu segera merogoh saku tasnya, mengeluarkan anak kunci, dan memutarnya cepat pada lubang pintu.Klek."Ce






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews